Subscribe Us

Aqeela # Part 4

Aqella merasa sangat bersyukur ketika melihat Adyan kondisinya sudah mulai membaik. Dan ini murni kebahagiaan sebagai seorang dokter terhadap pasiennya, bukan jejak masa lalu yang masih tersisa.

"Aqeela...kamu...Aqella kan?" ujarnya dengan terbata dan dia terlihat sangat terkejut melihat wanita yang masih dicintainya itu ada di hadapannya.

Aqella hanya tersenyum tipis, tidak ingin menjawab pertanyaan yang diajukan Adyan. Berusaha untuk tetap sibuk dengan mengecek kondisi tubuh pasiennya dengan stateskop yang tergantung di leher. Lalu mengajak Andini berbicara, memberi tahu apa saja yang harus di lakukan saat membantu merawat Adyan. Meski jujur debaran jantungnya bergemuruh tak bisa di enyah. Apalagi saat melihat tatapan matanya yang sangat lekat, namun ada banyak luka yang tersimpan disana.

'Kenapa dia masih mengenaliku?' batin Aqella. Padahal ia bukan bocah remaja yang polos dan lugu seperti yang terjadi di sepuluh tahun yang lalu.

"Alhamdulillah kondisi Bapak sudah mulai membaik. Semoga cepat sembuh ya, Pak? ujar Aqella tulus.

"Aku berusaha mencarimu, berharap bisa menemukanmu...ternyata kamu ada di sini. Kamu sebagai dokter dan aku sebagai pasien. Apakah ini takdir baik, sebagai cara Tuhan mempertemukan kita?" ujar Adyan dengan suara bergetar.

Untuk sesaat Aqella mematung. 'Ya Allah, kuatkan aku. Jangan kembali lemah dan jatuh pada pesonanya. Aku harus kuat. Dia sudah bukan siapa-siapa lagi. Tak akan ada lagi rasa yang tersisa. Semuanya sudah terkubur oleh waktu. Dia hanyalah mantan suami yang tak akan menjadi sesuatu yang berarti lagi.'

"Ternyata cara Tuhan cukup indah, disaat aku mulai lelah dan ingin menyerah. Tuhan mempertemukan cintaku yang tak pernah padam." kembali Adyan berbicara dengan pandangan matanya yang tidak lepas dariku.

Aqella menggigit bibir, berusaha menahan debaran di jantungnya. Ini sungguh gila.

"Maaf Pak Adyan, saya masih punya banyak pekerjaan." ujar Aqella buru-buru pamit untuk segera undur diri.

Adyan terlihat kecewa, mata elangnya meredup. Tapi Aqella berusaha tidak peduli, karena disini tugasnya untuk menyembuhkan fisiknya, bukan menyembuhkan hatinya.

"Aku sangat merindukanmu...merindukanmu teramat dalam." ujarnya lemah.

"Maaf Pak..." Aqella dengan langkah terburu keluar dari ruangan yang tiba-tiba mencekam.

"Suatu saat kamu akan menegerti, bahwa akulah yang paling terluka dengan perpisahan kita." suara pelan Adyan masih bisa Aqeela tangkap ketika keluar dari ruangan.

Sungguh tugas Aqella saat ini benar-benar terasa berat. Berhadapan dengan mantan mertua yang masih memperlihatkan sikap ketidak sukaannya, dan mantan suami yang terlihat masih mencintai. Membuat jiwanya benar-benar lelah. Entah bagaimana dengan besok-besok, ketika harus bertemu dengan mereka dalam waktu bersamaan. Semoga saja ia masih bisa tenang dan bersikap profesional.

Ketika Aqella sedang berjalan di koridor rumah sakit, langkahnya segera dilambatkan saat mendengar suara yang cukup familiar. Sebenarnya Aqella tak ingin peduli, karena itu bukan urusannya. Tapi entah kenapa, jika menyangkut wanita tua yang sombong itu, selalu membuat jiwanya terusik dan diselimuti rasa penasaran yang tinggi.

"Mau apa kau datang kesini, hah? Gara-gara kamu anaku celaka?!" ujar Nyonya Hutama tajam.

Aqella melihat wanita berambut sebahu di hadapan Nyonya Hutama. Penampilannya sangat elegan dan cantik. Sepertinya ia pernah bertemu, tapi entah dimana. Oh, iya tadi ia melihatnya di media online. Berarti dia Ardina Zahira, istrinya Adyan Hutama. Ya...ampun mereka memang cocok. Satu ganteng dan satunya cantik, jauh banget di banding dirinya. Pantas jika dulu Nyonya Hutama sangat setuju punya menantu Ardina Zahira. Cantiknya itu, sangat memikat. Tapi kenapa harus ada perselingkuhan?

"Tentu saja aku mau menengok suamiku, Mama mertua." jawab Ardina kalem.

"Berhenti kau memanggilku mama mertua, aku tak sudi mendapat panggilan itu dari wanita jalang sepertimu. Anakku tidak butuh kunjunganmu. Urusi saja selingkuhanmu itu."

"Stt...Mama tidak usah berteriak-teriak seperti itu. Malu di lihat oleh orang lain."

"Kamu masih punya malu rupanya, padahal yang harusnya malu itu bukan kamu, tapi keluargaku."

"Tolong jaga bicara mama. Mama mesti ingat aku ini masih istri syahnya, belum ada penceraian di antara kami. Dan hal yang harus mama tahu, aku seburuk ini di mata mama karena anakmu terus menerus mengabaikanku. Bayangkan lima tahun dia bersikap tidak peduli padaku. Apa aku salah jika menghabiskan uang suamiku, sebagai pelampias kekesalanku karena tidak di pedulikan. Apa aku salah jika aku menerima perhatian seseorang, ketika suamiku tak pernah menganggapku ada. Aku hanya wanita yang punya legalitas sebagai menantu, tapi tak punya legitimasi di mata suamiku sendiri. Dan jujur ini membuat aku lelah dan ingin menyerah."

Aqella lihat wajah nyonya Hutama terkejut, sama terkejutnya dengan dirinya. Lima tahun di abaikan, rasanya itu pasti sangat menyakitkan. Ardina adalah menantu kesayangan, tapi tak mendapat tempat di hati suaminya. Pasti itu jauh lebih menyedihkan. Aqella dan Ardina tidak ada bedanya.

"Kamu...berusaha untuk menjelekan suamimu sendiri kan, supaya perselingkuhanmu bisa di maafkan?" tuding Nyonya Hutama.

"Untuk apa, Ma? Berita perselingkuhanku sudah tersebar luas, aku tak berniat untuk mengkonfirmasi berita buruk itu. Aku cuma mau bilang sama Mama, jika Adyan anak kesayangan Mama, dia hidupnya tidak pernah bahagia. Dia laki-laki menyedihkan, yang cinta sejatinya di rengut oleh ibu kandungnya sendiri. Dan lebih menyedihkannya, dia memiliki ibu egois yang lebih peduli kehormatan dan hartanya, dibanding kebahagiaan anak-anaknya."

Nyonya Hutama membelalakan matanya, lalu dia menyenderkan tubuhnya ke dingding rumah sakit. Dia terkejut demi mendengar penjelasan Ardina, kalau anak laki-lakinya, tidak sesempurna bayangannya. Sedang Ardina segera melewati Nyonya Hutama menuju kamar Adyan.

Aqella merasa lebih bersyukur di banding Ardina. Diabaikan suami selama lima tahun, Aqella nggak bisa membayangkannya. Padahal apa yang kurang dari Ardina, sehingga Ardyan harus mengabaikannya. Dia cantik, kaya dan terpelajar.

Dulu Aqella pernah hancur begitu dalam, tapi punya seseorang yang menguatkan dan membuatknya semangat menjalani kehidupan.

"Dokter Aqeela sedang apa anda di sini? Kami dari tadi mencarimu" suara yang cukup familiar membuyarkan lamunan Aqella.

"Tidak sedang apa-apa dokter Ilyas, ada apa ya, mencari saya?" tanya Aqella pada dokter yang lebih muda dua tahun usianya di bawahnya.

"Hm...saya hanya ingin mengajak makan siang bersama?" ujarnya.

Rasanya Aqella ingin menolak, tapi sudah terlalu sering menolak ajakannya, membuat ada rasa sungkan.

Aqella mengangguk sebagai tanda mengiyakan. Dan Aqella lihat wajah dokter Ilyas tersenyum lebar karena Aqella menerima ajakannya.

"Bagaimana kalau hari ini kita makan diluar, dokter Aqella. Saya punya rekomendasi tempat makan yang enak yang baru buka. Dan rasanya sangat lezat bercita rasa tinggi."

"Terserah dokter Ilyas aja, tapi saya mau mengajak Suster Andini dan kawan-kawan yang lain boleh?" ujar Aqella. Karena ia merasa tidak mungkin makan berduaan.

Sebenarnya dokter Ilyas ingin menolak, ini adalah rencana PDKT yang disusun dari jauh hari, namun selalu gagal. Tapi pasti kalau tidak diiyakan, wanita yang disukainya ini akan menolak.

"Silakan dokter Aqella, jika mau mengajak teman."

Aqella langsung melangkahkan kakinya menuju tempat suster Andini berada, untuk mengajak makan siang bersama. Dan ia juga akan mengajak teman-teman yang lainnya.



Aqeela # Part 3

Aku menunggu Nyonya Hutama berbicara lebih dahulu di kafe yang ada di sebrang rumah sakit. Setelah aku memeriksa putra kesayangannya, dia memintaku untuk berbicara empat mata. Ku tunggu dia dengan sabar. Aku tidak ingin memulai pembicaraan jika bukan dia yang memulai. Kecuali jika itu bersangkutan dengan pekerjaanku.

"Sudah lama kita tidak bertemu. Sepuluh tahun ya, bagaimana kabarmu?" ujarnya datar. Raut mukanya tetap tidak menunjukan keramahan.

"Baik…" jawabku singkat sambil mengaduk-aduk juice jeruk yang ada didepanku. Berbicara dengan perempuan ini membutuhkan energi besar maka aku harus tetap tenang. Emosiku tidak boleh terpancing.

"Setelah bercerai dengan putraku, siapa lagi laki-laki yang sudah kau jebak untuk bisa jadi suamimu?" ujarnya sinis.

Aku membelalakan mata lebar. Pempuan ini benar-benar keterlaluan! Dari dulu mulutnya tidak pernah bisa di jaga. Pedas dan tajam. Sungguh aku ingin tertawa. Orang yang jelas-jelas mengaku keluarga terhomat, tapi kata-katanya seperti keluar dari orang yang tidak berpendidikan saja. Kekepoannya ini bikin aku muak. Sungguh aku telah membuang-buang waktu meladeni kata-katanya yang tidak berfaedah. Tapi aku harus bisa meladeninya dengan tenang.


"Apakah Nyonya merasa terganggu jika saya mendapat suami yang lebih kaya?" tanyaku setenang mungkin.

"Bersyukurlah anakku terlepas darimu." ujarnya sinis.

"Ok, tidak masalah." jawabku berusaha tetap tenang dan datar.

"Saya cuma mau memperingatkan sama kamu, tolong jaga batasanmu selama merawat putraku. Jangan pernah bermimpi bisa kembali lagi padanya." kata Nyonya Hutama tajam.

Aku terdiam sesaat. Kata-katanya sungguh menyakiti perasaanku. Pantaskah perkataan itu di ucapkan? Bukankah aku yang harusnya berbicara seperti itu. Dulu anaknya tergila-gila padaku, dan sekarang anaknya di selingkuhi wanita pilihan ibunya, seperti berita yang kubaca tadi di media. Bisa sajakan putra si Nyonya sombong ini, justru yang masih memiliki perasaan cintanya padaku. Aku perempuan yang sudah di sakiti luar dalam, akan berfikir berulang kali untuk mencintai laki-laki yang akan terus berkonflik dengan ibunya.

"Tentu. Tanpa di ingatkanpun saya sangat paham sekali, Nyonya. Saya tidak akan mencampur adukan antara profesionalisme dengan kisah usang. Nyonya tidak usah khawatir, kisah saya dengan anak nyonya sudah berakhir semenjak keluar dari rumah itu. Yang harus di peringatkan itu justru anak nyonya."

"Kenapa harus anak saya?" Nyonya Hutama tidak terima.

"Karena saya tetap baik-baik saja, meskipun sudah Nyonya perlakukan secara tidak manusiawi. Tapi anak Nyonya, yang sedang tidak baik-baik saja. Saya sudah membaca berita online, yang hari ini jadi trending topic. Jika istri Adyan Hutama berselingkuh dan itu di kaitkan dengan penyebab kecelakaannya oleh wartawan kurang kerjaan. Apakah Nyonya belum baca beritanya?"

Nyonya Hutama langsung diam. Kenapa berita perselingkuhan Ardina bisa sampai jadi konsumsi publik? Sangat memalukan. Perempuan itu segera membuka gawainya, dan benar saja berita di medsos sangat ramai tentang perselingkuhan Ardina Zahira dengan pengusaha asal Malaysia.

"Jika menurut Nyonya dulu aku adalah menantu yang buruk, Ardina jauh lebih buruk. Karena jelas dalam ikatan pernikahan aku dengan Mas Adyan, tidak ada perselingkuhan, dan tidak ada sepeserpun harta yang kudapat. Jadi sebenarnya wanita parasit yang memeras dan menyakiti suaminya itu siapa Nyonya? Dan sangat jelas itu bukan aku. Dan hal yang harus Nyonya ketahui, bagi saya keluar dari keluarga Hutama itu adalah anugrah. Karena jika aku masih bertahan, mungkin aku sudah menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Karena memiliki mertua egois seperti anda."

Nyonya Hutama diam tidak bisa membalas serangan verbal kata-kataku, mantan menantu yang sangat dia benci sampai kini. Pasti dia tidak akan pernah menyangka, jika perempuan lugu dan polos itu akan mengucapkan kata-kata tajam. Tapi tentu saja waktu bisa mengubah seseorang bukan? Jika dia membenci dengan alasan nggak jelas, bukankah mantan menantunya juga wajar untuk membenci dengan alasan luka masalalu.

"Permisi Nyonya Hutama, saya masih ada banyak pekerjaan." aku bangkit meninggalkannya.

Nyonya Hutama membrengut kesal. Sungguh hari ini dia telah kalah kata-kata.

"Apa lagi yang Mama inginkan dari Aqeela." suara dingin itu menyentak lamunan Nyonya Hutama.

"Papa…"

"Belum cukup juga rupanya menyerang wanita tak berdosa itu heh…"

"Se…sejak…kapan Papa…di sini?" Nyonya Hutama tampak gelagapan.

"Sejak kau masuk, aku sudah ada di kafe ini, Ma. Kenapa Mama masih menyerangnya heh… ? Dia sudah tidak ada hubungan lagi dengan anak kita. Seharusnya si menantu kebanggaanmu itu, yang harusnya kau serang. Bukan Aqeela yang sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan kita.

"Mama hanya ingin memperingatinya, siapa tau dia masih berharap pada anak kita…" Nyonya Hutama membela diri.

"Cuma wanita tidak waras yang mau memiliki mertua seperti kamu untuk kedua kalinya. Kapan sih Mama akan sadar? Suatu saat kau akan tua dan lemah, siapa yang mau merawatmu jika selalu berkonflik dengan menantu? Laras… Rangga…atau istri Adzwar kelak. Papa nggak yakin mereka mau merawat mama. Karena selama ini, mama tidak pernah menunjukan rasa hormat pada mereka. Uang itu tidak selamanya bisa membuat bahagia dan menolong kita. Jadi tolong, turunkan ego Mama. "

Wajah Nyonya Hutama semakin memberengut mendengar kata-kata suaminya.

"Tanpa di ulangpun, Mama masih ingat kata-kata Papa." ketus Nyonya Hutama.

"Dan sayangnya, itu cuma masuk kuping kiri ke luar kuping kanan." Sindir Pak Hutama.

"Terus mau Papa, Mama itu harus bagaimana? Bersikap manis pada mantan menantu kita gitu, yang membuat Adyan melupakan Ibunya?"

"Ckk…jangan berlebihan, Ma. Adyan tidak pernah melupakanmu. Dia hanya ingin kamu bisa menerima siapa yang dia cintai. Tapi sudahlah, tidak usah di bahas, toh Aqeela sudah bukan siapa-siapa lagi untuk Adyan. Papa cuma minta tolong perlakukan Laras, Rangga dan Istri Adzwar kelak dengan baik. Yang menjalani kehidupan rumah tangga adalah anak kita. Jadi stop ikut campur didalam rumah tangga mereka. Standar pilihan menantu yang Mama inginkan jangan minta di samakan dengan standar pilihan anak-anak kita. Cukup do'akan mereka untuk bahagia, bukan ikut terlibat di dalamnya. Sebagaimana Bunda yang tidak pernah ikut campur pada rumah tangga kita. Bisa?"

Nyonya Hutama diam tidak memberi respon apa yang di ucapkan suaminya. Rasanya gampang banget meminta dirinya berubah. Padahal apa yang dia lakukan adalah sebagai bukti sayang seorang ibu pada anak-anaknya.***


Aqeela # Part 2

" Ini semua gara-gara perempuan gila itu, anakku jadi begini?" keluh Nyonya Hutama merasa tidak terima anaknya mengalami kecelakaan seperti ini.

"Menurut Mama siapa?" ujar Tisa tidak suka. Ibunya ini adalah wanita yang paling keras kepala. Terlalu dominan, terutama pada adiknya Adyan. Pernikahan pertamanya gagal gara-gara Mama terlalu banyak ikut campur. Pernikahan keduanya dengan Ardina si perempuan matrealistis malah di selingkuhi. Dan Tisa cukup terkejut ketika tadi dia melihat mantan adik ipar yang selalu di rendahkan Mamanya telah menjadi dokter, spesialis lagi. Sepuluh tahun tidak bertemu, Aqeella sudah terlihat matang. Dia anggun dan terlihat smart. Tapi sangat dingin, pendiam dan terkesan menghindar dari kelurganya. Tisa cukup paham dengan perasaan Aqeela yang sudah banyak kehilangan dan terluka.


"Si Ardina wanita gila itu!" dengus Mama tidak suka.

"Oww…" Tisa pura-pura terkejut dengan membelalakan mata hazelnya.

"Kenapa kamu terkejut seperti itu?" ujar Nyonya Hutama gemas dengan reaksi putrinya.

"Ckk… dia itu menantu kesayangan Mama kalau Mama tidak lupa. Wanita itu yang dulu selalu Mama banggain di arisan sosialita Mama. Ini lho menantu kesayanganku….ini lho menantu…."

"Itu dulu. Sebelum dia berselingkuh dan menguras uang keluarga kita." potong Nyonya Hutama.

"Mama, Tisa belum selesai bicara. Tolong jangan di potong dulu." Ujar Tisa tidak suka. "Mama marah pada Ardina, lantas bagaimana dengan Adyan yang harus mengorbankan perasaannya untuk Mama. Papa, aku, Mas Farhan bukankah dulu sudah memperingatkan siapa Ardina. Tapi, demi rasa persahabatan Mama pada keluarga culas itu, Mama memaksakan kehendak sendiri. Tanpa berkompromi dengan perasaan Adyan. Sukakah dia, bahagiakah dia? Ini yang tidak pernah Mama pikirkan. Karena Mama orang tua paling egois di muka bumi, yang mengukur segalanya dengan standar materi. Gadis sebaik Aqeela Mama buang hanya karena menurut Mama tidak ada kepantasan. Jadi sekarang tidak usah menyalahkan orang lain, seburuk apapun Ardina dia adalah menantu yang pernah Mama pilih dan di banggakan pada semua orang. Jadi terimalah konskwensinya. Jika harus ada yang disalahkan, itu tidak lain adalah keegoisan Mama sendiri." ujar Tisa merasa lega sudah mengeluarkan semua unek-uneknya yang sudah lama mengganjal di hatinya.

"Kamu …" mata Mama bersinar marah.

"Maaf jika omongan Tisa menyinggung Mama, tapi ini semua benarkan, Ma. Tisa peduli sama Adyan yang tidak pernah bahagia selama sepuluh tahun ini. Dia pura-pura bahagia tapi sebenarnya sakit. Semoga nasib buruk Adyan tidak terjadi pada Adzwar." ujar Tisa sambil bangkit dan meninggalkan Mamanya. Dia tidak peduli Mama akan kecewa dengan kata-katanya barusan, karena jujur dia lebih banyak kecewa dengan sikap Mamanya yang tidak berubah. Dia hanya peduli kehormatan, koleksi berlian dan jumlah sahamnya ketimbang perasaan anak-anaknya.

"Dek…" Suara Mas Farhan menghentikan langkah Tisa.

"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Mas Farhan.

Tisa melirik jam tangannya. Sebenarnya dia hari ini ada janji dengan seseorang.

Tisa mengangguk. "Tapi sebentar ya, Mas?"

Farhan mengangguk. Dan mengajak adiknya ke kantin rumah sakit. Setelah memesan minuman ia mengajak adiknya bicara.

"Kamu kenapa seemosional itu pada Mama? Bukan karena melihat Aqeela kan?"

Tisa menarik nafas jengah. Kakaknya ini adalah orang yang terlalu perhatian pada Mama, meskipun statusnya hanya sebagai anak tiri.

"Aku hanya ingin Mama sadar dengan sikapnya yang egois, itu saja Mas. Apakah aku salah?"

"Tapi Mama sedang bersedih?"

"Mas, sudahlah jangan membela Mama terus. Aku lelah. Mas juga jangan naif, kalau Mama itu nggak pernah sayang sama kamu Mas, tapi kenapa sih Mas masih belain dia? Yang terluka itu kita, Mas. Kamu, aku dan Adyan. Pernikahanku juga bermasalah dengan Rangga, itu semua gara-gara Mama yang banyak ikut campur. Begitupun dengan Adyan."

"Mas tahu itu, meskipun Mama bukan ibu kandung, tapi berkat dia Mas merasa punya keluarga. Setidaknya dia masih membuat Mas bisa merasakan keutuhan keluarga, tidak menjauhkan Mas dengan Ayah dan juga kalian bertiga, adik-adik Mas. Soal harta itu tidak jadi masalah buat Mas. Tidak menjadi pewaris Hutama Crop bukan hal yang harus di persoalkan."

Tisa tersenyum miris. Entah dia harus berbahagia atau bersedih. Sesimpel inikah Mas Farhan memandang masalah pelik keluarganya. Dengan jelas ia melihat ketimpangan perlakuan ibunya pada kakak tirinya. Tapi tetap dia menjadi kakak yang sayang pada ketiga adiknya. Memperlakukan mamanya dengan santun. Tidak pernah menjadikan ketidak adilan ini menjadi masalah atau beban.

"Aku ingin memiliki hati yang luas sepertimu, Mas. Tapi sangat sulit."

"Maka belajarlah untuk mengikhlaskan. Seburuk apapun Mama dia tetap orang yang berjasa pada kita. Yang jasanya tidak sebanding dengan keburukan-keburukannya."

Tisa memandang kakaknya dalam diam. Kakak tirinya ini luar biasa baik, pasti ibunya dulu orang baik. Wanita yang sudah pergi kehariban-Nya saat Mas Farhan kelas 4 SD, begitu cerita dari Papa. Dan Mbak Laras juga istri yang sangat baik menurut Tisa. Pantas serumit apapun masalah yang di hadapi, dia selalu tenang dan berhati lapang.

"Jika kamu memang memiliki banyak beban, cerita pada Mas. Kita ini adalah saudara yang harus saling melindungi dan menguatkan."

Tisa ingin saja menangis. Jujur dia merasa terenyuh mendengar kata-kata dari abangnya. Sosok abang yang sangat mencintai adiknya. Yang berada di dekatnya selalu merasa aman dan terlindungi. Tapi itu dulu ketika masa anak-anak dan remaja. Sekarang rasanya segan mengadukan segala masalah pada abangnya.

"Thanks Mas, maaf Tisa harus segera pergi. Kasih tau Tisa kalau Adyan sudah sadar."

"Ok, hati-hati Dek." ujar Mas Farhan lembut.

Tisa membalas dengan mengangguk dan pergi meninggalkan pelataran rumah sakit. ***





Cinta di Atas Bara Part 6


Aleya tersenyum cerah begitu melihat Sayyid berjalan kearahnya. Satu minggu tidak bertemu seperti satu tahun tidak berjumpa. Paras laki-laki campuran Arab dan Turki itu sangat memikat. Pesonanya meluluhkan kaum hawa. Ada banyak cara yang sudah Aleya untuk memikat Sayyid yang asalnya cool dan cuek. Ternyata laki-laki ini hanya bisa di tundukan dengan adu kecerdasan. Cara-cara murahan tidak akan membuat dia berpaling.

Aleya sampai tidak berkedip melihat kegantengan Sayyid. Yang menggunakan kaus polo berwarna abu di padu dengan jacket warna putih. Sangat serasi dengan kulitnya yang putih.

"Ich vermisse dich so sehr, Baby" Ujar Aleya sambil memeluk sang kekasih yang tingginya sepantaran.( Aku sangat merindukanmu, sayang."

Sayyid tidak merasa risih diperlakukan seintens itu di tempat umum, sesuatu hal yang dulu sangat di hindarinya. Kini dia sangat menyukai sikap Aleya yang cenderung agresif, sebagaimana lazimnya gadis-gadis barat memperlakukan pasangannya.

"Ich vermisse dich mehr, Liebling." Sayyid mengeratkan pelukannya pada Aleya erat dan mencium kening Aleya sangat lama.

"Kita langsung pulang ke Apartemen atau jalan-jalan dulu, sayang?" Aleya melepaskan pelukannya, dan menatap Sayyid penuh cinta. Sesuatu hal yang dulu hanya ingin menjebak Sayyid, dan memamfaatkan kecerdasannya. Tapi seiring kebersamaan di antara mereka, Aleya merasa Sayyid adalah nafas hidupnya. Dia tidak bisa hidup tanpa Sayyid. Maka dia akan berusaha melakukan apa saja, agar laki-laki itu bisa tetap berada di sampingnya.

"Pulang saja ya, Scathz? Aku lelah dan sangat merindukan kamu?"

Aleya tersenyum. Hal ini yang selalu di nantikannya. Sayyid sangat mendamba kepuasan darinya. Dan dia akan selalu siap untuk menuntaskan rasa haus laki-laki itu itu akan cinta, kelembutan darinya. Meski hal tersebut harus mengorbankan tubuhnya. Banyak hal yang di korbankan untuk mendapatkan Sayyid, tapi hasilnya sebanding dengan apa yang dia korbankan. Karena tes uji loyalitas untuk  di akui di sebuah organisasi yang dia dan ayahnya masuki, apapun bisa di korbankan agar kepercayaan bisa di raih. Harga diri atau nyawa bisa menjadi taruhan.

"Biar aku yang menyetir, Scathz? " ujar Sayyid melarang sang kekasih untuk menyopiri dirinya.

Aleya menggeleng. "Kamu sangat lelah Sayang, biar aku aja. Kamu harus hemat tega, biar kita melebur rasa rindu." ujar Aleya sambil nencium pipi Sayyid. Tentu saja hal tersebut membuat Sayyid berubah tidak waras. Dia laki-laki normal, yang butuh pelampiasan dari gairah mudanya.  Dan Aleyalah si burung jinak yang sudah meruntuhkan kealimannya. Menjadi laki-laki yang liberal dan bebas. Tidak peduli dengan nilai-nilai agama yang sudah dipelajarinya selama bertahun-tahun.

Dan Sayyid terpaksa menurut. Karena dia tidak mau jika Aleya marah dan mendiamkannya. Hal yang sangat berbahaya jika Aleya marah, otomatis akan berakibat pada keinginannya yang tidak akan terpenuhi.
***
Apertemen yang di tempati Sayyid terbilang cukup mewah. Terlihat sangat bersih dan rapi. Dan tentunya itu semua karena Aleya yang pintar merawat rumah. Sudah hampir setengah tahun mereka tinggal bersama, tentu saja tanpa ikatan pernikahan. Tapi, hubungan mereka sudah seperti layaknya pasangan suami istri.

