Subscribe Us

AKU BUKAN BONEKA BARBIE # 1


Aldi memejamkan matanya,membayangkan raut wajah Tasya putri manisnya. Tawanya yang lucu,matanya yang bening,rambutnya yang ikal  membuat dia benar-benar rindu ingin segera bertemu melabuhkan kangen karena satu minggu nggak bertemu. Boneka koala yang ada disamping nya  di elusnya penuh cinta. Tasya pasti senang dapat oleh-oleh ini,pikirnya.
Entah kenapa akhir-akhir ini kalau bepergian jauh dia selalu pingin segera pulang ke rumah,kelelahan yang meraja mendadak sirna jika sudah melihat Tasya tertawa penuh ceria. Sayang kesibukan banyak menyita kebersamaannya dengan sang buah hati.
“Ayah sangat kangen kamu sayang,” desisnya lirih.
Mobil Jaguar yang di kemudikan Pak Tarmin sang supir pribadi tiba-tiba berhenti di sebuah restoran japanese food.
“Kenapa berhenti Pak?” tanya Aldi heran.
“Biasanya kan Bapak suka berhenti disini, untuk makan dulu.”
“Nggak usah Pak,kita langsung pulang saja.” Ujar Aldi tidak sabar pingin segera sampai dirumah segera bertemu dengan Caca.

