Subscribe Us

Aqeela # Part 4

Aqella merasa sangat bersyukur ketika melihat Adyan kondisinya sudah mulai membaik. Dan ini murni kebahagiaan sebagai seorang dokter terhadap pasiennya, bukan jejak masa lalu yang masih tersisa.

"Aqeela...kamu...Aqella kan?" ujarnya dengan terbata dan dia terlihat sangat terkejut melihat wanita yang masih dicintainya itu ada di hadapannya.

Aqella hanya tersenyum tipis, tidak ingin menjawab pertanyaan yang diajukan Adyan. Berusaha untuk tetap sibuk dengan mengecek kondisi tubuh pasiennya dengan stateskop yang tergantung di leher. Lalu mengajak Andini berbicara, memberi tahu apa saja yang harus di lakukan saat membantu merawat Adyan. Meski jujur debaran jantungnya bergemuruh tak bisa di enyah. Apalagi saat melihat tatapan matanya yang sangat lekat, namun ada banyak luka yang tersimpan disana.

'Kenapa dia masih mengenaliku?' batin Aqella. Padahal ia bukan bocah remaja yang polos dan lugu seperti yang terjadi di sepuluh tahun yang lalu.

"Alhamdulillah kondisi Bapak sudah mulai membaik. Semoga cepat sembuh ya, Pak? ujar Aqella tulus.

"Aku berusaha mencarimu, berharap bisa menemukanmu...ternyata kamu ada di sini. Kamu sebagai dokter dan aku sebagai pasien. Apakah ini takdir baik, sebagai cara Tuhan mempertemukan kita?" ujar Adyan dengan suara bergetar.

Untuk sesaat Aqella mematung. 'Ya Allah, kuatkan aku. Jangan kembali lemah dan jatuh pada pesonanya. Aku harus kuat. Dia sudah bukan siapa-siapa lagi. Tak akan ada lagi rasa yang tersisa. Semuanya sudah terkubur oleh waktu. Dia hanyalah mantan suami yang tak akan menjadi sesuatu yang berarti lagi.'

"Ternyata cara Tuhan cukup indah, disaat aku mulai lelah dan ingin menyerah. Tuhan mempertemukan cintaku yang tak pernah padam." kembali Adyan berbicara dengan pandangan matanya yang tidak lepas dariku.

Aqella menggigit bibir, berusaha menahan debaran di jantungnya. Ini sungguh gila.

"Maaf Pak Adyan, saya masih punya banyak pekerjaan." ujar Aqella buru-buru pamit untuk segera undur diri.

Adyan terlihat kecewa, mata elangnya meredup. Tapi Aqella berusaha tidak peduli, karena disini tugasnya untuk menyembuhkan fisiknya, bukan menyembuhkan hatinya.

"Aku sangat merindukanmu...merindukanmu teramat dalam." ujarnya lemah.

"Maaf Pak..." Aqella dengan langkah terburu keluar dari ruangan yang tiba-tiba mencekam.

"Suatu saat kamu akan menegerti, bahwa akulah yang paling terluka dengan perpisahan kita." suara pelan Adyan masih bisa Aqeela tangkap ketika keluar dari ruangan.

Sungguh tugas Aqella saat ini benar-benar terasa berat. Berhadapan dengan mantan mertua yang masih memperlihatkan sikap ketidak sukaannya, dan mantan suami yang terlihat masih mencintai. Membuat jiwanya benar-benar lelah. Entah bagaimana dengan besok-besok, ketika harus bertemu dengan mereka dalam waktu bersamaan. Semoga saja ia masih bisa tenang dan bersikap profesional.

Ketika Aqella sedang berjalan di koridor rumah sakit, langkahnya segera dilambatkan saat mendengar suara yang cukup familiar. Sebenarnya Aqella tak ingin peduli, karena itu bukan urusannya. Tapi entah kenapa, jika menyangkut wanita tua yang sombong itu, selalu membuat jiwanya terusik dan diselimuti rasa penasaran yang tinggi.

"Mau apa kau datang kesini, hah? Gara-gara kamu anaku celaka?!" ujar Nyonya Hutama tajam.

Aqella melihat wanita berambut sebahu di hadapan Nyonya Hutama. Penampilannya sangat elegan dan cantik. Sepertinya ia pernah bertemu, tapi entah dimana. Oh, iya tadi ia melihatnya di media online. Berarti dia Ardina Zahira, istrinya Adyan Hutama. Ya...ampun mereka memang cocok. Satu ganteng dan satunya cantik, jauh banget di banding dirinya. Pantas jika dulu Nyonya Hutama sangat setuju punya menantu Ardina Zahira. Cantiknya itu, sangat memikat. Tapi kenapa harus ada perselingkuhan?

"Tentu saja aku mau menengok suamiku, Mama mertua." jawab Ardina kalem.

"Berhenti kau memanggilku mama mertua, aku tak sudi mendapat panggilan itu dari wanita jalang sepertimu. Anakku tidak butuh kunjunganmu. Urusi saja selingkuhanmu itu."

"Stt...Mama tidak usah berteriak-teriak seperti itu. Malu di lihat oleh orang lain."

"Kamu masih punya malu rupanya, padahal yang harusnya malu itu bukan kamu, tapi keluargaku."

"Tolong jaga bicara mama. Mama mesti ingat aku ini masih istri syahnya, belum ada penceraian di antara kami. Dan hal yang harus mama tahu, aku seburuk ini di mata mama karena anakmu terus menerus mengabaikanku. Bayangkan lima tahun dia bersikap tidak peduli padaku. Apa aku salah jika menghabiskan uang suamiku, sebagai pelampias kekesalanku karena tidak di pedulikan. Apa aku salah jika aku menerima perhatian seseorang, ketika suamiku tak pernah menganggapku ada. Aku hanya wanita yang punya legalitas sebagai menantu, tapi tak punya legitimasi di mata suamiku sendiri. Dan jujur ini membuat aku lelah dan ingin menyerah."

Aqella lihat wajah nyonya Hutama terkejut, sama terkejutnya dengan dirinya. Lima tahun di abaikan, rasanya itu pasti sangat menyakitkan. Ardina adalah menantu kesayangan, tapi tak mendapat tempat di hati suaminya. Pasti itu jauh lebih menyedihkan. Aqella dan Ardina tidak ada bedanya.

"Kamu...berusaha untuk menjelekan suamimu sendiri kan, supaya perselingkuhanmu bisa di maafkan?" tuding Nyonya Hutama.

"Untuk apa, Ma? Berita perselingkuhanku sudah tersebar luas, aku tak berniat untuk mengkonfirmasi berita buruk itu. Aku cuma mau bilang sama Mama, jika Adyan anak kesayangan Mama, dia hidupnya tidak pernah bahagia. Dia laki-laki menyedihkan, yang cinta sejatinya di rengut oleh ibu kandungnya sendiri. Dan lebih menyedihkannya, dia memiliki ibu egois yang lebih peduli kehormatan dan hartanya, dibanding kebahagiaan anak-anaknya."

Nyonya Hutama membelalakan matanya, lalu dia menyenderkan tubuhnya ke dingding rumah sakit. Dia terkejut demi mendengar penjelasan Ardina, kalau anak laki-lakinya, tidak sesempurna bayangannya. Sedang Ardina segera melewati Nyonya Hutama menuju kamar Adyan.

Aqella merasa lebih bersyukur di banding Ardina. Diabaikan suami selama lima tahun, Aqella nggak bisa membayangkannya. Padahal apa yang kurang dari Ardina, sehingga Ardyan harus mengabaikannya. Dia cantik, kaya dan terpelajar.

Dulu Aqella pernah hancur begitu dalam, tapi punya seseorang yang menguatkan dan membuatknya semangat menjalani kehidupan.

"Dokter Aqeela sedang apa anda di sini? Kami dari tadi mencarimu" suara yang cukup familiar membuyarkan lamunan Aqella.

"Tidak sedang apa-apa dokter Ilyas, ada apa ya, mencari saya?" tanya Aqella pada dokter yang lebih muda dua tahun usianya di bawahnya.

"Hm...saya hanya ingin mengajak makan siang bersama?" ujarnya.

Rasanya Aqella ingin menolak, tapi sudah terlalu sering menolak ajakannya, membuat ada rasa sungkan.

Aqella mengangguk sebagai tanda mengiyakan. Dan Aqella lihat wajah dokter Ilyas tersenyum lebar karena Aqella menerima ajakannya.

"Bagaimana kalau hari ini kita makan diluar, dokter Aqella. Saya punya rekomendasi tempat makan yang enak yang baru buka. Dan rasanya sangat lezat bercita rasa tinggi."

"Terserah dokter Ilyas aja, tapi saya mau mengajak Suster Andini dan kawan-kawan yang lain boleh?" ujar Aqella. Karena ia merasa tidak mungkin makan berduaan.

Sebenarnya dokter Ilyas ingin menolak, ini adalah rencana PDKT yang disusun dari jauh hari, namun selalu gagal. Tapi pasti kalau tidak diiyakan, wanita yang disukainya ini akan menolak.

"Silakan dokter Aqella, jika mau mengajak teman."

Aqella langsung melangkahkan kakinya menuju tempat suster Andini berada, untuk mengajak makan siang bersama. Dan ia juga akan mengajak teman-teman yang lainnya.



Aqeela # Part 3

Aku menunggu Nyonya Hutama berbicara lebih dahulu di kafe yang ada di sebrang rumah sakit. Setelah aku memeriksa putra kesayangannya, dia memintaku untuk berbicara empat mata. Ku tunggu dia dengan sabar. Aku tidak ingin memulai pembicaraan jika bukan dia yang memulai. Kecuali jika itu bersangkutan dengan pekerjaanku.

"Sudah lama kita tidak bertemu. Sepuluh tahun ya, bagaimana kabarmu?" ujarnya datar. Raut mukanya tetap tidak menunjukan keramahan.

"Baik…" jawabku singkat sambil mengaduk-aduk juice jeruk yang ada didepanku. Berbicara dengan perempuan ini membutuhkan energi besar maka aku harus tetap tenang. Emosiku tidak boleh terpancing.

"Setelah bercerai dengan putraku, siapa lagi laki-laki yang sudah kau jebak untuk bisa jadi suamimu?" ujarnya sinis.

Aku membelalakan mata lebar. Pempuan ini benar-benar keterlaluan! Dari dulu mulutnya tidak pernah bisa di jaga. Pedas dan tajam. Sungguh aku ingin tertawa. Orang yang jelas-jelas mengaku keluarga terhomat, tapi kata-katanya seperti keluar dari orang yang tidak berpendidikan saja. Kekepoannya ini bikin aku muak. Sungguh aku telah membuang-buang waktu meladeni kata-katanya yang tidak berfaedah. Tapi aku harus bisa meladeninya dengan tenang.


"Apakah Nyonya merasa terganggu jika saya mendapat suami yang lebih kaya?" tanyaku setenang mungkin.

"Bersyukurlah anakku terlepas darimu." ujarnya sinis.

"Ok, tidak masalah." jawabku berusaha tetap tenang dan datar.

"Saya cuma mau memperingatkan sama kamu, tolong jaga batasanmu selama merawat putraku. Jangan pernah bermimpi bisa kembali lagi padanya." kata Nyonya Hutama tajam.

Aku terdiam sesaat. Kata-katanya sungguh menyakiti perasaanku. Pantaskah perkataan itu di ucapkan? Bukankah aku yang harusnya berbicara seperti itu. Dulu anaknya tergila-gila padaku, dan sekarang anaknya di selingkuhi wanita pilihan ibunya, seperti berita yang kubaca tadi di media. Bisa sajakan putra si Nyonya sombong ini, justru yang masih memiliki perasaan cintanya padaku. Aku perempuan yang sudah di sakiti luar dalam, akan berfikir berulang kali untuk mencintai laki-laki yang akan terus berkonflik dengan ibunya.

"Tentu. Tanpa di ingatkanpun saya sangat paham sekali, Nyonya. Saya tidak akan mencampur adukan antara profesionalisme dengan kisah usang. Nyonya tidak usah khawatir, kisah saya dengan anak nyonya sudah berakhir semenjak keluar dari rumah itu. Yang harus di peringatkan itu justru anak nyonya."

"Kenapa harus anak saya?" Nyonya Hutama tidak terima.

"Karena saya tetap baik-baik saja, meskipun sudah Nyonya perlakukan secara tidak manusiawi. Tapi anak Nyonya, yang sedang tidak baik-baik saja. Saya sudah membaca berita online, yang hari ini jadi trending topic. Jika istri Adyan Hutama berselingkuh dan itu di kaitkan dengan penyebab kecelakaannya oleh wartawan kurang kerjaan. Apakah Nyonya belum baca beritanya?"