Sesampainya di Apartement Aleya langsung menyiapkan makanan kesukaan Sayyid, makanan khas Indonesia, karena lidah laki-laki itu, masih susah beradaptasi dengan makan western. Aleya mati-matian belajar masakan Indonesia, bahkan langsung mendatangkan Chief dari Indonesia, selain itu belajar bahasa Indonesia serta budayanya. Sebuah pengorbanan yang cukup besar demi bisa meraih Sayyid. Dan termasuk pura-pura belajar islam yang dilakukan di awal mendekati Sayyid.

Aleya adalah perempuan yang masuk kriteria untuk jadi pendamping hidup Sayyid. Dia bisa menjadi istri yang memuaskan, teman diskusi yang menyenangkan. Namun sayang wanita itu selalu menolak jika disinggung tentang pernikahan. Selalu banyak alasan, dan hal ini terkadang membuat Sayyid takut, takut jika Aleya akan berpaling darinya. Bisa saja jika ada yang lebih menarik darinya, suatu hari Aleya akan meninggalkannya.

"Schatz, lass uns essen?" ajak Aleya sambil mengamit tangan Sayyid membimbingnya menuju meja makan. ( Sayang, ayo makan? )

Aleya menyiapkan makanan Sayyid layaknya istri yang berbakti pada suami, semua dia lakukan agar kekasihnya terkesan. Meski tanpa ikatan pernikahan, dia bisa memposisikan dirinya seperti perempuan-perempuan di Timur dalam memperlakukan suami mereka. Dan sudah dikatakan, untuk bisa seperti ini Aleya banyak belajar.

"Suapin." kata Sayyid manja. Dan Aleya tidak menolak keinginan Sayyid.

"Sie wissen, Schatz, solange es nicht neben Ihnen ist, kann ich nicht gut schlafen.  Denken Sie jeden Tag an Sie."  Sayyid mulai mengeluarkan kalimat manisnya dan hal ini yang membuat Aleya melayang. Sayyid selalu memperlakukan dirinya dengan lembut dan romantis.
( Kau tahu sayang, selama tidak berada di sampingmu aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap hari memikirkanmu.)

"Bagaimana kabar kedua orang tuamu?" tanya Aleya mencoba mengalihkan pembicaraan.

Sayyid yang sedang bahagia-bahagianya bertemu dengan pujaan hati, mendadak muram. Terbayang wajah umi yang banjir airmata saat dia membangkangnya, wajah abah yang marah, wajah Amir yang murka dan juga wajah Aqilah yang terlihat sendu ketika dirinya memutuskan lamaran yang sudah di rancang abahnya.

"Are you, Ok?" tanya Aleya mendadak khawatir.

Sayid mengangguk, tapi dia sudah tidak bernafsu untuk melanjutkan makannya. Pikirannya melayang pada sosok wanita yang sudah melahirkannya. Selama ini Sayyid belum pernah mengecewakan Ummi, hanya karena keinginannya yang bertentangan dengan keimanannya, Ummi tidak rela. Dan menurutnya hal itu wajar, ibu mana yang rela bahwa anak yang telah di lahirkan, didik dengan nilai-nilai islam yang kuat akan lebih membela wanita yang keyakinannya berbeda. Ummi adalah wanita terbaik, wanita yang sangat di cintainya, tapi itu dulu sebelum Aleya hadir dan menggeser posisi cinta seorang anak pada Ibunya.

Sayyid menghembuskan nafasnya berat, dia kembali teringat dengan kata-kata Amir.
'Wanita itu adalah racun yang akan meruntuhkan kesejatian seorang laki-laki.' Dan itu memang benar. Sayyid kalah oleh rasa cintanya yang sangat pada wanita, sehingga rela menukarkan dengan keyakinannya.

"Es tut mir leid, Schatz.  Ich will dich nicht traurig machen." Aleya menyentuh tangan Aleya lembut.
( Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. )

Sayyid hanya diam dan bangkit dari duduknya. Laki-laki itu berjalan ke arah jendela. Menatap indahnya kota New York di senja hari. Ingatannya melayang ke negri yang baru beberapa jam di tinggalkannya. Baru dia merasa bahagia, tapi kini merasa terhempas. Air mata ummi terus terbayang dalam pikirannya. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi dadanya. Laki-laki itu merasa bersalah yang sangat. Sebagaimana laki-laki yang di besarkan dalam keluarga muslim dengan nilai-nilai keislaman yang kuat, menyakiti Ibu adalah tabu. Karena surga seorang anak laki-laki ada di ibunya. Meskipun kehidupan liberal sudah menjadi bagian hidup Sayyid, tapi masih ada sisa-sisa didikan orang tuanya yang nggak bisa di enyah.

Aleya merasa menyesal telah melemparkan pertanyaan tadi. Sayyid pasti banyak mengalami pertentangan bathin yang cukup hebat ketika laki-laki itu memilih dirinya. Meninggalkan keluarganya, dan hidup di negri asing tanpa keluarga. Dia bertahan hanya karena cinta, itupun ikatannya lemah karena tanpa ikatan pernikahan. Laki-laki seperti Sayyid lama-lama akan merasa lelah dalam ikatan rapuh seperti ini. Aleya memeluk Sayyid mencoba memberi kekuatan.

"Ich werde immer an deiner Seite sein, egal wie kompliziert der Weg ist, den wir gehen." Ujar Aleya mencoba menguatkan.
( Aku akan selalu berada disampingmu, serumit apapun jalan yang kita lalui.)

Sayyid diam tidak merespon kata-kata kekasihnya. Keraguan mendadak menyelimuti hatinya. Yakinkah, Aleya wanita yang akan menjadi masa depannya?
Atau hanya sebatas wanita yang menjadi samen levennya. Sekedar bersama mereguk kesenangan sampai merasa bosan, lalu entah siapa yang terlebih dahulu meninggalkan. Jika hidup hanya berporos di sini, maka dia tak lebih sama derajatnya dengan binatang, yang level kecerdasannya lebih rendah.

"Argghhh…" jerit Sayyid marah dengan memukul dingding. Dan hal itu membuat Aleya terkejut dan merasa takut.

"Tinggalkan aku sendiri!" ujar Sayyid dingin. Lalu dia segera masuk kedalam kamar membanting pintu dengan kencang.

Aleyya diam mematung. Ketakutan tiba-tiba menghantam jiwanya.
***

Akhirnya bisa melanjutkan kembali setelah lama vakum. Tulisan ini sudah lama mangkrak di laptop bertahun-tahun. Dan jujur tulisan ini menurut aku paling berat saat meramu kata-katanya.  Novel ini di tulis karena  terinsfirasi setelah  membaca buku politik, tentang banyaknya pemuda muslim yang di sekolahkan ke Barat dan ketika pulang ke negrinya ditugaskan menjadi agen-agen Barat yang memang di agendakan untuk menghancurkan agamanya dari tubuh kaum muslimin sendiri, dan itu terjadi sampai hari ini.





Aqeela# Part 1

Haruskah aku bahagia atau bersedih? Bertemu dengan mantan suami setelah 10 tahun berpisah, dan itu perpisahan yang sangat menyakitakan. Pagi tadi adalah pertemuan yang tidak di sengaja. Profesionalisme menuntutku untuk kembali bertemu Adian Hutama. Bertemu dengannya di meja operasi. Karena laki-laki itu hampir meregang nyawa akibat kecelakaan yang di alaminya. Sebenarnya bertemu dengan Mas Adyan tidak harus jadi masalah, tapi bertemu dengan keluarga yang sudah menyakitiku, rasa itu terlalu menyakitkan. Mereka sudah memisahkan cinta dua anak manusia yang tulus, hanya karena aku, seorang yang menurut mereka tidak selevel masuk ke keluarga Hutama. Anak yang baru lulus SMA, keluarganya sudah tiada karena kecelakaan, masuk ke keluarga Hutama adalah sesuatu yang tidak punya harga diri. Tapi Pangeran dari keluarga Hutama itu begitu gigih memperjuangkan cintanya, meski belum satu tahun menjalani biduk rumah tangga, pernikahan kami sudah dihempas badai tornado karena rekayasa sang nyonya besar Hutama yang tidak rela punya menantu miskin dan tak jelas seperti aku.

Adyan mengalah pada ibunya, karena tidak rela melihatku terus-terusan di sakiti oleh ibunya. Apalagi ancaman sang Nyonya besar pada anaknya semakin di luar kewarasan. Konfrotasi dan konflik membuat hubungan anak dan ibu jadi tidak sehat. Dan menurutku hal gila jika harus bertahan, dengan terus menerus menyaksikan anak melawan ibunya. Mas Adyan meminta maaf jika tidak bisa bertahan di pernikahan yang sudah pernah kami bina. Aku mendapat kabar terakhir kalau Mas Adyan menikah dengan wanita yang sudah di pilihkan oleh ibunya. Tentu saja wanita tersebut berasal dari kalangan atas layaknya keluarga Hutama. Bukan sepertiku yang terlalu memaksakan diri dan tak tahu malu untuk bisa masuk ke keluarga mereka. Sangat bermimpi jika bisa di terima dengan sangat layak sebagai menantu.

Nyonya Hutama tampak terkejut saat aku ikut terlibat dalam menangani putra kesayangannya di meja operasi. Mungkin dia tidak menyangka gadis tolol dan bodoh yang selalu dikatakannya dulu jika sedang menghina, dan sudah di buangnya dengan cara menyedihkan, kini menjadi dokter spesialis yang merawat putra kesayangannya. Sepuluh tahun waktu yang cukup lama untuk mengubah jalan hidup yang sudah Allah takdirkan. Satu hal yang dia lupa, bahwa masa depan bukan milik sikaya, tapi Allah lah yang menentukan takdir baik atau buruk seseorang.

"Aqella…kamu…" tampak wanita itu tidak percaya melihatku dengan seragam putih-putih kebesaranku saat keluar dari ruang operasi.

"Bagaimana keadaan putraku?" tanyanya penuh kecemasan.

"Alhamdulillah cukup baik. Pak Adyan sudah berhasil melewati masa keritisnya Nyonya, dan sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan."

"Terimakasih sudah menyelamatkan putraku."

Aku hanya tersenyum tipis, tidak berniat untuk memperpanjang pembicaraan dengan wanita sombong itu. Masih ada rasa sakit yang tak bisa ku enyahkan kala melihat mantan mama mertua yang jahat saat dulu memperlakukanku dengan semena-mena. Tampak keluarga Mas Adyan hadir di ruang tunggu. Ayah, lelaki yang dulu selalu membelaku dari hinaan istrinya. Mas Farhan, Mbak Tisa dan si bungsu Adzwar. Mereka semua terlihat terkejut melihatku, tapi aku berusaha bersikap biasa saja seolah segalanya yang pernah terjadi di masa lalu tidak terjadi. Anggap saja begitu. 10 tahun waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan hati yang patah. Dan bersikap manis dan beramah-tamah sungguh itu bukan gayaku si wanita es yang susah untuk di cairkan. Perjalanan luka dan kehilangan mengajarkan aku untuk membangun benteng yang kuat dan tidak percaya pada sipapun. Aku hanya mengangguk, sebagai sikap dari kesopanan yang tetap harus aku jaga. Setelah itu berlalu, masa shift kerjaku sudah berakhir. Dan jiwaku terasa letih ingin segera di rebahkan di tempat tidur yang nyaman.

***
Ku kemudikan Fortunerku dengan pikiran berkecamuk. Sungguh pertemuanku dengan Mas Adyan cukup mengguncang jiwaku. Dia adalah suami terbaik yang menyerah karena tidak tahan dengan sikap ibunya yang terlalu ikut medominasi pernikahan kami. Seharusnya dari sejak awal aku memang menyerah ketika Mas Adyan yang menawarkan pernikahan. Karena kami tidak sekufu. Dan akan sangat susah berjuang dalam pernikahan ketika restu orang tua tidak di miliki. Aku anak yatim-piatu. Ayah dan Ibuku meninggal dalam kecelakaan, dan harta peninggalan ayah yang harusnya menjadi warisanku semua di kuasai adiknya ayah yang serakah. Jadilah aku si miskin yang bernasib malang. Dan ketika ada seorang pangeran datang berniat mempersuntingku, aku ibarat itik si buruk rupa yang berharap mendapat cinta pangeran untuk mengubah nasib burukku. Tentu saja pikiran itu terjadi saat masih lugu. Sekarang ketika otaku sudah waras, mana ada seorang pangeran yang hidup dalam didikan istana kemewahan, keluarganya mau menerima itik buruk rupa. Catat, itu hanya terjadi di kisah Cinderella dan sinetron atau novel romantis yang minim konflik.

Dan perlu di ingat bahwa dalam berumah tangga yang harus di waspadai bukan hanya pelakor. Tapi Orangtua yang ikut campur dalam pernikahan anaknya. Mertua, Kakak ipar serta adik ipar juga bisa menjadi bagian di dalamnya, menjadi orang ketiga yang akan membuat rumah tangga karam jika tidak kuat. Rumah tangga yang sehat adalah menjauh sejauh-jauhnya dari sumber masalah itu. Sayangnya itu yang tidak bisa di lakukan Mas Adyan, si anak mami yang membuat aku harus tinggal dalam keluarganya, yang hari-hariku adalah babu rumah tangga dalam titah mertua. Dan bersyukurnya ini hanya berlangsung 1 tahun saja, Mas Adyan menyerah dan akupun menyerah. Dan nasib baik Tuhan masih sangat menyayangiku dengan mengirimkan seorang kakak angkat yang ingin balas budi pada kebaikan keluargaku dengan membawaku dari lingkaran neraku menuju kehidupan yang lebih baik.

Sungguh pertemuan tadi membangunkan jiwa implusifku. Seperti slide yang di putar ulang, memory kelam itu muncul. Semoga aku bisa kuat menjalani hari esok. Pertemuanku dengan Mas Adyan dan keluarganya masih menyisakan hari esok. Karena aku dokter yang di tugaskan untuk merawatnya. Entah ini takdir baik atau buruk. Yang jelas aku tidak ingin lagi berurusan dengan mereka selain menyangkut profesionalisme kerja. Cukup aku di rendahkan satu kali oleh mereka yang tidak bisa menghargai manusia-manusia yang tidak selevel dengannya. Keluarga hedonis yang sangat menuhankan harta. ***

Palace of Heaven # Part 1

Ayesa terlihat bahagia sekali hari ini. Senyum di wajah manisnya terus ia perlihatkan pada teman-teman yang berpapasan dengannya. Siapa yang tidak bahagia jika impian menempuh pendidikan ke negri yang di impikannya melalui jalur beasiswa di terima. Setelah lulus dari sarjana dia berencana untuk melanjutkan masternya di YALE. Gadis itu sudah tidak sabar untuk sampai rumah dan menyampaikan berita terbaiknya pada Papa, laki-laki yang di sangat di cintainya, orang tua satu-satunya yang masih dia miliki. Setelah mama meninggalkannya tanpa jejak dari 10 tahun yang lalu.

