Subscribe Us

REMAJA ISLAM FOLLOWER



Hari giniee masih jadi follower?! Aduh nggak asyik banget dech… Kecuali emang kalian merasa jadi keturunan bebek yang kemana-kemana selalu ngebebek yang ada di depannya. Ngebebebek yang jadi idolanya. Meski yang jadi idola itu jalan hidupnya ancur-ancuran.
Apa sih asyiknya jadi follower atau bebek? Pingin di sebut nggak ketinggalan Zaman? Meski zaman yang di ikuti zamannya yang bikin rusak ahlak dan moral. Nggak bisa ngebedain mana halal dan haram. Mana yang harus sepantasnya di jadikan idola atau nggak?
Jadi follower sih sebenarnya boleh-boleh saja. Selama yang kalian ikuti itu arahnya bikin hidup kamu lebih baik, lebih adem, lebih cerdas dan full lebih sholeh dan sholeha. Yupzs…itumah kudu nggak boleh tidak! Yee…maksa!
 Kadang untuk kebaikan, diri kita harus di paksa terlebih dahulu. Semoga kedepannya sadar diri dan menyiapkan wadah persipan untuk berubah lebih baik lagi…lagi and so again… Jika  sudah punya wadah persipan yang banyak, hati dan pikiran sudah nerima hal yang berhubungan dengan kebaikan kita akan lebih banyak lagimencari ilmu untuk menjadi lebih relegius misalnya, lalu menjadi lebih cerdas juga. Jadinya TOP BANGET. Baru ini jadi follower yang benar.
Tapi realita yang terjadi pada hari ini kebanyakan remaja jadi follower itu bukan kearah yang lebih baik tapi kearah yang lebih miris. Ditambah system Negara yang turut mendukung rusaknya moral generasi dengan tidak memberikan sanksi yang tegas bagi para pengusaha yang berbisnis di dunia hiburan, juga control masyarakat yang apatis dan control keluarga juga sangat longgar karena kesibukan para orang tua yang bekerja di luar rumah  hingga tidak memiliki quality time dalam mendidik anak. Akhirnya tumbuhlah remaja Televisi yang mengidolakan  orang-orang yang seharusnya tak pantas untuk di idolakan. Jadi remaja incaran para kapitalis yang mengiring remaja untuk selallu fun dengan music dan film.  Jadi remaja penikmat food meski dalam kemasan junk food. Jadi remaja penikmat fashion yang memiliki brand ternama meski mengumbar paha dan belahan dada. Ihiks…miris banget. Apa jadinya remaja negri ini di 10 atau 20 tahun mendatang jika sekarang saja mereka sudah begitu hedonisnya padahal dari segi financial masih menunggu kucuran dari ortunya.
 Gimana sih caranya menghindar dari virus follower yang kini mewabah sampai desa-desa terpencil? Ya,Ngajilah. Biar jadi remaja yang memiliki identitas diri bukan remaja yang bisanya cuma jadi plagiat orang lain. Cerminan remaja yang nggak punya kepribadian. Musiman TV lagi demamnya dangdut tak mau ketinggalan penampilan, music semuanya serba dangdut. Lagi demamnya K-Pop semuanya pada serba K-Pop, mulai dari baju , rambut, musik, film bahkan nyari pacar pun harus yang mirip-mirip Oriental karena saking demamnya pada K-Pop. Begitupun sekarang ini remaja dan remaji sepertinya lagi kesengsem sama yang berbau ala India maka berkiblatlah pada yang berbau India tanpa memperhatikan batasan-batasan kita sebagai muslim. Dan yang terbaru televisi pada serentak menayangkan film-film Turki yang super liberal, maka remaja dan remaji muslim negri ini di cetak untuk menjadi remaja yang liberal. Padahal kita tahu bahwa Turki pernah menjadi peradaban muslim , namun kini hilang tak berbekas.
Inikan hanya hiburan. Tidak akan membuat kita berubah keyakinan menjadi seorang yang berakidah ini dan itu.  Oh…no. Mestinya kalian tahu jika Invansi pemikiran  lewat Film, budaya, ekonomi, agama itu sedikit-sedikit akan mengubah prilaku dan sikap kritis kita. Yang semula Cuma sekedar hiburan lalu akhirnya kita mengikuti gaya penampilan mereka, cara berpacaran mereka, budaya-budaya mereka dan secara perlahan akidah kita terkikis sedikit demi sedikit. Mungkin secara agama kita tidak berubah keyakinan. Tapi secara akidah kita sudah jauh dari islam. Prilaku kita, tutur kata kita, style kita semua adalah produk luar dan itu akan semakin menjauhkan kita dari islam. Dan otak kita yang sudah terbrain wash budaya liberalisme akan menganggap syah-syah saja semua perbuatan yang semula bertentangan dengan norma dan etika sebagai muslim.
Untuk menghindari virus follower yang taruhannya adalah terkikisnya akidah islam kita. Ya, kita harus ngaji Islam. Ngaji yang bukan sekedar ngaji qur’an yang di baca tiap hari tanpa mengerti artinya. Atau ngaji di mazlis taklim yang bahasannya tentang ibadah mahdoh saja.  Keduanya bagus dan menambah pahala tapi akan lebih bagus jika kita ngaji Islam itu samping dagingnya bukan sampai kulitnya saja. Agar kita menjadi ‘kuntum khoirun uhrijatt linnassi’ umat muslim itu adalah umat terbaik dengan syarat menyeru manusia ke pada kebaikan dan mencegah manusia dari perbuat keji dan munkar. Ngaji Islam yang tidak parsial tapi kaffah [menyeluruh]. Hingga umat islam mampu menegakan syariah seutuhnya.
Yuuk, jikapun kalian belum jadi trendsetter dalam kebaikan maka taka pa jadi follower asal tetap tidak meninggalkan akidah islam kita . Semisal mengidolakan orang-orang shaleh di sekitar kita, masyrakat kita, sekolah kita atau level Negara dan dunia. Orang yang selalu membawa virus kebaikan, banyak kontribusinya untuk kemajun ummat. Selain shaleh, cerdas juga tawadhu. Alhamdulillah jika yang kalian idolakan adalah Rasulullah lelaki panutan yang paling mulia ahlaknya dan paling T-O-P segalanya. Baik sebagai suami, ayah, sahabat, pemimpin dan panglima, dia sangat luar biasa. Maka pantaslah jika dia adalah sebaik-baiknya sauri tauladan buat ummatnya. Atau kalian mengidolakan para sahabatnya, para tabiin, dan Thabii tabiin atau para khalifah dan cendekiawan di era kegemilangan islam. Maka kalian akan jadi follower yang lebih baik dan yakin negri ini akan lebih sehat bukan sakit sakaw sepertisekarang ini.
Maju dan hancurnya negri ini tergantung dari apa yang kita lakukan saat ini. So, jika ingin negri ini lebih baik kedepannya, yang di dukung dengan penerapan system Islam. Jadilah remaja islam yang lebih baik dan cerdas yang tidak mudah terpengaruh oleh perubahan zaman yang merusak ahlak. Semoga Allah selalu menolong kita dalam setiap langkah dalam dakwah hingga tiba di penghujung tegaknya Syariah Islam. Allahu Akbar…!

0 Comments:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini