Subscribe Us

HATI YANG TERPAUT RINDU


HATI YANG TERPAUT RINDU
Bagian satu    Sebuah penawaran
Laki-laki itu menatap rolex yang menghiasi pergelangan tangannya. Sudah tiga puluh menit berlalu bahkan kopi yang di pesannya sudah tandas di sesap. Menunggu memang pekerjaan yang sangat menjengkelkan, apalagi jika orang yang ditunggunya itu orang yang nggak bisa on time. Tapi ada yang aneh, biasanya gadis itu selalu datang tepat waktu dan cukup professional. Ada trouble kah? Ah sudah hampir sebulan ia tidak bertemu dengan gadis itu. Kalau tidak salah setelah kasusnya selesai dan dia tidak membutuhkan jasanya lagi.
Apakah mungkin gadis itu tersesat? Tapi tidak mungkin juga, karena Kafe tempat mereka janjian “Chateau Blanc Senopati cukup terkenal di Jakarta dan orang-orang pasti tahu, pikirnya. Apakah perempuan itu menginkari janjinya? Ah, awas saja kalau itu terjadi. Pikiran laki-laki itu berubah menjadi kusut masai.

Sebuah suara yang tegas membuyarkan pikirannya yang sedang kacau.
“Maaf kalau anda menunggu cukup lama. Tadi saya mengantar teman saya dulu kerumah sakit.” Sesal si gadis merasa bersalah membiarkan orang sudah menunggu terlalu lama,. Tak pernah biasanya hal ini terjadi, kecuali memang sangat mendesak.
“Saya sudah menunggu anda dari empat puluh menit yang lalu.”
“Wow, pasti anda sudah merugi.” Ujar sigadis
“Maksudmu?”
“Bagi anda hidup adalah uang kan, mounseur.” Ujar gadis itu ditekan pelan. Dia sangatlah tahu orang yang ada didepannya sekarang. Workholic.  Beberapa bulan menangani sebuah kasus yang menimpa keluarganya membuat ia bisa menilai siapa laki-laki yang bersamanya kini.



Hm…kata-kata itu cukup menyentil perasaannya. Namu mungkin benar apa yang dikatakan gadis itu. Hari-harinya adalah bisnis dan bisnis, menjemukan. Tapi ia tidak bisa keluar dari lingkaran itu. Kehidupan bisnis sudah menjeratnya, meski terkadang sangat melelahkan.
“Tidak begitu juga Kayla.” Ujar laki-laki itu membantahnya.
Kayla Faradisa, gadis yang ditunggunya disebuah Kafe itu tersenyum tawar.
“Ada perlu apalagi anda memanggil saya monsieur? Bukankah tugas saya sebagai pengacara anda telah selesai semenjak kasus itu dimenangkan dipengadilan.” Faradisa menatap lelaki didepannya dengan penuh keingin tahuan. Keingin tahuan yang begitu besar, semenjak laki-laki itu menelponnya kembali dan memintanya bertemu di Kafe Prancis ini.
“Berhentilah memanggil saya mounseur, nona.”
“Terus saya harus memanggilmu apa? Bapak , ayah , mas atau……”
“Jangan gila! Panggil saja Abqa….,” Potong laki-laki yang bernama Abqari Agam Agler yang lebih popular di panggil Abqa.
“ Baiklah pak Abqa, apa keperluan anda memanggil saya kemari.”
“Cukup panggil Abqa, kayla Faradisa.” Ucap Abqa sebal ia tidak peduli dengan pertanyaan gadis didepannya yang masih memanggil pak.”
“Its, oke jika itu mau anda, saya akan ikuti. Tapi tolong jawab pertanyaan saya.”
Abqa laki-laki yang baru saja memasuki awal tiga puluh itu menarik nafas berat. Bingung ia harus memulainya dari mana. Tetapi ia harus mengatakannya sekarang.
“Saya menawari anda untuk menjadi pengacara dan kuasa hukum di  perusahaan saya.”
“Apa?! Apa saya tidak salah dengar Abqa.” Permintaaan Abqa barusan membuat Kayla merasa tidak percaya.
“Saya tidak berbohong.”  Abqa menatap lekat mata gadis yang ada didepannya.
“Kenapa harus saya?”
“Karena aku sudah mengakui reputasimu.” Jelas Abqa yakin.
Kayla menggeleng pelan. “ Kamu bisa menawari posisi ini pada orang lain yang lebih berpengalaman. Dalam dunia lawyer aku baru belajar berjalan. Carilah yang professional dan berpengalaman.”
“Justru aku lebih suka yang muda,bersemangat dan professional. Dan kamulah orangnya.”
Kembali Kayla menggeleng. Bagi dirinya penawaran itu sangat membebani hidupnya. Dunia lawyer, dunia yang ingin dia lepas dan di tinggalakan. Terlalu banyak langkah hitam yang ditempuhnya. Menguras emosi dan energi. Dunia itu memang menjanjikan kemewahan. Aliran uang bisa mengalir deras kekantongnya. Tapi percuma saja jika taka ada ketenangan. Memenangkan kasus dengan menghalalkan segala cara. Cukup lima tahun saja perjalanan hidupnya didunia itu.
“Aku menolak tawaranmu, Abqa.” Kayla berkata dengan yakin.
“Kamu tahu aku tidak suka dengan penolakan.” Suara Abqa berubah dingin.
“Terus apa yang akan kau lakukan, jika aku menolaknya?” Kayla menantang Abqa.
“Aku akan memaksamu.”
Kayla tersenyum sinis. “ Tidak semua yang kau inginkan bisa kau raih Abqa. Termasuk memaksa kehendak orang lain mengikuti keinginanmu. Di hadapanku buanglah sikap sok berkuasa dan sok kayamu karena jujur aku muak.” Kayla terlihat berapi-api.
“Sayangnya aku tidak bisa. Karena aku tidak menemukan alasan yang tepat dari penolakanmu.”
“Hmm….jujur aku ingin berhenti dari dunia lawyer ini.” Suara Kayla berubah pelan.
“Kenapa? Apakah sudah ada seseorang yang akan menjamin kesejahtraan hidupmu. Ayolah, dunia pengacara bukannya menjanjikan kemewahan untukmu.”

“Aku sudah lelah. Menggelembungnya uang direkeningku atas kasus-kasus yang aku menangkan justru membuat hatiku resah dan didera perasaan bersalah. Apa artinya kemewahan jika dalam hati ini jiwaku seperti pohon yang meranggas di dera kemarau. Aku membutuhkan ketenangan.” Terang Kayla sambil menunjuk dadanya.
Supraise, baru kali ini Abqa mendapatkan pengakuan yang jujur  bahwa seorang perempuan akan meninggalkan kemewahan demi sebuah ketenangan. Sementara di luar sana para perempuan berlomba mengejar kemewahan meski menggadaikan tubuhnya.

“Terus apa yang akan kau lakukan jika berhenti jadi pengacara.”

“Mungkin aku akan menikah, mengurus suami dan anak-anak. Kurasa itu impian yang menyenangkan ketimbang mengurus kasus-kasus yang bikin aku stress dan tidak bisa tidur. Dan kalau aku ingin menjadi menjadi sosok ibu yang terlihat hebat aku akan menjadi guru atau dosen. Kurasa mendidik generasi lebih cocok bagi seorang perempuan. Tidak menyita waktu, berguna tanpa mengabaikan keluarga.”

“Kapan kamu akan menikah?” Abqa jadi penasaran dengan kejujuran gadis didepannya, meski jujur ada rasa cemas menikung ruang hatinya.

Kayla mengangkat bahu acuh.
“Why?” Abqa meminta sebuah jawaban.

“Aku masih menunggu Tuhan memberikan aku jodoh yang tepat untuk mendampingi hidupku. Hm….kenapa kamu begitu ingin tahu……?” giliran Kayla yang penasaran dengan sikap kepo Abqa.

