Subscribe Us

NOKTAH


Sinopsis Cerita

Nayla Bahtiar dijuluki si Ratu shoping dan penggila pesta, karena suatu keadaan, hidupnya harus berubah sampai titik terendah. Ayah Nayla adalah seorang pengusaha sekaligus pejabat teras di negara para bedebah, harus ditangkap, karena sudah melakukan penggelapan uang milik negara, hingga akhirnya harus mendekam di balik jeruji besi. Harta yang dimiliki keluarganya, semua disita negara.

Pujian semu dan segala popularitas yang dimiliki Nayla, lenyap tak bersisa. Berganti dengan hinaan dan cacian. Hukum sosial yang dilakukan sang Ayah, ia pun harus ikut menanggungnya. Dan dihari yang nahas itu, ia juga harus kehilangan respect pada Ibunya, yang memilih pergi dengan Bule Prancis.

Galang seorang aktivis, laki-laki yang semula terlihat tulus, dan baik hati, menawarkan perlindungan, tapi dengan syarat harus mau dinikahi. Penderitaan Nayla ternyata belum berakhir, karena bukan kebahagiaan yang ditawarkan Galang, tapi tidak lebih menjadikan dirinya pelayan, yang segala keinginan laki-laki itu harus dipatuhi.

"Penderitaanmu jauh belum seberapa Nayla, dibanding hak rakyat yang sudah diambil oleh Ayahmu. Harusnya hukum mati jauh lebih pantas dirasakan oleh para koruptor, karena kemiskinan struktural yang dibuat oleh para perampok laci negara itu sudah merugikan banyak orang. Berbahagia diatas derita jutaan rakyat. Dan kamu ikut memiliki andil, dengan menikmati menghabiskan uang ayahmu dengan gaya hidup hedonis. Jika banyak rakyat merasakan pahitnya kemiskinan dinegri sekaya ini, kamu pun harus bisa merasakannya. Maka selamat datang digubug derita ini."

Cinta di Atas Bara Bagian 8

Malam terasa sangat dingin menusuk tulang. Sayyid duduk di tempat yang agak gelap tepi sungai Hudson dengan duduk mencangkung. Sungai Hudson selalu mengingatkannya akan Film Sully yang di ambil dari kisah nyata yang menceritakan tentang Peristiwa yang menghebohkan dunia. Menceritakan tentang pendaratan darurat pesawat US Airways 1549 di Sungai Hudson terjadi pada 15 Januari

Sullenberger merupakan mantan pilot jet tempur. Dia berhasil menyelamatkan lebih dari 150 orang setelah mendaratkan dengan selamat pesawat Airbus A320 di atas sungai dingin Hudson. Sullenberger mengarahkan pesawatnya ke sungai setelah dua mesin pesawat mati usai tabrakan dengan sekelompok burung.

Pesawat tersebut bertolak dari Bandara LaGuardia pada Kamis, 15 Januari 2009 pukul 15.26 waktu setempat menuju Charlotte, North Carolina. Pesawat baru saja mengudara selama tiga menit ketika gangguan itu terjadi.

Kemudian dengan pesawat mengapung di atas air, 150 penumpang dan 4 kru serta sang pilot keluar dari pesawat dan berdiri di atas sayap. Kapal-kapal bantuan datang dengan cepat sehingga seluruh penumpang dan kru berhasil dievakuasi dengan selamat sebelum pesawat akhirnya benar-benar tenggelam.

Film Sully pun termasuk Film yang luar biasa bagus berada di posisi atas Film Box Office.

Tapi singkirkan dulu akan kekaguman Sayyid pada Film Sully. Pemuda itu terlihat sangat resah. Perang pemikiran berkecamuk di otaknya. Kembali ke Indonesia dengan membawa malu dan beban dosa, ataukah tetap disini dengan membela cinta. Hidup bersama dengan Aleya. Meski cinta pada gadis itu tidak sekuat ketika ia  pergi dari Indonesia dengan melawan kedua orang-orang yang sangat dicintainya.

Pesan dari Amir cukup mengguncang hati Sayyid. Abah dipenjara, dan Umi dirawat di rumah sakit. Lalu bagaimana dengan kelanjutan pesantren. Sedang kedua kakaknya berada diluar Provinsi, sama -sama sibuk jadi pengemban dakwah yang memiliki kesibukan padat dan santri yang harus di urus. Harusnya dirinyalah yang berperan melanjutkan aktivitas Pesantren di saat abah tidak ada. Hanya Amir yang mungkin menjadi harapan tonggak kemajuan pesantren.

Sayyid selalu ingat dengan nasehat Abah yang berpesan padanya untuk melanjutkan keberlangsungan pesantren ketika Abah sudah tidak ada.

"Kamu itu adalah pemuda yang umat menyimpan banyak harapan kepadamu akan tanggung jawab, agar islam kembali bersinar di muka bumi ini. Ilmumu harus dedikasikan semuanya untuk kemajuan umat. Dan bangunlah ketokohan yang kuat, karena menjadi orang berpengaruh itu sangat-sangatlah penting. Kita akan menjadi sandaran disaat mereka lemah, akan menjadi penerang disaat kegelapan, akan jadi penggerak ketika mereka terpuruk. Dan untuk menjadi seseorang yang memiliki pengaruh itu butuh proses yang panjang, figur ketauladanan, kepemimpinan yang teruji, kecerdasan, dan kepekaan. Semua itu haruslah bersinergi dan harus ada pada diri pemimpin. Sejauh apapun kamu pergi berkelana dimuka bumi, jangan terlena dengan negri orang. Tapi pulanglah, karena membangun negri sendiri jauh lebih baik." kata-kata Abah sebelum pertama kali Sayyid pergi ke Amerika kembali terngiang di kepalanya.

Dan ada rasa sedih yang menciptakan koyakan luka, ketika kepergian Sayyid yang kemarin terlihat Abah sangat kecewa luar biasa ketika ia membantah keinginan Abah. Mata laki-laki tua itu terlihat berkaca-kaca. Karena Sayyid anak yang menjadi kebanggannya telah menciptakan palung luka di hati Abah yang begitu dalam.

"Pergilah sejauh yang kamu mau, jika nasehat kami sudah tidak bisa menyentuh hatimu. Semoga ini bukan kesalahan Abi dan umimu dalam mendidik. Kamu sudah terlalu dewasa untuk bisa memilih mana yang baik dan mana yang salah. Namun jika kamu menyesali apa yang sudah kamu lakukan, dan mau mentobati segala dosa-dosamu. Maka pintu rumah akan selalu terbuka untuk menerima kamu pulang." suara Abah terdengar bergetar menahan rasa sesak luar biasa.

Sayyid tampak menghembuskan nafas beberapa kali. Ia sangat khawatir sekali dengan Abahnya. Dinginnya ruang penjara tentu tidak baik untuk kondisi kesehatan Abah. Kesalahan apa yang mendasari Abah ditangkap. Ia ingin bertanya hal pada Amir, namun sudah tentu laki-laki itu tidak akan menjawabnya. Karena kadung kecewa atas pilihan Sayyid.

Sayyid yang sedang termenung, dia tidak sadar jika ada dua pasang mata yang dari tadi mengintai gerak-geriknya. Dua bayangin hitam yang sudah terlatih, mereka sudah lama mengincar Sayyid, karena pemuda itu dinilai sangat berharga. Dan ini adalah kesempatan terbaik, biasanya gerak-gerik pemuda itu akan selalu diawasi dan diikuti kemanapun perginya. Namun entah kenapa malam ini Karl dan anak buahnya lengah.

"Are we going to approach him now?" tanya si pemuda bermata biru  menikut temannya dengan berbisik.

"Ya. Dan kuharap anak buah  Karl tidak memata-matainya. Kamu bius dia segera, dan bawa dengan cepat ke mobil. Kita juga harus memusnahkan chip yang ada ditubuh pemuda itu, agar Karl tidak mengejarnya."

Sipemuda bermata biru langsung meloncat dengan cepat membentuk siulet bayangan hitam dalam perjalanan malam menuju titik kulminasi. Ilmu bela diri laki-laki terlihat cukup tinggi. Karena dalam sekejap Sayyid sudah terkulai dengan lemas. Akibat usapan sabutangan yang dibubuhi obat bius. Pemuda bermata biru itupun sudah menghilang tanpa bisa diikuti oleh pandangan mata. Melarikan diri dalam keremangan malam. Tubuh Sayyid yang tinggi dan berisi seperti bukan sebuah beban.

Dan laki-laki teman simata biru sudah menungguinya dalam mobil, dan segera memberi tahu atasan tertingginya, kalau mereka sudah berhasil membawa Sayyid malam ini. Setelah itu ia segera mengemudikan mobilnya, dengan penuh kewaspadaan. Karena bisa jadi anak buah Karl mengikutinya.

Sedang si lelaki bermata biru mengeluarkan alat pelacak, untuk mendeteksi  dimana chip itu ditanam didalam tubuh Sayyid. Setelah terdeteksi dia segera mengeluarkan pisau bedahnya, mengeluarkan Chip itu, lalu mengeluarkannya ke jalanan. Ada suara lenguhan terdengar dari mulut Sayyid. Dia benar-benar merasakan sakit akibat cokelan pisau bedah. Tapi pengaruh obat bius merampas kewarasannya untuk beberapa jam kedepan.

"Bist du sicher, dass Karl uns nicht nachkommen wird?" tanya simata biru dengan bahasa Jerman. Karena menurutnya ini adalah langkah yang sangat beresiko dengan membawa Sayyid pemuda yang sudah lama menjadi incaran Karl. Dan laki-laki licik itu rela mengorbankan putrinya untuk mempermainkan hati Sayyid. Sehingga pemuda religius itu sudah begitu jauh melangkah. Bahkan nyawanya akan menjadi tumbal ambisi Karl Abraham Wilson, jika pemuda itu tidak mau di setting sesuai yang Karl inginkan.

"Kali ini aku yakin Karl akan kehilangan jejak Wil, asal kita bisa menyembunyikan Sayyid dalam beberapa waktu yang cukup lama. Kalau perlu kita hapus sebagian ingatannya. Jika perlu kita ubah wajah Sayyid menjadi wajah orang lain." saran lelaki berkulit coklat tersebut.

"Wow…pikiranmu jenius tapi terlalu kejam. Aku jadi teringat dengan Film Men in  Black. Dan tim peneliti AI berusaha mengembangkan sebuah sistem penghapus ingatan, ‘neuralyzer’,  karena terinspirasi karena dari film ini."

"Karena yang dibutuhkan Karl adalah kecerdasan otak Sayyid, untuk kepentingan pribadinya yang sangat berambisi menghancurkan dunia. Sedang yang dibutuhkan putrinya adalah cinta.  So, tidak ada cara lain jika bukan dengan cara itu."

Simata biru tetap tidak setuju. Sayyid memang aset yang harus dijaga. Menyembunyikan dia dari dunia untuk sementara adalah pilihan terbaik.

"Profesor pasti punya solusi terbaik bagimana cara menjaga Sayyid, dan membrain wash kembali pemuda ini agar kembali waras."

"You are right Wiliam. Let it be the Professor's job to think about Sayyid's next steps.  And he can be safe from the pursuit of Karl Abraham Wilson.  Our job is only to save him."
****
Bist du sicher, dass Karl uns nicht nachkommen wird?" (Apakah kamu yakin kali ini Karl tidak akan mengejar kita? )

Aku paling suka sama novel ini, meski sepi pembaca. Hanya di novel aku lumayan mikirnya berat banget. Hampir delapan tahun belum kelar-kelar endingnya. Kayanya dalam satu tahun hanya bisa nulis satu part.

Cinta di Atas Bara # Bagian 7

Setelah puas meratapi kegalauannya, Sayyid segera keluar dari balkon masuk menuju kamar. Dia sungguh sangat lelah. Wajah Umi yang menangis, terbayang dimatanya. Baru seumur hidup, ia menyaksikan Uminya menangis dan memohon jangan pergi. Biasanya Ummi tidak pernah seperti ini. Sebelum masuk kedalam kamar, hapenya berbunyi menandakan sebuah pesan watsapp masuk. Dari Amir. Sayyid segera membukanya, karena mendadak perasaannya tidak enak. Didera khawatir yang berlebihan.

Sayyid membuka pesan dari Amir dengan tangan gementar. Dua photo yang dikirim Amir, yang pertama adalah photo Ibunya yang sedang terbaring dirumah sakit. Dan photo kedua adalah photo Abah yang sedang giring ke mobil polisi, dengan dikawal banyak polisi.

'Sekarang sudah puas kan kamu Sayyid, ketika melihat Umi sakit dan Abah dituduh negara sebagai teroris. Ini permainan macam apa? Dunia terlalu gila, jika menuduh Abah laki-laki lembut dan kharismatik adalah dalang kekacauan dinegri ini. Ini semua pasti karena kamu Sayyid, karena kamu yang sudah bersekongkol dengan mereka.' tuduh Amir dalam pesan watsappnya.

Sayyid hampir saja limbung ketika membaca pesan itu. Tubuhnya mendadak lungkrah tidak berdaya. Jika Ummi tahu, Abah ditangkap, pasti akan membuat Ummi tambah drop. Sayyid menyenderkan tubuh kedingding. Ia menarik-narik rambutnya kesal. Matanya memerah menahan tangis. Salah besar jika mereka menuduh Abah seorang teroris. Abah laki-laki penyayang. Waktunya didedikasikan untuk membina umat. Banyak orang yang sudah ditolongnya. Bahkan ia tidak membeda-bedakan agama. Jika ada orang yang mebutuhkannya, akan Abah tolong. Karena kata Abah, agama tidak boleh menghentikan seorang manusia untuk berbuat baik. Bahkan Rasulullah pun mengajarkannya untuk berbuat baik pada pemeluk agama lain. Selama mereka tidak menyerang agamaNya. Terbukti Rasulullah bisa hidup berdampingan dengan orang-orang musyrik, nasrani dan Yahudi selama berada di Madinah.

Sayyid merasa dihantam oleh palu godam yang terasa menyakitkan.

Salah besar jika Amir menuduhnya, kalau ini semua adalah ulahnya. Ia pergi karena murni membela cinta, bukan untuk menghancurkan orang tua atau pesantrennya.

Dengan langkah gontai, Sayyid memilih masuk kamar. Berbaring mungkin bisa jadi pereda lelahnya. Namun ia terkejut ketika memasuki kamar, ada Aleya yang sedang terbaring dengan penampilan menantang. Dia sengaja memakai pakaian transparan untuk meluluh lantakan iman Sayyid.

"Sayang aku sudah siap, mendekatlah." ujar Aleya dengan suara menggoda.

"Shit…! Pakai bajumu!" geram Sayyid marah. Ia bukan pria munafik, melihat wanita seksi pasti tergoda. Tapi bukan saat seperti ini, yang pikirannya sedang kacau.

"Kenapa? Biasanya kamu suka." Aleya mendekat.

"Aleya, please…aku sedang banyak pikiran."

"Ayolah Sayyid, aku sangat kangen sama kamu. Kamu juga pasti begitu." Aleya memeluk tubuh Sayyid, tapi Sayyid segera mendorongnya perlahan.

"Aku tidak suka kalau kamu murahan seperti ini. Menghindarlah…" Sayyid segera mengambil Jaket yang tergantung didekat pintu. "Aku msu pergi keluar, pakai bajumu kembali." setelah itu Sayyid melangkah keluar kamar dengan terburu-buru. Ia sangat takut Aleya akan mengejarnya. Benar kata Amir, jika perempuan adalah racun dunia, yang membuat imannya luluh lantak.

Sayyid menyeret kakinya tak tentu arah. Ia benar-benar sedih dan kecewa. Kabar dari Amir cukup mengguncang jiwanya. Dingin kota Mahanttan, tidak menyurutkan langkahnya. Ia tidak peduli dengan Jacket tipis yang dikenakannya, tidak mampu menghalau rasa dingin yang menjalar. Tadi, ia tidak sempat mengambil Jakcket yang cukup tebal, karena Aleya pasti akan memaksanya jika Sayyid masih dikamar itu. Dulu ia suka dengan Aleya yang liar dengan tubuh menggodanya. Tapi sekarang, setiap dekat Aleya, yang terngiang-ngiang adalah kata-kata Amir dan wajah sedih Umminya.

Tujuannya kali adalah ingin menenangkan diri, sambil memandang riak air, ditepi sungai Hudson. Ia tidak peduli dengan omongan teman-temannya, harus berhati-hati jika bepergian dimalam hari. Apalagi menepi disungai Hudson. Saat dibunuh bisa langsung dilempar ke sungai. Paling mayatnya mengambang, akan ditemukan esok hari. Dan akan masuk berita kriminal di koran lokal Newyrok, masuk media online, juga jadi berita sekilas di Televisi.
*****

Aleya menemui Karl, ayahnya dengan wajah berlinang. Gadis itu sangat sakit hati dengan penolakan Sayyid tadi. Dia jadi terlihat seperti perempuan murahan, meskipun memang sangat murahan.

"Warum liebst du?" tanya Karel menatap putrinya penuh khawatir. Ia segera menggulung peta yang sedang dipelajarinya, sebelum kedatangan Aleya.

"Sayyid mengabaikan aku, Dad." Aleya mengadu pada Ayahnya.

"Why?"

"Aku secara nggak sengaja menanyakan kabar orang tuanya. Sayyid langsung muram dan berdiam diri dibalkon. Saat aku mendekat dia menyuruh aku pergi."

Karl menatap putrinya dengan sorot khawatir. Biasanya Aleya tidak seperti ini. Semenjak mengenal Sayyid, putrinya jadi banyak berubah. Kecintaannya pada Sayyid sudah terlalu dalam. Disatu sisi ada keuntungan yang bisa didapat, tapi disisi lain akan membahayakan putrinya yang secara emosi jadi labil. Ini tidak akan baik. Putrinya harus jadi wanita tangguh, karena organisasi tempat mereka mengabdikan diri, butuh dedikasi dan loyalitas tinggi.

"Mungkin kamu harus lebih berusaha keras lagi, my princes. Ikat Sayyid dengan pernikahan." saran Karl.

"Bagaimana kalau dia menolak, Dad?"

"Bagi orang yang hidup didunia Timur,  pernikahan jauh lebih baik, ketimbang samen laven. Sayyid harus diikat oleh pernikahan dan anak. Karena kita sangat membutuhkan Sayyid ."

"Sepenting itukah Sayyid bagi organisasi kita Dad?"

Karl mengangguk.

"Dia adalah calon ilmuwan dimasa depan yang sangat cerdas, princess. Sangat cocok jika kamu ada disampingnya. Jangan sampai pemuda itu kembali kenegrinya, lalu mengembangkan penelitian tentang nuklir disana. Dan kecerdasannya akan dimanfaatkan serta dibiyai oleh aktivis muslim. Suatu saat, kekuatan mereka akan menghantam kita dengan senjata-senjata pemusnah masal seperti nuklir atau biokimia. Dad mengkhatirkan prediksi Will Durent itu benar. Abad ke 20 adalah kebangkitan muslim dibawah new Chaliphate.

Pada Desember 2004, Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Inteligent Council/NIC) merilis laporan dalam bentuk dokumen yang berjudul Mapping The Global Future. Dokumen ini berisikan prediksi atau ramalan tentang masa depan dunia tahun 2020.

Dalam dokumen tersebut, NIC memperkirakan bahwa ada empat hal yang akan terjadi pada tahun 2020-an yakni:

Dovod World: Kebangkitan ekonomi Asia; Cina dan India bakal menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia.

Pax Americana: Dunia tetap dipimpin dan dikontrol oleh AS.

A New Chaliphate: Kebangkitan kembali Khilafah Islam, yakni Pemerintahan Global Islam yang bakal mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai Barat.

Cycle of Fear: Muncul lingkaran ketakutan (phobia), yaitu ancaman terorisme dihadapi dengan cara kekerasan dan akan terjadi kekacauan di dunia—kekerasan akan dibalas kekerasan." jelas Karl.

"Dari dokumen tersebut, jelas sekali bahwa negara-Negara Barat meyakini bahwa Khilafah Islam akan bangkit kembali. Menurut mereka, Khilafah Islam tersebut akan mampu menghadapi nilai-nilai peradaban Barat.

Jika Khilafah bangkit, kita akan dilibat habis. Maka saat ini, kita berusaha menawarkan kepada para pemuda muslim yang cerdas seperti Sayyid, sebuah pekerjaan yang menggiurkan ketika mereka sudah menyelesaikan pendidikannya. Jika tidak mau, kita akan bunuh mereka."  Tambah Karl sambil memperlihatkan sebuah artikel penting, tentang siapa saja Ilmuwan muslim yang sudah berhasil dibunuhnya.

Aleya membaca dokumen yang disodorkan oleh Ayahnya.

Pembunuhan insinyur penerbangan Tunisia yang diduga memiliki hubungan dengan kelompok perlawanan Islam Palestina Hamas menyoroti Mossad, badan intelijen zionis yahudi yang diduga banyak membunuh ilmuan Islam.

Mohamed al-Zawari ditembak mati pada bulan Desember di luar rumahnya di kota Sfax di tenggara Tunisia. Hamas dengan cepat menyalahkan Israel atas pembunuhan itu, mengatakan sang insinyur dibunuh setelah mengawasi Program drone Hamas.

Al-Zawari merupakan salah satu diantara sejumlah ilmuwan dan aktivis Muslim yang diyakini dibunuh oleh intelijen zionis.

Pada tahun 1967, ilmuwan nuklir Mesir Samir Naguib tewas dalam kecelakaan mobil di AS. Naguib dilaporkan berencana untuk kembali ke Mesir pada puncak perang melawan Israel untuk membantu memulai program nuklir Mesir ketika ia dibunuh.

Ilmuwan nuklir Mesir lainnya, Yahya al-Mashad, yang memimpin program nuklir Irak, dibunuh di sebuah kamar hotel di Paris pada tahun 1980.

Pada tahun 1991, fisikawan Lebanon Rammal Hassan Rammal meninggal dalam keadaan misterius di Perancis.

Pada tahun 1993, penulis Mesir Gamal Hemdan meninggal dalam kebakaran di apartemennya di ibukota Mesir. Kerabatnya menyatakan ia dipukul di kepala dan draft buku tentang Yahudi dan Zionisme yang sedang ditulisnya menghilang.

1997, agen Mossad juga mencoba – namun gagal – untuk membunuh Kepala politik Hamas Khaled Meshaal di Yordania dengan menyemprotkan racun ke telinganya.

Pada tahun 2004, ilmuwan nuklir Irak Ibrahim al-Dhahiri ditembak mati saat ia mengendarai taksi di kota Baquba di barat Irak.

Analis percaya bahwa pembunuhan ilmuwan Muslim adalah taktik Israel untuk mencegah negara-negara Muslim mendapatkan nuklir dan memahami teknologinya.

“Israel melihat Muslim yang memiliki alat-alat teknologi sebagai bahaya,” analis politik Turki Mustafa Ozcan mengatakan kepada Anadolu Agency, Sabtu (18/02/2017).

“Mereka tidak ingin umat Islam melakukan terobosan di bidang ini, sehingga mereka menargetkan para ilmuwan [dari negara-negara mayoritas Muslim seperti] Mesir, Irak, dan Pakistan,” katanya.

Analis Turki mengutip penghancuran reaktor nuklir Irak dalam serangan udara Israel sebagai contoh upaya Israel untuk mencegah negara-negara Muslim untuk memiliki pengetahuan nuklir.

Pada pertengahan tahun 1981, pesawat tempur Israel menyerang reaktor nuklir yang dibangun oleh Irak di tenggara Baghdad.

“Namun Israel menolak untuk mengomentari pembunuhan ilmuwan Muslim untuk menghindari diangkatnya masalah ini di tingkat internasional,” kata Ozcan.

Hatem al-Zoabi, seorang penulis Swedia asal Suriah, mengemukakan pendapat yang sama.

“Pembunuhan ilmuwan Muslim oleh Mossad bertujuan mencegah negara-negara tersebut mengembangkan penelitian mereka,” katanya kepada Anadolu Agency.

Dia berpendapat bahwa Israel “menargetkan setiap Muslim yang bisa membantu mengembangkan negaranya dalam bidang apapun”.

Aleya bergidik ngeri.

"Jadi pertahankan Sayyid, jika kamu tak ingin kehilangannya. Karena bisa saja suatu saat dia berubah. Dan kamulah yang harus membunuhnya." tegas Karl.

"Harus begitukah akhir cinta kami, Dad?"

"Ini bagian dari uji loyalitas, nak. Kamu jangan lupa, Dad juga harus kehilangan Ibumu ketika dia jadi pembelot. Karena kalau tidak, seluruh keluarga kitalah yang akan mati. Keujung duniapun kita berlari, kita pasti akan ditemukan. Susul Sayyid sekarang, dia ada ditepi sungai Hudson."

"Dad tahu juga sekarang Sayyid ada dimana?" Aleya terperangah.

"Ayah sudah menanamkan Chip ditubuhnya, biar mudah melacak jejaknya."

Aleya baru sadar tentang siapa Dadnya. Tentu saja, bagi Dad yang sudah bertahun-tahun tergabung dalam oraganisasi Mossad, akan sangat terlatih dan terencana dalam melakukan sesuatu. Aleyapun segera bangkit berdiri untuk menyusul sang kekasih. Bersambung

Ada banyak upaya yanh dilakukan Yahudi untuk membantai umat Islam. Genocida melalui senjata pemudnah masal, Brainwas para cendekiawan muslim, target pembunuhan para ilmuwan muslim, dan menjauhkan para generasi muslim melaui 4F yaitu Food,Fashion,Fun and Film. Bangkitlah wahai generasi muslim, karena mereka sudah mengepung kita dari berbagai lini. Cinta di Atas Bara hanya menceritakan sebagian kecil, rusaknya pemuda yang menjadi incaran MOSSAD karena kecerdasannya yg suatu saat akan membahayakan dunia. Bangkitnya New Chaliphate adalah ancaman seperti yg dikatakan Will Durent Ilmuwan Barat.

Aqeela # Part 4

Aqella merasa sangat bersyukur ketika melihat Adyan kondisinya sudah mulai membaik. Dan ini murni kebahagiaan sebagai seorang dokter terhadap pasiennya, bukan jejak masa lalu yang masih tersisa.

"Aqeela...kamu...Aqella kan?" ujarnya dengan terbata dan dia terlihat sangat terkejut melihat wanita yang masih dicintainya itu ada di hadapannya.

Aqella hanya tersenyum tipis, tidak ingin menjawab pertanyaan yang diajukan Adyan. Berusaha untuk tetap sibuk dengan mengecek kondisi tubuh pasiennya dengan stateskop yang tergantung di leher. Lalu mengajak Andini berbicara, memberi tahu apa saja yang harus di lakukan saat membantu merawat Adyan. Meski jujur debaran jantungnya bergemuruh tak bisa di enyah. Apalagi saat melihat tatapan matanya yang sangat lekat, namun ada banyak luka yang tersimpan disana.

'Kenapa dia masih mengenaliku?' batin Aqella. Padahal ia bukan bocah remaja yang polos dan lugu seperti yang terjadi di sepuluh tahun yang lalu.

"Alhamdulillah kondisi Bapak sudah mulai membaik. Semoga cepat sembuh ya, Pak? ujar Aqella tulus.

"Aku berusaha mencarimu, berharap bisa menemukanmu...ternyata kamu ada di sini. Kamu sebagai dokter dan aku sebagai pasien. Apakah ini takdir baik, sebagai cara Tuhan mempertemukan kita?" ujar Adyan dengan suara bergetar.

Untuk sesaat Aqella mematung. 'Ya Allah, kuatkan aku. Jangan kembali lemah dan jatuh pada pesonanya. Aku harus kuat. Dia sudah bukan siapa-siapa lagi. Tak akan ada lagi rasa yang tersisa. Semuanya sudah terkubur oleh waktu. Dia hanyalah mantan suami yang tak akan menjadi sesuatu yang berarti lagi.'

"Ternyata cara Tuhan cukup indah, disaat aku mulai lelah dan ingin menyerah. Tuhan mempertemukan cintaku yang tak pernah padam." kembali Adyan berbicara dengan pandangan matanya yang tidak lepas dariku.

Aqella menggigit bibir, berusaha menahan debaran di jantungnya. Ini sungguh gila.

"Maaf Pak Adyan, saya masih punya banyak pekerjaan." ujar Aqella buru-buru pamit untuk segera undur diri.

Adyan terlihat kecewa, mata elangnya meredup. Tapi Aqella berusaha tidak peduli, karena disini tugasnya untuk menyembuhkan fisiknya, bukan menyembuhkan hatinya.

"Aku sangat merindukanmu...merindukanmu teramat dalam." ujarnya lemah.

"Maaf Pak..." Aqella dengan langkah terburu keluar dari ruangan yang tiba-tiba mencekam.

"Suatu saat kamu akan menegerti, bahwa akulah yang paling terluka dengan perpisahan kita." suara pelan Adyan masih bisa Aqeela tangkap ketika keluar dari ruangan.

Sungguh tugas Aqella saat ini benar-benar terasa berat. Berhadapan dengan mantan mertua yang masih memperlihatkan sikap ketidak sukaannya, dan mantan suami yang terlihat masih mencintai. Membuat jiwanya benar-benar lelah. Entah bagaimana dengan besok-besok, ketika harus bertemu dengan mereka dalam waktu bersamaan. Semoga saja ia masih bisa tenang dan bersikap profesional.

Ketika Aqella sedang berjalan di koridor rumah sakit, langkahnya segera dilambatkan saat mendengar suara yang cukup familiar. Sebenarnya Aqella tak ingin peduli, karena itu bukan urusannya. Tapi entah kenapa, jika menyangkut wanita tua yang sombong itu, selalu membuat jiwanya terusik dan diselimuti rasa penasaran yang tinggi.

"Mau apa kau datang kesini, hah? Gara-gara kamu anaku celaka?!" ujar Nyonya Hutama tajam.

Aqella melihat wanita berambut sebahu di hadapan Nyonya Hutama. Penampilannya sangat elegan dan cantik. Sepertinya ia pernah bertemu, tapi entah dimana. Oh, iya tadi ia melihatnya di media online. Berarti dia Ardina Zahira, istrinya Adyan Hutama. Ya...ampun mereka memang cocok. Satu ganteng dan satunya cantik, jauh banget di banding dirinya. Pantas jika dulu Nyonya Hutama sangat setuju punya menantu Ardina Zahira. Cantiknya itu, sangat memikat. Tapi kenapa harus ada perselingkuhan?

"Tentu saja aku mau menengok suamiku, Mama mertua." jawab Ardina kalem.

"Berhenti kau memanggilku mama mertua, aku tak sudi mendapat panggilan itu dari wanita jalang sepertimu. Anakku tidak butuh kunjunganmu. Urusi saja selingkuhanmu itu."

"Stt...Mama tidak usah berteriak-teriak seperti itu. Malu di lihat oleh orang lain."

"Kamu masih punya malu rupanya, padahal yang harusnya malu itu bukan kamu, tapi keluargaku."

"Tolong jaga bicara mama. Mama mesti ingat aku ini masih istri syahnya, belum ada penceraian di antara kami. Dan hal yang harus mama tahu, aku seburuk ini di mata mama karena anakmu terus menerus mengabaikanku. Bayangkan lima tahun dia bersikap tidak peduli padaku. Apa aku salah jika menghabiskan uang suamiku, sebagai pelampias kekesalanku karena tidak di pedulikan. Apa aku salah jika aku menerima perhatian seseorang, ketika suamiku tak pernah menganggapku ada. Aku hanya wanita yang punya legalitas sebagai menantu, tapi tak punya legitimasi di mata suamiku sendiri. Dan jujur ini membuat aku lelah dan ingin menyerah."

Aqella lihat wajah nyonya Hutama terkejut, sama terkejutnya dengan dirinya. Lima tahun di abaikan, rasanya itu pasti sangat menyakitkan. Ardina adalah menantu kesayangan, tapi tak mendapat tempat di hati suaminya. Pasti itu jauh lebih menyedihkan. Aqella dan Ardina tidak ada bedanya.

"Kamu...berusaha untuk menjelekan suamimu sendiri kan, supaya perselingkuhanmu bisa di maafkan?" tuding Nyonya Hutama.

"Untuk apa, Ma? Berita perselingkuhanku sudah tersebar luas, aku tak berniat untuk mengkonfirmasi berita buruk itu. Aku cuma mau bilang sama Mama, jika Adyan anak kesayangan Mama, dia hidupnya tidak pernah bahagia. Dia laki-laki menyedihkan, yang cinta sejatinya di rengut oleh ibu kandungnya sendiri. Dan lebih menyedihkannya, dia memiliki ibu egois yang lebih peduli kehormatan dan hartanya, dibanding kebahagiaan anak-anaknya."

Nyonya Hutama membelalakan matanya, lalu dia menyenderkan tubuhnya ke dingding rumah sakit. Dia terkejut demi mendengar penjelasan Ardina, kalau anak laki-lakinya, tidak sesempurna bayangannya. Sedang Ardina segera melewati Nyonya Hutama menuju kamar Adyan.

Aqella merasa lebih bersyukur di banding Ardina. Diabaikan suami selama lima tahun, Aqella nggak bisa membayangkannya. Padahal apa yang kurang dari Ardina, sehingga Ardyan harus mengabaikannya. Dia cantik, kaya dan terpelajar.

Dulu Aqella pernah hancur begitu dalam, tapi punya seseorang yang menguatkan dan membuatknya semangat menjalani kehidupan.

"Dokter Aqeela sedang apa anda di sini? Kami dari tadi mencarimu" suara yang cukup familiar membuyarkan lamunan Aqella.

"Tidak sedang apa-apa dokter Ilyas, ada apa ya, mencari saya?" tanya Aqella pada dokter yang lebih muda dua tahun usianya di bawahnya.

"Hm...saya hanya ingin mengajak makan siang bersama?" ujarnya.

Rasanya Aqella ingin menolak, tapi sudah terlalu sering menolak ajakannya, membuat ada rasa sungkan.

Aqella mengangguk sebagai tanda mengiyakan. Dan Aqella lihat wajah dokter Ilyas tersenyum lebar karena Aqella menerima ajakannya.

"Bagaimana kalau hari ini kita makan diluar, dokter Aqella. Saya punya rekomendasi tempat makan yang enak yang baru buka. Dan rasanya sangat lezat bercita rasa tinggi."

"Terserah dokter Ilyas aja, tapi saya mau mengajak Suster Andini dan kawan-kawan yang lain boleh?" ujar Aqella. Karena ia merasa tidak mungkin makan berduaan.

Sebenarnya dokter Ilyas ingin menolak, ini adalah rencana PDKT yang disusun dari jauh hari, namun selalu gagal. Tapi pasti kalau tidak diiyakan, wanita yang disukainya ini akan menolak.

"Silakan dokter Aqella, jika mau mengajak teman."

Aqella langsung melangkahkan kakinya menuju tempat suster Andini berada, untuk mengajak makan siang bersama. Dan ia juga akan mengajak teman-teman yang lainnya.



Aqeela # Part 3

Aku menunggu Nyonya Hutama berbicara lebih dahulu di kafe yang ada di sebrang rumah sakit. Setelah aku memeriksa putra kesayangannya, dia memintaku untuk berbicara empat mata. Ku tunggu dia dengan sabar. Aku tidak ingin memulai pembicaraan jika bukan dia yang memulai. Kecuali jika itu bersangkutan dengan pekerjaanku.

"Sudah lama kita tidak bertemu. Sepuluh tahun ya, bagaimana kabarmu?" ujarnya datar. Raut mukanya tetap tidak menunjukan keramahan.

"Baik…" jawabku singkat sambil mengaduk-aduk juice jeruk yang ada didepanku. Berbicara dengan perempuan ini membutuhkan energi besar maka aku harus tetap tenang. Emosiku tidak boleh terpancing.

"Setelah bercerai dengan putraku, siapa lagi laki-laki yang sudah kau jebak untuk bisa jadi suamimu?" ujarnya sinis.

Aku membelalakan mata lebar. Pempuan ini benar-benar keterlaluan! Dari dulu mulutnya tidak pernah bisa di jaga. Pedas dan tajam. Sungguh aku ingin tertawa. Orang yang jelas-jelas mengaku keluarga terhomat, tapi kata-katanya seperti keluar dari orang yang tidak berpendidikan saja. Kekepoannya ini bikin aku muak. Sungguh aku telah membuang-buang waktu meladeni kata-katanya yang tidak berfaedah. Tapi aku harus bisa meladeninya dengan tenang.


"Apakah Nyonya merasa terganggu jika saya mendapat suami yang lebih kaya?" tanyaku setenang mungkin.

"Bersyukurlah anakku terlepas darimu." ujarnya sinis.

"Ok, tidak masalah." jawabku berusaha tetap tenang dan datar.

"Saya cuma mau memperingatkan sama kamu, tolong jaga batasanmu selama merawat putraku. Jangan pernah bermimpi bisa kembali lagi padanya." kata Nyonya Hutama tajam.

Aku terdiam sesaat. Kata-katanya sungguh menyakiti perasaanku. Pantaskah perkataan itu di ucapkan? Bukankah aku yang harusnya berbicara seperti itu. Dulu anaknya tergila-gila padaku, dan sekarang anaknya di selingkuhi wanita pilihan ibunya, seperti berita yang kubaca tadi di media. Bisa sajakan putra si Nyonya sombong ini, justru yang masih memiliki perasaan cintanya padaku. Aku perempuan yang sudah di sakiti luar dalam, akan berfikir berulang kali untuk mencintai laki-laki yang akan terus berkonflik dengan ibunya.

"Tentu. Tanpa di ingatkanpun saya sangat paham sekali, Nyonya. Saya tidak akan mencampur adukan antara profesionalisme dengan kisah usang. Nyonya tidak usah khawatir, kisah saya dengan anak nyonya sudah berakhir semenjak keluar dari rumah itu. Yang harus di peringatkan itu justru anak nyonya."

"Kenapa harus anak saya?" Nyonya Hutama tidak terima.

"Karena saya tetap baik-baik saja, meskipun sudah Nyonya perlakukan secara tidak manusiawi. Tapi anak Nyonya, yang sedang tidak baik-baik saja. Saya sudah membaca berita online, yang hari ini jadi trending topic. Jika istri Adyan Hutama berselingkuh dan itu di kaitkan dengan penyebab kecelakaannya oleh wartawan kurang kerjaan. Apakah Nyonya belum baca beritanya?"

Nyonya Hutama langsung diam. Kenapa berita perselingkuhan Ardina bisa sampai jadi konsumsi publik? Sangat memalukan. Perempuan itu segera membuka gawainya, dan benar saja berita di medsos sangat ramai tentang perselingkuhan Ardina Zahira dengan pengusaha asal Malaysia.

"Jika menurut Nyonya dulu aku adalah menantu yang buruk, Ardina jauh lebih buruk. Karena jelas dalam ikatan pernikahan aku dengan Mas Adyan, tidak ada perselingkuhan, dan tidak ada sepeserpun harta yang kudapat. Jadi sebenarnya wanita parasit yang memeras dan menyakiti suaminya itu siapa Nyonya? Dan sangat jelas itu bukan aku. Dan hal yang harus Nyonya ketahui, bagi saya keluar dari keluarga Hutama itu adalah anugrah. Karena jika aku masih bertahan, mungkin aku sudah menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Karena memiliki mertua egois seperti anda."

Nyonya Hutama diam tidak bisa membalas serangan verbal kata-kataku, mantan menantu yang sangat dia benci sampai kini. Pasti dia tidak akan pernah menyangka, jika perempuan lugu dan polos itu akan mengucapkan kata-kata tajam. Tapi tentu saja waktu bisa mengubah seseorang bukan? Jika dia membenci dengan alasan nggak jelas, bukankah mantan menantunya juga wajar untuk membenci dengan alasan luka masalalu.

"Permisi Nyonya Hutama, saya masih ada banyak pekerjaan." aku bangkit meninggalkannya.

Nyonya Hutama membrengut kesal. Sungguh hari ini dia telah kalah kata-kata.

"Apa lagi yang Mama inginkan dari Aqeela." suara dingin itu menyentak lamunan Nyonya Hutama.

"Papa…"

"Belum cukup juga rupanya menyerang wanita tak berdosa itu heh…"

"Se…sejak…kapan Papa…di sini?" Nyonya Hutama tampak gelagapan.

"Sejak kau masuk, aku sudah ada di kafe ini, Ma. Kenapa Mama masih menyerangnya heh… ? Dia sudah tidak ada hubungan lagi dengan anak kita. Seharusnya si menantu kebanggaanmu itu, yang harusnya kau serang. Bukan Aqeela yang sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan kita.

"Mama hanya ingin memperingatinya, siapa tau dia masih berharap pada anak kita…" Nyonya Hutama membela diri.

"Cuma wanita tidak waras yang mau memiliki mertua seperti kamu untuk kedua kalinya. Kapan sih Mama akan sadar? Suatu saat kau akan tua dan lemah, siapa yang mau merawatmu jika selalu berkonflik dengan menantu? Laras… Rangga…atau istri Adzwar kelak. Papa nggak yakin mereka mau merawat mama. Karena selama ini, mama tidak pernah menunjukan rasa hormat pada mereka. Uang itu tidak selamanya bisa membuat bahagia dan menolong kita. Jadi tolong, turunkan ego Mama. "

Wajah Nyonya Hutama semakin memberengut mendengar kata-kata suaminya.

"Tanpa di ulangpun, Mama masih ingat kata-kata Papa." ketus Nyonya Hutama.

"Dan sayangnya, itu cuma masuk kuping kiri ke luar kuping kanan." Sindir Pak Hutama.

"Terus mau Papa, Mama itu harus bagaimana? Bersikap manis pada mantan menantu kita gitu, yang membuat Adyan melupakan Ibunya?"

"Ckk…jangan berlebihan, Ma. Adyan tidak pernah melupakanmu. Dia hanya ingin kamu bisa menerima siapa yang dia cintai. Tapi sudahlah, tidak usah di bahas, toh Aqeela sudah bukan siapa-siapa lagi untuk Adyan. Papa cuma minta tolong perlakukan Laras, Rangga dan Istri Adzwar kelak dengan baik. Yang menjalani kehidupan rumah tangga adalah anak kita. Jadi stop ikut campur didalam rumah tangga mereka. Standar pilihan menantu yang Mama inginkan jangan minta di samakan dengan standar pilihan anak-anak kita. Cukup do'akan mereka untuk bahagia, bukan ikut terlibat di dalamnya. Sebagaimana Bunda yang tidak pernah ikut campur pada rumah tangga kita. Bisa?"

Nyonya Hutama diam tidak memberi respon apa yang di ucapkan suaminya. Rasanya gampang banget meminta dirinya berubah. Padahal apa yang dia lakukan adalah sebagai bukti sayang seorang ibu pada anak-anaknya.***


Aqeela # Part 2

" Ini semua gara-gara perempuan gila itu, anakku jadi begini?" keluh Nyonya Hutama merasa tidak terima anaknya mengalami kecelakaan seperti ini.

"Menurut Mama siapa?" ujar Tisa tidak suka. Ibunya ini adalah wanita yang paling keras kepala. Terlalu dominan, terutama pada adiknya Adyan. Pernikahan pertamanya gagal gara-gara Mama terlalu banyak ikut campur. Pernikahan keduanya dengan Ardina si perempuan matrealistis malah di selingkuhi. Dan Tisa cukup terkejut ketika tadi dia melihat mantan adik ipar yang selalu di rendahkan Mamanya telah menjadi dokter, spesialis lagi. Sepuluh tahun tidak bertemu, Aqeella sudah terlihat matang. Dia anggun dan terlihat smart. Tapi sangat dingin, pendiam dan terkesan menghindar dari kelurganya. Tisa cukup paham dengan perasaan Aqeela yang sudah banyak kehilangan dan terluka.


"Si Ardina wanita gila itu!" dengus Mama tidak suka.

"Oww…" Tisa pura-pura terkejut dengan membelalakan mata hazelnya.

"Kenapa kamu terkejut seperti itu?" ujar Nyonya Hutama gemas dengan reaksi putrinya.

"Ckk… dia itu menantu kesayangan Mama kalau Mama tidak lupa. Wanita itu yang dulu selalu Mama banggain di arisan sosialita Mama. Ini lho menantu kesayanganku….ini lho menantu…."

"Itu dulu. Sebelum dia berselingkuh dan menguras uang keluarga kita." potong Nyonya Hutama.

"Mama, Tisa belum selesai bicara. Tolong jangan di potong dulu." Ujar Tisa tidak suka. "Mama marah pada Ardina, lantas bagaimana dengan Adyan yang harus mengorbankan perasaannya untuk Mama. Papa, aku, Mas Farhan bukankah dulu sudah memperingatkan siapa Ardina. Tapi, demi rasa persahabatan Mama pada keluarga culas itu, Mama memaksakan kehendak sendiri. Tanpa berkompromi dengan perasaan Adyan. Sukakah dia, bahagiakah dia? Ini yang tidak pernah Mama pikirkan. Karena Mama orang tua paling egois di muka bumi, yang mengukur segalanya dengan standar materi. Gadis sebaik Aqeela Mama buang hanya karena menurut Mama tidak ada kepantasan. Jadi sekarang tidak usah menyalahkan orang lain, seburuk apapun Ardina dia adalah menantu yang pernah Mama pilih dan di banggakan pada semua orang. Jadi terimalah konskwensinya. Jika harus ada yang disalahkan, itu tidak lain adalah keegoisan Mama sendiri." ujar Tisa merasa lega sudah mengeluarkan semua unek-uneknya yang sudah lama mengganjal di hatinya.

"Kamu …" mata Mama bersinar marah.

"Maaf jika omongan Tisa menyinggung Mama, tapi ini semua benarkan, Ma. Tisa peduli sama Adyan yang tidak pernah bahagia selama sepuluh tahun ini. Dia pura-pura bahagia tapi sebenarnya sakit. Semoga nasib buruk Adyan tidak terjadi pada Adzwar." ujar Tisa sambil bangkit dan meninggalkan Mamanya. Dia tidak peduli Mama akan kecewa dengan kata-katanya barusan, karena jujur dia lebih banyak kecewa dengan sikap Mamanya yang tidak berubah. Dia hanya peduli kehormatan, koleksi berlian dan jumlah sahamnya ketimbang perasaan anak-anaknya.

"Dek…" Suara Mas Farhan menghentikan langkah Tisa.

"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Mas Farhan.

Tisa melirik jam tangannya. Sebenarnya dia hari ini ada janji dengan seseorang.

Tisa mengangguk. "Tapi sebentar ya, Mas?"

Farhan mengangguk. Dan mengajak adiknya ke kantin rumah sakit. Setelah memesan minuman ia mengajak adiknya bicara.

"Kamu kenapa seemosional itu pada Mama? Bukan karena melihat Aqeela kan?"

Tisa menarik nafas jengah. Kakaknya ini adalah orang yang terlalu perhatian pada Mama, meskipun statusnya hanya sebagai anak tiri.

"Aku hanya ingin Mama sadar dengan sikapnya yang egois, itu saja Mas. Apakah aku salah?"

"Tapi Mama sedang bersedih?"

"Mas, sudahlah jangan membela Mama terus. Aku lelah. Mas juga jangan naif, kalau Mama itu nggak pernah sayang sama kamu Mas, tapi kenapa sih Mas masih belain dia? Yang terluka itu kita, Mas. Kamu, aku dan Adyan. Pernikahanku juga bermasalah dengan Rangga, itu semua gara-gara Mama yang banyak ikut campur. Begitupun dengan Adyan."

"Mas tahu itu, meskipun Mama bukan ibu kandung, tapi berkat dia Mas merasa punya keluarga. Setidaknya dia masih membuat Mas bisa merasakan keutuhan keluarga, tidak menjauhkan Mas dengan Ayah dan juga kalian bertiga, adik-adik Mas. Soal harta itu tidak jadi masalah buat Mas. Tidak menjadi pewaris Hutama Crop bukan hal yang harus di persoalkan."

Tisa tersenyum miris. Entah dia harus berbahagia atau bersedih. Sesimpel inikah Mas Farhan memandang masalah pelik keluarganya. Dengan jelas ia melihat ketimpangan perlakuan ibunya pada kakak tirinya. Tapi tetap dia menjadi kakak yang sayang pada ketiga adiknya. Memperlakukan mamanya dengan santun. Tidak pernah menjadikan ketidak adilan ini menjadi masalah atau beban.

"Aku ingin memiliki hati yang luas sepertimu, Mas. Tapi sangat sulit."

"Maka belajarlah untuk mengikhlaskan. Seburuk apapun Mama dia tetap orang yang berjasa pada kita. Yang jasanya tidak sebanding dengan keburukan-keburukannya."

Tisa memandang kakaknya dalam diam. Kakak tirinya ini luar biasa baik, pasti ibunya dulu orang baik. Wanita yang sudah pergi kehariban-Nya saat Mas Farhan kelas 4 SD, begitu cerita dari Papa. Dan Mbak Laras juga istri yang sangat baik menurut Tisa. Pantas serumit apapun masalah yang di hadapi, dia selalu tenang dan berhati lapang.

"Jika kamu memang memiliki banyak beban, cerita pada Mas. Kita ini adalah saudara yang harus saling melindungi dan menguatkan."

Tisa ingin saja menangis. Jujur dia merasa terenyuh mendengar kata-kata dari abangnya. Sosok abang yang sangat mencintai adiknya. Yang berada di dekatnya selalu merasa aman dan terlindungi. Tapi itu dulu ketika masa anak-anak dan remaja. Sekarang rasanya segan mengadukan segala masalah pada abangnya.

"Thanks Mas, maaf Tisa harus segera pergi. Kasih tau Tisa kalau Adyan sudah sadar."

"Ok, hati-hati Dek." ujar Mas Farhan lembut.

Tisa membalas dengan mengangguk dan pergi meninggalkan pelataran rumah sakit. ***





Cinta di Atas Bara Part 6


Aleya tersenyum cerah begitu melihat Sayyid berjalan kearahnya. Satu minggu tidak bertemu seperti satu tahun tidak berjumpa. Paras laki-laki campuran Arab dan Turki itu sangat memikat. Pesonanya meluluhkan kaum hawa. Ada banyak cara yang sudah Aleya untuk memikat Sayyid yang asalnya cool dan cuek. Ternyata laki-laki ini hanya bisa di tundukan dengan adu kecerdasan. Cara-cara murahan tidak akan membuat dia berpaling.

Aleya sampai tidak berkedip melihat kegantengan Sayyid. Yang menggunakan kaus polo berwarna abu di padu dengan jacket warna putih. Sangat serasi dengan kulitnya yang putih.

"Ich vermisse dich so sehr, Baby" Ujar Aleya sambil memeluk sang kekasih yang tingginya sepantaran.( Aku sangat merindukanmu, sayang."

Sayyid tidak merasa risih diperlakukan seintens itu di tempat umum, sesuatu hal yang dulu sangat di hindarinya. Kini dia sangat menyukai sikap Aleya yang cenderung agresif, sebagaimana lazimnya gadis-gadis barat memperlakukan pasangannya.

"Ich vermisse dich mehr, Liebling." Sayyid mengeratkan pelukannya pada Aleya erat dan mencium kening Aleya sangat lama.

"Kita langsung pulang ke Apartemen atau jalan-jalan dulu, sayang?" Aleya melepaskan pelukannya, dan menatap Sayyid penuh cinta. Sesuatu hal yang dulu hanya ingin menjebak Sayyid, dan memamfaatkan kecerdasannya. Tapi seiring kebersamaan di antara mereka, Aleya merasa Sayyid adalah nafas hidupnya. Dia tidak bisa hidup tanpa Sayyid. Maka dia akan berusaha melakukan apa saja, agar laki-laki itu bisa tetap berada di sampingnya.

"Pulang saja ya, Scathz? Aku lelah dan sangat merindukan kamu?"

Aleya tersenyum. Hal ini yang selalu di nantikannya. Sayyid sangat mendamba kepuasan darinya. Dan dia akan selalu siap untuk menuntaskan rasa haus laki-laki itu itu akan cinta, kelembutan darinya. Meski hal tersebut harus mengorbankan tubuhnya. Banyak hal yang di korbankan untuk mendapatkan Sayyid, tapi hasilnya sebanding dengan apa yang dia korbankan. Karena tes uji loyalitas untuk  di akui di sebuah organisasi yang dia dan ayahnya masuki, apapun bisa di korbankan agar kepercayaan bisa di raih. Harga diri atau nyawa bisa menjadi taruhan.

"Biar aku yang menyetir, Scathz? " ujar Sayyid melarang sang kekasih untuk menyopiri dirinya.

Aleya menggeleng. "Kamu sangat lelah Sayang, biar aku aja. Kamu harus hemat tega, biar kita melebur rasa rindu." ujar Aleya sambil nencium pipi Sayyid. Tentu saja hal tersebut membuat Sayyid berubah tidak waras. Dia laki-laki normal, yang butuh pelampiasan dari gairah mudanya.  Dan Aleyalah si burung jinak yang sudah meruntuhkan kealimannya. Menjadi laki-laki yang liberal dan bebas. Tidak peduli dengan nilai-nilai agama yang sudah dipelajarinya selama bertahun-tahun.

Dan Sayyid terpaksa menurut. Karena dia tidak mau jika Aleya marah dan mendiamkannya. Hal yang sangat berbahaya jika Aleya marah, otomatis akan berakibat pada keinginannya yang tidak akan terpenuhi.
***
Apertemen yang di tempati Sayyid terbilang cukup mewah. Terlihat sangat bersih dan rapi. Dan tentunya itu semua karena Aleya yang pintar merawat rumah. Sudah hampir setengah tahun mereka tinggal bersama, tentu saja tanpa ikatan pernikahan. Tapi, hubungan mereka sudah seperti layaknya pasangan suami istri.

Sesampainya di Apartement Aleya langsung menyiapkan makanan kesukaan Sayyid, makanan khas Indonesia, karena lidah laki-laki itu, masih susah beradaptasi dengan makan western. Aleya mati-matian belajar masakan Indonesia, bahkan langsung mendatangkan Chief dari Indonesia, selain itu belajar bahasa Indonesia serta budayanya. Sebuah pengorbanan yang cukup besar demi bisa meraih Sayyid. Dan termasuk pura-pura belajar islam yang dilakukan di awal mendekati Sayyid.

Aleya adalah perempuan yang masuk kriteria untuk jadi pendamping hidup Sayyid. Dia bisa menjadi istri yang memuaskan, teman diskusi yang menyenangkan. Namun sayang wanita itu selalu menolak jika disinggung tentang pernikahan. Selalu banyak alasan, dan hal ini terkadang membuat Sayyid takut, takut jika Aleya akan berpaling darinya. Bisa saja jika ada yang lebih menarik darinya, suatu hari Aleya akan meninggalkannya.

"Schatz, lass uns essen?" ajak Aleya sambil mengamit tangan Sayyid membimbingnya menuju meja makan. ( Sayang, ayo makan? )

Aleya menyiapkan makanan Sayyid layaknya istri yang berbakti pada suami, semua dia lakukan agar kekasihnya terkesan. Meski tanpa ikatan pernikahan, dia bisa memposisikan dirinya seperti perempuan-perempuan di Timur dalam memperlakukan suami mereka. Dan sudah dikatakan, untuk bisa seperti ini Aleya banyak belajar.

"Suapin." kata Sayyid manja. Dan Aleya tidak menolak keinginan Sayyid.

"Sie wissen, Schatz, solange es nicht neben Ihnen ist, kann ich nicht gut schlafen.  Denken Sie jeden Tag an Sie."  Sayyid mulai mengeluarkan kalimat manisnya dan hal ini yang membuat Aleya melayang. Sayyid selalu memperlakukan dirinya dengan lembut dan romantis.
( Kau tahu sayang, selama tidak berada di sampingmu aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap hari memikirkanmu.)

"Bagaimana kabar kedua orang tuamu?" tanya Aleya mencoba mengalihkan pembicaraan.

Sayyid yang sedang bahagia-bahagianya bertemu dengan pujaan hati, mendadak muram. Terbayang wajah umi yang banjir airmata saat dia membangkangnya, wajah abah yang marah, wajah Amir yang murka dan juga wajah Aqilah yang terlihat sendu ketika dirinya memutuskan lamaran yang sudah di rancang abahnya.

"Are you, Ok?" tanya Aleya mendadak khawatir.

Sayid mengangguk, tapi dia sudah tidak bernafsu untuk melanjutkan makannya. Pikirannya melayang pada sosok wanita yang sudah melahirkannya. Selama ini Sayyid belum pernah mengecewakan Ummi, hanya karena keinginannya yang bertentangan dengan keimanannya, Ummi tidak rela. Dan menurutnya hal itu wajar, ibu mana yang rela bahwa anak yang telah di lahirkan, didik dengan nilai-nilai islam yang kuat akan lebih membela wanita yang keyakinannya berbeda. Ummi adalah wanita terbaik, wanita yang sangat di cintainya, tapi itu dulu sebelum Aleya hadir dan menggeser posisi cinta seorang anak pada Ibunya.

Sayyid menghembuskan nafasnya berat, dia kembali teringat dengan kata-kata Amir.
'Wanita itu adalah racun yang akan meruntuhkan kesejatian seorang laki-laki.' Dan itu memang benar. Sayyid kalah oleh rasa cintanya yang sangat pada wanita, sehingga rela menukarkan dengan keyakinannya.

"Es tut mir leid, Schatz.  Ich will dich nicht traurig machen." Aleya menyentuh tangan Aleya lembut.
( Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. )

Sayyid hanya diam dan bangkit dari duduknya. Laki-laki itu berjalan ke arah jendela. Menatap indahnya kota New York di senja hari. Ingatannya melayang ke negri yang baru beberapa jam di tinggalkannya. Baru dia merasa bahagia, tapi kini merasa terhempas. Air mata ummi terus terbayang dalam pikirannya. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi dadanya. Laki-laki itu merasa bersalah yang sangat. Sebagaimana laki-laki yang di besarkan dalam keluarga muslim dengan nilai-nilai keislaman yang kuat, menyakiti Ibu adalah tabu. Karena surga seorang anak laki-laki ada di ibunya. Meskipun kehidupan liberal sudah menjadi bagian hidup Sayyid, tapi masih ada sisa-sisa didikan orang tuanya yang nggak bisa di enyah.

Aleya merasa menyesal telah melemparkan pertanyaan tadi. Sayyid pasti banyak mengalami pertentangan bathin yang cukup hebat ketika laki-laki itu memilih dirinya. Meninggalkan keluarganya, dan hidup di negri asing tanpa keluarga. Dia bertahan hanya karena cinta, itupun ikatannya lemah karena tanpa ikatan pernikahan. Laki-laki seperti Sayyid lama-lama akan merasa lelah dalam ikatan rapuh seperti ini. Aleya memeluk Sayyid mencoba memberi kekuatan.

"Ich werde immer an deiner Seite sein, egal wie kompliziert der Weg ist, den wir gehen." Ujar Aleya mencoba menguatkan.
( Aku akan selalu berada disampingmu, serumit apapun jalan yang kita lalui.)

Sayyid diam tidak merespon kata-kata kekasihnya. Keraguan mendadak menyelimuti hatinya. Yakinkah, Aleya wanita yang akan menjadi masa depannya?
Atau hanya sebatas wanita yang menjadi samen levennya. Sekedar bersama mereguk kesenangan sampai merasa bosan, lalu entah siapa yang terlebih dahulu meninggalkan. Jika hidup hanya berporos di sini, maka dia tak lebih sama derajatnya dengan binatang, yang level kecerdasannya lebih rendah.

"Argghhh…" jerit Sayyid marah dengan memukul dingding. Dan hal itu membuat Aleya terkejut dan merasa takut.

"Tinggalkan aku sendiri!" ujar Sayyid dingin. Lalu dia segera masuk kedalam kamar membanting pintu dengan kencang.

Aleyya diam mematung. Ketakutan tiba-tiba menghantam jiwanya.
***

Akhirnya bisa melanjutkan kembali setelah lama vakum. Tulisan ini sudah lama mangkrak di laptop bertahun-tahun. Dan jujur tulisan ini menurut aku paling berat saat meramu kata-katanya.  Novel ini di tulis karena  terinsfirasi setelah  membaca buku politik, tentang banyaknya pemuda muslim yang di sekolahkan ke Barat dan ketika pulang ke negrinya ditugaskan menjadi agen-agen Barat yang memang di agendakan untuk menghancurkan agamanya dari tubuh kaum muslimin sendiri, dan itu terjadi sampai hari ini.