Subscribe Us

Cinta di Atas Bara Bagian 8

Malam terasa sangat dingin menusuk tulang. Sayyid duduk di tempat yang agak gelap tepi sungai Hudson dengan duduk mencangkung. Sungai Hudson selalu mengingatkannya akan Film Sully yang di ambil dari kisah nyata yang menceritakan tentang Peristiwa yang menghebohkan dunia. Menceritakan tentang pendaratan darurat pesawat US Airways 1549 di Sungai Hudson terjadi pada 15 Januari

Sullenberger merupakan mantan pilot jet tempur. Dia berhasil menyelamatkan lebih dari 150 orang setelah mendaratkan dengan selamat pesawat Airbus A320 di atas sungai dingin Hudson. Sullenberger mengarahkan pesawatnya ke sungai setelah dua mesin pesawat mati usai tabrakan dengan sekelompok burung.

Pesawat tersebut bertolak dari Bandara LaGuardia pada Kamis, 15 Januari 2009 pukul 15.26 waktu setempat menuju Charlotte, North Carolina. Pesawat baru saja mengudara selama tiga menit ketika gangguan itu terjadi.

Kemudian dengan pesawat mengapung di atas air, 150 penumpang dan 4 kru serta sang pilot keluar dari pesawat dan berdiri di atas sayap. Kapal-kapal bantuan datang dengan cepat sehingga seluruh penumpang dan kru berhasil dievakuasi dengan selamat sebelum pesawat akhirnya benar-benar tenggelam.

Film Sully pun termasuk Film yang luar biasa bagus berada di posisi atas Film Box Office.

Tapi singkirkan dulu akan kekaguman Sayyid pada Film Sully. Pemuda itu terlihat sangat resah. Perang pemikiran berkecamuk di otaknya. Kembali ke Indonesia dengan membawa malu dan beban dosa, ataukah tetap disini dengan membela cinta. Hidup bersama dengan Aleya. Meski cinta pada gadis itu tidak sekuat ketika ia  pergi dari Indonesia dengan melawan kedua orang-orang yang sangat dicintainya.

Pesan dari Amir cukup mengguncang hati Sayyid. Abah dipenjara, dan Umi dirawat di rumah sakit. Lalu bagaimana dengan kelanjutan pesantren. Sedang kedua kakaknya berada diluar Provinsi, sama -sama sibuk jadi pengemban dakwah yang memiliki kesibukan padat dan santri yang harus di urus. Harusnya dirinyalah yang berperan melanjutkan aktivitas Pesantren di saat abah tidak ada. Hanya Amir yang mungkin menjadi harapan tonggak kemajuan pesantren.

Sayyid selalu ingat dengan nasehat Abah yang berpesan padanya untuk melanjutkan keberlangsungan pesantren ketika Abah sudah tidak ada.

"Kamu itu adalah pemuda yang umat menyimpan banyak harapan kepadamu akan tanggung jawab, agar islam kembali bersinar di muka bumi ini. Ilmumu harus dedikasikan semuanya untuk kemajuan umat. Dan bangunlah ketokohan yang kuat, karena menjadi orang berpengaruh itu sangat-sangatlah penting. Kita akan menjadi sandaran disaat mereka lemah, akan menjadi penerang disaat kegelapan, akan jadi penggerak ketika mereka terpuruk. Dan untuk menjadi seseorang yang memiliki pengaruh itu butuh proses yang panjang, figur ketauladanan, kepemimpinan yang teruji, kecerdasan, dan kepekaan. Semua itu haruslah bersinergi dan harus ada pada diri pemimpin. Sejauh apapun kamu pergi berkelana dimuka bumi, jangan terlena dengan negri orang. Tapi pulanglah, karena membangun negri sendiri jauh lebih baik." kata-kata Abah sebelum pertama kali Sayyid pergi ke Amerika kembali terngiang di kepalanya.

Dan ada rasa sedih yang menciptakan koyakan luka, ketika kepergian Sayyid yang kemarin terlihat Abah sangat kecewa luar biasa ketika ia membantah keinginan Abah. Mata laki-laki tua itu terlihat berkaca-kaca. Karena Sayyid anak yang menjadi kebanggannya telah menciptakan palung luka di hati Abah yang begitu dalam.

"Pergilah sejauh yang kamu mau, jika nasehat kami sudah tidak bisa menyentuh hatimu. Semoga ini bukan kesalahan Abi dan umimu dalam mendidik. Kamu sudah terlalu dewasa untuk bisa memilih mana yang baik dan mana yang salah. Namun jika kamu menyesali apa yang sudah kamu lakukan, dan mau mentobati segala dosa-dosamu. Maka pintu rumah akan selalu terbuka untuk menerima kamu pulang." suara Abah terdengar bergetar menahan rasa sesak luar biasa.

Sayyid tampak menghembuskan nafas beberapa kali. Ia sangat khawatir sekali dengan Abahnya. Dinginnya ruang penjara tentu tidak baik untuk kondisi kesehatan Abah. Kesalahan apa yang mendasari Abah ditangkap. Ia ingin bertanya hal pada Amir, namun sudah tentu laki-laki itu tidak akan menjawabnya. Karena kadung kecewa atas pilihan Sayyid.

Sayyid yang sedang termenung, dia tidak sadar jika ada dua pasang mata yang dari tadi mengintai gerak-geriknya. Dua bayangin hitam yang sudah terlatih, mereka sudah lama mengincar Sayyid, karena pemuda itu dinilai sangat berharga. Dan ini adalah kesempatan terbaik, biasanya gerak-gerik pemuda itu akan selalu diawasi dan diikuti kemanapun perginya. Namun entah kenapa malam ini Karl dan anak buahnya lengah.

"Are we going to approach him now?" tanya si pemuda bermata biru  menikut temannya dengan berbisik.

"Ya. Dan kuharap anak buah  Karl tidak memata-matainya. Kamu bius dia segera, dan bawa dengan cepat ke mobil. Kita juga harus memusnahkan chip yang ada ditubuh pemuda itu, agar Karl tidak mengejarnya."

Sipemuda bermata biru langsung meloncat dengan cepat membentuk siulet bayangan hitam dalam perjalanan malam menuju titik kulminasi. Ilmu bela diri laki-laki terlihat cukup tinggi. Karena dalam sekejap Sayyid sudah terkulai dengan lemas. Akibat usapan sabutangan yang dibubuhi obat bius. Pemuda bermata biru itupun sudah menghilang tanpa bisa diikuti oleh pandangan mata. Melarikan diri dalam keremangan malam. Tubuh Sayyid yang tinggi dan berisi seperti bukan sebuah beban.

Dan laki-laki teman simata biru sudah menungguinya dalam mobil, dan segera memberi tahu atasan tertingginya, kalau mereka sudah berhasil membawa Sayyid malam ini. Setelah itu ia segera mengemudikan mobilnya, dengan penuh kewaspadaan. Karena bisa jadi anak buah Karl mengikutinya.

Sedang si lelaki bermata biru mengeluarkan alat pelacak, untuk mendeteksi  dimana chip itu ditanam didalam tubuh Sayyid. Setelah terdeteksi dia segera mengeluarkan pisau bedahnya, mengeluarkan Chip itu, lalu mengeluarkannya ke jalanan. Ada suara lenguhan terdengar dari mulut Sayyid. Dia benar-benar merasakan sakit akibat cokelan pisau bedah. Tapi pengaruh obat bius merampas kewarasannya untuk beberapa jam kedepan.

"Bist du sicher, dass Karl uns nicht nachkommen wird?" tanya simata biru dengan bahasa Jerman. Karena menurutnya ini adalah langkah yang sangat beresiko dengan membawa Sayyid pemuda yang sudah lama menjadi incaran Karl. Dan laki-laki licik itu rela mengorbankan putrinya untuk mempermainkan hati Sayyid. Sehingga pemuda religius itu sudah begitu jauh melangkah. Bahkan nyawanya akan menjadi tumbal ambisi Karl Abraham Wilson, jika pemuda itu tidak mau di setting sesuai yang Karl inginkan.

"Kali ini aku yakin Karl akan kehilangan jejak Wil, asal kita bisa menyembunyikan Sayyid dalam beberapa waktu yang cukup lama. Kalau perlu kita hapus sebagian ingatannya. Jika perlu kita ubah wajah Sayyid menjadi wajah orang lain." saran lelaki berkulit coklat tersebut.

"Wow…pikiranmu jenius tapi terlalu kejam. Aku jadi teringat dengan Film Men in  Black. Dan tim peneliti AI berusaha mengembangkan sebuah sistem penghapus ingatan, ‘neuralyzer’,  karena terinspirasi karena dari film ini."

"Karena yang dibutuhkan Karl adalah kecerdasan otak Sayyid, untuk kepentingan pribadinya yang sangat berambisi menghancurkan dunia. Sedang yang dibutuhkan putrinya adalah cinta.  So, tidak ada cara lain jika bukan dengan cara itu."

Simata biru tetap tidak setuju. Sayyid memang aset yang harus dijaga. Menyembunyikan dia dari dunia untuk sementara adalah pilihan terbaik.

"Profesor pasti punya solusi terbaik bagimana cara menjaga Sayyid, dan membrain wash kembali pemuda ini agar kembali waras."

"You are right Wiliam. Let it be the Professor's job to think about Sayyid's next steps.  And he can be safe from the pursuit of Karl Abraham Wilson.  Our job is only to save him."
****
Bist du sicher, dass Karl uns nicht nachkommen wird?" (Apakah kamu yakin kali ini Karl tidak akan mengejar kita? )

Aku paling suka sama novel ini, meski sepi pembaca. Hanya di novel aku lumayan mikirnya berat banget. Hampir delapan tahun belum kelar-kelar endingnya. Kayanya dalam satu tahun hanya bisa nulis satu part.