Nyonya Hutama langsung diam. Kenapa berita perselingkuhan Ardina bisa sampai jadi konsumsi publik? Sangat memalukan. Perempuan itu segera membuka gawainya, dan benar saja berita di medsos sangat ramai tentang perselingkuhan Ardina Zahira dengan pengusaha asal Malaysia.

"Jika menurut Nyonya dulu aku adalah menantu yang buruk, Ardina jauh lebih buruk. Karena jelas dalam ikatan pernikahan aku dengan Mas Adyan, tidak ada perselingkuhan, dan tidak ada sepeserpun harta yang kudapat. Jadi sebenarnya wanita parasit yang memeras dan menyakiti suaminya itu siapa Nyonya? Dan sangat jelas itu bukan aku. Dan hal yang harus Nyonya ketahui, bagi saya keluar dari keluarga Hutama itu adalah anugrah. Karena jika aku masih bertahan, mungkin aku sudah menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Karena memiliki mertua egois seperti anda."

Nyonya Hutama diam tidak bisa membalas serangan verbal kata-kataku, mantan menantu yang sangat dia benci sampai kini. Pasti dia tidak akan pernah menyangka, jika perempuan lugu dan polos itu akan mengucapkan kata-kata tajam. Tapi tentu saja waktu bisa mengubah seseorang bukan? Jika dia membenci dengan alasan nggak jelas, bukankah mantan menantunya juga wajar untuk membenci dengan alasan luka masalalu.

"Permisi Nyonya Hutama, saya masih ada banyak pekerjaan." aku bangkit meninggalkannya.

Nyonya Hutama membrengut kesal. Sungguh hari ini dia telah kalah kata-kata.

"Apa lagi yang Mama inginkan dari Aqeela." suara dingin itu menyentak lamunan Nyonya Hutama.

"Papa…"

"Belum cukup juga rupanya menyerang wanita tak berdosa itu heh…"

"Se…sejak…kapan Papa…di sini?" Nyonya Hutama tampak gelagapan.

"Sejak kau masuk, aku sudah ada di kafe ini, Ma. Kenapa Mama masih menyerangnya heh… ? Dia sudah tidak ada hubungan lagi dengan anak kita. Seharusnya si menantu kebanggaanmu itu, yang harusnya kau serang. Bukan Aqeela yang sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan kita.

"Mama hanya ingin memperingatinya, siapa tau dia masih berharap pada anak kita…" Nyonya Hutama membela diri.

"Cuma wanita tidak waras yang mau memiliki mertua seperti kamu untuk kedua kalinya. Kapan sih Mama akan sadar? Suatu saat kau akan tua dan lemah, siapa yang mau merawatmu jika selalu berkonflik dengan menantu? Laras… Rangga…atau istri Adzwar kelak. Papa nggak yakin mereka mau merawat mama. Karena selama ini, mama tidak pernah menunjukan rasa hormat pada mereka. Uang itu tidak selamanya bisa membuat bahagia dan menolong kita. Jadi tolong, turunkan ego Mama. "

Wajah Nyonya Hutama semakin memberengut mendengar kata-kata suaminya.

"Tanpa di ulangpun, Mama masih ingat kata-kata Papa." ketus Nyonya Hutama.

"Dan sayangnya, itu cuma masuk kuping kiri ke luar kuping kanan." Sindir Pak Hutama.

"Terus mau Papa, Mama itu harus bagaimana? Bersikap manis pada mantan menantu kita gitu, yang membuat Adyan melupakan Ibunya?"

"Ckk…jangan berlebihan, Ma. Adyan tidak pernah melupakanmu. Dia hanya ingin kamu bisa menerima siapa yang dia cintai. Tapi sudahlah, tidak usah di bahas, toh Aqeela sudah bukan siapa-siapa lagi untuk Adyan. Papa cuma minta tolong perlakukan Laras, Rangga dan Istri Adzwar kelak dengan baik. Yang menjalani kehidupan rumah tangga adalah anak kita. Jadi stop ikut campur didalam rumah tangga mereka. Standar pilihan menantu yang Mama inginkan jangan minta di samakan dengan standar pilihan anak-anak kita. Cukup do'akan mereka untuk bahagia, bukan ikut terlibat di dalamnya. Sebagaimana Bunda yang tidak pernah ikut campur pada rumah tangga kita. Bisa?"

Nyonya Hutama diam tidak memberi respon apa yang di ucapkan suaminya. Rasanya gampang banget meminta dirinya berubah. Padahal apa yang dia lakukan adalah sebagai bukti sayang seorang ibu pada anak-anaknya.***


Aqeela # Part 2

" Ini semua gara-gara perempuan gila itu, anakku jadi begini?" keluh Nyonya Hutama merasa tidak terima anaknya mengalami kecelakaan seperti ini.

"Menurut Mama siapa?" ujar Tisa tidak suka. Ibunya ini adalah wanita yang paling keras kepala. Terlalu dominan, terutama pada adiknya Adyan. Pernikahan pertamanya gagal gara-gara Mama terlalu banyak ikut campur. Pernikahan keduanya dengan Ardina si perempuan matrealistis malah di selingkuhi. Dan Tisa cukup terkejut ketika tadi dia melihat mantan adik ipar yang selalu di rendahkan Mamanya telah menjadi dokter, spesialis lagi. Sepuluh tahun tidak bertemu, Aqeella sudah terlihat matang. Dia anggun dan terlihat smart. Tapi sangat dingin, pendiam dan terkesan menghindar dari kelurganya. Tisa cukup paham dengan perasaan Aqeela yang sudah banyak kehilangan dan terluka.


"Si Ardina wanita gila itu!" dengus Mama tidak suka.

"Oww…" Tisa pura-pura terkejut dengan membelalakan mata hazelnya.

"Kenapa kamu terkejut seperti itu?" ujar Nyonya Hutama gemas dengan reaksi putrinya.

"Ckk… dia itu menantu kesayangan Mama kalau Mama tidak lupa. Wanita itu yang dulu selalu Mama banggain di arisan sosialita Mama. Ini lho menantu kesayanganku….ini lho menantu…."

"Itu dulu. Sebelum dia berselingkuh dan menguras uang keluarga kita." potong Nyonya Hutama.

"Mama, Tisa belum selesai bicara. Tolong jangan di potong dulu." Ujar Tisa tidak suka. "Mama marah pada Ardina, lantas bagaimana dengan Adyan yang harus mengorbankan perasaannya untuk Mama. Papa, aku, Mas Farhan bukankah dulu sudah memperingatkan siapa Ardina. Tapi, demi rasa persahabatan Mama pada keluarga culas itu, Mama memaksakan kehendak sendiri. Tanpa berkompromi dengan perasaan Adyan. Sukakah dia, bahagiakah dia? Ini yang tidak pernah Mama pikirkan. Karena Mama orang tua paling egois di muka bumi, yang mengukur segalanya dengan standar materi. Gadis sebaik Aqeela Mama buang hanya karena menurut Mama tidak ada kepantasan. Jadi sekarang tidak usah menyalahkan orang lain, seburuk apapun Ardina dia adalah menantu yang pernah Mama pilih dan di banggakan pada semua orang. Jadi terimalah konskwensinya. Jika harus ada yang disalahkan, itu tidak lain adalah keegoisan Mama sendiri." ujar Tisa merasa lega sudah mengeluarkan semua unek-uneknya yang sudah lama mengganjal di hatinya.

"Kamu …" mata Mama bersinar marah.

"Maaf jika omongan Tisa menyinggung Mama, tapi ini semua benarkan, Ma. Tisa peduli sama Adyan yang tidak pernah bahagia selama sepuluh tahun ini. Dia pura-pura bahagia tapi sebenarnya sakit. Semoga nasib buruk Adyan tidak terjadi pada Adzwar." ujar Tisa sambil bangkit dan meninggalkan Mamanya. Dia tidak peduli Mama akan kecewa dengan kata-katanya barusan, karena jujur dia lebih banyak kecewa dengan sikap Mamanya yang tidak berubah. Dia hanya peduli kehormatan, koleksi berlian dan jumlah sahamnya ketimbang perasaan anak-anaknya.

"Dek…" Suara Mas Farhan menghentikan langkah Tisa.

"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Mas Farhan.

Tisa melirik jam tangannya. Sebenarnya dia hari ini ada janji dengan seseorang.

Tisa mengangguk. "Tapi sebentar ya, Mas?"

Farhan mengangguk. Dan mengajak adiknya ke kantin rumah sakit. Setelah memesan minuman ia mengajak adiknya bicara.

"Kamu kenapa seemosional itu pada Mama? Bukan karena melihat Aqeela kan?"

Tisa menarik nafas jengah. Kakaknya ini adalah orang yang terlalu perhatian pada Mama, meskipun statusnya hanya sebagai anak tiri.

"Aku hanya ingin Mama sadar dengan sikapnya yang egois, itu saja Mas. Apakah aku salah?"

"Tapi Mama sedang bersedih?"

"Mas, sudahlah jangan membela Mama terus. Aku lelah. Mas juga jangan naif, kalau Mama itu nggak pernah sayang sama kamu Mas, tapi kenapa sih Mas masih belain dia? Yang terluka itu kita, Mas. Kamu, aku dan Adyan. Pernikahanku juga bermasalah dengan Rangga, itu semua gara-gara Mama yang banyak ikut campur. Begitupun dengan Adyan."

"Mas tahu itu, meskipun Mama bukan ibu kandung, tapi berkat dia Mas merasa punya keluarga. Setidaknya dia masih membuat Mas bisa merasakan keutuhan keluarga, tidak menjauhkan Mas dengan Ayah dan juga kalian bertiga, adik-adik Mas. Soal harta itu tidak jadi masalah buat Mas. Tidak menjadi pewaris Hutama Crop bukan hal yang harus di persoalkan."

Tisa tersenyum miris. Entah dia harus berbahagia atau bersedih. Sesimpel inikah Mas Farhan memandang masalah pelik keluarganya. Dengan jelas ia melihat ketimpangan perlakuan ibunya pada kakak tirinya. Tapi tetap dia menjadi kakak yang sayang pada ketiga adiknya. Memperlakukan mamanya dengan santun. Tidak pernah menjadikan ketidak adilan ini menjadi masalah atau beban.

"Aku ingin memiliki hati yang luas sepertimu, Mas. Tapi sangat sulit."

"Maka belajarlah untuk mengikhlaskan. Seburuk apapun Mama dia tetap orang yang berjasa pada kita. Yang jasanya tidak sebanding dengan keburukan-keburukannya."

Tisa memandang kakaknya dalam diam. Kakak tirinya ini luar biasa baik, pasti ibunya dulu orang baik. Wanita yang sudah pergi kehariban-Nya saat Mas Farhan kelas 4 SD, begitu cerita dari Papa. Dan Mbak Laras juga istri yang sangat baik menurut Tisa. Pantas serumit apapun masalah yang di hadapi, dia selalu tenang dan berhati lapang.

"Jika kamu memang memiliki banyak beban, cerita pada Mas. Kita ini adalah saudara yang harus saling melindungi dan menguatkan."

Tisa ingin saja menangis. Jujur dia merasa terenyuh mendengar kata-kata dari abangnya. Sosok abang yang sangat mencintai adiknya. Yang berada di dekatnya selalu merasa aman dan terlindungi. Tapi itu dulu ketika masa anak-anak dan remaja. Sekarang rasanya segan mengadukan segala masalah pada abangnya.

"Thanks Mas, maaf Tisa harus segera pergi. Kasih tau Tisa kalau Adyan sudah sadar."

"Ok, hati-hati Dek." ujar Mas Farhan lembut.

Tisa membalas dengan mengangguk dan pergi meninggalkan pelataran rumah sakit. ***





Cinta di Atas Bara Part 6


Aleya tersenyum cerah begitu melihat Sayyid berjalan kearahnya. Satu minggu tidak bertemu seperti satu tahun tidak berjumpa. Paras laki-laki campuran Arab dan Turki itu sangat memikat. Pesonanya meluluhkan kaum hawa. Ada banyak cara yang sudah Aleya untuk memikat Sayyid yang asalnya cool dan cuek. Ternyata laki-laki ini hanya bisa di tundukan dengan adu kecerdasan. Cara-cara murahan tidak akan membuat dia berpaling.

Aleya sampai tidak berkedip melihat kegantengan Sayyid. Yang menggunakan kaus polo berwarna abu di padu dengan jacket warna putih. Sangat serasi dengan kulitnya yang putih.

"Ich vermisse dich so sehr, Baby" Ujar Aleya sambil memeluk sang kekasih yang tingginya sepantaran.( Aku sangat merindukanmu, sayang."

Sayyid tidak merasa risih diperlakukan seintens itu di tempat umum, sesuatu hal yang dulu sangat di hindarinya. Kini dia sangat menyukai sikap Aleya yang cenderung agresif, sebagaimana lazimnya gadis-gadis barat memperlakukan pasangannya.

"Ich vermisse dich mehr, Liebling." Sayyid mengeratkan pelukannya pada Aleya erat dan mencium kening Aleya sangat lama.

"Kita langsung pulang ke Apartemen atau jalan-jalan dulu, sayang?" Aleya melepaskan pelukannya, dan menatap Sayyid penuh cinta. Sesuatu hal yang dulu hanya ingin menjebak Sayyid, dan memamfaatkan kecerdasannya. Tapi seiring kebersamaan di antara mereka, Aleya merasa Sayyid adalah nafas hidupnya. Dia tidak bisa hidup tanpa Sayyid. Maka dia akan berusaha melakukan apa saja, agar laki-laki itu bisa tetap berada di sampingnya.

"Pulang saja ya, Scathz? Aku lelah dan sangat merindukan kamu?"

Aleya tersenyum. Hal ini yang selalu di nantikannya. Sayyid sangat mendamba kepuasan darinya. Dan dia akan selalu siap untuk menuntaskan rasa haus laki-laki itu itu akan cinta, kelembutan darinya. Meski hal tersebut harus mengorbankan tubuhnya. Banyak hal yang di korbankan untuk mendapatkan Sayyid, tapi hasilnya sebanding dengan apa yang dia korbankan. Karena tes uji loyalitas untuk  di akui di sebuah organisasi yang dia dan ayahnya masuki, apapun bisa di korbankan agar kepercayaan bisa di raih. Harga diri atau nyawa bisa menjadi taruhan.

"Biar aku yang menyetir, Scathz? " ujar Sayyid melarang sang kekasih untuk menyopiri dirinya.

Aleya menggeleng. "Kamu sangat lelah Sayang, biar aku aja. Kamu harus hemat tega, biar kita melebur rasa rindu." ujar Aleya sambil nencium pipi Sayyid. Tentu saja hal tersebut membuat Sayyid berubah tidak waras. Dia laki-laki normal, yang butuh pelampiasan dari gairah mudanya.  Dan Aleyalah si burung jinak yang sudah meruntuhkan kealimannya. Menjadi laki-laki yang liberal dan bebas. Tidak peduli dengan nilai-nilai agama yang sudah dipelajarinya selama bertahun-tahun.

Dan Sayyid terpaksa menurut. Karena dia tidak mau jika Aleya marah dan mendiamkannya. Hal yang sangat berbahaya jika Aleya marah, otomatis akan berakibat pada keinginannya yang tidak akan terpenuhi.
***
Apertemen yang di tempati Sayyid terbilang cukup mewah. Terlihat sangat bersih dan rapi. Dan tentunya itu semua karena Aleya yang pintar merawat rumah. Sudah hampir setengah tahun mereka tinggal bersama, tentu saja tanpa ikatan pernikahan. Tapi, hubungan mereka sudah seperti layaknya pasangan suami istri.

Sesampainya di Apartement Aleya langsung menyiapkan makanan kesukaan Sayyid, makanan khas Indonesia, karena lidah laki-laki itu, masih susah beradaptasi dengan makan western. Aleya mati-matian belajar masakan Indonesia, bahkan langsung mendatangkan Chief dari Indonesia, selain itu belajar bahasa Indonesia serta budayanya. Sebuah pengorbanan yang cukup besar demi bisa meraih Sayyid. Dan termasuk pura-pura belajar islam yang dilakukan di awal mendekati Sayyid.

Aleya adalah perempuan yang masuk kriteria untuk jadi pendamping hidup Sayyid. Dia bisa menjadi istri yang memuaskan, teman diskusi yang menyenangkan. Namun sayang wanita itu selalu menolak jika disinggung tentang pernikahan. Selalu banyak alasan, dan hal ini terkadang membuat Sayyid takut, takut jika Aleya akan berpaling darinya. Bisa saja jika ada yang lebih menarik darinya, suatu hari Aleya akan meninggalkannya.

"Schatz, lass uns essen?" ajak Aleya sambil mengamit tangan Sayyid membimbingnya menuju meja makan. ( Sayang, ayo makan? )

Aleya menyiapkan makanan Sayyid layaknya istri yang berbakti pada suami, semua dia lakukan agar kekasihnya terkesan. Meski tanpa ikatan pernikahan, dia bisa memposisikan dirinya seperti perempuan-perempuan di Timur dalam memperlakukan suami mereka. Dan sudah dikatakan, untuk bisa seperti ini Aleya banyak belajar.

"Suapin." kata Sayyid manja. Dan Aleya tidak menolak keinginan Sayyid.

"Sie wissen, Schatz, solange es nicht neben Ihnen ist, kann ich nicht gut schlafen.  Denken Sie jeden Tag an Sie."  Sayyid mulai mengeluarkan kalimat manisnya dan hal ini yang membuat Aleya melayang. Sayyid selalu memperlakukan dirinya dengan lembut dan romantis.
( Kau tahu sayang, selama tidak berada di sampingmu aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap hari memikirkanmu.)

"Bagaimana kabar kedua orang tuamu?" tanya Aleya mencoba mengalihkan pembicaraan.

Sayyid yang sedang bahagia-bahagianya bertemu dengan pujaan hati, mendadak muram. Terbayang wajah umi yang banjir airmata saat dia membangkangnya, wajah abah yang marah, wajah Amir yang murka dan juga wajah Aqilah yang terlihat sendu ketika dirinya memutuskan lamaran yang sudah di rancang abahnya.

"Are you, Ok?" tanya Aleya mendadak khawatir.

Sayid mengangguk, tapi dia sudah tidak bernafsu untuk melanjutkan makannya. Pikirannya melayang pada sosok wanita yang sudah melahirkannya. Selama ini Sayyid belum pernah mengecewakan Ummi, hanya karena keinginannya yang bertentangan dengan keimanannya, Ummi tidak rela. Dan menurutnya hal itu wajar, ibu mana yang rela bahwa anak yang telah di lahirkan, didik dengan nilai-nilai islam yang kuat akan lebih membela wanita yang keyakinannya berbeda. Ummi adalah wanita terbaik, wanita yang sangat di cintainya, tapi itu dulu sebelum Aleya hadir dan menggeser posisi cinta seorang anak pada Ibunya.

Sayyid menghembuskan nafasnya berat, dia kembali teringat dengan kata-kata Amir.
'Wanita itu adalah racun yang akan meruntuhkan kesejatian seorang laki-laki.' Dan itu memang benar. Sayyid kalah oleh rasa cintanya yang sangat pada wanita, sehingga rela menukarkan dengan keyakinannya.

"Es tut mir leid, Schatz.  Ich will dich nicht traurig machen." Aleya menyentuh tangan Aleya lembut.
( Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. )

Sayyid hanya diam dan bangkit dari duduknya. Laki-laki itu berjalan ke arah jendela. Menatap indahnya kota New York di senja hari. Ingatannya melayang ke negri yang baru beberapa jam di tinggalkannya. Baru dia merasa bahagia, tapi kini merasa terhempas. Air mata ummi terus terbayang dalam pikirannya. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi dadanya. Laki-laki itu merasa bersalah yang sangat. Sebagaimana laki-laki yang di besarkan dalam keluarga muslim dengan nilai-nilai keislaman yang kuat, menyakiti Ibu adalah tabu. Karena surga seorang anak laki-laki ada di ibunya. Meskipun kehidupan liberal sudah menjadi bagian hidup Sayyid, tapi masih ada sisa-sisa didikan orang tuanya yang nggak bisa di enyah.

Aleya merasa menyesal telah melemparkan pertanyaan tadi. Sayyid pasti banyak mengalami pertentangan bathin yang cukup hebat ketika laki-laki itu memilih dirinya. Meninggalkan keluarganya, dan hidup di negri asing tanpa keluarga. Dia bertahan hanya karena cinta, itupun ikatannya lemah karena tanpa ikatan pernikahan. Laki-laki seperti Sayyid lama-lama akan merasa lelah dalam ikatan rapuh seperti ini. Aleya memeluk Sayyid mencoba memberi kekuatan.

"Ich werde immer an deiner Seite sein, egal wie kompliziert der Weg ist, den wir gehen." Ujar Aleya mencoba menguatkan.
( Aku akan selalu berada disampingmu, serumit apapun jalan yang kita lalui.)

Sayyid diam tidak merespon kata-kata kekasihnya. Keraguan mendadak menyelimuti hatinya. Yakinkah, Aleya wanita yang akan menjadi masa depannya?
Atau hanya sebatas wanita yang menjadi samen levennya. Sekedar bersama mereguk kesenangan sampai merasa bosan, lalu entah siapa yang terlebih dahulu meninggalkan. Jika hidup hanya berporos di sini, maka dia tak lebih sama derajatnya dengan binatang, yang level kecerdasannya lebih rendah.

"Argghhh…" jerit Sayyid marah dengan memukul dingding. Dan hal itu membuat Aleya terkejut dan merasa takut.

"Tinggalkan aku sendiri!" ujar Sayyid dingin. Lalu dia segera masuk kedalam kamar membanting pintu dengan kencang.

Aleyya diam mematung. Ketakutan tiba-tiba menghantam jiwanya.
***

Akhirnya bisa melanjutkan kembali setelah lama vakum. Tulisan ini sudah lama mangkrak di laptop bertahun-tahun. Dan jujur tulisan ini menurut aku paling berat saat meramu kata-katanya.  Novel ini di tulis karena  terinsfirasi setelah  membaca buku politik, tentang banyaknya pemuda muslim yang di sekolahkan ke Barat dan ketika pulang ke negrinya ditugaskan menjadi agen-agen Barat yang memang di agendakan untuk menghancurkan agamanya dari tubuh kaum muslimin sendiri, dan itu terjadi sampai hari ini.





Aqeela# Part 1

Haruskah aku bahagia atau bersedih? Bertemu dengan mantan suami setelah 10 tahun berpisah, dan itu perpisahan yang sangat menyakitakan. Pagi tadi adalah pertemuan yang tidak di sengaja. Profesionalisme menuntutku untuk kembali bertemu Adian Hutama. Bertemu dengannya di meja operasi. Karena laki-laki itu hampir meregang nyawa akibat kecelakaan yang di alaminya. Sebenarnya bertemu dengan Mas Adyan tidak harus jadi masalah, tapi bertemu dengan keluarga yang sudah menyakitiku, rasa itu terlalu menyakitkan. Mereka sudah memisahkan cinta dua anak manusia yang tulus, hanya karena aku, seorang yang menurut mereka tidak selevel masuk ke keluarga Hutama. Anak yang baru lulus SMA, keluarganya sudah tiada karena kecelakaan, masuk ke keluarga Hutama adalah sesuatu yang tidak punya harga diri. Tapi Pangeran dari keluarga Hutama itu begitu gigih memperjuangkan cintanya, meski belum satu tahun menjalani biduk rumah tangga, pernikahan kami sudah dihempas badai tornado karena rekayasa sang nyonya besar Hutama yang tidak rela punya menantu miskin dan tak jelas seperti aku.

Adyan mengalah pada ibunya, karena tidak rela melihatku terus-terusan di sakiti oleh ibunya. Apalagi ancaman sang Nyonya besar pada anaknya semakin di luar kewarasan. Konfrotasi dan konflik membuat hubungan anak dan ibu jadi tidak sehat. Dan menurutku hal gila jika harus bertahan, dengan terus menerus menyaksikan anak melawan ibunya. Mas Adyan meminta maaf jika tidak bisa bertahan di pernikahan yang sudah pernah kami bina. Aku mendapat kabar terakhir kalau Mas Adyan menikah dengan wanita yang sudah di pilihkan oleh ibunya. Tentu saja wanita tersebut berasal dari kalangan atas layaknya keluarga Hutama. Bukan sepertiku yang terlalu memaksakan diri dan tak tahu malu untuk bisa masuk ke keluarga mereka. Sangat bermimpi jika bisa di terima dengan sangat layak sebagai menantu.

Nyonya Hutama tampak terkejut saat aku ikut terlibat dalam menangani putra kesayangannya di meja operasi. Mungkin dia tidak menyangka gadis tolol dan bodoh yang selalu dikatakannya dulu jika sedang menghina, dan sudah di buangnya dengan cara menyedihkan, kini menjadi dokter spesialis yang merawat putra kesayangannya. Sepuluh tahun waktu yang cukup lama untuk mengubah jalan hidup yang sudah Allah takdirkan. Satu hal yang dia lupa, bahwa masa depan bukan milik sikaya, tapi Allah lah yang menentukan takdir baik atau buruk seseorang.

"Aqella…kamu…" tampak wanita itu tidak percaya melihatku dengan seragam putih-putih kebesaranku saat keluar dari ruang operasi.

"Bagaimana keadaan putraku?" tanyanya penuh kecemasan.

"Alhamdulillah cukup baik. Pak Adyan sudah berhasil melewati masa keritisnya Nyonya, dan sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan."

"Terimakasih sudah menyelamatkan putraku."

Aku hanya tersenyum tipis, tidak berniat untuk memperpanjang pembicaraan dengan wanita sombong itu. Masih ada rasa sakit yang tak bisa ku enyahkan kala melihat mantan mama mertua yang jahat saat dulu memperlakukanku dengan semena-mena. Tampak keluarga Mas Adyan hadir di ruang tunggu. Ayah, lelaki yang dulu selalu membelaku dari hinaan istrinya. Mas Farhan, Mbak Tisa dan si bungsu Adzwar. Mereka semua terlihat terkejut melihatku, tapi aku berusaha bersikap biasa saja seolah segalanya yang pernah terjadi di masa lalu tidak terjadi. Anggap saja begitu. 10 tahun waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan hati yang patah. Dan bersikap manis dan beramah-tamah sungguh itu bukan gayaku si wanita es yang susah untuk di cairkan. Perjalanan luka dan kehilangan mengajarkan aku untuk membangun benteng yang kuat dan tidak percaya pada sipapun. Aku hanya mengangguk, sebagai sikap dari kesopanan yang tetap harus aku jaga. Setelah itu berlalu, masa shift kerjaku sudah berakhir. Dan jiwaku terasa letih ingin segera di rebahkan di tempat tidur yang nyaman.

***
Ku kemudikan Fortunerku dengan pikiran berkecamuk. Sungguh pertemuanku dengan Mas Adyan cukup mengguncang jiwaku. Dia adalah suami terbaik yang menyerah karena tidak tahan dengan sikap ibunya yang terlalu ikut medominasi pernikahan kami. Seharusnya dari sejak awal aku memang menyerah ketika Mas Adyan yang menawarkan pernikahan. Karena kami tidak sekufu. Dan akan sangat susah berjuang dalam pernikahan ketika restu orang tua tidak di miliki. Aku anak yatim-piatu. Ayah dan Ibuku meninggal dalam kecelakaan, dan harta peninggalan ayah yang harusnya menjadi warisanku semua di kuasai adiknya ayah yang serakah. Jadilah aku si miskin yang bernasib malang. Dan ketika ada seorang pangeran datang berniat mempersuntingku, aku ibarat itik si buruk rupa yang berharap mendapat cinta pangeran untuk mengubah nasib burukku. Tentu saja pikiran itu terjadi saat masih lugu. Sekarang ketika otaku sudah waras, mana ada seorang pangeran yang hidup dalam didikan istana kemewahan, keluarganya mau menerima itik buruk rupa. Catat, itu hanya terjadi di kisah Cinderella dan sinetron atau novel romantis yang minim konflik.

Dan perlu di ingat bahwa dalam berumah tangga yang harus di waspadai bukan hanya pelakor. Tapi Orangtua yang ikut campur dalam pernikahan anaknya. Mertua, Kakak ipar serta adik ipar juga bisa menjadi bagian di dalamnya, menjadi orang ketiga yang akan membuat rumah tangga karam jika tidak kuat. Rumah tangga yang sehat adalah menjauh sejauh-jauhnya dari sumber masalah itu. Sayangnya itu yang tidak bisa di lakukan Mas Adyan, si anak mami yang membuat aku harus tinggal dalam keluarganya, yang hari-hariku adalah babu rumah tangga dalam titah mertua. Dan bersyukurnya ini hanya berlangsung 1 tahun saja, Mas Adyan menyerah dan akupun menyerah. Dan nasib baik Tuhan masih sangat menyayangiku dengan mengirimkan seorang kakak angkat yang ingin balas budi pada kebaikan keluargaku dengan membawaku dari lingkaran neraku menuju kehidupan yang lebih baik.

Sungguh pertemuan tadi membangunkan jiwa implusifku. Seperti slide yang di putar ulang, memory kelam itu muncul. Semoga aku bisa kuat menjalani hari esok. Pertemuanku dengan Mas Adyan dan keluarganya masih menyisakan hari esok. Karena aku dokter yang di tugaskan untuk merawatnya. Entah ini takdir baik atau buruk. Yang jelas aku tidak ingin lagi berurusan dengan mereka selain menyangkut profesionalisme kerja. Cukup aku di rendahkan satu kali oleh mereka yang tidak bisa menghargai manusia-manusia yang tidak selevel dengannya. Keluarga hedonis yang sangat menuhankan harta. ***

Palace of Heaven # Part 1

Ayesa terlihat bahagia sekali hari ini. Senyum di wajah manisnya terus ia perlihatkan pada teman-teman yang berpapasan dengannya. Siapa yang tidak bahagia jika impian menempuh pendidikan ke negri yang di impikannya melalui jalur beasiswa di terima. Setelah lulus dari sarjana dia berencana untuk melanjutkan masternya di YALE. Gadis itu sudah tidak sabar untuk sampai rumah dan menyampaikan berita terbaiknya pada Papa, laki-laki yang di sangat di cintainya, orang tua satu-satunya yang masih dia miliki. Setelah mama meninggalkannya tanpa jejak dari 10 tahun yang lalu.

Hari ini dia dengan sengaja menolak tawaran teman-temannya agar bisa secepatnya sampai rumah dan bisa segera menyampaikan berita bahagia ini secepatnya pada Papa. Rasanya kurang afdhol jika berita sebahagia ini di sampaikan lewat pesan elektronik. Harus di akui bagi Ayesa hanya Papa teman curhat ternyamannya di banding sama yang lain. Tidak sama Aa Hamzah atau Teh Fira kedua kakaknya.

Papa pasti bangga jika putri bungsunya bisa mewujudkan mimpi-mimpinya. Karena Ayesa bisa meraih apa yang di inginkan adalah berkat do'a dan motivasi Papa, lelaki terbaik bagi anak-anaknya.

Ayesa dengan langkah sedikit tergesa berjalan menuju tempat parkir motornya. Kebahagiaan yang membuncah membuat ia tak sabar ingin sampai di rumah. Hari ini ia berjanji akan mentraktir Papa makan di tempat yang oke sebagai bagian dari rasa syukur atas keinginannya terkabul.

Dalam jarak tempuh dua puluh menit akhirnya motor yang di kendarai Ayesha sampai di rumah. Tapi gadis itu sedikit terkejut ketika ada mobil Honda Jazz terpakir di halaman rumahnya. Siapa yang bertamu, pikirnya. Gadis itu dengan sedikit rasa penasaran berjalan menuju teras rumah dan mengucapkan salam.

"Assalamu'alaikum…"

"Wa'alaikum Sallam…" jawab dua orang laki-laki berbarengan. Sambil memandang kearahnya dengan pandangan yang berbeda.

"Kamu sudah datang Dek, sini duduk bareng Papa. Ini Bang Aryan, katanya ada keperluan sama adek." ujar Papa sambil menyuruh putrinya duduk di dekatnya.

Degg…! Jantung Ayesha lemas demi mendengar kata Aryan. Ada sekelumit kisah yang tidak ingin di ulang. Tapi kenapa orang ini masih juga datang.
Ayesha mengangguk, dan mematuhi perintah Papa.

"Bang Aryan ini baru pulang dari Perth dan langsung datang kemari…" ujar Papa menjeda kalimatnya sesaat menatap raut wajah putrinya yang nampak terlihat gelisah.
"Kedatangannya tidak lain ingin memiliki hubungan baik dengan keluarga kita, yaitu dengan memintamu menjadi istrinya." Lanjut Papa.

Jantung Ayesha langsung lemas mendengar lanjutan kata-kata Papa. Sudah di duga jika Bang Aryan tidak akan menyerah. Dan ini adalah permintaan yang ketiga kali. Bukan…bukan tidak mau menikah dengan laki-laki seusia abangnya. Tapi Ayesha gadis yang memiliki mimpi besar. Dan usia dia masih muda, menurutnya. Sedang Bang Aryan adalah laki-laki yang harus segera menikah, hanya karena dia menyukai Ayesha membuat Bang Aryan tidak mau menikah dengan siapapun kecuali dengan dirinya.

Saat tamat SMU, Bang Aryan pernah memintanya pada Papa bahwa dirinya berniat menikahi Ayesha, tapi waktu itu Papa menolak dengan alasan Ayesha masih terlalu muda dan Ayesha juga belum berniat untuk hidup berumah tangga. Dan yang kedua ketika Ayesha berada di semester lima, saat itu dirinya dengan halus menolak karena belum masih ingin fokus kuliah. Laki-laki itu memang tidak mengajaknya berpacaran karena dia adalah lelaki yang sangat baik agamaNya begitu kata Aa Hamzah.

Sebenarnya tidak ada yang mengecewakan dari Bang Ary ini. Dia baik, secara fisik juga cukup menarik dan sudah mapan. Masalahnya cuma ada satu, Ayesha belum ingin menikah. Dan menolak kesungguhan seorang laki-laki yang datang pada ayahnya untuk ketiga kalinya, rasanya berat. Dan Ayesha pernah membaca hadist Rasulullah :

ﺇﺫﺍ ﺟﺎﺀﻛﻢ ﻣﻦ ﺗﺮﺿﻮﻥ ﺩﻳﻨﻪ ﻭﺧﻠﻘﻪ ﻓﺰﻭﺟﻮﻩ ﺇﻻ ﺗﻔﻌﻠﻮﻩ ﺗﻜﻦ ﻓﺘﻨﺔ
ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﻭﻓﺴﺎﺩ ﻛﺒﻴﺮ

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian
ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Dia juga tahu dari Aa Hamzah bagaimana perilaku Aryan selama bersahabat dengan abangnya tidak ada yang mengecewakan. Tapi menikah dengan melepaskan mimpi-mimpinya juga adalah sebuah kesalahan besar menurutnya.

"Bagaimana, Dek? Papa nggak bisa memutuskan secara sepihak untuk masalah yang menyangkut hidupmu di masa depan. Kamulah yang berhak memutuskannya."

Ayesha untuk sesaat terdiam. Sungguh ini adalah pilihan yang berat. Membuat dia merasa dilema. Dan dia menoleh ke arah Aryan yang menatapnya lekat membuat jantung Ayeha bedebar tak karuan.

"Papa, untuk masalah sepenting ini, adek belum bisa memutuskan dalam waktu yang cepat. Karena jujur adek bingung, di satu sisi adek masih punya mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Disaat menikah nanti, hal ini tentu ini tidak mudah. Menikah pasti ada hal yang harus di korbankan dan ada yang harus di prioritaskan. Dan memikul dua tanggung jawab secara bersamaan tentu tidak mudah."

Papa tersenyum sambil mengusap lembut jilbab putrinya penuh sayang.

"Papa tidak bakal menghalangi mimpi-mimpi adek, tapi tolong di pikirkan kembali niat baik Bang Aryan ini ya, sayang. Karena mencari pendampimg yang baik pun tidak mudah. Sedang Papa merasa cocok dengan karakter Bang Aryan jika jadi suamimu kelak." Ujar Papa lembut.

Ayesha semakin menenggalamkan wajahnya. Papa pun sangat ingin Bang Aryan jadi menantunya. Lalu bagaimana dengan hatinya yang masih bimbang?

"Bagaimana nak Ryan, apa masih siap menunggu keputusan Ayesha?" Tanya ayah lembut.

"Insyaallah saya siap Pah. Dan jika nanti saya menjadi suami Ayesha, saya akan menjadi suami yang selalu mendukung impiannya. Saya bukan laki-laki kolot yang akan mengekang istri di rumah. Pendidikan, karier dan aktualisasi diri, selama hal itu tidak mengesampingkan fitrahnya sebagai istri dan ummu warobatul bait maka saya tidak akan melarang." ujarnya tenang.

"Alhamdulillah Papa senang mendengar kata-katamu nak, semoga jika nanti berjodoh dengan putri Papa, engkau akan menjaga mutiara Papa dengan sebaik-baiknya."

"Amiin…" jawab Aryan. Sedang Ayesha mengamininya dalam hati setelah itu dia undur diri pamit menuju kamarnya.

Ayesha kembali memikirkan tawaran dari kampus dan Bang Aryan, sungguh ini membuatnya bingung. Keinginan menikah dalam waktu dekat belum ada sama sekali. Ayesha pikir, Bang Aryan akan mundur dengan penolakan kedunya dulu. Tapi sungguh dia bukan laki-laki yang pantang menyerah jika keinginannya belum tercapai. Dan ini membuat Ayesha takut. Takut jika dia membuang mimpinya akan seperti ini, dan takut jika menerima pernikahan akan seperti ini. Ah, kenapa hidupnya jadi serumit ini. Andai Bang Aryan mrnyerah, tentu dirinya tidak akan pusing seperti ini. Dan Ayesha jadi teringat awal pertemuan dengan Bang Ary dulu. ***


Pemimpin Dunia Bungkam dengan Permasalahan Uigur

Diskrimasi China terhadap muslim Uighur sudah di luar batas kemanusiaan. Satu juta Muslim Uighur disekap di sebuah kamp-kamp khusus itu yang terjadi pada bulan Agustus dengan dalih untuk memerangi ektrimisme. Muslim Uighur juga di paksa untuk ikut partai komunis China. Kemana para pemimpin dunia muslim? Mereka mendadak bungkam.

