Subscribe Us

SANG NAHKODA

SANG NAHKODA
Kamu telah gagal! Mungkin itu vonis sinis untuk dirinya saat ini,nyeri menyentak nuraninya . Salah siapakah ini? Dirinya? Tentu saja bukan,karena dia cukup getol menyuarakan tentang hakikat kehidupan.
Isye hamil diluar nikah, Mas Farhan masuk penjara karena terlibat penjualan narkotika, Mbak Sarah menikah dengan lelaki berbeda agama dan Mama stres sehingga harus dirawat di Rumah sakit jiwa.
Ya Allah ujian ini begitu bertubi menghantam pelayaranya dan menenggelamkan satu persatu pernumpangnya.
Pemuda itu ingin menjerit tapi tidak bisa. Dirinya sudah berusaha keras membawa penumpangnya untuk mengingat Allah dan menjadikan pelayaran ini selamat di dermaga Jannah Nya, tapi Allahlah maha pembolak-balik hati manusia. Dan seperti mutiara Iman miliknya Raihan bahwa iman tidak bisa diwarisi dari seorang Ayah ya ng bertakwa. Apalah dirinya dimata kerluarganya,dia seorang anak di mata Mama,Kakak buat Isye dan adik buat Mbak Sarah dan Mas Farhan. Dan dari dulu dirinya paling di benci oleh kedua kakak dan juga adiknya itu,kini jadi kebencian masyrakat karena dirinya telah jadi Da’i yang gagal.
“Di keluarga sendiri juga kau sudah tidak bisa jadi Da’i apalalagi di masyrakat.” Ujar Pak Tejo beberapa hari yang lalu saat dirinya selesai mengisi kajian Ibu-ibu.
Anak-anak yang mengaji pada dirinya satu persatu pada keluar , majlis taklim yang dibinanya hanya menyisakan sedikit orang yang masih setia mendengarkan ceramahnya,sekarang dimana-mana dirinya jadi ocehan orang.
Yudi memejamkan matanya perih. Ya Allah begitu kotornya aku dihadapan Mu,sehingga Engkau perlihatkan semua kuasa Mu. Andai aku terlahir dari keluarga yang paham agama mungkin kejadiannya tidak akan berakhir seperti ini,rahuk Yudi dalam bentangan sajadah birunya.
Laki-laki itu mulai dihinggapi rasa putus asa. Dia merasa malu,malu pada dirinya sendiri yang gagal menahkodai pelayarannya menuju nahkoda impian.
“Setiap orang punya jalan hidup masing-masing Yud,sehebat apapun usaha kita mengajak orang-orang yang kita cintai pada kebenaran,kita tidak akan bisa jika hidayah belum hinggap di hati mereka,” ujar Farhan menenangkan hati sahabatnya.
“Han,bukankah Allah sudah berfirman dalam ayatnya’ ku anfusakum wa ahlikum naro’ jagalah keluargamu dari api neraka. Aku sudah berusaha menjaga mereka dengan mengenalkan kebenaran,tapi inikah kenyataan yang harus kudapatkan?”
“Kamu lupa Yud, Ibrahim sang Rasulpun tidak mampu membawa Ayahnya beriman pada Allah. Nabi Nuh yang yang sabar dalam perjuangan dakwah tapi anaknya sendiri jadi pembangkang begitupun dengan Nabi Luth dan Rasulullah sendiri pun mengalaminya tidak mampu membawa pamannya menjadi pemeluk agama Nya. Apakah para Rasul itu tidak berusaha? Mungkin kerja keras mereka melebihi kita sebagai manusia biasa. Tapi hidayah milik Allah Yud,kita hanya mampu jadi perantara.”
“Jadi aku harus bagaimana Han,sementara orang-orang sudah tidak percaya lagi padaku.”
“Sabar Yud,masih ada mentari untuk hari esok. Itu artinya masih ada harapan untuk menebar benih kebaikan,jangan berputus asa dalam menyampaikan dakwah. Setiap orang punya masa lalu,hanya orang picik saja yang tidak mau mengakuinya. Dan ini juga termasuk ujian buat kamu,” jelas Farhan sambil membacakan surat Al- Ankabut ayat ke dua,bahwa cobaan itu adalah ukuran bagi sempurna atau tidaknya Iman seseorang.
Yudi menggigit bibirnya perih.
Salahkah aku Ya Allah,jika aku yang hina ini ingin menyelamatkan keluargaku dari badai dunia yang hampir karam. Dan apakah aku juga salah ingin menahkodai pelayaran ini bersama keluargaku disaat perahu ini hampir tenggelam atau aku memang bukan seorang nahkoda yang handal sehingga satu persatu penumpangnya mulai tenggelam.
Akhirnya Yudi terisak sendiri menangisi pelayarannya yang gagal. Ddapat cibiran sinis dari lingkungan sekitar,nyeri merobek hatinya. Dia memang lahir dan besar bukan dari keluarga yang taat pada agama,bisa dikatakan gersang. Namun hidayah milik Allah,dan saat hidayah itu hinggap dia tidak ingin menyia-nyiakannya. Salahkah jika dia ingin membagi nilai sebuah hidayah itu pada orang-orang yang belum merasakannya?
“Bangkitlah Yud,setiap orang pernah merasakan kegagalan,namun kegagalan bukan untuk diratapi karena itu sama artinya dengan membiarkan dirimu diinjak-injak keterpurukan dan membiarkan orang-orang semakin bahagia melihatmu menderita.” Nasehat Farhan.
“Mungkin selama ini aku kurang ikhlas melakukasnnya,” vonis Yudi pada dirinya.
“Mari kita bangkit Yud,singsingkan baju kita untuk kembali memulai langkah. Niatkan karena Allah dan barengi dengan hati yang ikhlas. Insya Allah masih ada kesempatan tuk meniti tangga dakwah selama ajal belum datang.” Farhan tak bosan menyemangati sahabatnya agar tetap semangat berjalan di jalan dakwah meski penuh kerikil-kerikil tajam.
Yudi mengangguk.
“Ingat Yud,di jalan yang mulus pun mobil yang di kendarai bisa terjadi kecelakaan,apalagi ini jalan dakwah penuh onak dan duri tapi Allah sudah mempersiapkan pahala ke ikhlasan kita menyeru ummat.
“Thanks Han, untuk sebuah motivasi dan advisenya. Aku tak akan membiarkan diriku dan keluargaku semakin terpuruk kedalam lembah dosa yang lebih dalam lagi. Masih ada kesempatan untuk menyelamatkan keluargaku,” ujarnya optimis.
“Nah gitu dong,aku suka Yudi yang dulu penuh ghiroh saat meniti jalan dakwah,” farhan menepuk-nepuk pundak sahabatnya.
***
Yudi berusaha bekerja keras mendekati keluarganya dengan cinta,kasih sayang juga perhatiaan. Dia bertekad membawa penumpangnya kembali menaiki pelayarannya.
Masih ada kesempatan dalam menahkodai pelayaran dunia ini,agar mereka menjadi penumpang yang cinta pada Allah selama pelayaran itu belum sampai di dermaga maut.

(TAMAT)

0 Comments:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini