Subscribe Us

AKU BUKAN BONEKA BARBIE # 2



Aldi duduk di tepi ranjang menatap Tasya yang sudah tertidur lelap dengan dengkur halusnya. Rasa haru menyusup dadanya.
“Kamu tak seharusnya mengalami hal seperti ini sayang dan ayah pun tak pernah menginginkan hal ini terjadi. Tapi Bundamu sudah membuat luka di hati Ayah hingga kau harus jadi korban.” Lirih Aldi perih.
“Ayah tak seharusnya memisahkanmu dari bundamu. Tapi, Ayah tidak rela kalau kau harus hidup bersama bundamu yang di hatinya sudah ada laki-laki lain. Dan Ayah tak akan pernah sanggup hidup tanpamu, karena Kaulah pengobat luka dan letih Ayah. Ayah sangat mencintaimu sayang.” Aldi mencium kening Tasya dengan lembut.
“Di...” suara itu membuyarkannya.
“Iya Mas...”
“Sudah siap...”
Aldi mengangguk dengan menyelimuti Caca penuh sayang lalu bangkit meninggalkan kamar menuju ruang perpustakaan. Disana Mas Wian sudah duduk menunggunya.
“Gimana perasaanmu sekarang, sudah tenang?”
Aldi mengangguk.
“Menurutmu gimana perkembangan Caca sekarang?”
Aldi menarik nafas berat.
“Murung,emosional  juga sangat sensitif. Tapi ini mungkin disebabkan karena dia sangat kangen sama Bundanya terus.”
“Ya,kamu pasti lebih tahu bahwa setiap anak korban penceraian pasti akan mengalami hal seperti ini.  Tidak memandang usia anak-anak ,remaja atau usia dewasa. Dan hal ini akan berdampak buruk jika tidak secepatnya mencari solusi.”
“Solusi maksud Mas Wian,membawa Tasya  ke psikolog anak.”
“Nggak,anak seusia Tasya membutuhkan kasih sayang setiap saat. Apa tidak sebaiknya Tasya di asuh Arini aja, dan kalian berdamai demi perkembangan Tasnya.” Ujar  Wian hati-hati.
“Mas pingin Tasya di asuh Arini,ini sesuatu yang nggak mungkin Mas. Dia bukan figur ibu yang baik, selama masih bersama  saja sudah sering ditinggal-tinggal dan dia bersenang-senang dengan selingkuhannya sedang aku capek mencari uang. Dia tidak menghargaiku,kalau Mas tidak percaya bisa tanya ke Mbok Minah dia saksinya. Sampai kapanpun juga aku nggak mungkin bisa memaaafkan wanita yang sudah melukai perasaanku.” Beber Aldi emosi.
“Sorry Dy, Mas nggak berniat membuat kamu marah. Tapi Mas juga sayang banget sama Tasya,  Mas nggak ingin perkembangan psikologis dia nggak sehat karena terus diracuni kebencian oleh mu di sebabkan kelakuan ibunya yang tidak baik. Tasya tidak tahu apa-apa Dy, yang dia perlukan adalah kasih sayang Ibunya. Kalaupun dia harus tahu sikap Ibunya biarkan dia yang tahu sendiri jika sudah mengerti. Jangan racuni dia dengan kebencianmu.”
“Sebagai Ayah nya aku tahu apa yang terbaik buat dia Mas, dan sebagai seorang lelaki perasaanku sangat hancur ketika tahu Arini berselingkuh dengan lelaki lain. Jika posisiku ada dalam posisi  Mas, pasti Mas akan merasakan hal yang sama dan tentu Mas nggak akan rela menyerahkan anak yang Mas cintai didik oleh Ibu yang sudah mengkhianati Ayahnya.”
“Mas sangat mengerti apa yang kamu rasakan Dy, kamu adiku.  Dan kamu butuh obat untuk segera menyembuhkan lukamu dan Tasya kasih sayangnya bisa terpenuhi.”
“Dengan cara apa?”
“Kamu membutuhkan pendamping Dy, yang bisa memperhatikanmu dan merawat Tasya dengan baik.”
“Maksud Mas, menikah lagi? Rasanya aku belum siap,aku masih trauma. Dan Tasya nggak akan semudah itu mendapatkan Ibu pengganti.”
“Aldi kamu jangan egois,pikirkan Tasya dan lakukan semua  ini demi Tasya. Yakinlah bahwa di dunia ini masih banyak wanita yang baik yang bisa jadi figur Ibu dan Istri yang baik. Dan kamu tidak seharusnya menutup akses Arini untuk berjumpa dengan Tasya. Dia itu Ibunya, sejahat apapun dia tak ada yang berhak untuk memisahkan anak dengan Ibunya. Cukup dirimu yang memendam luka itu, jangan tularkan pada anakmu itu sama artinya kamu sedang berusaha untuk mengahancurkan masa depan anakmu sendiri.”
“Rasanya belum siap untuk saat ini Mas, jika aku harus berdamai dengan Arini demi perkembangan Tasya. Aku masih butuh waktu untuk menyembuhkan lukaku dulu, entahlah nanti.
“Ya, Mas mengerti. Tapi jangan biarkan kebencian itu terus berlalut jika kau tak ingin melihat dirimu dan Tasya hancur akibat ulahmu sendiri.  Akan lebih baik jika kau mencari pendamping lagi agar Tasya ada yang mengawasi di saat kau sibuk. Kalau boleh, Mas bisa bantu mencarikanmu pendamping yang baik yang bisa mencintaimu apa adanya.”
“Bagiku kesetiaan seorang wanita adalah hal yang utama. Care dan bisa menyayangi Caca sudah cukup. Tapi ngomong-ngomong kenapa nggak Mas Wian aja yang nyari pendamping?”
“Soal Mas, gampang Dy. Yang penting kamu dan Caca bahagia dulu maka Mas akan turut bahagia.”
Hm...Aldi benar-benar terharu dengan perhatian kakaknya. Mas Wian memang kakak yang sangat care, dari dulu dia sering banyak mengalah dan lebih mementingkan kebahagiaan adiknya ketimbang dirinya sendiri.
“Jangan biarkan dirimu terus terlarut dalam kebencian. Itu tidak baik hanya akan membuat jiwamu sakit. Kalau punya masalah jangan menyimpannya sendiri Dy, Mas akan selalu siap membantu kamu kapanpun.”  Wian menepuk-nepuk bahu Aldy seperti seorang Ayah pada anaknya.
“Trimakasih banyak Mas,sudah mau peduli pada masalahku dan mau perhatian pada Caca.”
“Kita ini keluarga Dy,kamu adalah adik satu-satunya yang Mas miliki. Mas nggak ingin keluarga kita berantakan setelah Ibu dan Ayah meninggal. Kita harus tetap jadi keluarga yang harmonis seperti orang tua kita masih ada.”
Aldi mengngguk.
“Nah sekarang kamu tidur,sudah larut malam. Besok kamu harus bangun pagi-pagi,tunjukan pada Caca bahwa kamu benar-benar sangat menyayanginya.”
Aldi menurut dan pamit meninggalkan kakaknya. Dia merasa harus banyak bersyukur disaat kehancurannya ada Mas Wian yang membantunya bangkit membangun kembali jiwanya yang luluh lantak. Mas Wian dari dulu selalu ada di saat dirinya bersedih.
Aldi masuk kekamar putrinya, malam ini dia ingin tidur dengan putri semata wayangnya setelah seminggu tak bertemu. Rasanya kangen itu belum terlampiaskan,apalagi tadi sore Caca benar-benar tidak mempedulikannya.
Laki-laki awal usia tiga puluh itu duduk di tepi ranjang memandang putrinya dengan perasaan tidak menentu.
“Ayah kangen banget sama kamu Caca,kau adalah pengobat hati Ayah. Seandainya hak asuh itu di menangkan Bundamu mungkin jiwa ayah akan benar-benar hancur. Hari-hari ayah akan hampa tanpa kehadiranmu.”
“Apa yang dikatakan uwakmu benar , mungkin Ayah harus segera mencari Ibu pengganti untukmmu. Ibu yang bisa mencintaimu dengan tulus hingga kecerianmu kembali mewarnai hari-hari Ayah,tapi siapakah kira-kira wanita yang bisa menerimaku dan kamu dengan tulus. Adakah?”
“Apapun akan Ayah lakukan untuk kebahagianmu,asal kau jangan meminta ayah kembali pada Bundamu.” Lirihnya sambil merebahkan diri dikasur sebelum matanya terpejam dia kembali mencium kening putri nya.

0 Comments:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini