Subscribe Us

PUTRI KABUR (1)

Aku berlari dengan nafas tidak teratur. Sial hari ini kesiangan lagi masuk schooll. Tadi malam tidur larut, gara-gara keasyikan chatt sama bule Prancis. Wajah Mr. Ginanjar sang wakasek kesiswaan sudah berdiri tegap di depan gerbang dengan memasang tampang killernya.
“Arlina… cepat!” teriaknya.
Duh, hampir copot jantungku mendengar teriakannya yang super kenceng. Aku pura-pura melongok kebelakang. Siapa tahu yang di panggil olehnya bukan aku, tapi kembaran ku.
“Percepat Arlinaaa…!” teriaknya makin garang.
Kuatur detakan nafasku yang makin kenceng. Harus tenang menghadapi satu guru ini.
“Bapak memanggil saya bukan?” tanyaku dengan memasang wajah tak berdosa sudah kesiangan.
“Pakai nanya lagi! Emangnya di MAN ini, ada berapa nama yang sama dengan namamu!” bentaknya galak.
Aku nyengir berusaha bersikap cuek.
“Kenapa kesiangan?!”
“Macet Pak,” jawabku sekenanya. Males bikin alasan yang aneh-aneh. Karena seaneh apapun jawaban aku pasti nggak bakal menang.
“Macet? Emangnya ini Jakarta, kota macet sedunia. Di sini kota kecil yang nggak pernah kena macet!”
“Bantu beres-beres Ibu dulu di rumah Pak,” aku tak mau kalah omong.
“Tadi macet, sekarang bantu Ibu. Kamu ini emang bandel. Sudah suka telat,bikin rusuh di kelas, tukang kabur masih juga pinter ngeless.”
Hm…aku manyun dapat stigma negatif sepert itu. Tapi, sudah bukan rahasia lagi.
“Tapi kan nilai saya masih tetap baggus Pak. Dan masih bisa mengikuti pelajaran dengan baik.”
“Bapak nggak mau dengar lagi pembelaan kamu yang jago alasan. Sekarang lari keliling lapangan 20 balik!” perintahnya sadis.
Aku terpaksa nurut. Sarapan pagi yang bikin bau asem. Keringat mengucur deras mebasahi seluruh tubuh. Namun penderitaan belum berakhir sampai di sini, masih ada penderitaan yang lain menanti. Meminta tanda tangan guru ke seluruh pelosok kelas tiga. Meski sudah di hukum, di ceramahin, tapi nggak bikin aku kapok. Semua orang pasti nggak ngira, di balik wajah ku yang tenang dan lembut ternyata seorang pembangkang luar biasa. kenapa aku bisa kayak gini? Jujur aku bete dengan sistem pendidikan negri ini yang kebanyakan teori ketimbang aplikasi. AH…sudahlah. Tidak usah aku perburuk sistem pendidikan negri ini. Semua orang sudah tahu, ketika sekolah sudah di kapitalisasi dan di liberalisasi maka seperti inilah hasilnya.
Dari pada bete ngadepin pelajaran aku lebih banyak nongkrong di Mesjid menghafal Al-qur’an atau di perpus membaca berpuluh-puluh buku atau mampir ke lab Komputer, ngumpet di lab sciene. Jika sudah super bete kabur. Semua guru sudah tahu reputasiku yang hancur. Namun nilaiku masih tetap number one di banding yang mati-matian belajar. Nyontek bukan hal biasa untuk di lakukan. Aku anti dengan yang namanya nyontek meski sebadung ini.
“Sekali kali lagi kamu telat bapak suruh kamu lari seratus keliling.” Ujarnya dengan tampang killer abis.
“Iya pak,” Ujar ku bĂȘte. Setelah ini aku masih punya satu tugas meminta tanda tangan ke seluruh guru kelas tiga.
“Kenapa lagi kesiangan Arlina?” Tanya Mr Abdullah yang menjadi guru piket dengan tampangnya yang kebapakan banget.
“Nggak kebagian angkot Pak,” jawabku singkat.
“Dari dulu juga kamu nggak pernah jadi murid teladan dalam hal datang ke sekolah, tapi sudahlah meskipun kamu murid yang punya segudang kontraversi tapi kamu juga termasuk murid yang brilian jadi bapak masih bersikap baik ke pada mu.” Ujarnya bikin hidungku menjadi mekar.
Akupun segera berlalu menuju kelas lain untuk meminta tandangan para guru setelah itu baru bisa masuk ke kelas.
^@_@^
Huahhh….aku menguap lebar-lebar mendengar penjelasan guru bahasa Indonesiaku bertele-tele. Ngantuku kali ini benar-benar nggak bisa di tahan, mungkin ini pengaruh chatting sama si bule yang handsome itu sampai jam dua malem. Hm…aku harus cari akal agar aku bisa memenuhi hasrat tidurku. Aku pura-pura sakit gigi sambil meringis kesakitan.
“Aduh…”
“Ada apa Arlina?” sahut Pak Ben sambil membetulkan kacamatanya yang melorot.
“Sakit gigiku kambuh lagi pak, aku nggak kuat…” aktingku segera di mulai dengan tak lupa mengeluarkan air mata buaya.
“Ya sudah kamu istirahat aja di UKS…” Ujar Pak Ben baik.
Yihaaa…teriaku dalam hati, serasa dapat durian runtuh aku langsung pergi ke UKS untuk menuntaskan hasrat tidurku. Hari yang menyenangkan, keberuntungan berpihak padaku. Ternyata reputasiku yang acak-cakan tidak mempengaruhi nilai-nilaiku sehingga kredibilitasku masih cukup save di mata para guru. Badung yang masih sangat wajar.
***



BERFIKIR POSITIF DAN BERJIWA BESAR

Jika ada yang menghina kita, bagaimana perasaan anda? Sakit, marah, dan ada perasaan ingin membalasnya? Semua perasaan di atas adalah hal yang wajar dan manusiawi. Kita adalah manusia biasa yang di temani dengan perasaan peka, sedih dan sakit. Tapi, jika kita melakukan penyerangan dengan melakukan aksi yang lebih sadis, kata-kata yang lebih menyakitkan, apakah semua itu akan menjadi solusi berakhirnya permasalahan? Tidak sama sekali.



Kendalikan emosi di saat amarah kita meninggi. Redakan amarah dengan beristigfar berulang-ulang, ambil air wudhu dan positifkan pikiran kita. Mereka melakukan semua itu mungkin tidak rela dengan kemajuan kita, tidak rela dengan kesabaran kita, atau anda melakukan introfeksi diri. Ada kesalahan apa dalam diri anda hingga membuat orang itu mengkritik anda habis-habisan. Menyakiti perasan anda dengan kata-katanya yang sungguh jauh dari kata orang yang berpendidikan. Secara kepribadian mungkin mereka cacat, karena jika mereka orang yang cerdas secara ke pribadian tidak akan melakukan hal-hal seperti itu. Kata-kata dan sikapnya akan terjaga.



Abaikan mereka. Tidak usah di ambil pusing dengan kata-katanya. Meskipun pada dasarnya hati kita terluka dan sangat ingin menangis. Tapi, dengan kita berfikir positif dan mengobati hati kita dengan berjiwa besar perasaan itu perlahan akan sirna. Kita bukan berarti sabar membiarkan diri untuk di injak-injak. Tapi memang meladeni orang-orang seperti itu nggak penting. Cuma membuang-buang energi dan waktu. Mending kekesalan, amarah, dan perasaan sakit itu kita jadikan ide dan tuangkan dalam tulisan. Misalkan kita buat menjadi cerpen dengan judul: "Aku ingin menjadi pembunuh berdarah dingin." Kita paparkan tulisan kita dengan amarah yang meluap-luap sesuai dengan perasaan yang kita rasakan. Menuangkan perasaan kita sesedih mungkin, sampai kertas yang kita tulis banjir air mata saking sedihnya. Saya rasa perasaan anda akan lebih lega setelah menulis dan kita mendapatkan 2 mamfaat sekaligus. Kita bisa menjadikan perasaan kita lebih lega karena menjadikan menulis sebagai terapi emosi dan kita bisa menghasilkan karya yang menjiwai yang membuat orang bergidik sekaligus menangis setelah membaca karya kita. Menulis di saat marah dan sedih akan menghasilkan karya yang lebih hidup karena kita menulis dengan perasaan dan emosi kita yang terjadi.



Menjadi orang yang berjiwa besar itu tidaklah rugi, justru ke pribadian kita akan sangat terlihat mempesona meski secara fisik mungkin kita tidak begitu cantik tidak begitu pintar, tidak begitu kaya. Tapi, kecerdasan emosi adalah modal utama kita meraih kesuksesan. Saya melihat bagaimana perjalanan teman-teman waktu SMU dulu mereka yang dulu selalu kerap di hina, di pandang sebelah mata oleh teman yang lain karena tidak pinter, karena kampungan dll. Kini mereka bisa sukses di bandingkan oleh orang yang menghinanya dulu. Secara kepribadian mereka memang bagus juga memiliki daya survive yang hebat juga visioner. Ssehingga bisa bersaing dengan orang-orang yang lebih hebat.



Menghadapi orang-orang yang secara ke pribadian memang tidak menyenangkan yang tidak pernah sadar dengan kelemahannya sendiri tetaplah berfikir positif. Mereka begitu karena apa? Bisa jadi memang lingkungan pendidikan keluarga membentuknya untuk seperti itu. Pendidikan yang penuh dengan celaan, caci maki, amarah. Berbeda dengan yang di besarkan di keluarga demokratis, penuh motivasi saling menghargai akan membentuk jiwa si anak hangat, dan mampu menghargai orang lain. Dan kita tetap berdo'a semoga Allah memberikan kebaikan untuknya jika mampu bantu dia bangkit untuk menjadi jiwa yang positif dengan menarik dia ke lingkungan yang positif.



Semoga kita mampu memaknai setiap langkah perjalanan menjadi mutiara hikamah. Menjadikan tempat sebagai sekolah, tiap orang sebagai guru yang bisa di jadikan untuk belajar, tiap hal adalah ilmu. Ambil yang positif dan buang yang buruknya. Jadilah pribadi-pribadi yang cerdas secara spritual, cerdas intelektual, cerdas sosial mengantarkan kita menjadi manusia terbaik di hadapan Nya. Amin

PERANAN WANITA DI PERADABAN KAPITALIS


Wanita adalah tolak ukur majunya sebuah peradaban bangsa karena wanita adalah madrasah utama yang tugasnya mempersiapkn generasi yang cerdas secara intelektual dan berkualitas secara ahlak. Dan wanita-wanita yang mampu memiliki peran seperti ini hanya ketika sistem negara menerapkan sistem syariah. Memang tidak bisa di pungkiri di era kapitalis pun ada sebagian wanita yang mampu berperan menghasilkan generasi yang bagus tapi tidak merata. Mereka yang benar-benar memiliki pemahaman agama yang bagus serta visioner hinga mampu melahirkan SDM yang benar-benar berkualitas dan tidak sedikit di dukung dengan perekonomian yang menunjang. Karena kita nggak bisa menutup mata bahwa pendididikan yang berkualitas saat ini tergolong mahal. Tidak mampu di jangkau oleh kelas bawah.