Akhirnya mobil  yang di kemudikan Pak Tarmin sampai juga di sebuah pekarangan rumah berarsitektur klasik,peninggalan orang tuanya. Rumah yang kelihatan begitu nyaman dan tenang. Aldi segera membuka pintu mobilnya sambil tak lupa menggendong Boneka Koala, berjalan dengan cepat menuju rumah tanpa membuka sepatu terlebih dahulu.
“Tasya...Tasya sayang...Papa pulang.” Teriaknya.
Sepi tak ada jawaban membuat Aldi heran,biasanya Tasya suka menyambut kedatangannya dengan penuh ceria.
Di tangga Aldi berpapasan dengan Mbok Minah pembantu yang sudah di anggap ibunya sendiri yang sudah merawatnya dari kecil dan kini merawat Caca.
“Tasya mana Mbok?”
“Tasya marah Mas Aldi,dia merengek pingin ketemu ibunya dari tadi nggak mau ngomong.”
“Arini?” dingin Aldi menyebut nama itu.
Mbok Minah cuma mengangguk dan memilih segera berlalu. Dia tahu Aldi sangat benci dengan mantan istrinya itu.
Aldi melangkah menuju kamar Tasya,disana nampak Tasya sedang duduk mencangkung sambil memegang kedua lututnya dan tatapan matanya begitu sangat mernyedihkan membuat Aldi jadi terenyuh.
“Tasya, Ayah pulang...” panggil Aldi penuh rindu.
Gadis itu menoleh sekilas pada Ayahnya,tapi kembali lagi seperti aktivitas semula tak peduli.
“Caca kok gitu sambutannya sama Ayah,apa Caca nggak kangen sama Ayah?” Aldi duduk di tepi ranjang dan mengelus gadis kecilnya dengan lembut.
“Caca pingin ketemu Bunda,Ayah. Caca kangen sama Bunda.” Ujar gadis itu sedih.
“Bunda kan sudah nggak mau lagi ketemu sama Caca dan Ayah,dia sudah ninggalin kita. Lupakan saja tentang Bunda ya,ini Ayah bawa Boneka Koala yang dulu Caca inginkan.”
“Nggak,Ayah bohong! Bunda sayang sama Caca!” teriaknya.
“Ayah nggak bohong kok,”
“Pokoknya Caca pingin ketemu Bunda,Ayah jahaaaaa!” Jeritnya sambil memukul-mukul punggung Aldi bikin Aldi jadi emosi.
“DIAAAAM....!!” teriak Aldi kalut. “Ayah tuh nggak pernah bohong,bukan Ayah yang jahat tapi justru Bunda yang jahat sudah nyakitin Ayah. Harusnya Caca ngertiin Ayah,kalau Ayah ini masih capek, tapi masih sayang sama caca.”
Melihat ayahnya marah gadis itu menunduk ketakutan,anak sungai perlahan mengalir di pipinya yang mulus. Hatinya terluka belum pernah Ayahnya semarah ini.
“Hu...hu...Bunda,” isaknya mengharukan. Aldi jadi merasa bersalah.              
Arini setiap mendengar nama perempuan itu di sebut selalu membuat kebenciannya bertahta pada mantan istrinya itu, perempuan itulah yang membuat keluarganya berantakan karena berselingkuh dengan laki-laki  lain. Untuk mendapatkan hak asuh Caca ,Aldipun melakukan segala cara agar jangan sampai hak asuh putrinya jatuh ketangan istrinya. Arini sama sekali tak di berikan akses bertemu dengan putrinya meski dia sangat memohon. Baginya wanita itu tidak pantas jadi Ibu buat Caca dan tak mungkin bisa jadi  pendidik yang baik. Sekali berbuat kesalahan maka tak ada kesempatan untuk di maafkan.
Arini wanita yang sangat di cintainya itu, yang dinikahinya lima tahun yang lalu ternyata bermain hati di belakangnya dengan lelaki yang mungkin sangat membahagiakannya. Ah...Aldi tak pernah menyangka jika pernikahannya akan berakhir seperti ini.  Dia mungkin bukan lelaki romantis seperti yang di harapkan Arini. Aldi yang pekerja keras,jarang di rumah sibuk dengan bisnisnya tapi dia type laki-laki setia dan bertanggung jawab. Mungkin keromantisan dan kebersamaan yang kurang itu yang membuat Arini  selingkuh.
Jika mengingat semua itu hati Aldi seperti disayat-sayat  sembilu,kesetiaannya sebagai  lelaki benar-benar tak berarti di mata sang istri padahal dia sudah bersusah payah untuk membahagiakan sang istri dan anaknya. Entah syetan apa yang sudah merasuki  pikiran istrinya  yang dulu begitu sangat mencintainya.
“Caca,maafin ayah ya,sudah marahin Caca barusan. Ayah sangat sayang sama Caca dan nggak ingin kehilangan Caca. Bagi Ayah, Caca adalah segalanya.” Ujar Aldi lembut dan berusaha memeluk putrinya,tapi Caca menepisnya dengan kasar.
“Lho,kok Caca kasar sama Ayah,di sekolah Caca nggak diajari kasar sama Bu Guru kan?”
Gadis itu diam,hanya air matanya yang mampu menjawab keperihan hatinya.
“Al,biarkan Caca sama Mas dulu,kamu baru pulangkan? Beristirahatlah dulu.” Ujar Mas Wian kakak  Aldi.
“Tapi Mas...”
“Mbok Minah cerita, Caca ngambek pingin ketemu Bundanya.Kasihan dia, jiwanya sangat terguncang. Biar dia sama Mas dulu Al,kamu istirahat dulu. Ntar kalau sudah tenang ,Mas pingin ngomong sama kamu.”
 “Aku Mengerti Mas, kalau Caca pingin ketemu ibunya. Tapi...”
“Sudahlah, kamu istirahat dulu AL. Kamu sangat lelah.”
Aldi menurut  tak bisa membantah.
“Caca  sayang, sini sama uwak. Kita main di luar sambil menangkap kelinci. Caca mau kan?”
Gadis itu menggeleng.
“Caca pingin ketemu Bunda.”
“Caca sayang, Bunda Caca lagi pergi ketempat yang jauh sekali. Jadi dia nggak bisa nemuin Caca cepat-cepat . Katanya  Bunda punya urusan yang nggak bisa di ganggu siapapun.”
“Masa sih Wak,apa Bunda nggak sayang sama Caca dan Ayah?”
“Bunda sayang kok sama Caca,Cuma Bunda nggak bisa di ganggu. Caca mau ngerti kan kesibukan Bunda?”
Gadis itu mengangguk.
“Tapi sampai kapan Bunda sibuk dan kapan mau nemuin Caca dan Ayah?”
“Uwak nggak tahu. Ntar kalau waktunya sudah tepat, kita Tanya pada Bunda dan kita tanyakan bersama-sama. Caca  juga harus sayang sama Ayah karena Ayah sudah bekerja keras demi membahagiakan mu ,sayang. Ini buktinya, Ayah jauh-jauh beliin koala ini untuk kamu.”
Iya uwak, tapi Caca kangen sama Bunda. Kenapa Bunda nggak kumpul bersama Caca dan Ayah kayak dulu, uwak?”
“Kan Bundanya sibuk?”
“Dulu Bunda nggak sibuk,selalu nemenin Caca.”
“Mungkin Bunda pingin punya Banyak uang, biar Caca bisa beli boneka  Barbie.”
“Kan sudah ada Ayah yang cari uang.”
Duh...wian menggaruk kepalanya,mendapat pertanyaan kritis dari keponakannya tapi dia harus bisa lebih sabar.
“Ntar ya, kita tanyain sama-sama ke Bunda. Kenapa Bunda belum mau pulang? Sekarang kita main kelinci,okey.”
Anak itu akhirnya mau juga bikin Aldi iri, Caca lebih dekat pada Wian ketimbang dirinya. Mungkin karena Wian hangat, kebapakan dan penyabar. Tapi sayang di usianya yang ke 35 dia masih betah  sendiri. Wian lebih bersemangat mengejar pendidikannya ketimbang mengejar pendamping hidup.
Wian baru sebulan ini tinggal di Indonesia setelah menghabiskanmasa pendidikan S1 dan S2 nya di jerman dan kini dia lebih memilih mengajar menjadi dosen di perguruan tinggi swasta ketimbang mengurus perusahaan yang di wariskan orang tuanya. Wian punya banyak waktu di rumah,wajar kalau Caca dekat.

REMAJA ISLAM FOLLOWER

BAHAGIA MENJADI REMAJA TERASING

Sahabat remaja, sering kita merasa sendirian saat teman-teman kita mengasingkan atau mengucilkan kita. Dan rasanya itu sangat menyakitkan. Hanya karena kita berbeda dengan mereka. Berbeda karena kita menggenggam akidah Islam di saat remaja lain begitu bangga dan berlomba untuk menjadi remaja hedonis dengan akidah sekuler mereka. Berbeda karena kita menggunakan Jilbab yang menutup sempurna aurat kita atau berbeda karena Kita getol berdakwah pada mereka yang membuat kuping mereka gerah lalu mereka mencap kita sok alim, sok suci, dsb. 

 Tak usah bersedih hati menjadi remaja terasing di tengah zaman yang begitu rusak, meski menjadi sebagian kecil dari banyaknya remaja yang mengacuhkan kita. Tapi, berbahagialah. Karena hal ini,  dari jauh hari Rasulululah sudah mengatakan dalam Hadisnya:
“Sesungguhnya Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah al-ghuroba {orang-orang terasing}. Di katakan kepada beliau, “Siapa al-ghuroba itu?” Rasulullah saw. Bersabda “ Mereka adalah orang-orang yang terpisah dari kabilah-kabilah.”>

Mengapa kita meski bahagia menjadi remaja terasing?

Pertama: Karena kita menjadi orang yang sedikit. Menjadi orang yang berbeda di saat remaja lain ingin tampil seragam mencontoh berhala-berhala yang menjadi sosok panutan mereka. Yang mencuci otak-otak mereka hingga keluar dari fitrahnya sebagai muslim. Menjadi generasi-generasi yang kehilangan karakter. Mereka mengaku muslim, tapi karakter dirinya tak jauh berbeda dengan orang kafir.
Al- ghuroba menurut penjelasan hadist diatas bukan ada di zaman para sahabat, tapi ada di zaman yang jauh sekali dari masa sahabat yaitu di zaman kitalah al-ghuroba itu terjadi. Karena kita ada dimasa banyak manusia yang merusak metode kehidupan yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Dan dimasa sahabat metode itu belum rusak karena mereka senantiasa memeliharanya dengan teguh.

Lantas apa yang membuat kita harus bahagia? Karena kita bagian dari orang yang melakukan perbaikan. Kita senantiasa menggenggam akidah islam kita dengan kuat, senantiasa menerapkan kehidupan Islam dalam kehidupan sehari-hari, senantiasa menutup aurat dengan sempurna, senantiasa menjaga Iffah dan izzah kita,  dan senantiasa terus berdakwah mengingatkan teman-teman kita yang salah jalan, meski terkadang dicemohkan dan tak dianggap. Dan banyak hal lainnya yang dilakukan oleh remaja-remaja hanif seperti kalian. Menjadi agent of change untuk generasi saat ini, dan yang ada sesudah kalian.

Kedua: Yang menjadi bagian orang terasing seperti dalam gambaran hadist di atas jumlahnya sangat sedikit. Lho… bukannya menjadi yang sedkit itu lebih menyedihkan, karena lebih mudah dikalahkan oleh jumlah yang banyak? Yupzs…kita jangan pesimis duluan dengan menjadi bagian yang sedikit. Karena kuantitas tidak selamanya menjadi yang kualitas. Bukankah yang berkualitas itu selalu berada dalam jumlah yang sedikit? Predikat juara hanya bisa diraih oleh orang tertentu saja, bukan dalam jumlah kebanyakan. 

Sebagaimana dalam hadist Rasulullah dikatakan, “Mereka adalah orang-orang yang shalih diantara kebanyakan manusia yang buruk. Dimana orang yang menentang mereka lebih banyak dari pada yang mentaatinya.” [al-Haitsami berkata hadist ini dalam al- Kabir mempunyai banyak sanad. Para perawinya shahih].

Dan semoga kita menjadi bagian yang sedikit itu. Yang kelak dihari kiamat memancarkan cahaya bagaikan cahaya matahari.
Sejarah sudah membuktikan betapa banyak jumlah yang sedikit bisa mengalahkan yang besar. Karena di dukung oleh kekuatan iman dan ketakwaan yang membaja sehingga bisa mengalahkan pasukan musuh yang besar yang di dukung oleh persenjataan yang canggih di setiap zamannya. Firman Allah dalam surat Al-Baqoroh 249 juga di jelaskan bahwa : “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” 

Jadi tak usah pesimis dengan jumlah kita yang sedikit. Karena bisa jadi dengan perjuangan yang tak pernah henti, mereka yang kini mengacuhkan gerak langkah kita suatu saat akan mendapatkan hidayah Allah.

