Subscribe Us

Fajar adalah Cerminan Generasi Galau Negeri ini

Sad boy, itulah julukan yang disematkan kepada Fajar. Dia adalah anak lelaki usia lima belas tahun yang bersedih karena sering sekali diputuskan oleh pacaranya. Fajar akhir-akhir ini viral di tik tok, diundang ke banyak podcast, dan juga bisa tampil di media televisi. Salahkah Fajar dengan kegalauannya? Di usia seperti dia yang baru mengenal virus cinta, mungkin sah-sah saja untuk galau. Tetapi, jika galaunya sampai berlarut-larut dengan mengesampingkan masadepannya, bagian inilah yang menjadi persoalannya.

Dalam podcast Deni Cagur, Fajar bercerita tentang kegalauannya saat diputuskan pacar, hampir mau bunuh diri, bahkan dia sampai harus berhenti sekolah di kelas lima SD, akibat galau berkepanjangan karena diputuskan sang pacar, lalu pendidikannya terabaikan. Generasi galau, efek dari bucin, mungkin bukan hanya Fajar, tapi banyak Fajar- Fajar lain mengalami hal sama, tidak bisa hidup tanpa kekasih hati, sehingga merana ketika si pacar memutuskan tali kasihnya. Ada yang berakhir gila, bunuh diri atau membunuh mantan pacarnya, karena tidak rela diputuskan. Sangat miris bukan? 

Kondisi remaja saat ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Mereka diserang dari berbagai sisi. Banyak penyebab yang menjadikan mereka seperti itu. Diantaranya adalah: 

Orang Tua Terlalu Acuh pada Anak
Banyak orang tua saat ini karena kesibukan mencari nafkah, mereka abai terhadap anak, yang penting anak bisa makan dan sekolah, bagi mereka sudah cukup. Tidak diberikan arahan bagaimana dia harus bertanggung jawab pada hidupnya, bagaimana meraih cita-citanya, dan bagaimana bergaul yang benar di lingkungannya. Dan ketika anak rusak pun, orang tua tidak sibuk memperbaikinya, karena kewajibannya hanya di menafkahi dan menyekolahkan. Orang tua seperti ini akan melahirkan generasi yang bebas dan bablas. 

Motivasi Orang Tua dalam Menuntut Ilmu Rendah 
Motivasi orang tua dalam menuntut ilmu yang rendah mempengaruhi pada pola asuh anak, sehingga ketika mendidik anak sesuai dengan ilmu yang diwariskan oleh orang tuanya secara turun temurun. Sebenarnya menuntut ilmu tidak harus dicapai melalui pendidikan formal, bisa didapat dari non formal juga, bisa didapat dari media seperti youtube, banyak membaca buku, banyak bergaul dengan orang-orang alim (berilmu), sehingga memiliki motivasi yang kuat untuk terus belajar, maka pastinya kualitas pemikiran orang tua pun berubah menjadi visioner sehingga bisa menjadi motivator yang baik buat anak-anaknya. 

Orang Tua yang Kalah oleh Anak 
Banyak orang tua hari ini yang kalah sama anak. Mereka tidak tegas dalam menjalankan perannya menjadi anak. Sayang anak, tapi di kemudian hari, anaknya menjadi macan yang siap memangsa. Biasanya orang tua seperti ini, bermula dari rasa sayang mereka yang berlebihan, bukan sayang yang mendidik. Setiap anak menginginkan sesuatu, selalu dikabulkan, karena orang tua tidak tahan dengan tantrum, seperti mendengar tangisan dan rengekan anak saat menginginkan sesuatu. Di masa dewasa, tantrum ini terbawa, agar semua keinginannya bisa diwujudkan, dia ngoceh tanpa henti, main banting barang, atau main ancam. Seperti ancaman seperti ini "Aku nggak mau sekolah kalau nggak dibeliin Ipone terbaru." dll. 

Orang tua lemah seperti ini akan melahirkan anak parasit. Karena kemandiriannya dibunuh sejak kecil, si anak tidak dituntut mandiri atau mencari solusi dalam menyelesaikan masalahnya sendiri. Dan kebanyakan anak seperti ini menjadi generasi strawbery. 

Orang Tua yang Membanggakan Nilai Akademis, namun Agama Kurang Diproritaskan 
Sebagian dari orang tua hari ini sibuk mencarikan pendidikan terbaik untuk anaknya, kalau bisa di sekolah bertaraf internasional. Ikut banyak les, dari mulai les matematika, les bahasa Inggris, les piano, les renang, dan seabreg les lainnya. Namun, pendidikan agama mereka abaikan, karena itu tidak memberikan keuntungan financial di masadepan. 

 Apakah salah dengan mengikuti banyak les untuk menunjang kesuksesan hidupnya? Sama sekali tidak, jika seimbang dengan akhiratnya. Karena bagi seorang muslim, setelah berakhirnya kehidupan dunia, akan ada kehidupan akhirat. Karena terus di doktrin dengan ilmu dunia yang akan membawa kesuksesan, tak heran kalau banyak anak cerdas tapi seperti robot, miskin adab, tidak peka terhadap lingkungan. Mengutip pernyataan Albert Einstein “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh” dan memang seperti itu yang terjadi saat ini. 

Memang tidak ada orang tua yang sempurna di dunia ini, tapi hak seorang anak saat lahir ke dunia ini adalah mendapatkan orang tua yang soleh yang pembelajar. Menjadi orang tua tidak bisa didapatkan di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi, namun menjadi orang tua adalah belajar sepanjang hidup. Itu artinya, orang tua harus terus belajar agar bisa mencetak generasi khoeru ummah. 

Generasi Islam di Masalalu Mampu Mencetak Generasi Unggul.
Sejarah kegemilangan Islam yang dimulai dari dakwah Rasulullah dengan mentasqif para pemuda di Darul Arqam, hingga mampu mendirikan negara Madinah, dan ajaran Islam meluas ke berbagai penjuru dunia yang dilanjutkan oleh generasi setelahnya Khulafaur Rasydin, Bani Umayah, Bani Abasiyah, Bani Usmaniyah, yang banyak melahirkan generasi hebat di usia muda, unggul sesuai passionnya, yakni melahirkan panglima hebat, para ilmuwan muslim yang menorehkan tinta emas keilmuan, membawa Islam ke puncak tinggi peradaban, dan melahirkan para ulama yang cendikiawan, para negarawan yang alim dan zuhud, itu semua berawal dari keluarga yang soleh, di mana ketakwaan orang tua pada Allah sangat tinggi, di dukung dengan kurikulum pendidikan terbaik yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadis serta negara memfasilitasi generasi untuk berinovasi di segala ilmu. 

Generasi khoiru ummah tidak mungkin lahir dari orang tua biasa-biasa saja, tapi pastinya lahir dari orang tua hebat, yang ketakwaan individunya pada Allah sangat tinggi. Jika lingkungan sudah tidak kondusif untuk mendidik anak, kurikulum pendidikan sudah amburadul, maka benteng terakhir yang mampu menyelamatkan generasi adalah orang tuanya. Mendidik anak-anak sesuai tuntunan Islam, karena hanya Islam yang akan menyelamatkan anak-anak dari rusaknya zaman, dan kerasnya ancaman siksa neraka. 

Untuk menghantarkan Islam pada puncak kegemilangannya seperti di masa 1400 tahun yang lalu, kita butuh generasi seperti Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid, Abu Ubaidah, Saad bin Abi Waqash, Amr bin Ash, Al Mutsana, Al-Qaqa, Uqaibah bin Muslim, Musa bin Nusair, Thariq bin Ziyad, Salehudin al Ayubi, Muhamad Al Fatih dan sederet pahlawan muslim lainnya yang memghiasi tinta sejarah peradaban Islam. Semoga dari keturunan kitalah Islam kembali mengukir sejarah peradaban. []