Hari ini dia dengan sengaja menolak tawaran teman-temannya agar bisa secepatnya sampai rumah dan bisa segera menyampaikan berita bahagia ini secepatnya pada Papa. Rasanya kurang afdhol jika berita sebahagia ini di sampaikan lewat pesan elektronik. Harus di akui bagi Ayesa hanya Papa teman curhat ternyamannya di banding sama yang lain. Tidak sama Aa Hamzah atau Teh Fira kedua kakaknya.

Papa pasti bangga jika putri bungsunya bisa mewujudkan mimpi-mimpinya. Karena Ayesa bisa meraih apa yang di inginkan adalah berkat do'a dan motivasi Papa, lelaki terbaik bagi anak-anaknya.

Ayesa dengan langkah sedikit tergesa berjalan menuju tempat parkir motornya. Kebahagiaan yang membuncah membuat ia tak sabar ingin sampai di rumah. Hari ini ia berjanji akan mentraktir Papa makan di tempat yang oke sebagai bagian dari rasa syukur atas keinginannya terkabul.

Dalam jarak tempuh dua puluh menit akhirnya motor yang di kendarai Ayesha sampai di rumah. Tapi gadis itu sedikit terkejut ketika ada mobil Honda Jazz terpakir di halaman rumahnya. Siapa yang bertamu, pikirnya. Gadis itu dengan sedikit rasa penasaran berjalan menuju teras rumah dan mengucapkan salam.

"Assalamu'alaikum…"

"Wa'alaikum Sallam…" jawab dua orang laki-laki berbarengan. Sambil memandang kearahnya dengan pandangan yang berbeda.

"Kamu sudah datang Dek, sini duduk bareng Papa. Ini Bang Aryan, katanya ada keperluan sama adek." ujar Papa sambil menyuruh putrinya duduk di dekatnya.

Degg…! Jantung Ayesha lemas demi mendengar kata Aryan. Ada sekelumit kisah yang tidak ingin di ulang. Tapi kenapa orang ini masih juga datang.
Ayesha mengangguk, dan mematuhi perintah Papa.

"Bang Aryan ini baru pulang dari Perth dan langsung datang kemari…" ujar Papa menjeda kalimatnya sesaat menatap raut wajah putrinya yang nampak terlihat gelisah.
"Kedatangannya tidak lain ingin memiliki hubungan baik dengan keluarga kita, yaitu dengan memintamu menjadi istrinya." Lanjut Papa.

Jantung Ayesha langsung lemas mendengar lanjutan kata-kata Papa. Sudah di duga jika Bang Aryan tidak akan menyerah. Dan ini adalah permintaan yang ketiga kali. Bukan…bukan tidak mau menikah dengan laki-laki seusia abangnya. Tapi Ayesha gadis yang memiliki mimpi besar. Dan usia dia masih muda, menurutnya. Sedang Bang Aryan adalah laki-laki yang harus segera menikah, hanya karena dia menyukai Ayesha membuat Bang Aryan tidak mau menikah dengan siapapun kecuali dengan dirinya.

Saat tamat SMU, Bang Aryan pernah memintanya pada Papa bahwa dirinya berniat menikahi Ayesha, tapi waktu itu Papa menolak dengan alasan Ayesha masih terlalu muda dan Ayesha juga belum berniat untuk hidup berumah tangga. Dan yang kedua ketika Ayesha berada di semester lima, saat itu dirinya dengan halus menolak karena belum masih ingin fokus kuliah. Laki-laki itu memang tidak mengajaknya berpacaran karena dia adalah lelaki yang sangat baik agamaNya begitu kata Aa Hamzah.

Sebenarnya tidak ada yang mengecewakan dari Bang Ary ini. Dia baik, secara fisik juga cukup menarik dan sudah mapan. Masalahnya cuma ada satu, Ayesha belum ingin menikah. Dan menolak kesungguhan seorang laki-laki yang datang pada ayahnya untuk ketiga kalinya, rasanya berat. Dan Ayesha pernah membaca hadist Rasulullah :

ﺇﺫﺍ ﺟﺎﺀﻛﻢ ﻣﻦ ﺗﺮﺿﻮﻥ ﺩﻳﻨﻪ ﻭﺧﻠﻘﻪ ﻓﺰﻭﺟﻮﻩ ﺇﻻ ﺗﻔﻌﻠﻮﻩ ﺗﻜﻦ ﻓﺘﻨﺔ
ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﻭﻓﺴﺎﺩ ﻛﺒﻴﺮ

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian
ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Dia juga tahu dari Aa Hamzah bagaimana perilaku Aryan selama bersahabat dengan abangnya tidak ada yang mengecewakan. Tapi menikah dengan melepaskan mimpi-mimpinya juga adalah sebuah kesalahan besar menurutnya.

"Bagaimana, Dek? Papa nggak bisa memutuskan secara sepihak untuk masalah yang menyangkut hidupmu di masa depan. Kamulah yang berhak memutuskannya."

Ayesha untuk sesaat terdiam. Sungguh ini adalah pilihan yang berat. Membuat dia merasa dilema. Dan dia menoleh ke arah Aryan yang menatapnya lekat membuat jantung Ayeha bedebar tak karuan.

"Papa, untuk masalah sepenting ini, adek belum bisa memutuskan dalam waktu yang cepat. Karena jujur adek bingung, di satu sisi adek masih punya mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Disaat menikah nanti, hal ini tentu ini tidak mudah. Menikah pasti ada hal yang harus di korbankan dan ada yang harus di prioritaskan. Dan memikul dua tanggung jawab secara bersamaan tentu tidak mudah."

Papa tersenyum sambil mengusap lembut jilbab putrinya penuh sayang.

"Papa tidak bakal menghalangi mimpi-mimpi adek, tapi tolong di pikirkan kembali niat baik Bang Aryan ini ya, sayang. Karena mencari pendampimg yang baik pun tidak mudah. Sedang Papa merasa cocok dengan karakter Bang Aryan jika jadi suamimu kelak." Ujar Papa lembut.

Ayesha semakin menenggalamkan wajahnya. Papa pun sangat ingin Bang Aryan jadi menantunya. Lalu bagaimana dengan hatinya yang masih bimbang?

"Bagaimana nak Ryan, apa masih siap menunggu keputusan Ayesha?" Tanya ayah lembut.

"Insyaallah saya siap Pah. Dan jika nanti saya menjadi suami Ayesha, saya akan menjadi suami yang selalu mendukung impiannya. Saya bukan laki-laki kolot yang akan mengekang istri di rumah. Pendidikan, karier dan aktualisasi diri, selama hal itu tidak mengesampingkan fitrahnya sebagai istri dan ummu warobatul bait maka saya tidak akan melarang." ujarnya tenang.

"Alhamdulillah Papa senang mendengar kata-katamu nak, semoga jika nanti berjodoh dengan putri Papa, engkau akan menjaga mutiara Papa dengan sebaik-baiknya."

"Amiin…" jawab Aryan. Sedang Ayesha mengamininya dalam hati setelah itu dia undur diri pamit menuju kamarnya.

Ayesha kembali memikirkan tawaran dari kampus dan Bang Aryan, sungguh ini membuatnya bingung. Keinginan menikah dalam waktu dekat belum ada sama sekali. Ayesha pikir, Bang Aryan akan mundur dengan penolakan kedunya dulu. Tapi sungguh dia bukan laki-laki yang pantang menyerah jika keinginannya belum tercapai. Dan ini membuat Ayesha takut. Takut jika dia membuang mimpinya akan seperti ini, dan takut jika menerima pernikahan akan seperti ini. Ah, kenapa hidupnya jadi serumit ini. Andai Bang Aryan mrnyerah, tentu dirinya tidak akan pusing seperti ini. Dan Ayesha jadi teringat awal pertemuan dengan Bang Ary dulu. ***


Pemimpin Dunia Bungkam dengan Permasalahan Uigur

Diskrimasi China terhadap muslim Uighur sudah di luar batas kemanusiaan. Satu juta Muslim Uighur disekap di sebuah kamp-kamp khusus itu yang terjadi pada bulan Agustus dengan dalih untuk memerangi ektrimisme. Muslim Uighur juga di paksa untuk ikut partai komunis China. Kemana para pemimpin dunia muslim? Mereka mendadak bungkam.

Muslim Uighur merupakan etnis minoritas muslim yang bertempat tinggal di provinsi Xinjiang,China. Mereka membentuk sekitar 45 persen dari populasi warga di sana. Muslim Uighur adalah etnis keturunan Turki yang menjadi warga kelas dua di negaranya sendiri. Hanya karena mereka menjadi muslim minoritas di negara pengusung komunis.

Kebebasan beribadah di Uighur adalah hal yang teramat sulit. Larangan berpuasa, salat dan menampilkan atribut-atribut keislaman adalah sesuatu yang sering terjadi. Namun muslim Uighur lebih takut pada Tuhannya di bandingkan tekanan dan siksaan pemerintah. Sangat berat sekali tantangan menjadi muslim Uigur di bawah tekanan rezim komunis China.
‘Menurut laporan dari pengamat HAM, Mereka di perlakukan secara tidak manusiawi. Setelah di kirim ke pusat penahanan, mereka di pakasa untuk mematuhi propaganda Partai Komunis. Muslim Uighur ini diperintahkan menyanyian lagu-lagu kebangsaan dan slogan komunis. Mereka juga diwajibkan menghadiri sesi cuci otak setiap hari. Jika gagal mematuhinya, mereka disiksa dengan berbagai metode seperti dilarang tidur, dikurung diruang isolasi, hingga berbagai penyikasaan fisik lain.’ Dikutip dari Merdeka.com
Dan muslim Uigur juga di perlakukan sebagai musuh negara karena identitas agama mereka yang muslim. Mereka di perlakukan secara tidak manusiawi. Dan sangat menyedihkannya permasalahan Uighur ini tidak memicu kemarahan dunia secara global kendatipun ada hanya sampai pada tahap kritik belum ada tindakan lain. Bahkan pemimpin dunia Islam di buat bungkam. Seperti halnya dengan pemimpin Indonesia yang tidak bisa berkutik untuk menyuarakan kedzaliman China terhadap muslim Uighur.
Bungkamnya pemimpin Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar di dunia cukup menjengkelkan. Pengaruh besar China terhadap Indonesia memang tidak diragukan lagi. Terutama banyaknya hutang Indonesia terhadap China membuat negeri ini tidak bisa berkutik. Hingga akhirnya tidak mampu menyuarakan kekejaman yang di lakukan pemerintah China yang telah melaukan kejahatan kemanusiaan yaitu melakukan pelanggaran HAM.

Dan diamnya dunia Islam karena China telah menjadi mitra dagang utama setiap negara mayoritas muslim. Banyak dari negara muslim tersebut adalah anggota Bank Investasi Infrastruktur Asia yag di pimpin oleh China atau berpastisipasi dalam Insiatif Sabuk dan Jalan China. Untuk Asia Selatan ada investasi Infra struktur.

Sedang untuk Asia Tenggara China adalah pasar utama komoditas kelapa sawit dan batu bara. Sedang untuk Timur Tengah mendapat keuntungan dari China karena China adalah importir terbesar minyak dunia dan penggunaan gas alamnya meningkat pesat. Sehingga banyak negara di timur tengah yang memiliki ketergantungan ekonomi pada China. Maka adalah sesuatu hal yang sangat wajar jika para pemimpin muslim bungkam. Jika mereka mengotak-atik masalah Uighur otomatis hubungan positif mereka dengan China akan ternodai. Jadi diam adalah cara terbaik di banding mengurus pelanggaran HAM yang terjadi di Uighur. Yang terpenting simbiosis mutualisme diantara para pemimpin Negara muslim dengan China tetap terjaga.

Fakta sejarah yang tidak bisa di sembunyikan di saat umat islam berhasil menguasai dunia maka agama-agama lain di biarkan hidup dengan bebas dan aman. Mereka juga mendapat tempat istimewa di bidang pemerintahan, seperti halnya yang pernah terjadi di masa Bani Umayah. Selama satu abad kementrian keuangan di pegang secara turun-temurun oleh keluarga Kristen.
Tapi, ketika non muslim berkuasa – maka selain agama yang berkuasa,agama Islam akan habis di tumpas. Bahkan terjadi genocide atau killing field. Seperti yang pernah terjadi di Spanyol, ketika kejayaan Islam di Andalusia jatuh di kalahkan raja Ferdinad dan Isabella. Maka pembunuhan, kristenisasi atau Evakuasi. Sedangkan islam adalah agama kemanusiaan yang sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat manusi tanpa membedakan bangsa, agama, atau warna.

Dalam islam menjaga wilayah kaum muslimin adalah suatu kewajiban baik dari ganguan internal maupun eksternal.Hal ini berkaitan dengan keselamatan jiwa, harta dan kehormatan kaum muslimin.
Imam haramain Al-Juwaini berkata, “Perhatian imam dalam menjaga perbatasan negeri kaum muslimin adalah hal yang penting, yaitu dengan menjaga benteng-benteng, memenuhinya dengan bahan makanan dan persediaan air, membangun parit, perlengkapan perang dan peralatan untuk bertahan dan menyerang, dan hal ini menuntut adanya para pasukan yang menjaga setiap perbatasan.” (Giyatsul Umam, hal 156)
Hanya islam ajaran yang penuh dengan toleransi dan sangat menghargai pemeluk-pemeluk agama lainnya. Tidak diskriminatif dan tidak membeda-bedakan. Hal ini menunjukan bahwa islam adalah agama yang cinta akan kedamaian. Ajarannya bersifat universal untuk seluruh umat manusia. Sangat berbeda ketika non-Muslim menjadi mayoritas. Umat islam selalu mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dan refresif [] opini ini pernah diterbitkan di Media Oposisi