Ketiga: Orang yang menjadi gambaran seperti di sebutkan dalam hadist tentang bagian orang Islam yang terasing adalah mereka adalah kaum yang beraneka ragam. Seperti yang di jelaskan dalam hadist Rasululullah, “ Mereka adalah sekelompok manusia yang beraneka ragam, yang terasing dari kabilahnya. Mereka berteman di jalan Allah, saling mencintai karena Allah. Allah akan membuat mimbar-mimbar dari cahaya bagi mereka dihari kiamat. Orang-orang merasa takut, tapi mereka tidak takut. Mereka adalah kekasih Allah yang tidak memiliki rasa takut (pada selain Allah) dan mereka tidak bersedih.

Dan gambaran dari penjelasan bagian ketiga dari hadist diatas, yang terasing dari kabilahnya adalah kita yang terus memperjuangkan tegaknya syariat Islam di saat yang lain sibuk memuja system kapitalis demokrasi, sekularisasi dan liberalisme. Kita di asingkan karena ketinggalan zaman, kita di asingkan oleh orang-orang picik karena di anggap radikal, militan padahal kita tak pernah menebar terror dan kebencian. Kita di asingkan karena membela saudara-saudara muslim kita diberbagai belahan dunia karena imprealisme Kafir Laknatullah. Kita diasingkan karena memperjuangkan agar pengelolaan kekayaan negri ini di kelola dengan baik bukan dijarah oleh para Kapitalis. Kita tak hentinya terus menyadarkan umat untuk menjauhi riba, menjauhi Zina,dsb. 
 
Berbahagialah wahai remaja yang terasing, yang tetap teguh memegang akidah Islam kalian, disaat yang lain mencari kegelapan. Karena janji Allah itu pasti, bahwa kita akan di berikan kemenangan dengan Nasrullahnya. Menjadi umat terbaik yang datang pada hari kiamat dengan keadaan bercahaya bagaikan cahaya matahari. Kalianlah umat beraneka ragam itu, yang memilih untuk berbeda dan berani menembus perbedaan. Meski halangan terus merintangi langkah, namun demi syurga yang dijanjikan, kalian berani menghadapi segala hambatan

Keempat: Kalian menjadi orang terasing, namun kalian saling mencintai dengan ruh Allah. Dan ikatan ukhuwah kalian yang paling kuat karena akidah Islam yang senantiasa di genggam dengan kokoh. Tidak diikat oleh ikatan nasab, ikatan kekerabatan, ikatan kemaslahatan maupun duniawi. Seperti yang Rasulullah sabdakan dalam hadistnya: “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan ‘ruh’ Allah, padahal mereka tidak memiliki hubungan Rahim dan tidak memiliki harta yang mereka kelola bersama-sama. Demi Allah, wajah mereka adalah cahaya. Mereka ada di atas cahaya. Mereka tidak takut ketika manusia takut. Mereka tidak bersedih ketika manusia bersedih.” Kemudia Rasulullah membacakan firman Allah, “Ingatlah sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak mempunyai rasa takut (oleh selain Allah) dan tidak bersedih”.

Dan kelima: Menjadi terasing, dan memperoleh kedudukan tanpa menjadi syuhada. Remaja betapa beruntungnya kita menjadi yang terasing, tanpa kita gugur di medan jihad tapi kita memiliki keistimewaan layaknya para Syuhada yang gugur di medan jihad. Namun, posisi itu tentu saja tidak kita raih dengan mudah. Tapi karena pikiran, tenaga dan harta kita disumbangkan untuk perjuangn dakwah, menjadi orang terasing ditengah kaum yang rusak, dicela, dihina, dsb. 

Namun,kalian tidak pernah mengeluhkan betapa sakitnya saat dikucilkan, betapa sakitnya ketika kita tak dianggap saat mengajak remaja mengkaji Islam, dikucilkan di tengah masyrakat karena kalian betah menjombo saja. Padahal di masyrakat saat ini, para orang tua akan begitu bangga jika anaknya punya pacar bahkan jika anaknya berganti-ganti pacar pun tidak menjadi masalah. Bahkan menjadi suatu kebanggaan, dan akan menjadi masalah jika anak-anak mereka mengikuti jejak seperti kalian. Yang menjadi aktivitas dakwah, yang menutup aurat dengan sempurna, yang mampu menghindari pacaran sebelum waktu pernikahan itu tiba.

Selamat untuk kalian para remaja-remaja sholihat. Kalianlah remaja yang mampu memberi perubahan untuk bangsa ini, kalian ibarat setitik embun di gersangan yang mampu memberi rasa adem pada jiwa-jiwa yang letih. Semoga keistiqomahan selalu mengiringi langkah kalian. Dan Allah mempermudah jalan kalian menuju syurga. Amin, Allahuma ya amin…

ARE YOU HAPPY?

Suatu hari temanku bertanya, apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?
Kebahagian itu sebenarnya relative, tergantung dari sisi mana kita memandangnya. Dalam pernikahan tentu tidak selamanya datar, pasti ada ritme yang mempermainkan emosi kita. Kadang kesel, marah, sedih itu hal yang pasti di alami. Tetapi ketika di katakan apakah aku bahagia. Ya aku bahagia, karena dengan menikah sudah dapat menyempurnakan separuh agama, ada teman yang bisa mengerti kita lebih dekat dan banyak hal yang lainnya yang tidak bisa di ungkapkan. Tapi satu kata sudah cukup mewakiliku, suamiku baik dalam banyak hal, meski dari segi materi tidak berkecukupan tapi tidak juga kekurangan. Untuk soal ini, bisa di cari secara bersama. Di awal menikah mungkin ibarat bayi yang masih belajar berjalan namun seiring waktu akan menemukan kedewasaan, akan bisa menemukan apa yang di cari. Namun yang lebih utama pasangan suami istri itu saling mengimbangi dalam banyak hal, juga pendamping sebuah pelayaran di nahkoda rumah tangga yang tertatih berusaha meraih ke ridhoan Illahi untuk mencapai Dermaga di Jannahnya. Tak layak jika kebahagiaan yang di cari hanya kebahagiaan dunia saja dan akhirat di abaikan. Hingga di yaumil akhir kelak suami-istri jadi musuh yang saling menjatuhkan....to be continued

PUTRI KABUR (1)

Aku berlari dengan nafas tidak teratur. Sial hari ini kesiangan lagi masuk schooll. Tadi malam tidur larut, gara-gara keasyikan chatt sama bule Prancis. Wajah Mr. Ginanjar sang wakasek kesiswaan sudah berdiri tegap di depan gerbang dengan memasang tampang killernya.
“Arlina… cepat!” teriaknya.
Duh, hampir copot jantungku mendengar teriakannya yang super kenceng. Aku pura-pura melongok kebelakang. Siapa tahu yang di panggil olehnya bukan aku, tapi kembaran ku.
“Percepat Arlinaaa…!” teriaknya makin garang.
Kuatur detakan nafasku yang makin kenceng. Harus tenang menghadapi satu guru ini.
“Bapak memanggil saya bukan?” tanyaku dengan memasang wajah tak berdosa sudah kesiangan.
“Pakai nanya lagi! Emangnya di MAN ini, ada berapa nama yang sama dengan namamu!” bentaknya galak.
Aku nyengir berusaha bersikap cuek.
“Kenapa kesiangan?!”
“Macet Pak,” jawabku sekenanya. Males bikin alasan yang aneh-aneh. Karena seaneh apapun jawaban aku pasti nggak bakal menang.
“Macet? Emangnya ini Jakarta, kota macet sedunia. Di sini kota kecil yang nggak pernah kena macet!”
“Bantu beres-beres Ibu dulu di rumah Pak,” aku tak mau kalah omong.
“Tadi macet, sekarang bantu Ibu. Kamu ini emang bandel. Sudah suka telat,bikin rusuh di kelas, tukang kabur masih juga pinter ngeless.”
Hm…aku manyun dapat stigma negatif sepert itu. Tapi, sudah bukan rahasia lagi.
“Tapi kan nilai saya masih tetap baggus Pak. Dan masih bisa mengikuti pelajaran dengan baik.”
“Bapak nggak mau dengar lagi pembelaan kamu yang jago alasan. Sekarang lari keliling lapangan 20 balik!” perintahnya sadis.
Aku terpaksa nurut. Sarapan pagi yang bikin bau asem. Keringat mengucur deras mebasahi seluruh tubuh. Namun penderitaan belum berakhir sampai di sini, masih ada penderitaan yang lain menanti. Meminta tanda tangan guru ke seluruh pelosok kelas tiga. Meski sudah di hukum, di ceramahin, tapi nggak bikin aku kapok. Semua orang pasti nggak ngira, di balik wajah ku yang tenang dan lembut ternyata seorang pembangkang luar biasa. kenapa aku bisa kayak gini? Jujur aku bete dengan sistem pendidikan negri ini yang kebanyakan teori ketimbang aplikasi. AH…sudahlah. Tidak usah aku perburuk sistem pendidikan negri ini. Semua orang sudah tahu, ketika sekolah sudah di kapitalisasi dan di liberalisasi maka seperti inilah hasilnya.
Dari pada bete ngadepin pelajaran aku lebih banyak nongkrong di Mesjid menghafal Al-qur’an atau di perpus membaca berpuluh-puluh buku atau mampir ke lab Komputer, ngumpet di lab sciene. Jika sudah super bete kabur. Semua guru sudah tahu reputasiku yang hancur. Namun nilaiku masih tetap number one di banding yang mati-matian belajar. Nyontek bukan hal biasa untuk di lakukan. Aku anti dengan yang namanya nyontek meski sebadung ini.
“Sekali kali lagi kamu telat bapak suruh kamu lari seratus keliling.” Ujarnya dengan tampang killer abis.
“Iya pak,” Ujar ku bĂȘte. Setelah ini aku masih punya satu tugas meminta tanda tangan ke seluruh guru kelas tiga.
“Kenapa lagi kesiangan Arlina?” Tanya Mr Abdullah yang menjadi guru piket dengan tampangnya yang kebapakan banget.
“Nggak kebagian angkot Pak,” jawabku singkat.
“Dari dulu juga kamu nggak pernah jadi murid teladan dalam hal datang ke sekolah, tapi sudahlah meskipun kamu murid yang punya segudang kontraversi tapi kamu juga termasuk murid yang brilian jadi bapak masih bersikap baik ke pada mu.” Ujarnya bikin hidungku menjadi mekar.
Akupun segera berlalu menuju kelas lain untuk meminta tandangan para guru setelah itu baru bisa masuk ke kelas.
^@_@^
Huahhh….aku menguap lebar-lebar mendengar penjelasan guru bahasa Indonesiaku bertele-tele. Ngantuku kali ini benar-benar nggak bisa di tahan, mungkin ini pengaruh chatting sama si bule yang handsome itu sampai jam dua malem. Hm…aku harus cari akal agar aku bisa memenuhi hasrat tidurku. Aku pura-pura sakit gigi sambil meringis kesakitan.
“Aduh…”
“Ada apa Arlina?” sahut Pak Ben sambil membetulkan kacamatanya yang melorot.
“Sakit gigiku kambuh lagi pak, aku nggak kuat…” aktingku segera di mulai dengan tak lupa mengeluarkan air mata buaya.
“Ya sudah kamu istirahat aja di UKS…” Ujar Pak Ben baik.
Yihaaa…teriaku dalam hati, serasa dapat durian runtuh aku langsung pergi ke UKS untuk menuntaskan hasrat tidurku. Hari yang menyenangkan, keberuntungan berpihak padaku. Ternyata reputasiku yang acak-cakan tidak mempengaruhi nilai-nilaiku sehingga kredibilitasku masih cukup save di mata para guru. Badung yang masih sangat wajar.
***



BERFIKIR POSITIF DAN BERJIWA BESAR

Jika ada yang menghina kita, bagaimana perasaan anda? Sakit, marah, dan ada perasaan ingin membalasnya? Semua perasaan di atas adalah hal yang wajar dan manusiawi. Kita adalah manusia biasa yang di temani dengan perasaan peka, sedih dan sakit. Tapi, jika kita melakukan penyerangan dengan melakukan aksi yang lebih sadis, kata-kata yang lebih menyakitkan, apakah semua itu akan menjadi solusi berakhirnya permasalahan? Tidak sama sekali.



Kendalikan emosi di saat amarah kita meninggi. Redakan amarah dengan beristigfar berulang-ulang, ambil air wudhu dan positifkan pikiran kita. Mereka melakukan semua itu mungkin tidak rela dengan kemajuan kita, tidak rela dengan kesabaran kita, atau anda melakukan introfeksi diri. Ada kesalahan apa dalam diri anda hingga membuat orang itu mengkritik anda habis-habisan. Menyakiti perasan anda dengan kata-katanya yang sungguh jauh dari kata orang yang berpendidikan. Secara kepribadian mungkin mereka cacat, karena jika mereka orang yang cerdas secara ke pribadian tidak akan melakukan hal-hal seperti itu. Kata-kata dan sikapnya akan terjaga.



Abaikan mereka. Tidak usah di ambil pusing dengan kata-katanya. Meskipun pada dasarnya hati kita terluka dan sangat ingin menangis. Tapi, dengan kita berfikir positif dan mengobati hati kita dengan berjiwa besar perasaan itu perlahan akan sirna. Kita bukan berarti sabar membiarkan diri untuk di injak-injak. Tapi memang meladeni orang-orang seperti itu nggak penting. Cuma membuang-buang energi dan waktu. Mending kekesalan, amarah, dan perasaan sakit itu kita jadikan ide dan tuangkan dalam tulisan. Misalkan kita buat menjadi cerpen dengan judul: "Aku ingin menjadi pembunuh berdarah dingin." Kita paparkan tulisan kita dengan amarah yang meluap-luap sesuai dengan perasaan yang kita rasakan. Menuangkan perasaan kita sesedih mungkin, sampai kertas yang kita tulis banjir air mata saking sedihnya. Saya rasa perasaan anda akan lebih lega setelah menulis dan kita mendapatkan 2 mamfaat sekaligus. Kita bisa menjadikan perasaan kita lebih lega karena menjadikan menulis sebagai terapi emosi dan kita bisa menghasilkan karya yang menjiwai yang membuat orang bergidik sekaligus menangis setelah membaca karya kita. Menulis di saat marah dan sedih akan menghasilkan karya yang lebih hidup karena kita menulis dengan perasaan dan emosi kita yang terjadi.



Menjadi orang yang berjiwa besar itu tidaklah rugi, justru ke pribadian kita akan sangat terlihat mempesona meski secara fisik mungkin kita tidak begitu cantik tidak begitu pintar, tidak begitu kaya. Tapi, kecerdasan emosi adalah modal utama kita meraih kesuksesan. Saya melihat bagaimana perjalanan teman-teman waktu SMU dulu mereka yang dulu selalu kerap di hina, di pandang sebelah mata oleh teman yang lain karena tidak pinter, karena kampungan dll. Kini mereka bisa sukses di bandingkan oleh orang yang menghinanya dulu. Secara kepribadian mereka memang bagus juga memiliki daya survive yang hebat juga visioner. Ssehingga bisa bersaing dengan orang-orang yang lebih hebat.



Menghadapi orang-orang yang secara ke pribadian memang tidak menyenangkan yang tidak pernah sadar dengan kelemahannya sendiri tetaplah berfikir positif. Mereka begitu karena apa? Bisa jadi memang lingkungan pendidikan keluarga membentuknya untuk seperti itu. Pendidikan yang penuh dengan celaan, caci maki, amarah. Berbeda dengan yang di besarkan di keluarga demokratis, penuh motivasi saling menghargai akan membentuk jiwa si anak hangat, dan mampu menghargai orang lain. Dan kita tetap berdo'a semoga Allah memberikan kebaikan untuknya jika mampu bantu dia bangkit untuk menjadi jiwa yang positif dengan menarik dia ke lingkungan yang positif.



Semoga kita mampu memaknai setiap langkah perjalanan menjadi mutiara hikamah. Menjadikan tempat sebagai sekolah, tiap orang sebagai guru yang bisa di jadikan untuk belajar, tiap hal adalah ilmu. Ambil yang positif dan buang yang buruknya. Jadilah pribadi-pribadi yang cerdas secara spritual, cerdas intelektual, cerdas sosial mengantarkan kita menjadi manusia terbaik di hadapan Nya. Amin

PERANAN WANITA DI PERADABAN KAPITALIS


Wanita adalah tolak ukur majunya sebuah peradaban bangsa karena wanita adalah madrasah utama yang tugasnya mempersiapkn generasi yang cerdas secara intelektual dan berkualitas secara ahlak. Dan wanita-wanita yang mampu memiliki peran seperti ini hanya ketika sistem negara menerapkan sistem syariah. Memang tidak bisa di pungkiri di era kapitalis pun ada sebagian wanita yang mampu berperan menghasilkan generasi yang bagus tapi tidak merata. Mereka yang benar-benar memiliki pemahaman agama yang bagus serta visioner hinga mampu melahirkan SDM yang benar-benar berkualitas dan tidak sedikit di dukung dengan perekonomian yang menunjang. Karena kita nggak bisa menutup mata bahwa pendididikan yang berkualitas saat ini tergolong mahal. Tidak mampu di jangkau oleh kelas bawah.

Di era kapitalis perempuan tidak lebih sebagai komoditas yang kontribusinya harus menghasilkan uang. Kesetaraan gender yang di capai pun adalah kesetaraan yang bersipat ekonomi semata. Ketika mereka berlomba-lomba untuk menaiki posisi penting yang di dominasi laki-laki akhirnya yang terjadi wanita rawan dengan pelecahan seksual. Bagaimanapun juga wanita itu ada izzah dan iffah yang mesti di jaga. Islam tidak melarang wanita untuk bekerja di luar rumah selama niatnya baik untuk membantu suaminya. Namun ada hal-hal yang musti di perhatikan. Jangan sampai keluarga terbelangkai dan pendidikan serta perhatian terhadap anak-anak tetap terurus.

Wanita dalam peradaban islam memiliki peranan yang sangat luas bahkan pendapatnya di dengar oleh negara sebagaimana halnya yang terjadi di masa Rasulullah dan generasi para sahabat. Mesti kedudukannya di rumah tapi pahalanya setara dengan jihad fisabilillah. Wanita berhak untuk cerdas bukankah wanita selain pendidik utama generasi adalah penasehat para pemimpin di keluarganya. Tanpa penasehat yang bijak rumah tangga akan tergoyahkan bila menghadapi problematika rumah tangga. Kita berkaca pada sejarah bagai mana setianya seorang istri seperti Bunda Khadijah yang mampu meredam ketakutan di saat Rasulullah bertemu malaikat Jibril di Gua Hiro. Bunda Khadijahpun selalu ada di samping Rasul saat Islam mulai di kenalkan pada penduduk Mekah. Dan kita tahu sendiri bagaimana reaksi penduduk Mekah saat itu yang sangat menentang perjuangan rasulullah. Peran sang istri tercinta itu adalah penguat perjuangan nya. Banyak lagi cerita shabiyah-shabiyah lainnya yang mampu jadi penghapal hadist, para pejuang-pejuang di medan pertempuran. Dan mereka bisa seperti itu karena islam mampu menjaga eksistensi mereka.

Apa era kapitalis mampu menjujung tinggi derajat perempuan pada posisi yang sangat mulia? Kita bisa melihatnya sendiri dan membandingkannya dengan peran wanita di zaman rasul. Jangan katakan itu sebuah perbandingan yang kuno. Justru islam menjaga perempuan sepanjang Zaman. Tuntutanan manusia yang tidak akan pernah menyesatkan jika wanita itu sendiri tetap berpegang teguh pada qur’an dan sunnah nya. Era kapitalis justru menyengsarakan perempuan pada umumnya. Wanita di paksa bekerja untuk memenuhi tuntutan keluarganya. Mereka bekerja di tempat-tempat yang rawan dengan pelecehan seksual, terkadang mereka harus pulang malam tanpa di dampingi muhrimnya. Tak jarang kasus perkosaan terjadi menimpa wanita. Belum lagi tugas di keluarga dia di tuntut jadi figur sempurna tapi karena konskwensi bekerja tak jarang tugas pendididkan keluarga terabaikan. Anak di serahkan pada pembantu dan pada sekolah yang ruang lingkup pembelajarannya tidak memfokuskan pada pembinaan ahlak. Maka jangan salahkan anak ketika mereka liar dan sulit untuk di kendalikan karena peran orang tua, khususnya Ibu tidak memiliki waktu untuk mendidik anak-anak dan membinanya dengan mental tauhid.

Sebenarnya orang tua juga tidak bisa sepenuhnya di salahkan seratus persen karena memang negara tidak mampu menjamin kesejahtraan rakyatnya yang membuat rakyat harus berjuang sendiri untuk pemenuhan hidupnya. Menuntut wanita untuk berkeliaran di luar rumah dan pekerjaan laki-laki yang di semakin persulit. Andai negara sendiri memikirkan tentang majunya sebuah generasi berada di tangan wanita, dari jauh hari dia sudah memposisikan wanita di tempat-tempat yang aman dengan bekerja sebagai pendidik, bidan, dokter ruang lingkup yang memang benar-benar sangat di butuhkan oleh para ummahat.

Masih banyak lagi peradaban kapitalis yang merugikan kaum perempuan meskipun kaum feminis tak lelah menyuarakan kesetaraan gender. Tapi apa yang di hasilkan perjuangan para feminis? Apakah nasib perempuan menjadi lebih baik? Tidak, kita bisa lihat sendiri hasilnya. Dimana tingkat penceraiaan semakin tinggi karena masalah perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga juga bisa jadi karena masalah ekonomi. Berapa banyak wanita yang menjadi korban perkosaan perharinya belum yang nyawanya melayang akibat korban kekerasan, dan semakin banyaknya wanita yang terpaksa melacurkan diri karena tuntutan ekonomi begitu juga dengan semakin banyaknya wanita yang berbondong-bondong bekerja ke luar negari akibat kesulitan ekonomi. Di luar negripun tak sedikit para wanita ini mendapatkan siksaan fisik yang begitu hebat, alih-alih mau memperbaiki kehidupan eekonomi keluarga yang di dapat justru penganiyaaan, pemerkosaan dan gajih tidak di bayar. Apakah negara peduli pada masalah seperti ini? Mereka seakan menutup mata dengan realita yang ada karena saking banyaknya kasus negara yang harus di tuntaskan. Sementara ketika khilafah itu masih ada rentan sekali terjadi kasus-kasus seperti ini terjadi . Karena negara memang peduli pada ke tentraman rakyatnya.

Negara juga tidak menjamin generasi bangsanya cerdas secara ahlak dan intelektual. Hal ini bisa di lihat dari kesenjangan pendididkan yang begitu lebar. Pendidikan yang benar-benar berkualitas hanya bisa di rasakan oleh kalangan menengah ke atas, akibat di terapkannya sistem libelarisasi pendidikan, di mana pendidikan di kuasai oleh pihak swasta sehingga biaya pendidikan semakin mahal. Dan pendidikan semahal itupun belum memberikan jaminan generasi bangsa ini cerdas secara ahlak.