Muslim Uighur merupakan etnis minoritas muslim yang bertempat tinggal di provinsi Xinjiang,China. Mereka membentuk sekitar 45 persen dari populasi warga di sana. Muslim Uighur adalah etnis keturunan Turki yang menjadi warga kelas dua di negaranya sendiri. Hanya karena mereka menjadi muslim minoritas di negara pengusung komunis.

Kebebasan beribadah di Uighur adalah hal yang teramat sulit. Larangan berpuasa, salat dan menampilkan atribut-atribut keislaman adalah sesuatu yang sering terjadi. Namun muslim Uighur lebih takut pada Tuhannya di bandingkan tekanan dan siksaan pemerintah. Sangat berat sekali tantangan menjadi muslim Uigur di bawah tekanan rezim komunis China.
‘Menurut laporan dari pengamat HAM, Mereka di perlakukan secara tidak manusiawi. Setelah di kirim ke pusat penahanan, mereka di pakasa untuk mematuhi propaganda Partai Komunis. Muslim Uighur ini diperintahkan menyanyian lagu-lagu kebangsaan dan slogan komunis. Mereka juga diwajibkan menghadiri sesi cuci otak setiap hari. Jika gagal mematuhinya, mereka disiksa dengan berbagai metode seperti dilarang tidur, dikurung diruang isolasi, hingga berbagai penyikasaan fisik lain.’ Dikutip dari Merdeka.com
Dan muslim Uigur juga di perlakukan sebagai musuh negara karena identitas agama mereka yang muslim. Mereka di perlakukan secara tidak manusiawi. Dan sangat menyedihkannya permasalahan Uighur ini tidak memicu kemarahan dunia secara global kendatipun ada hanya sampai pada tahap kritik belum ada tindakan lain. Bahkan pemimpin dunia Islam di buat bungkam. Seperti halnya dengan pemimpin Indonesia yang tidak bisa berkutik untuk menyuarakan kedzaliman China terhadap muslim Uighur.
Bungkamnya pemimpin Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar di dunia cukup menjengkelkan. Pengaruh besar China terhadap Indonesia memang tidak diragukan lagi. Terutama banyaknya hutang Indonesia terhadap China membuat negeri ini tidak bisa berkutik. Hingga akhirnya tidak mampu menyuarakan kekejaman yang di lakukan pemerintah China yang telah melaukan kejahatan kemanusiaan yaitu melakukan pelanggaran HAM.

Dan diamnya dunia Islam karena China telah menjadi mitra dagang utama setiap negara mayoritas muslim. Banyak dari negara muslim tersebut adalah anggota Bank Investasi Infrastruktur Asia yag di pimpin oleh China atau berpastisipasi dalam Insiatif Sabuk dan Jalan China. Untuk Asia Selatan ada investasi Infra struktur.

Sedang untuk Asia Tenggara China adalah pasar utama komoditas kelapa sawit dan batu bara. Sedang untuk Timur Tengah mendapat keuntungan dari China karena China adalah importir terbesar minyak dunia dan penggunaan gas alamnya meningkat pesat. Sehingga banyak negara di timur tengah yang memiliki ketergantungan ekonomi pada China. Maka adalah sesuatu hal yang sangat wajar jika para pemimpin muslim bungkam. Jika mereka mengotak-atik masalah Uighur otomatis hubungan positif mereka dengan China akan ternodai. Jadi diam adalah cara terbaik di banding mengurus pelanggaran HAM yang terjadi di Uighur. Yang terpenting simbiosis mutualisme diantara para pemimpin Negara muslim dengan China tetap terjaga.

Fakta sejarah yang tidak bisa di sembunyikan di saat umat islam berhasil menguasai dunia maka agama-agama lain di biarkan hidup dengan bebas dan aman. Mereka juga mendapat tempat istimewa di bidang pemerintahan, seperti halnya yang pernah terjadi di masa Bani Umayah. Selama satu abad kementrian keuangan di pegang secara turun-temurun oleh keluarga Kristen.
Tapi, ketika non muslim berkuasa – maka selain agama yang berkuasa,agama Islam akan habis di tumpas. Bahkan terjadi genocide atau killing field. Seperti yang pernah terjadi di Spanyol, ketika kejayaan Islam di Andalusia jatuh di kalahkan raja Ferdinad dan Isabella. Maka pembunuhan, kristenisasi atau Evakuasi. Sedangkan islam adalah agama kemanusiaan yang sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat manusi tanpa membedakan bangsa, agama, atau warna.

Dalam islam menjaga wilayah kaum muslimin adalah suatu kewajiban baik dari ganguan internal maupun eksternal.Hal ini berkaitan dengan keselamatan jiwa, harta dan kehormatan kaum muslimin.
Imam haramain Al-Juwaini berkata, “Perhatian imam dalam menjaga perbatasan negeri kaum muslimin adalah hal yang penting, yaitu dengan menjaga benteng-benteng, memenuhinya dengan bahan makanan dan persediaan air, membangun parit, perlengkapan perang dan peralatan untuk bertahan dan menyerang, dan hal ini menuntut adanya para pasukan yang menjaga setiap perbatasan.” (Giyatsul Umam, hal 156)
Hanya islam ajaran yang penuh dengan toleransi dan sangat menghargai pemeluk-pemeluk agama lainnya. Tidak diskriminatif dan tidak membeda-bedakan. Hal ini menunjukan bahwa islam adalah agama yang cinta akan kedamaian. Ajarannya bersifat universal untuk seluruh umat manusia. Sangat berbeda ketika non-Muslim menjadi mayoritas. Umat islam selalu mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dan refresif [] opini ini pernah diterbitkan di Media Oposisi

LARA MENTARI # Part Tujuh

Erick terlihat kacau. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan Mentari dan anaknya. Sebelum dia bisa menemukan keberadaan mantan istri dan anaknya, tidak akan bisa tenang. Hari ini dia menyerahkan semua pekerjaannya pada Andre yang menjadi kaki tangannya di kantor. Dia juga tidak tidur di apartemennya, tapi tidur di rumah yang sudah di berikan pada Melati dan Gara. Terkadang penyesalan selalu datang terlambat. Begitupun dengan rasa rindu. Rindu dengan senyuman Mentari yang memiliki lesung di kedua pipinya hingga kalau tersenyum akan terlihat sangat manis. Rindu akan akan masakannya yang lezat. Dan rindu tentang segala hal yang berhubungan dengan Mentari dan Gara.


Telepon di naskah terus berdering dari tadi. Erick tahu siapa yang menelponnya, tapi dia sama sekali tidak berniat mengangkatnya. Itu pasti dari Adelia. Kalau tidak minta tambahan uang belanja, wanita itu pasti akan meminta untuk segera di nikahi. Kemarin sebelum penceraian terjadi, Erick sangat menggebu ingin segera meresmikan hubungan gelapnya dengan Adelia ke jenjang yang lebih serius. Namun saat ini niatnya benar-benar mengendur. Rasa cinta yang menggebu perlahan menguap. Ternyata sebrengsek apapun dirinya sebagai laki-laki, rumah adalah tempat terindah untuk pulang, dan Adelia merasa tidak cocok untuk di jadikan rumah sebagai tempat untuk pulang.

"Den…den Erick…" pintu kamarnya di ketuk dari luar.

"Masuk saja, bik…" suruh Erick dari dalam.

"Ini Bibi bawain sarapan, dari tadi aden nggak keluar-keluar." ujar Bik Sumi sambil menyimpan sarapan nasi goreng di meja.

"Terimakasih Bik, nanti aku makan sekarang aku kepingin tiduran dulu." ujarnya lesu.

"Aden sakit?" tanya Bik Sumi khawatir.

Erick menggeleng. "Aku hanya kurang tidur aja Bik, bentar lagi juga sembuh." jawabnya.

"Ya udah Bibik, tinggalin dulu ya, Den, nanti kalau ada apa-apa panggil aja di dapur."

Erick mengangguk pelan. Hari ini tubuhnya terasa lemas dan sedikit pening. Mungkin efek kurang tidur. Gara-gara semalaman sesah tidur, karena di dera rasa bersalah yang sangat. Erick memaksakan tubuhnya bangkit dari tempat tidur karena harus sarapan. Nasi goreng petai yang di buat Bik Sumi terlihat menggiurkan, membuat rasa laparnya terbit.
Dan ketika mencoba menyuapkan beberapa suap nasi goreng ke mulut, perutnya mendadak mual, hingga harus segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan kembali makanan yang sudah di makannya.

"Ya…Tuhan kenapa aku aku bisa semual ini." Erick menyenderkan tubuhnya ke dingding dengan tubuh terasa tidak berdaya. Dengan langkah di seret laki-laki itu kembali menuju kasur untuk segera membaringkan tubuhnya. Kepalanya terasa berputar. Biasanya dia tidak pernah selemah ini.

Andai saja Mentari ada di sini, pasti tidak akan membiarkanku kesakitan seperti ini, batinnya. Di saat sakit seperti ini, betapa ia sangat membutuhkan perhatian seorang istri yang bisa mengurusinya dengan telaten.

Akh…kenapa yang di pikirkan dalam otaknya cuma Mentari, bukankah dirinya sendiri yang sudah memutuskan ikatan perkawinan itu. Merasa yakin kalau dirinya akan hidup bahagia dengan selingkuhannya, tapi hari ini merasa dirinyalah yang paling menyesal karena di tinggalkan. Seperti laki-laki patah hati yang merasa dirinya paling di sakiti. Padahal dirinyalah yang paling baling banyak menyakiti.

"Mentari…Gara…kalian di mana? Sungguh aku benar-benar menyesali semua perbuatan buruku." rahuknya perih. Dengan sadar laki-laki itu menangis. Kalau kembali bertemu dengan mereka dia berjanji pada dirinya untuk berubah lebih baik dan kembali menawarkan untuk kembali merajut mahligai rumah tangga. []

Mood buat nulis benar-benar lagi buruk, selain itu banyak target yang ingin di capai pas puasa ini. Tapi demi membisakan nulis tiap hari tetap di usahakan.


LARA MENTARI # Part Enam

Pulang dari Jardin de Luxembrough Mentari langsung ke dapur bersiap-siap untuk memasak. Sudah seminggu berada di Prancis Mentari begitu kangen dengan masakan Indonesia. Dia juga sangat kangen dengan jajanan Indonesia yang ngangenin. Seperti Bakso, Mie Ayam, Somay, Cilok, Batagor, Soto, bikin terbit air liurnya. Semodern apapun negara luar, tetaplah negri sendiri paling the best. Apalagi kalau sudah ngomongin soal makanan, Indonesia tiada tandingannya.


Hari ini dia sangat ingin sekali memakan soto betawi. Untungnya bahan-bahan untuk membuat soto sudah tersedia di kulkas, karena kemarin Mentari sama kakaknya berbelanja ke super market. Setelah meracik bahan-bahan, Mentari pun mulai menyalakan kompor. Untungnya Gara dan Mas Hanif belum nyampe rumah, sehingga dia bisa tenang memasak tanpa ada yang mengganggu.

Dari sejak masih gadis Mentari sangat senang dengan dunia memasak dan membuat kue, dia orang yang paling betah berkutat di dapur. Saat sudah menikah, Erick sering memuji masakannya. Tapi ternyata selezat apapun masakannya, tidak mampu memikat hati suaminya.

Ketika masakan sudah terhidang dengan rapi di meja, Mas Hanif datang bersama Gara penuh dengan keringat. Kedua orang itu terlihat bahagia sekali.

"Kamu masak apa dek? Harum banget." tanya Mas Hanif..

Aku masak soto betawi, mas."

"Wow… ini makanan kesukaan Mas. Rasanya Mas
sudah lama nggak nyicip soto. Mas, makan sekarang ya dek, lapar banget nih." ujar Mas Hanif antusias.

"Mas, nggak mandi dulu?" tanya Mentari.

"Nanti aja, Mas sudah nggak tahan buat nyicip ini soto. Kalau di tunda nanti, ntar Mas tambah ngiler." Mas Hanif langsung mengambil piring.

Laki-laki sangat menikmati sekali soto buatan adiknya. Rasanya sangat lezat. Rasa homesicknya pada kampung halaman terbayarkan hanya dengan menikmati soto betawi.

"Sotonya lezat banget, dek. Mas nambah lagi, ya?" kata Mas Hanif yang mendadak nafsu makannya naik dua kali lipat.

Mentari tentu saja senang melihat abangnya lahap makan.

"Mas jadi betah di rumah kalau kamu sering masak gini."

"Kenapa Mas nggak cari istri saja?"

Mas Hanif terdiam cukup lama. Tidak langsung menjawab pertanyaan adiknya. Wajahnya terlihat murung.

"Karena mencari istri yang baik dan mau menerima Mas itu nggak mudah. Apalagi Mas pernah di kecewakan, jadi harus berhati-hati dalam memilih istri. Dan sekarang ada kamu dan Gara yang harus Mas perhatikan. Kalau kamu sudah bisa bangkit dan menemukan jodoh yang jauh lebih baik, Mas baru akan memikirkan diri sendiri."

Mentari merasa terenyuh dengan apa yang dikatakan kakaknya. Mas Hanif pernah terluka, sama dengan dirinya. Bedanya Mas Hanif belum terlihat pernikahan. Baru sebatas tunangan, dan wanita yang pernah jadi kekasihnya itu memutuskan memilih laki-laki lain.

"Sudahlah, kita tidak usah terjebak pada ruang yang ada di masa lalu. Toh, mereka sudah bahagia. Tinggal kita sendiri yang mesti mencari kebahagiaan kita. Tak perlu di sesali dengan apa yang sudah terjadi, tapi kita mesti bersyukur karena Allah selalu tahu apa yang terbaik buat kita."

Mentari sangat setuju dengan apa yang di katakan kakaknya. Seperti dirinya yang tak boleh menyesali apa yang sudah terjadi dengan Erick. Karena bisa jadi Allah akan memberikan pasangan hidup yang jauh lebih baik dari masa lalunya.[]

Sebenarnya lagi males nulis karena lagi fokus bikin soal Matematika buat anak-anak yang les untuk persiapan UKK, jadi nggak bisa nulis banyak-banyak.

ABORSI REMAJA: BUKTI LEMAHNYA PERAN ORANG TUA, AGAMA, DAN NEGARA


Kasus aborsi di Indonesia kian hari semakin meningkat tajam. Berdasarkan prakiraan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKBN), sekitar dua juta kasus aborsi terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Artinya, ada dua juta bayi dibunuh dalam satu tahun. Kasus aborsi ini, yang sebagian besar terjadi di kalangan remaja, menjadi penyumbang utama penyebab kematian yang terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.


Menurut beberapa penelitian, kasus kehamilan di luar nikah mengalami peningkatan sebesar 29,8%. Sebagian remaja memilih untuk menggugurkan kandungannya melalui aborsi.
Banyak faktor yang menyebabkan remaja nekat melakukan aborsi. Pertama, mereka malu karena hamil pada usia sekolah kemudian memilih aborsi sebagai jalan untuk menutupi aib tersebut. Memang, masyarakat kita masih memegang adat ketimuran sehingga hamil di luar nikah merupakan hal yang sangat memalukan. Maka dari itu, remaja putri yang hamil di luar nikah akan mendapatkan hukuman sosial berupa cibiran dan diremehkan oleh lingkungan sekitarnya. Kedua, pasangan belum siap bertanggung jawab untuk mengesahkan hubungan mereka melalui ikatan pernikahan sehingga aborsi adalah pilihan yang dianggap mampu menghapus dosa yang telah mereka lakukan. Ketiga, pasangan juga belum siap menjadi orang tua atau bahkan remaja putri yang melakukan aborsi adalah korban pemerkosaan.

Pergaulan bebas remaja saat ini semakin tidak mengenal batas. Ditambah lagi, pengetahuan remaja tentang agama begitu minim. Rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar mereka juga tidak memberikan pemahaman agama yang baik untuk kehidupan remaja dewasa ini. Hal inilah yang membuat mereka semakin salah arah. Pasangan remaja yang berpacaran sudah tak segan lagi memamerkan kemesraan mereka di depan umum. Namun, pada akhirnya, bila terjadi kehamilan di luar nikah, pihak perempuanlah yang menjadi korban.

Masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Mereka mengalami fase yang sangat labil sehingga mudah sekali dipengaruhi oleh beragam pemikiran negatif dari teman-temannya. Sebenarnya, hal ini tidak mungkin terjadi apabila rumah tempat mereka bernaung merupakan tempat ternyaman, tidak hanya bangunannya, tetapi juga para penghuninya. Segala sesuatu, baik positif maupun negatif, berawal dari dalam rumah.

Pengasuhan yang baik dan sosok orang tua yang mampu menjadi teladan sangat berpengaruh terhadap psikologis, pola pikir, dan sikap mereka. Sosok ayah memiliki peran yang sangat besar terhadap anak, terutama anak perempuan. Seorang anak perempuan yang memiliki kedekatan emosional dengan ayahnya akan sulit dipengaruhi oleh pesona dan jeratan cinta laki-laki di luar sana. Dia akan berpikir dan bertingkah laku dengan penuh pertimbangan ketika virus merah jambu menjangkitinya. Baginya, ayahnya merupakan sosok sempurna dalam hidupnya yang selalu siap menemani masa remajanya yang penuh dengan tantangan. Sang ayah baginya adalah pria yang senantiasa menyediakan pundak tempat dia bersandar ketika lelah menghadapi beragam problematika pada masa remajanya.

Dengan demikian, solusi atas permasalahan aborsi ini adalah peningkatan kualitas pengasuhan di keluarga. Ketika keluarga kehilangan kontrol terhadap anak-anak perempuannya yang sedang berada pada masa remaja, dia akan mencari sosok laki-laki di luar sana yang mampu membuatnya merasa nyaman dan membuatnya bahagia. Dia tidak peduli apakah laki-laki tersebut akan menghancurkan masa depannya di kemudian hari atau tidak. Kesibukan orang tua dalam mengejar materi hingga tidak memiliki waktu luang yang berkualitas dengan anak-anak mereka adalah awal dari masalah aborsi ini.
Sistem negara yang menganut sekulerisme juga berperan menjadikan akhlak remaja kita rusak. Ditambah lagi, industri film tidak berkualitas yang merusak moral, situs-situs pornografi yang bertebaran di internet, lagu-lagu bernuansa cinta melenakan yang kerap dikumandangkan adalah penyebab-penyebab lain atas kerusakan moral remaja saat ini.

Seandainya pemerintah bertindak tegas demi melindungi generasi remaja dari kerusakan moral, tentu segala permasalahan yang terjadi pada generasi saat ini dapat terselesaikan dengan baik. Namun, pemerintah seolah melakukan pembiaran dan ikut mendukung para pemilik modal menanamkan dana mereka dalam industri hiburan dengan alasan mereka mampu menyumbang pajak untuk negara, meskipun generasi mudanya yang menjadi tumbal.
Aborsi dalam Islam tentu sangat dilarang karena berdampak besar baik terhadap dirinya maupun lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, Islam menetapkan sanksi tegas bagi pezina dan pembunuh, yaitu rajam dan kisas (qishos). Allah tentu tidak akan menurunkan ayat tentang larangan zina apabila tidak berdampak besar bagi keberlangsungan hidup umat manusia di masa depan: Islam sangat menjaga kemuliaan nasab seorang anak manusia.

وَلَا تَقۡتُلُواْ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۗ ٣٣
33. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan suatu (alasan) yang benar.
Berdasarkan ayat di atas, aborsi sangatlah dilarang dalam Islam. Allah sangat menyayangi hamba-Nya dari perbuatan buruk sehingga memberikan aturan tegas ini.

Pergaulan bebas cepat atau lambat akan menghilangkan fitrah manusia dengan sendirinya. Hal ini dapat kita lihat dengan maraknya berbagai macam kerusakan moral yang menimpa negeri ini: LGBT, narkoba, dan seks bebas.

Untuk menghindari pergaulan bebas ini dan dampak buruk yang akan ditimbulkannya di masa depan, Islam sudah mengatur aturan-aturan yang harus ditaati oleh para pemeluknya; di antaranya ialah menutup aurat, menundukkan pandangan terhadap lawan jenis, tidak bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram, dan senantiasa menjaga nilai-nilai keislaman dalam setiap aspek kehidupan.
Jika seluruh aturan ini diterapkan dalam diri semua umat Islam dan rumah menjadi pilar utama dalam menjaga remaja agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas, niscaya mereka tidak akan terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Selain itu, negara sebagai tempat bernaung semestinya menjaga kesalehan seluruh rakyatnya melalui penerapan hukum Islam secara holistis. ( Pernah diterbitkan di Media Oposisi )

LARA MENTARI # Part Lima

Mentari merasa sangat bahagia melihat Gara tertawa riang bermain bersama Pamannya di Jardin du Luxembourgh, sebuah taman yang terkenal indah di Paris. Mas Hanif yang hangat dan kebapakan membuat anak itu tidak mau jauh. Apalagi Mas Hanif sangat kretif membuat mainan untuk Gara. Hal yang tidak di dapatkan dari ayahnya sendiri. Mungkin kepergiannya ini adalah langkah yang benar. Menjauhkan Gara dari ayahnya tidak terlalu salah. Toh, Gara mendapat kasih sayang yang berlebih dari Mas Hanif.


Suasana pagi di Jardin du Luxembough banyak sekali warga di sini yang berolah raga.Jardin du Luxembourg terletak di arondisemen 6th, dan di mana penduduk setempat pergi untuk berlari.

"Mas, aku titip gara dulu sebentar ya? Aku mau berjalan-jalan sebentar merasakan udara sejuk di sini."

"Pergilah. Biar Gara aku yang jagain. Kamu butuh me time buat refreshing." suruhnya.

Mentaripun segera berlalu dengan langkah ringan menyusuri indahnya susana Jardin du Luxembrough di waktu pagi. Menyaksikan taman yang bersih sungguh sangat menyegarkan mata.

Prancis kota modern kiblat segala mode, yang sayang jika ke indahannya untuk di lewatkan. Kapan-kapan ia juga ingin berjalan-jalan ke Marseille, Les Baux de Provence, Avignon mencoba menikmati kepingan sejarah masa lalu. Dan juga ia ingin menikmati berjalan-jalan di sungai Seine yang di nikmati dengan menaiki Gandola.

Saat sedang melamun dengan segala rencananya. Mentari di kagetkan oleh seorang anak muda yang meminta bantuan untuk di photo.

"Mlle, je peux demander votre aide?" (Nona, bisakah saya minta bantuanmu?) tanya seorang anak muda sambil menyodorkan hapenya.

"S'il vous plait" ujar Mentari sambil menerima hape yang mereka sodorkan. Jadilah pagi ini Mentari menjadi photografer dadakan ke dua anak muda yang sepertinya sepasang kekasih.

"Merci Puis-je demander une photo avec vous?"

Mentaripun dengan senang hati menerima tawaran mereka.

"Puis-je savoir votre nom? Tu es très belle comme le visage de l'Asie que je vois souvent." ujar si gadis yang menemani pemuda tersebut.

"Je Suis Mentari. Originaire d'Indonésie."

"Wow ... Indonésie. J'aime ce pays. Surtout Bali. Je Seuis Catrine Ryder Et c'est mon amoureux Gerald Agler." ujar gadis itu riang dan memperkenalkan dirinya bahwa mereka di kota Prancis ini sedang belajar. Sedang asal mereka dari Britania Raya.

Setelah berbincang-bincang sebentar, mereka memisahkan diri. Dan Mentari kembali melanjutkan acara jalan-jalannya. Ketika melihat Gaufres sebuah makanan khas yang ada di jalanan Prancis dia menyempatkan diri untuk membelinya.

Gaufres adalah salah satu makanan jalanan paling populer di Perancis. Makanan ini mirip dengan wafel Belgia yang disajikan dengan selai cokelat dan gula bubuk sebagai topping. Harga Gaufres sangat terjangkau dan mudah ditemukan di jalanan berbagai kota di Perancis.
***

Erick benar-benar kacau dengan kepergian Mentari. Dia merasa tak rela jika Mentari menjauhkan dirinya dengan Gara. Di saat ia ingin memperbaiki kesalahannya sebagai seorang ayah, justru Mentari membawa anaknya pergi jauh. Tadi dia sudah datang menemui orang tua Mentari, dan mereka tidak tau apa-apa tentang Mentari. Erick juga mengakui semua kesalahannya, jika selama ini dia sudah menyia-nyiakan istrinya.

"Di pernikahan yang kami jalani dalam tiga tahun ini, Mentari sama sekali tidak salah. Dia sudah berusaha menjadi istri dan ibu yang baik. Hanya saja saya tidak pernah bisa mencintainya. Saya kembali menjalin hubungan dengan mantan pacar saya secara diam-diam. Mulanya Mentari tidak tahu, tapi dia pernah memergoki kami saat Chek in di sebuah hotel. Aku juga sering menyakitinya dan membuat dirinya banyak menangis. Jadi Mama dan Papa, jangan pernah salahkan Mentari di gagalnya pernikahan kami. Tapi akulah yang salah, dan berusaha melepasnya, agar Mentari bisa hidup bahagia tanpa aku menyakitinya lagi." ujar Erick panjang lebar dengan muka muram menahan kesedihan.

Orang tua Mentari terlihat shock mendengar penuturan menantunya ini. Selama ini ia sudah menyalahkan anaknya, tanpa meraba perasaan anaknya yang sedang terluka.

"Jadi kalau Papa dan Marah kecewa dan ingin marah, maka lampiaskan semuanya padaku. Karena aku di sini yang paling bertanggung jawab."

"Kau menyakiti anak perempuanku!" ayah Mentari langsung marah dan menampar muka Erick sampai bibir laki-laki itu berdarah. "Cari dia sampai ketemu. Jika kau sudah tidak mampu merawatnya dengan baik, kembalikan dia kesini dengan utuh. Aku tidak ingin anak dan cucuku berkeliaran jadi gembel di jalanan." tambahnya.

Sedang Ibu mentari menangis terisak. Ini semua salahnya, kalau bukan sifat keras kepalanya yang tidak bisa di bantah, Mentari tidak akan pernah ada di pernikahan yang menyakitkan ini.

"Aku akan memaafkanmu jika anakku kau bawa dengan baik ke rumah ini." ujar Ibu Mentari sambil terisak-isak.

Erick hanya bisa menunduk, menyesali semua kesalahannya. Jika dirinya bisa sedikit saja memberikan hatinya untuk Mentari, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Tapi, semua sudah terjadi. Penyesalan sudah tidak berarti lagi. Tugasnya adalah mengembalikan kembali mantan istrinya ke rumah ini. []









DEGRESI MORAL REMAJA HASIL PENDIDIKAN ERA SEKULER


Kerusakan  remaja muslim Indonesia saat ini benar-benar berda dalam titik yang sangat mengkhwatirkan.  Demokrasi yang  kebablasan yang di dukung dengan media- media sekuler yang meracuni remaja-remaja labil untuk hidup dalam dunia yang penuh dengan senang-senang, mengiring mereka pada kehidupan yang hedonis. Kehidupan mereka di design untuk hidup seragam jadi pengikut  para industri kapitalis untuk Fun  dan selalu Fashionble. Tak peduli life syle mereka rusak dan memiliki mindset sampah yang penting hidup gue senang.

KRISIS PANGAN MENJADI ANCAMAN DUNIA GLOBAL


Tantangan ketahanan menjadi isu yang hangat di perbincangkan oleh dunia saat ini. Dipicu dengan pemanasan global dan perubahan iklim, menjadikan musim hujanpun tidak menentu. Dan ini tentunya menjadi ancaman bagi para petani yang sumber pengairan sawahnya sangat bergantung pada guyuran air hujan. Ketergantungan pada iklim yang semakin tidak menentu ini, tentunya akan menjadi ancaman juga untuk ketahanan pangan baik skala nasional maupun global.

LARA MENTARI # Part 4

Penyesalan selalu terlambat hadir melingkupi jiwa yang sepi. Dan kini aku di hantam kehilangan. Karena Mentari yang dulu sinarnya bisa aku lihat kini menghilang pergi.

~Erick Ibrahim~

Aku merasakan kehampaan yang luar biasa  pada jiwaku.  Apalagi mengingat mimpi semalaman yang masih terekam dalam ingatan . Aku melihat Mentari dan Gara jatuh ke dalam jurang, dan aku merasa sangat menyesal tidak bisa menolong mereka, lalu aku terbangun dengan keringat membanjiri tubuhku. Setelah itu aku tidak bisa tidur lagi sampai shubuh. Mencoba merenungi ikatan rumah tangganya yang sudah terputus.

LARA MENTARI # Part 3

Mentari memasukan koper ke dalam bagasi mobil sahabatnya. Ini sudah jam 10 malam. Dia akan berangkat dari bandara Soeta pukul 00.20 menuju Prancis dengan menggunakan Pesawat Qatar Airlines (QR 995) dan nantinya akan Transit di Doha dan penerbangan terakhir di lanjutkan menuju Aéroport Paris-Charles de Gaulle. Setelah di rasa semuanya beres, ia segera mengambil Gara yang lagi tertidur di sopa ruang tamu. Dia cuma bilang pada Pak Satpam, Bik Sumi dan Pak Dadang, bahwa dirinya akan berlibur selama seminggu ke Jogja. Padahal ia akan pergi ke luar negri dalam waktu yang tidak bisa di tentukan.

LARA MENTARI # Part 2

Melati menatap Gara yang tertidur nyenyak dengan air mata mengalir. Hatinya terasa pedih dengan nasib putranya, yang tidak mendapat kasih sayang ayahnya secara utuh. Sekarang dirinya seorang singel parent, tak mudah menjalani hal ini. Dia harus menjadi ayah sekaligus ibu. Belum harus kuat menghadapi pandangan orang lain tentang dirinya yang memegang predikat janda.

LARA MENTARI Part 1


Sina menatap Mentari dengan perasaan sedih. Dulu gadis cantik dan periang itu, hidupnya seperti pelangi. Indah penuh warna. Tapi semenjak perjodohan itu hadir  tiga tahun silam, mendadak keceriaannya sirna. Wajah cantik itu tidak secerah dulu, selalu bergelayut mendung.

MALIKA # Chapter 12


"Kalian mau kemana?" tanya Bang Ramdhan yang baru pulang dari Car Free Day sekalian lari. Keringat nampak membasahi wajahnya, tapi tetap aja cakep mirip Patrick Schwarzenegger cuma sayangnya dia terlalu cuek. Jangankan mikirin rumah tangga pacaran aja belum pernah.

MALIKA # Chapter 8

Sabtu yang cerah. Biasanya aktivitas Malika di hari Sabtu adalah mengajar anak-anak di rumah singgah, setelah dari sana ia akan ikut komunitas kajian islam. Dan itu rutinitas yang sangat di senanginya dalam mengisi waktu luang. Dia jarang ikut nongki-nongki cantik sambil menghabiskan waktu nggak jelas. Pernah  sesekali sama sahabat-sahabatnya. Tapi itupun lebih banyak ke aktipitas naik gunung. Sekarang setelah ke tiga sahabatnya sibuk, ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama anak-anak yang kurang beruntung. Bersama mereka ada kebahagiaan yang tak bisa di bayar oleh apapun.

Malika sudah menyiapkan banyak makanan untuk di bawa ke rumah singgah, serta buku-buku bacaan. Menurutnya meski anak-anak itu nasibnya terbuang dari keluarga yang seharusnya memberikan kasih sayang yang berlimpah, tapi mereka tak boleh kehilangan impian dan harapan. Buku-buku adalah motivasi mereka untuk meraih mimpi. Dalam memintal asa manusia tidak boleh kalah oleh keadaan.


Banyak orang sukses di dunia ini memulai dari keluarga yang mungkin dipandang orang lain sebelah mata. Namun impian dan kerja kerasnya tidak membuat mereka menyerah pada keadaan. Roman Abramovich,  Li Kha Sing, Jack Ma, Colonel Harland Sanders adalah contoh orang sukses yang pantas untuk di tiru dari perjuangan dan sikap pantang menyerahnya. Dan hal ini yang harus di ajarkan pada anak-anak yaitu memotivasi, dan menggembleng mental mereka agar tangguh.

Setelah merapikan apa yang akan dibawa, Malika keluar menemui Tante Dinar yang asyik bikin kursteek.

"Tante hari ini Malika izin ke rumah singgah, lanjut ke ikut kajian. Janji nggak pulang telat lagi."

Tante Dinar melirik keponakannya yang sudah rapi.

"Tadinya Tante mau ngenalin kamu sama anak teman Tante. Dia dokter lulusan Jerman. Tapi sudahlah kalau kamu mau pergi. Mungkin kapan-kapan ketemuannya." jelas Tante Dinar enteng. Sementara Malika sudah tegang.

"Aku nggak mau di jodoh-jodohin, Tan." ujar Malika kesal. Sampai kapan ia akan terbebas dari teror perjodohin ini. Sudah tiga kali gagal. Dan ia males banget bertemu cowok yang ngebanggain apa yang di milikinya.

"Kamu sudah tua, ingat itu."

Ckk…males banget jika di bilang tua.

"Aku masih tiga tahun lagi menuju tiga puluh, dan masih kelihatan kayak ABG tujuh belas tahun. Dua tujuh itu hanya angka Tante, dan kita jangan terfokus pada angka."

" Tante dulu usia dua-dua sudah di pinang sama paman kamu. Ingat perempuan itu makin tua makin beresiko. Mending kelapa makin tua makin bersantan. Apa susahnya sih kenalan dulu, tante lihat anaknya teman tante itu baik, sopan dan sayang sama ibunya. Laki-laki seperti itu yang layak dijadikan pendamping."

"Aku berangkat Tan," Malika merasa males kalau tantenya sudah menyinggung tentang jodoh.

"Kamu ini, tante belum selesai bicara."

"Lain kali aja sambung lagi, Tan. Sekarang aku harus pergi."
Ya udah hati-hati. Dan jangan pulang di atas jam tujuh malam." pesan Tante Dinar.

Malika mengangguk dan mencium tangan tantenya. Hari ini ia bisa lega tidak ada duo kembar yang selalu mengekorinya. Mereka sedang sibuk dengan kegiatannya sendiri.
~••~
Di kelilingi oleh anak-anak yang ceria  hati Malika menghangat. Di sini ia menjadi sosok yang di butuhkan. Mengajari mereka membaca, berhitung dan bercerita banyak hal yang memotivasi itu adalah  yang menyenangkan.

"Kakak, Abbas bin Firnas itu siapa?" Tanya Budi yang rasa ingin tahunya sangat besar. Usianya masih tujuh tahun belum begitu lancar membaca.

"Abas bin Firnas adalah seorang ilmuwan islam di masa pemerintahan Khilafah Usmani. Dia seorang ulama  yang sangat taat sama Allah. Kesolehan dan kecerdasannya mengantarkan dia menjadi seorang
Penemu pertama yang menciptakan pesawat terbang."

"Seperti Pak Habibi? " Tanya Abdul antusias.

"Ya seperti Pak Habibi. Tapi Abas bin Firnas adalah orang muslim pertama di dunia yang menciptakan pesawat terbang. Meskipun saat itu belum sempurna pesawatnya. Masih dalam tahap uji coba. Jadi anak-anak jika kita ingin jadi orang yang hebat harus bertakwa dulu pada Allah. Dan jangan lupa rajin belajarnya."

"Aku ingin seperti Abbas bin Firnas." kata Budi sambil meluncurkan pesawat yang terbuat dari kertas.

" Abdul mau seperti Ibnu Sina, karena Abdul ingin jadi dokter."

"Aku mau jadi Kholid bin Walid….Umar bin Khatab…Ibnu Rusdy…..Al-Kharizmi." sambung anak lain.

Malika tersenyum cerah melihat banyak harapan di mata jernih mereka. Anak-anak memang harus di motivasi dengan cerita yang mendidik. Dan islam memiliki banyak sekali figur yang bisa di jadika teladan. Bukan superman, iron man, power rangers atau pahlawan yang berasal dari tokoh fiksi.

"Anak-anak mari kita makan dulu. Kak Malika banyak bawa makanan enak hari ini."

"Asyik…kita makan…kita makan." ujar anak-anak ceria.

"Ok, kalian seperti biasa yang tertib ya…semuanya Insya Allah pada kebagian."

"Ok, kak…." ujar mereka serempak.

"Jangan lupa berdo'a dulu."

Makan dengan ayam fillet crispy, capcay, tempe orek dan sambel terasi terasa begitu nikmat jika dimakan bersama-sama.

Selesai makan dan melanjutkan obrolan seru bersama anak-anak. Malika pamit.

"Anak-anak, Kak Malika pamit pulang dulu ya?"

"Tapi Kak Malika harus sering-sering kesini ya, kita Kangen." ujar anak-anak.

"Iya nanti kakak akan rajin kesini kalau lagi nggak banyak pekerjaan dan bisa pulang cepat. Nanti kita liburan bareng jalan-jalan ke kebun binatang atau berenang."

"Yeay jalan-jalan." teriak anak-anak senang.

Setelah pamitan sama anak-anak, Malika pamitan pada sesama teman-teman volunteer yang lain. Hari ini ia ada rencana ke toko buku sebentar di lanjutkan ikut kajian. []


Kemarin sangat kelelahan jadihanya hanya bisa melanjutkan sedikit. Dan pagi-pagi berusaha untuk nambahin kekurangannya dan lanjut bagian berikutnya. Nggak nyangka banget sudah mau chapter sembilan. Alhamdulillah fokus untuk nulis sebulan tanpa jeda hari sudah memasuki ke dua puluh lima hari. Biasanya saya menulis tergantung maunya aja. Tapi sekarang akan berusaha untuk fokus. Meski nyari ide menulis itu susah banget.

MALIKA # Chapter 7


Jika ada wanita yang ingin di hindari oleh Malika dalam hidupnya saat ini, ya wanita rubah itu. Wanita yang sekarang sedang berbelanja bersama anak perempuannya di super market tempat dirinya juga berbelanja yang tidak jauh dari kantornya. Melihatnya kembali mengingatkannya pada luka yang terjadi di saat usianya masih belasan tahun.

MALIKA # Chapter 3

Malika melirik jam tangannya, sudah cukup malam ketika dia keluar dari Kafe. Selesai mengikuti kajian dari rumah Mbak Fauziyah, tadi dia mengobrol dulu dengan Aisyah di sebuah kafe, membicarakan tentang keinginanya menutup aurat secara sempurna, namun ia terkadang masih ragu. Malika merogoh hapenya yang ada di saku celana. Ada 20 miscall tertera di layar. Yang pasti itu semua dari abangnya, si kembar, paman Yuda dan Tante Dinar. Mereka selalu khawatir kalau Malika tidak sampai rumah tepat waktu. Maklum dia adalah perempuan satu-satunya di rumah yang masih gadis.

Gadis itu sama sekali tidak berniat membalas sms atau telephon dari mereka. Sekali-kali ia ingin merasa bebas dari ketakutan mereka yang selalu mengkhawatirkannya. Usianya sudah memasuki 27, tapi dirumah masih saja diperlakukan seperti seorang princess.

Malika segera masuk ke mobilnya dan mengemudikannya dengan tenang. Selalu ada ketenangan apabila hati sudah di charger dengan ruhiyah keimanan. Lakasana  kerongkahan tanah yang di tetesi hujan seharian, sangat menyejukan.

Disebuah tempat yang lenggang, tiba-tiba mobil Malika berhenti mendadak. Di starter berkali-kali mobil tidak mau melaju. Malika mulai resah. Jam sudah lewat diangka sepuluh, pasti orang-orang dirumah sangat mengkhwatirkannya. Malika merogoh hapenya yang tersimpan di saku untuk mengabari orang rumah kalau dirinya butuh bantuan. Sial, hapenya lowbatt dan ia lupa membawa chargeran dan power bank. Kenapa bisa begini? Malika mendadak khawatir. Mobilnya mogok di tempat yang sepi. Malika segera turun dari mobilnya membuka kap mobil bagian depan. Meskipun ia tidak mengerti soal mesin mobil , tapi berusaha untuk mencobanya.

Huuh…. Malika merasa kesal dan resah, lantas ia menyenderkan tubuhnya kesamping mobil sambal menatap langit yang bertaur bintang. Ia hanya sedang menunggu keajaiban. Semoga saja nggak ada orang jahat yang memanfaatkan kesendiriannya dan ada dewa penyelamat yang membantu kesusahannya di malam ini.     

Tiba-tiba sebuah Pazero putih berhenti disamping mobilnya. Dan seseorang turun lalu mendekat, seorang perempuan terlihat gelisah disamping mobilnya.

“Kenapa dengan mobil anda, mbak? Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya, membuat pikiran gadis yang sedang melamun itu seketika buyar. Dan menoleh kesumber suara.

“Mobilku mogok, dan aku bingung harus mengabari siapa, karena hapeku lowbet.” Jawab Malika sedikit merasa lega sekaligus waspada ada orang asing di sebelahnya.

“Malika….”

“Abyan….” Kedua manusia itu saling memanggil dengan muka penuh keterkejutan karena dipertemukan di tempat yang tidak disangka-sangka.

“Kamu kenapa masih ada diluar selarut ini?”

“Tadi aku pulang dari pengajian, ngobrol dulu lama sama teman dan yah….akhirnya pulang kemalaman.”

“Lain kali minta ditemani, berbahaya jam segini baru pulang kerumah.”

Malika mengangguk dan membiarkan Abyan memeriksa mobilnya, yang membuat mogok.

“Sepertinya harus dibawa kebengkel. Aku telepon temanku dulu, mobil kamu biar dibawa sama mobil Derek. Kamu pulang sama saya aja.”

“Tapi….”

“Please….Malika, ini sudah malem banget dan nggak mungkin kamu disini seorang diri, keluargamu pasti akan sangat mengkhwatirkanmu.”

“Baiklah.” Akhirnya Malika terpaksa menerima tawaran Abyan. Meski rasanya tidak enak kalau harus pulang malem-malem dengan diantar seorang laki-laki. Dia ingat tentang kajian tadi, bahwa seorang perempuan tidak boleh berkholwat dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Berdua-duaan dengan laki-laki dalam satu mobil ketiganya adalah setan. Tapi ini sudah malam, Malika benar-benar dilema.

Abyan membukakan pintu depan untuk Malika.

“Abyan…maaf aku dibelakang aja.” Tolak Malika dengan tidak enak hati.

“Kenapa?”

“Aku…lebih  nyaman dibelakang. Maaf…” sebenarnya Malika ingin menjelaskan, tapi ia merasa belum siap. Ini adalah langkah awal ingin berhijrah, kenapa banyak banget godaannya. Mulai dari pulang larut. Padahal perempuan nggak baik pulang larut dan sekarang harus di antar oleh Abyan yang bukan muhrimnya. Rasanya ia merasa berdosa banget, kajian yang sudah di dapat merasa sia- sia saja.

“Kenapa perempuan sangat dilarang berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya? Termasuk di bonceng motor oleh teman laki-laki tidak di perbolehkan dalam islam. Begitupun saat naik mobil grab, tidak boleh seorang perempuan sendirian di mobil tersebut dengan hanya di temani supirnya. Karena untuk menjaga hal-hal yang tidak di inginkan, dan menghindari fitnah.
Rasulullah bersabda dalam hadistnya:

“Wanita itu aurat, ketika ia keluar, setan akan memperindahnya.” ( HR. At Tirmidzi)

Ada sebuah kisah yang di abadikan dalam Al_Qur’an QS. An-Nuur ayat 11 tentang istri Rasulullah Aisyah Ra yang di fitnah telah melakukan selingkuh dengan Shafwan bin Al-Mu’aththal

Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan, “Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak keluar untuk melakukan suatu perjalanan, maka beliau mengundi di antara istri-istrinya. Maka, siapa saja di antara mereka yang keluar undiannya, maka dialah yang keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan undian di antara kami di dalam suatu peperangan yang beliau ikuti. Ternyata namaku-lah yang keluar. Aku pun berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kejadian ini sesudah ayat tentang hijab diturunkan. Aku dibawa di dalam sekedup (tandu di atas punggung unta) lalu berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kembali dari perang tersebut.

Ketika telah dekat dengan Madinah, maka pada suatu malam beliau memberi aba-aba agar berangkat. Saat itu aku keluar dari tandu melewati para tentara untuk menunaikan keperluanku. Ketika telah usai,  aku kembali ke rombongan. Saat aku meraba dadaku, ternyata kalungku dari merjan zhifar terputus. Lalu aku kembali lagi untuk mencari kalungku, sementara rombongan yang tadi membawaku telah siap berangkat. Mereka pun membawa sekedupku dan memberangkatkannya di atas untaku yang tadinya aku tunggangi. Mereka beranggapan bahwa aku berada di dalamnya.
Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

“Pada masa itu perempuan-perempuan rata-rata ringan, tidak berat, dan tidak banyak daging. Mereka hanya sedikit makan. Makanya, mereka tidak curiga dengan sekedup yang ringan ketika mereka mengangkat dan membawanya. Di samping itu, usiaku masih sangat belia. Mereka membawa unta dan berjalan. Aku pun menemukan kalungku setelah para tentara berlalu. Lantas aku datang ke tempat mereka. Ternyata di tempat itu tidak ada orang yang memanggil dan menjawab. Lalu aku bermaksud ke tempatku tadi di waktu berhenti. Aku beranggapan bahwa mereka akan merasa kehilangan diriku lalu kembali lagi untuk mencariku.”

“Ketika sedang duduk, kedua mataku merasakan kantuk yang tak tertahan. Aku pun tertidur. Shafwan bin Al-Mu’aththal As-Sullami Adz-Dzakwani tertinggal di belakang para tentara. Ia berjalan semalam suntuk sehingga ia sampai ke tempatku, lalu ia melihat hitam-hitam sosok seseorang, lantas ia menghampiriku. Ia pun mengenaliku ketika melihatku. Sungguh, ia pernah melihatku sebelum ayat hijab turun, Aku terbangun mendengar bacaan istirja’-nya (bacaan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) ketika ia melihatku. Kututupi wajahku dengan jilbab. Demi Allah, ia tidak mengajakku bicara dan aku tidak mendengar sepatah kata pun dari mulutnya selain ucapan istirja sehingga ia menderumkan kendaraannya, lalu ia memijak kaki depan unta, kemudian aku menungganginya. Selanjutnya ia berkata dengan menuntun kendaraan sehingga kami dapat menyusul para tentara setelah mereka berhenti sejenak seraya kepanasan di tengah hari. Maka, binasalah orang yang memanfaatkan kejadian ini (menuduh berzina). Orang yang memperbesar masalah ini ialah Abdullah bin Ubay bin Salul.”

“Kemudian kami sampai ke Madinah. Ketika kami telah sampai di Madinah aku sakit selama sebulan. Sedangkan orang-orang menyebarluaskan ucapan para pembohong. Aku tidak tahu mengenai  hal tersebut sama sekali. Itulah yang membuatku penasaran, bahwa sesungguhnya aku tidak melihat kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasanya aku lihat dari beliau ketika aku sakit. Beliau hanya masuk, lalu mengucap salam dan berkata, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Itulah yang membuatku penasaran, tetapi aku tidak mengetahui ada sesuatu yang buruk sebelum aku keluar rumah.” [Masih berlanjut kisah ini] (HR. Bukhari, no. 2661 dan Muslim, no. 2770)

Dari kisah kita bisa mengambil pelajaran bahwa kita harus menjaga batasan-batasan ketika harus berinteraksi dengan lawan jenis. Karena perempuan mulia memiliki izzah dan iffah yang harus di jaga. Jika Aisyah perempuan mulia yang sudah di jamin masuk Surga saja bisa terkena fitnah untuk suatu hal yang tidak di sengaja, apalagi kita yang belum di jamin sama sekali bisa masuk Surga. Maka untuk itu berhati-hatilah ketika bergaul dengan lawan jenis, ketika akan bepergian lebih dari dua puluh empat jam maka harus ditemani mahramnya. Itulah isi kajian yang masih menempel di otak Malika, yang di jelaskan secara terperinci oleh Mbak Faujiah tadi.

“Bagaimana kabarmu Ka?” Abyan memecahkan kesunyian dalam mobil.

Malika menarik nafas berat. Haruskah ia bercakap-cakap juga.

“Alhamdulillah baik.”

“Syukurlah. Sudah lama kita nggak pernah bertemu. Kamu juga tidak pernah terlihat di reunian kampus.”

“Aku baru satu tahun tinggal di Indonesia. Selulus mengambil magister dari Oxford aku hijrah ke Amerika mencoba melamar ke Developmen Design Group mulai bekerja sebagai junior designer, Asosiate design. Hanya dua tahun, setelah itu Pamanku menyuruh pulang menyuruh bekerja di Urban Architec.”

“Wow…kamu pernah bekerja di DDG, itu mimpi semua arsitek di dunia.” Abyan takjub. Tak salah dulu ia sangat mengagumi Malika, bahkan mungkin sampai sekarang. Malika memang menarik, tapi dia sangat down earth.

“Mungkin itu hanya keberuntunganku, hingga bisa di DDG.”

Itulah yang disukai Abyan dari Malika. Dia selalu mengatakan apa yang dia capai adalah mestakung atau keberuntungan. Padahal malika melakukan semuanya dengan kerja keras yang luar biasa.

“Abyan aku berhenti disini.” Malika meminta Abyan menghentikan mobilnya. Gadis itu merasa lega sudah sampai di depan rumahnya. Terbebas dari berdua-duaan di dalam mobil.

“Terimakasih atas bantuannya.”

Abyan mengangguk, setelah itu melajukan kembali mobilnya. Sebenarnya ada banyak yang ingin di obrolkan dengan Malika. Tapi sepertinya Malika sangat menjaga jarak.

Malika membalikan tubuhnya, dan berniat melangkah masuk kedalam. Tapi suara dingin dan penuh kemarahan mengurungkan niatnya.

“Wow…pulang malam-malam, diantar seorang cowok keren. Sangat amazing! Kamu dari mana saja Malika? Kau tau, orang dirumah semua menghawatirkanmu. Sedang kamu dengan perasaan tidak bersalah diantar laki-laki yang bukan keluargamu di malam hari. Apa-apaan ini, seperti bukan perempuan terdidik saja!” Suara yang brnada tajam, dingin dan penuh kemarahan keluar dari mulut abangnya.

Bagi Malika suara abangnya kali ini sangat horror di bandingkan film Suzana. Membuat dirinya tidak bisa berkutik. []