Di era kapitalis perempuan tidak lebih sebagai komoditas yang kontribusinya harus menghasilkan uang. Kesetaraan gender yang di capai pun adalah kesetaraan yang bersipat ekonomi semata. Ketika mereka berlomba-lomba untuk menaiki posisi penting yang di dominasi laki-laki akhirnya yang terjadi wanita rawan dengan pelecahan seksual. Bagaimanapun juga wanita itu ada izzah dan iffah yang mesti di jaga. Islam tidak melarang wanita untuk bekerja di luar rumah selama niatnya baik untuk membantu suaminya. Namun ada hal-hal yang musti di perhatikan. Jangan sampai keluarga terbelangkai dan pendidikan serta perhatian terhadap anak-anak tetap terurus.

Wanita dalam peradaban islam memiliki peranan yang sangat luas bahkan pendapatnya di dengar oleh negara sebagaimana halnya yang terjadi di masa Rasulullah dan generasi para sahabat. Mesti kedudukannya di rumah tapi pahalanya setara dengan jihad fisabilillah. Wanita berhak untuk cerdas bukankah wanita selain pendidik utama generasi adalah penasehat para pemimpin di keluarganya. Tanpa penasehat yang bijak rumah tangga akan tergoyahkan bila menghadapi problematika rumah tangga. Kita berkaca pada sejarah bagai mana setianya seorang istri seperti Bunda Khadijah yang mampu meredam ketakutan di saat Rasulullah bertemu malaikat Jibril di Gua Hiro. Bunda Khadijahpun selalu ada di samping Rasul saat Islam mulai di kenalkan pada penduduk Mekah. Dan kita tahu sendiri bagaimana reaksi penduduk Mekah saat itu yang sangat menentang perjuangan rasulullah. Peran sang istri tercinta itu adalah penguat perjuangan nya. Banyak lagi cerita shabiyah-shabiyah lainnya yang mampu jadi penghapal hadist, para pejuang-pejuang di medan pertempuran. Dan mereka bisa seperti itu karena islam mampu menjaga eksistensi mereka.

Apa era kapitalis mampu menjujung tinggi derajat perempuan pada posisi yang sangat mulia? Kita bisa melihatnya sendiri dan membandingkannya dengan peran wanita di zaman rasul. Jangan katakan itu sebuah perbandingan yang kuno. Justru islam menjaga perempuan sepanjang Zaman. Tuntutanan manusia yang tidak akan pernah menyesatkan jika wanita itu sendiri tetap berpegang teguh pada qur’an dan sunnah nya. Era kapitalis justru menyengsarakan perempuan pada umumnya. Wanita di paksa bekerja untuk memenuhi tuntutan keluarganya. Mereka bekerja di tempat-tempat yang rawan dengan pelecehan seksual, terkadang mereka harus pulang malam tanpa di dampingi muhrimnya. Tak jarang kasus perkosaan terjadi menimpa wanita. Belum lagi tugas di keluarga dia di tuntut jadi figur sempurna tapi karena konskwensi bekerja tak jarang tugas pendididkan keluarga terabaikan. Anak di serahkan pada pembantu dan pada sekolah yang ruang lingkup pembelajarannya tidak memfokuskan pada pembinaan ahlak. Maka jangan salahkan anak ketika mereka liar dan sulit untuk di kendalikan karena peran orang tua, khususnya Ibu tidak memiliki waktu untuk mendidik anak-anak dan membinanya dengan mental tauhid.

Sebenarnya orang tua juga tidak bisa sepenuhnya di salahkan seratus persen karena memang negara tidak mampu menjamin kesejahtraan rakyatnya yang membuat rakyat harus berjuang sendiri untuk pemenuhan hidupnya. Menuntut wanita untuk berkeliaran di luar rumah dan pekerjaan laki-laki yang di semakin persulit. Andai negara sendiri memikirkan tentang majunya sebuah generasi berada di tangan wanita, dari jauh hari dia sudah memposisikan wanita di tempat-tempat yang aman dengan bekerja sebagai pendidik, bidan, dokter ruang lingkup yang memang benar-benar sangat di butuhkan oleh para ummahat.

Masih banyak lagi peradaban kapitalis yang merugikan kaum perempuan meskipun kaum feminis tak lelah menyuarakan kesetaraan gender. Tapi apa yang di hasilkan perjuangan para feminis? Apakah nasib perempuan menjadi lebih baik? Tidak, kita bisa lihat sendiri hasilnya. Dimana tingkat penceraiaan semakin tinggi karena masalah perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga juga bisa jadi karena masalah ekonomi. Berapa banyak wanita yang menjadi korban perkosaan perharinya belum yang nyawanya melayang akibat korban kekerasan, dan semakin banyaknya wanita yang terpaksa melacurkan diri karena tuntutan ekonomi begitu juga dengan semakin banyaknya wanita yang berbondong-bondong bekerja ke luar negari akibat kesulitan ekonomi. Di luar negripun tak sedikit para wanita ini mendapatkan siksaan fisik yang begitu hebat, alih-alih mau memperbaiki kehidupan eekonomi keluarga yang di dapat justru penganiyaaan, pemerkosaan dan gajih tidak di bayar. Apakah negara peduli pada masalah seperti ini? Mereka seakan menutup mata dengan realita yang ada karena saking banyaknya kasus negara yang harus di tuntaskan. Sementara ketika khilafah itu masih ada rentan sekali terjadi kasus-kasus seperti ini terjadi . Karena negara memang peduli pada ke tentraman rakyatnya.

Negara juga tidak menjamin generasi bangsanya cerdas secara ahlak dan intelektual. Hal ini bisa di lihat dari kesenjangan pendididkan yang begitu lebar. Pendidikan yang benar-benar berkualitas hanya bisa di rasakan oleh kalangan menengah ke atas, akibat di terapkannya sistem libelarisasi pendidikan, di mana pendidikan di kuasai oleh pihak swasta sehingga biaya pendidikan semakin mahal. Dan pendidikan semahal itupun belum memberikan jaminan generasi bangsa ini cerdas secara ahlak.

[NOVEL] MERAJUT BENING CINTA bagian terakhir.



           “Iya aku ngerasa ini bukan duniaku.” Jawab Yoga kalem
        “Maksud loe?” Ujar Anjas masih belum hilang rasa kagetnya dengan keinginan Yoga yang mengundurkan diri dari grup musik yang sudah membesarkan nama mereka.

[NOVEL] MERAJUT BENING CINTA # 14




       
  Santi dan Yoga sudah kembali bersatu. Mereka kini sedang belajar menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Yoga juga tak segan untuk belajar agama pada istrinya.
        “Bukankah Papa bisa memanggil ustadz untuk belajar ngaji?”
        “Gimana ya?” Yoga pura-pura mikir. “Bukankah bidadariku juga sangat pintar tentang agama jadi apa salahnya kalau...” Yoga melirik Santi yang wajahnya tersipu malu.
       Yoga tersenyum” Mama kok jadi ge-er gitu sih?”
      “Hiih siapa yang ge-er?” Santi cemberut sambil mencubit lengan Yoga.
     “Addaw.... sakit Ma.”
      “Rasain!”
      “ Mama malah tambah cantik kalau lagi marah.” Goda Yoga.
       “Papa, Alif lapar.” teriak Alif yang selesai main komputer.
       “Kok bilangnya sama papa, kan ada mama.” Yoga mengkerutkan keningnya.
       “Alif pengen dimasakin papa lagi, yakan ma?” Alif minta persetujuan mamanya.
       “Betul, papa yang masak. Sambil nunggu  salesai papa masak, mama temenin Alif  belajar, gimana?”
        “Setuju...”  Alif mengangkat kedua ibu jarinya.
        “Yah... itu namanya licik. Masa Papa sendirian ditanam di dapur dan kalian enak-enakan belajar.” Protes Yoga.
        “Terus papa maunya gimana?” Tanya Alif
        “Semua turun ke dapur, bantu papa.”
         Alif memangdang mamanya.
        “Bolehlah.’ Santi memandang Yoga, yang dipandang tersenyum penuh cinta.
         Kelurga mereka sudah kembali normal.
        “Kita bikin apa, pa?’ Tanya Alif.
        “Spageti...”
         “Ha... emang papa bisa?” Tanya Alif
         “Chiep dilawan.”
          “Uh... sombong, awas lho kalau ngak enak.” Ancam Santi pura-pura marah.
         “Tapi kalau rasanya enak. Mama mau kasih papa apa?” Yoga memandang istrinya.
          “Apa ya?” Santi menggaruk jilbab sambil memandang Alif minta pendapat.
          “Mama sini deh...”  Alif kasih tahu. Alif mendekatkan mulutnya ke kuping mamanya sambil berbisik pelan.
          “Anak mama sudah pintar.” Puji Santi
          Nah lho, pada mulai main rahasia-rahasiaan kan?” Ayo kalian pada ngomongin papa kan? Yoga pura-pura marah.
     “Nggak, kita Cuma bilang hadiah yang bakal dikasih ke Papa.” Jelas Alif.
     “Apa hadiahnya?”
     “Ya... bukan sekarang dong, Papanya aja belum selesai  masak.”
     “Ok...ok... sekarang Alif dan mama bantuin papa masak ya?”
      Yoga jadi sibuk sendiri mempersiapkan bahan-bahan yang sudah dibelinya untuk membuat spageti. Santi dan Alif lebih banyak memperhatikan dari pada membantu. Akhirnya spageti itu jadi juga dan sudah terhidang di meja.
      “Gimana rasanya, enak kan?”
      “Ehm... gimana ya?” Santi dan Alif saling pandang. Sedang yoga sudah dag dig dug plas. Kalu nggak enak kan nggak bisa dapat hadiah. “Enak...!”  jawab mereka berbarengan.
     “Sekarang hadiahnya mana?” Tagih Yoga.
     Alif bangkit dari duduknya diikuti Santi.
     “Papa selamat ulang tahun, ya.” Alif meraih tangan papanya dan menciumnya.
     “Apa?” Yoga seperti diingatkan dengan hari spesialnya.
     Iya, inikan hari ulang tahun papa. Semoga panjang umur ya, ini hadiah buat papa. Alif memberikan kertas putih yang masih digulung dan dihiasi pita warna-warni. Disusul Santi yang mengucapkan selamat ulang tahun sambil mencium kening suaminya dan memberikan kado yang terbungkus rapih.
          “Alhamdulillah. Mata Yoga semakin berkaca atas kebahagiaan dari Allah yang tak pernah terduga. Nikmat apalagi yang akan kau dustakan? Yoga memeluk istri dan anaknya dalam rengkuhannya. Mereka adalah pelita hidupnya yang menjadikan dirinya kembali berwarna setelah lama tersia-sia.
         “Papa boleh buka kan?”
          “Yang Alif  dulu pa?”
     Yoga segera memenuhi permintaan Alif. Kadonya sebuah puisi karyanya sendiri, judulnya merengkuh syurga.
     Terimakasih ya Allah
     Atas segala nikmat
     Yang telah kau beri pada kami
     Kebersamaan mama dan papa
     Adalah kebahagiannku
     Yang tak terlukiskan
     Ya Allah jadikanlah
     Kami selalu ada dalam kedamaian
     Untuk merengkuh surgamu
20 juni 2006
I Love u, Papa.

        “Gimana, Pa?”
         “Bagus, papa nggak nyangka Alif sudah pintar buat puisi, pasti diajari mama kan?”
         “Tentu mama Alif kan jempolan, Alif juga mau jadi penulis. Sekarang kado dari mama dibuka dong pa, Alif juga mau lihat.” Alif merayu papanya.
          Yoga pun segera membuka kado dari istrinya, sebuah novel dengan judul     ‘Merajut Bening Cinta’ Yoga terharu dengan perhatian mereka. Padahal.... begitu banyak kesalahan yang telah diberikan pada mereka.
         “Terimakasih,  mama dan Alif pasti sudah mempersiapkannya dengan susah payah.” Yoga terharu dan matanya berkaca-kaca.
         “Papa kok nangis sih?”
         “Karena papa benar-benar bahagia memiliki kalian.” Ujar Yoga sambil kembali memeluk mereka dalam pelukan sayang.

[NOVEL] MERAJUT BENING CINTA # 13



    

           Alif mulai rewel menanyakan Yoga, setiap saat yang ditanyakan adalah Yoga sampai Santi sendiri kewalahan. Ikatan ayah dan anak sudah terbangun begitu kuat dan Santi berusaha merampasnya.
          Maafkan mama sayang. Desisnya sambil membelai Alif yang tertidur pulas karena kecapekan menangis gara-gara Santi menghancurkan mobil remot kesanyangann Alif  pemberian Yoga. Karena dia merasa kesal dengan anak itu yang mulai susah diatur. Bibi maryam memarahi Santi.
        Mama memang kejam, tapi percayalah sebenarnya mama sayang sama kamu hanya mama belum siap menerima papamu membaur dalam keluarga kita dan ingin memilikimu seutuhnya. Santi mulai terisak-isak sendiri.
       “Yoga itu baik, San. Penyayang, ibadahnya juga mulai rajin karena dia ingin benar-benar berubah. Bahkan kalu kamu mau kembali padanya dia bersedia meninggalkan dunianya dan memilih menjadi orang biasa untuk mendampingimu dan membesarkan Alif disini.” Ujar bibi maryam kemarin.
        “Benarkah?” Tapi rasanya tidak adil kalau Yoga mengorbankan dunia yang telah dijalani dan disenaginya hanya demi dirinya.
        “Dia sudah menyesali perbuatan kasarnya dulu pada kamu. Saat itu dia menerima kamu dengan terpaksa masih ingin bebas dan segera mewujudkan impiannya. Dia menawarkan pernikahan kembali untuk menebus dosa masa lalunya dan bersama membesarkan Alif.”
         Santi menggigit bibir perih. Bayangan saat komputernya dihancurkan, kepalanya di jedugkan ke dinding terus membayanginya. Saat itu dia masih bisa sabar dan sudah memberikan Yoga kesempata berubah, tapi Yoga semakin berada diatas angin, tidak menghargai pernikahannya. Gonta-ganti pacar, lantas... ah... sudahlah. Santi berusaha menghalau bayangan itu.
          “Alif itu penyemangat hidupku, darah dagingku. Aku akan melakukan apa saja untuknya, asal kamu mengijinkan agar aku tetap bersamanya.” Ujar Yoga lewat telpon selulernya sebelum dia kembali ke Jakarta karena Santi saat itu sedang berda di sekolah bersama Alif. Santi tidak berkata apa-apa dia segera menutupnya.
          Santi berusaha untuk menahan isaknya supaya tak terdengar keluar kamar sambil terus menatap wajah Alif yang tertidur pulas. Sebagai seorang ibu ingin sekali memberikan kebahagiaan terindah untuk Alif. Berkata jujur kalau Om Yoga adalah ayahnya tapi rasa sakit membuat ia bertahan.
****
          Haris kecewa juga ketika mendengar penuturan adiknya, jika Santi belum siap menikah lagi.
         Apakah karena wanita itu masih menanti Yoga. Apalagi dia tahu sekarang Yoga sudah duda dan dia juga tahu laki-laki itu mulai berubah seperti yang diperbincangkan media.
         “Sudahlah Ris, Santi mungkin masih trauma atau dia iangin membesarkan anaknya tanpa campur tangan orang lain. Dan kesiapan seseorang itu tak bisa dipaksakan.” Ujar Rianto, dia sudah tahu Santi punya anak dari Yoga. Haris yang bilang tapi media belum tahu.
         “Aku nggak apa-apa kok, mungkin aku tak berjodoh dengannya. Tapi kalau ngomongin pernikahan aku selalu maju mundur dibuatnya.”
         “Kenapa? Usia antum sudah mendekati kepala tiga, soal ekonami tak kekurangan, mental rasanya sudah siap jadi pemimpin. Ayolah Ris, tunggu apalagi. Ane juga mau nyariin muslimah buat antum. Kebaikan jangan ditunda-tunda, menggenapkan separuh agama lho.” Rianto menyemangati.
        “Susah mempertahankan pernikahan diabad ini.”
        “Lho kok antum jadi terpengaruh perkawinan para artis yang kawin cerai. Itukan mereka yang batas pergaulannya tidak terjaga antara perempuan dan laki-laki, sedangkan kita kan tahu batasannya. Bukan ane menjelekan mereka, lagian menikah juga kan menjaga pandangan.”
        “Entah lah aku masih enjoy sendiri.”
        “Hati-hati lho Ris. Entar antum malah keasyikan sendiri. Tahu-tahu antum sudah kepala empat.”  Canda Rianto.
         Haris berusaha bersikap cuek tidak menanggapinya. Orang tuanya juga sering ngomel-ngomel tentang kesendirian Haris, bahkan orangtuannya berusaha memilihkan jodohnya. Tapi no there is choice. Emangnya zaman Siti nurbaya. Tapi aneh anak-anak zaman sekarang sudah diberi kebebasan untuk memilih tapi paling susah cari jodohnya, mungkin terlalu banyak persyaratan seperti Haris yang punya banyak kriteria.
****
         Hati Yoga diteror perasaan gelisah, dia baru selesai konser. Para wartawan segera mengerubutinya.
        “Anda sekarang jadi banyak berubah?”
        “ Maksudnya?” Ujar Yoga sambil tersenyum tipis.
        “Setelah bercerai dari Rafika anda jadi lebih kalem dan matang tidak seagresif dulu.”
        “Mungkin sudah saatnya saya merubah image pribadi saya yang anda kenal sangat buruk. Sesuatu yang sudah terjadi di belakang biarlah menjadi milik masa lalu dan saya tidak ingin mengulangnya lagi.”
        “Apa sudah berniat untuk menikah lagi?”
        “Bagaimana ya, pengen juga sih. Tapi saya harus selektif memilih istri tidak terburu-buru. Pinginnya yang alim biar bisa membimbing saya.”
        “Kabarnya dekat dengan seorang ustadz, apa itu sebagai jalan mencari istri yang muslimah?”
         “Hm... itu sebagai kesadaran saya. Mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan pada saya dan  juga ingin menjadi manusia lebih baik biar tidak di cap jelek terus.”  Ujar Yoga sambil tertawa lebar. Selesai itu ia segera naik kemobil bersama teman-temannya untuk beristirahat dihotel.
       Teman-temanya juga mengakui kalau Yoga banyak berubah meski tak terlalu besar tapi bagi mereka itu sudah sangat mencengangkan. Yoga rajin ngasih nasihat pada teman-temannya dan panggilan pak ustadz pun kerap terdengar dari teman-temannya tapi Yoga tak ambil pusing, siapa tahu jadi ustadz beneran, amien.
****
          Alif sudah dua hari ini sakit, panasnya belum turun-turun dalam sakitnya yang dipanggil terus om Yoga. Santi mulai resah, wajahnya pucat dan tidak mau makan.
        Sudah beberapa kali kompresnya diganti. Bibi Maryam dan paman Hendra menyarankan untuk menghubungi Yoga.
       “Lakukan saja semuanya demi Alif, Santi.”
       “Tapi...” Santi diam sesaat. “Saya rasa Alif sakit biasa sebentar lagi juga panasnya turun, kenapa harus menghubungi Yoga?”
      “Santi...!” Paman Hendra marah, selama ini dia belum pernah marah sama keponakannya. “Kamu jangan terlalu mempertahankan egomu hanya karena masa lalu. Lihatlah anakmu dia merindukan sentuhan ayahnya. Bagi Alif itu bertemu dengan Yoga sangat berarti.”
        “Saya akan membawanya ke Rumah sakit.” Ujar Santi keras kepala.
         Menurut keterangan dokter di rumah sakit Jampang, Alif divonis sakit jantung bawaan atau disebut juga gagal jantung kognesif, katup verticularnya rusak. Dokter menyarankan untuk dirawat di rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap di kota sekalian melakukan operasi secepatnya, karena kalau dibiarkan akan berujung dengan kematian. Meskipun segalanya hanya Allah yang menentukan. Tapi Alhamdulillah penyakit jantungnya bisa dideteksi sejak dini.
        Untuk sesaat Santi terkejut mendengar penuturan dokter Anto dan tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa menangis. Keceriaan Alif hilang, bocah lucu itu terbaring dengan lemah, selang-selang berseliweran ditubuhnya. Benar-benar menyentak hati nurani Santi.
       Paman dan bibinya menyuruhnya untuk segera menghubungi Yoga, dia harus dikasih tahu. Tidak ada cara lain lagi, untuk sementara egonya luruh demi Alif akan dia lakukan asal Alif sembuh. Santi segera mengambil Hp ditasnya.
       Yoga entah kenapa dari kemarin perasaannya gelisah sekali, bayangan Alif terus menari-nari. Matanya sulit dipejamkan meski sangat lelah dan Yoga pun tidak bernafsu untuk makan.
       Twit..twit... Hp yang tergeletak dimeja berbunyi.
     “Assalamualaikum.” suara disebrang sana menyadarkan keresahannya yang bergejolak.
     “Wa’alaikumsalam, San.” Yoga merasakan suara itu terdengar basah.
       “Iya ini aku. Maaf, aku mengganggumu sebentar.”
       “Tidak apa-apa, ada apa San?” Yoga penasaran.
       “Alif sakit dan selalu manggil nama kamu. Aku mohon... kamu...” Santi tak mampu meneruskan kata-katanya. Dia malah terisak-isak.
        Deg, dada Yoga berdebar kencang. “Sakit apa?”
       “Kata dokter... sakit jantung bawaan dan dia harus segera di operasi...”
       “Baiklah, rumah Sakit mana?”
       “Dokter menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit dikota. Mungkin ke Assyfa dulu kalau ngak mampu baru ke jakarta.”
       “Ya udah, jaga Alif baik-baik, ya? Nanti aku kesana.” Klik pembicaraan terputus.
        Yoga menarik nafas sedih. Alif anak yang lucu terkena gagal jantung kognesif, kasihan. Ya Allah mudah-mudahan Kau masih memberi dia kesempatan untuk hidup, agar aku.... mata Yoga berkaca-kaca. Dia segera mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa termasuk persiapan uang yang cukup untuk bekal pengobatan Alif.
          Ketika Yoga datang di Rs.Assyfa rumah sakit swata di sukabumi, wajah Alif berbinar senang meskipun tubuhnya terbaring lemah.
        “Om, jangan tinggalin Alif lagi ya? Alif ingin selalu ada di dekat Om.”  Ujarnya lemah.
       “Tidak sayang, Om nggak bakal ninggalin Alif lagi.” Yoga mengusap kepala Alif penuh sayang.
        Mata Santi berkaca-kaca tidak kuat mendengar kepolosan Alif. Alif tidak pernah tahu kalau laki-laki itu adalah ayah kandungnya sendiri. Namun ikatan yang sudah terasa begitu kuat membuat mereka begitu dekat. Sementara Santi sebagai seorang ibu berusaha ingin memisahkan rekatan kasih itu. Ibu macam apakah aku? Batinnya perih.
        “Ma, Om yoga baik kan? Dan nggak akan ninggalin Alif lagi.” Alif menatap Santi meminta sebuah jawaban.
          “Iya sayang, Om Yoga nggak akan ninggalin Alif lagi.” Mata Santi semakin menganak sungai. Yoga menyodorkan saputangannya.
         “Terimakasih.”
         Alif kini sudah terlelap dengan tidurnya.
        “Aku ingin kita bersatu lagi dan bersama membesarkan Alif. Dan aku janji bakal memperbaiki semua kesalahan di masalaluku.” Sinar mata Yoga penuh kesungguhan.
       “Bukankah mas Yoga tak pernah mencintaiku? Jadi percuma kita bersatu pun hanya akan memperlebar jurang perbedaan.”
       “Jangan pernah terikat pada masa lalu. Dulu aku melakukannya karena ayah tapi sekarang karena kesadaranku, bahwa kaulah perempuan yang pantas untuk mendampingi hidupku. Aku rela meninggalkan karierku untuk membina rumah tangga yang bahagia. Terus terang aku saja aku sudah capek jadi orang terkenal, aku ingin menjadi orang biasa tanpa seorangpun mengganggu kita.”
        Hm... Santi terdiam  sesaat. Hening diantara mereka. Bibi Maryam sudah tertidur kelelahan dibalut sleeping bag dilantai ruang tunggu rumah sakit meringkuk memberi kesan lucu yang menyaksikan. Paman Hendra beberapa kali menguap. Orang tua Santi dan Yoga sudah ditelpon dan mereka berjanji akan datang besok.
       “Berikan aku kesempatan untuk memikirkannya.” Ucap Santi.
       “Baiklah, sekarang kamu istirahat saja dulu biar aku yang menunggu Alif.”
****
         Setelah melakukan operasi katup jantung di Mount Elizabeth Singapura. Kodisi Alif berangsur-angsur pulih setelah melakukan perawatan hampir satu bulan di negri Lee Kuen Yew itu.
         Yoga yang mengusulkan untuk operasi disana karena technik medikal disana sudah maju. Kini Alif sudah dibawa pulang tiga hari yang lalu namun dia kini tidak seaktif dulu lagi. Mudah capek, jadi perlu pengawasan yang teratur. Yoga dan Santi tentu paling bahagia melihat buah hatinya sudah sehat lagi.
         Mama, papa dan orang tua Yoga menyuruh mereka untuk rujuk kembali. Setelah berpikir lama dan perhatian Yoga yang baik hati Santi luluh juga.
        “Gue mendukung banget Ga, kalau loe mau comeback lagi pada Santi. Dia perempuan baik, terbukti kan kesetiaanya nunggu loe insyaf he...he... Lagian loe beruntung punya anak yang lucu. Gue jadi ngiri deh. By the way loe masih punya stock yang kayak gitu nggak Ga, gue mau deh.
        “Uh... emangnya barang.” Celetuk Yoga.
         “He...he... kemana nih mau bulan madunya?” Canda Sandi lagi.
         “Belum tahu nih, loe bisa nunjukin tempat-tempat fresh dan romantis nggak?”
         “Bali...”
         “Dulu sama Rafika ke Bali.”
         “Ya, sudah dirumah saja. Ngirit biaya oii.”
         “Betul juga San, mendingan biaya bulan madunya dipakai untuk biaya yang lain, ditabung buat biaya anak sekolah.”
        “Bagus, kamu jadi lebih dewasa deh, gue senang dengarnya.” puji Sandi.
        “Hm... jadi mekar deh hidung gue.”
       “Awas lho meledak.” Mereka saling bercanda di telpon.
        Ditempat paman Hendra
        Alif sedang asyik bermain komputer. Dia sedang menulis cerita tentang kerinduannya pada seorang ayah, dengan kata-kata yang khas seusia Alif.
      “Mama lihat ceritanya bagus nggak?”
       Santi yang sedang membaca majalah dakwah bangkit dan mendekati Alif. Santi terenyuh membacanya.
      “Jadi Alif pengen ketemu papa?”
      “Iya, Alif kangeeen banget sama papa. Kenapa sih papa lama banget sekolahnya?”
      “Sebentar lagi papa Alif akan datang.”
       “Kapan ma?”
       “Sekarang.”
       “Benar Ma?”  Mata Alif mencari kesungguhan.
        “Iya...” Santi mengangguk yakin.
        “Asyik, Alif bakal ketemu papa.” Ujar anak itu riang.
        Ini foto papa Alif.” Santi memberikan foto ukuran post card. Foto pernikahannya dulu yang dia sembunyikan dari Alif.
       “Ini mama waktu nikah kan? Hem... eh... tapi pengantin laki-lakinya mirif Om Yoga...”
       “Karena sebenarnya Om Yoga itu papa Alif.” Suara Santi tenggelam.
       Alif menatap mamanya, meminta kepastian.
       “Iya sayang, Om Yoga itu papa kamu. Maafkan mama ya, telah bohong sama Alif. ujar Santi disesaki rasa bersalah.
       Tapi anak itu bukan bahagia ketika mendengar penjelasan mamanya. Wajahnya berubah muram.
       “Mama jahat, udah bohongi Alif. Kata mama papa sekolah di luar negri, tapi mama bohong!” Protesnya. Alif segera berlari kekamarnya dan mengurung diri disana. Dia benar-benar marah.
        Santi terhenyak tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Santi segera menyusul anak itu.
       “Alif benci sama mama yang sudah bohongin Alif!” Anak itu masih ngambek.
        Santi memejamkan matanya, perih tiba-tiba merambah kedadanya. Selama ini ia tak mengira akan sejauh ini jadinya, tapi justru malah mengguncang jiwa Alif. Santi menarik nafas panjang. Banyak yang diajarkan kepada Alif terutama untuk tidak berbohong ternyata hanya sebatas retorika.
       “Maafkan mama sayang. Mama...” Santi malah terjebak dalam tangisannya. Dia berusaha mengusap kepala Alif tapi anak itu malah menepisnya.
       Ya Allah, Santi terperanjat. Ada luka dihati Alif, hal yang tak pernah ia duga. Kenapa sebagai seorang ibu tak dapat menyelami permata hatinya.
       “Kenapa mama harus bohongin Alif kalau om Yoga itu papa Alif? Kenapa mama harus bilang kalau papa Alif itu sekolah diluar negri?”  Protesnya dengan wajah masih kerkerut-kerut.
         Untuk sesaat Santi tidak menjawab. Sungguh anak seusia Alif bisa berkata seperti itu. Pertanyaan yang terlampau dewasa untuk anak seusianya. Ketika anak lain masih merengek manja, dia sudah diajarka untuk tidak manja dan harus mandiri. Bahkan di usia seperti ini dia sudah melahap banyak buku dengan rakus setelah melakukan tahap seleksi dulu mana buku-buku yang boleh dibaca.
        “Alif...”  panggil Santi pelan. “Maafkan mama sayang. Mama sudah bohongin kamu tapi semua itu...” suara Santi tenggelam disusul dengan air matanya. Apakah Alif harus tahu sekarang tentang segala yang pernah terjadi.
       “Karena apa, Ma?” Ujar Alif mulai bersimpati dengan tangisan mamanya. Matanya memancar sebuah keingintahuan.
        “Karena...” Santi menghela nafas berat. “Karena papa Alif dulu tak pernah sayang sama mama, sehingga mama pilih cerai dari papa. Tapi sekarang papa sudah menyadari kesalahannya. Mama harap Alif bisa memaafkan semua kesalahan papa.”
         “Ma...” kata Alif pelan sambil memegang tangan mamanya. “Kata mama Allah juga maha pemaaf pada ummatnya jadi Alif juga harus memaafkan papa, biar Allah semakin sayang sama mama dan Alif.” Ujar Alif polos namun menyentuh ruang hati Santi.
         “Alhamdulillah, mama sangat senang dengarnya.” Santi memeluk putra semata wayangnya.
        Terdengar  diluar suara mobil masuk ke pekarangan paman Hendra, Santi mengintipnya ke tirai jendela.
       “Siapa ma?” Mata Alif berbinar
        “Papa Alif datang.”
       “Papa,”  pekik anak itu senang. Pendar dimatanya terlihat bahagia. Ah... belum pernah ia melihat kebahagiaan seperti ini di wajah Alif. Kerinduan anak itu tentang ayah mulai terbayar. Alif segera bangkit dari tempat tidurnya dan menarik tangan Santi.  “Mama ayo kita temuin papa.” Santi menurut mengikuti langkah Alif.
       Yoga segera turun dari mobil BMWnya, dia menurunkan barang bawaan dari bagasi mobilnya. Alif berlari menuju papanya.
       “Papa...!” ujar Alif dengan penuh keceriaan.
       “Alif...” Untuk sesaat Yoga tertegun seperti dihipnotis mendengar kata panggilan papa dari Alif,  benar-benar sebuah panggilan menyejukan. Akhirnya panggilan yang dirindukan itu datang juga.
       “Papa, bagaimana kabarnya? Alif kangen banget sama papa. Kita sekarang akan bersama kan, Pa?”
        “Alhamdulillah.”  Mata Yoga berkaca hari ini adalah kebahagiaan terindah bagi hidupnya kalau dirinya  benar-benar sudah menjadi seorang ayah dan tanggung jawab menanti dihadapannya. “Kabar papa baik dan papa juga sudah kangen banget sama Alif. InsyaAllah kita akan selalu bersama. Kata Yoga sambil memeluk Alif.
        Santi yang menyaksikan menangis diam-diam.
       “Mama...”  Alif kembali menghambur mamanya.
       “Alif senang kalau mama bisa memaafkan papa dan kita bisa sama-sama lagi.”
       Santi mengusap air matanya dengan ujung jilbabnya, lalu matanya perlahan menatap Yoga. Yoga membalasnya dengan senyuman cerah.
       “Aku bahagia, kamu telah mendidik Alif dengan sebaik-baiknya. Seandainya dari dulu aku menyadari tentang pilihan pendamping yang terbaik...”
         “Mungkin harus seperti itulah jalan hidup kita. Sebuah ujian untuk sebuah kesadaran. Biarlah masa itu berlalu yang akan kita tapaki adalah masa depan. Mudah-mudahan masa depan yang akan kita jalani lebih baik dari masa lalu.”
         Angin berhembus lembut. Yoga menghirup udara segar semerbak cinta mulai mewangi bagai sekuntum mawar yang baru mekar. Tak lupa laungan syukur pada Tuhan dia panjatkan lewat bisikan hatinya.