“Bagaimana jika yang mengajak nikah kamu itu adalah aku? Why do you marry me?”
“What? kamu jangan bercanda Abqa.”

“Aku tidak sedang bercanda. Tadi aku menawari kamu jadi pengacara dan kuasa hukumku. 
Tapi kamu tolak. Bagaimana kalau aku menawari pernikahan saja?” Ujar Abqa santai.

Blush….. “ Kamu jangan gila Abqa!”

“Aku waras Kayla….!”

“Apa sebenarnya maumu Abqa?”

“Mauku sekarang kamu jadi istriku.” Abqa menatap intens mata gadis didepannya.
Kayla menarik nafasnya lelah. Ia merutuki dirinya yang keceplosan bicara kalau dia akan berhenti jadi lawyer dan mengejar mimpinya yaitu menikah, mengurus suami dan punya anak. Ah, mengapa dia harus bicara seperti itu dengan orang yang pernah jadi klientnya.

“Tidak…aku tidak akan pernah menikah denganmu.” Kayla bergidik ngeri jika laki-laki kutub itu harus jadi suaminya.

“Kenapa? Kan aku sudah bilang jika aku tak suka dengan penolakan. Jika menjadi pengacara pribadiku. kamu nggak mau. Maka akan ku pastikan kau akan menjadi istriku.”
Idih….Kayala semakin bergidik. Tidak menyangka jika asalnya mengawal sebuah kasus sampai menyelesaikannya dan sekarang harus berakhir seperti ini.

“Bagimu pernikahan adalah topeng, Abqa.”

“Kenapa kau bisa bilang seperti itu?”

“Orang sepertimu yang memiliki segalanya, gonta-ganti perempuan seperti ganti kaos kaki. Pernikahan adalah topeng untuk menutupi sifatmu yang sesungguhnya. Hm…dan duniamu yang memiliki kekayaan melimpah ,  aku yakin kamu juga memiliki banyak musuh. Seperti kasus yang menimpa keluargamu. Aku tidak sanggup menjalani hidup seperti itu. Pernikahan bagiku selain meraih ridho Tuhan, melangsungkan keturunan aku juga mengingikankan sebuah kesetiaan. Impian yang ingin aku design adalah ketenangan bukan hiruk pikiuk perselingkuhan, pertengkaran dan permusuhan.” Kayla menjelaskan panjang lebar tentang sebuah alasan dari penolakannya.

Abqa mengepalkan tangannya menahan marah. Untung saja Kayla tidak menyadari. Menurutnya kata-kata Kayla barusan sangat lancang dan menuduhnya terlalu kejam. Tidak semua laki-laki itu bajingan. Dan gadis itu hanya menerka-nerka seenak hatinya.
“Kamu salah Kayla, aku tidak akan pernah membuat hidupmu tenang jika keinginanku tidak terpenuhi.”

“Apa maksudmu Abqa?” Kayla bergidik ngeri. Kata-kata Abqa barusan terdengar seperti sebuah ancaman.

“Mengenalku adalah sebuah kecelakaaan indah bagimu. Dan ingat, aku tidak pernah membiarkan buruan yang ingin aku dapatkan terlepas. Aku akan membayang-bayangi hidupmu, sampai kau lelah dan menyerah padaku.” Ujar Abqa sambil berlalu begitu saja.
Wajah Kayla memerah menahan marah. Sepertinya Abqa tidak main-main dengan ucapannya. Bagaimana bisa laki-laki gila itu berkata seperti itu. Menyesal Kayla sudah menemuinya. Dipikir pertemuannya hanya akan selesai sampai kasus terkuaknya misteri pembunuh ayahnya. Ternyata masih ada kasus lain yang justru sangat-sangat membahayakan dirinya. Hari ini dia benar-benar lelah jiwa raga. Semoga ucapan itu cuma omong kosong. Dan esok hari-harinya menjadi lebih baik tidak ada seorangpun yang mengganggu hidupnya. ( to be continued)



0 Comments:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini