Subscribe Us

[NOVEL] MERAJUT BENING CINTA # 4

Hup..... gahar banget.
Mereka pasti akan sibuk kalau albumnya sudah keluar. Tour ke kota-kota, road show mengisi acara di tv dan radio. Pokonya super sibuk dengan nama yang semakin beken dan gosip-gosip akan mewarnai hidupnya inilah konsekuensi sebagai penyayi, jadi Yoga akan semakin lupa dengan keberadaan orang dirumah.
****
Papa tidak bisa berkutik saat Santi menceritakan kekerasan Yoga, dan Papa selalu mementingkan dirinya sendiri.
“Papa pikir aku bahagia”  timpal Mbak Sarah. “Papa lihat Danu yang jadi korban. Pemaksaan itu sakit Pa.... sakit...”  ujar Mbak Sarah perih kini ia sudah berani berbicara dengan Papa.
“ Maafkan Papa, Papa memang egois” ujar Papa sendu.
Mbak Sarah dan Santi saling pandang, untuk pertama kalinya Papa mau mengakui kesalahannya.
“ Papa pikir kalian bahagia, menikah dengan orang kaya yang masa depannya tentu akan lebih baik. Kalian tidak akan melarat seperti papa dan mama kalian dulu pertama menikah.
“ kehidupan yang bahagia bukan terletak pada harta, Pa... tapi dari cara kita memandangnya.” Tegas mbak Sarah.
Laki-laki paruh baya itu menarik napas dalam. Matanya menerawang memandang langit-langit.
“ Lantas apa yang kamu inginkan Santi? Bercerai dengan Yoga?  Papa harap hal itu tidak terjadi. Papa akan malu dengan keluarga pak Subroto, dia sangat ingin sekali punya menantu seperti kamu. Cobalah pertimbangkan dengan bijak.”
Santi diam. Rasanya, ah.... apakah aku akan mampu menghadapi kekerasan dan ketenaran Yoga, Santi membatin. Mempunyai suami seorang pemusik, tapi aku harus bisa bertahan bukankah dengan perhatian dan cinta semuanya bisa berubah.
“Akan aku usahakan Pa.” ujar Santi pelan meskipun rasa gamang mendera jiwanya.
“Pulanglah Santi, tidak baik lama-lama disini, karena sekarang kamu sudah punya suami. Papa harap rumah tangga kalian bakal bahagia.” Ucap Papa penuh harap.
Hampir satu mingggu Santi dirumah orang tuanya dan Yoga tak pernah sekalipun menelponnya tapi sebuah kewajiban menuntunnya untuk pulang. Bersyukur dia telah menyelesaikan novelnya dengan judul yang berbeda ‘Kasih dalam penantian’ hampir mirip dengan kisah hidupnya. Tapi berakhir dengan tragis meskipun sempat ada masa-masa yang romantis. Tania peran utama dalam novelnya meninggal karena kangker rahim yang di deritanya. Dani begitu terpukul dengan kematian Tania, kenapa masa bahagia itu harus berjalan sebentar. Sesaat mengecap kemanisan, sesudah itu tumpah menyisakan sedih, luka dan cinta.
****
“Santi, kamu tahu suamiku sangat suka dengan novel hadiah dari kamu itu, seperti kisah nyata ada kepedihan di sana, dia sempat berkaca-kaca dan aku juga. Kamu tahu San? Aku menangis, cengeng banget ya, San?  Tapi kamu berhasil mengaduk emosi pembaca.” Ujar Rena lewat telepon setelah seminggu selesai pernikahannya.
“Terimakasih atas pujiannya Ren, bikin hatiku melambung he..he...”
“Jangan-jangan itu kisah hidupmu sendiri San?”
“ Bukan dong, itu cuma rekaan tapi pinter-pinternya aku mengaduk emosi pembaca.”
“Huuh.... narsis, tapi boleh juga diajuin keperbit San. Aku bakal jadi pembeli yang pertama lho dan siapa tahu kebanjiran royalti.”
“ Sudah aku kirimin, mudah-mudahan  diterima ya Ren?”
“ Amien... sudah dulu ya San, tuh mas Amri memanggilku.” Tut..tut... suara telpon di tutup.
Santi menarik nafas, Rena tentu sangat bahagia dengan pernikahannya, dia sendiri merasa gamang dengan istana yang bakal dibangun bersama Yoga, Santi mengigit bibirnya sambil menyederkan tubuhnya ke dinding. Ya Allah berikan aku ketabahan untuk menghadapinya.
****
Supraise hari ini Santi kedatangan mertuanya pak Subroto dan Bu Subroto serta adiknya mas Yoga, Hardian. Mereka sangat baik dan perhatian, disatu sisi Santi ingin segera menghindar dari Yoga namun sikap perhatian keluarganya membuat dia bertahan. Karena keinginan orangtuanyalah mengambil istri untuk anaknya, supaya Yoga sedikit-sedikit dapat berubah.
“Jadi hari minggu begini suamimu tidak ada dirumah?” Tanya bu Subroto prihatin apalagi melihat tubuh menantunya yang kurusan dengan mata cekung. Dia sudah bisa menebak kalau menantunya itu tersiksa walaupun Santi tidak cerita.
            Santi menarik nafas berat meski dia tidak ingin kelihatan begitu sedih didepan mertuanya.
            “ Mas Yoga sibuk untuk merintis album pertamanya”
            “ Ya ampun jadi anak itu masih memimpikan jadi penyayi juga?” Bu Subroto kelihatan kesal.
  Bagaimana rumah tangga kalian? Bapak sudah tak sabar lagi menimang cucu dari kamu dan Yoga” ujar pak Subroto.
“ Baik-baik saja pak.”
“ Sebaiknya rumah ini ada pembantu biar Santi tidak terlalu capek dan jagan terlalu banyak pikiran” timpal Bu Subroto.
“ Hardian juga udah kangen ingin gendong ponakan” ujar cowok yang baru kuliah semester dua. Hardian sangat jauh dengan kakanya, dia sangat lembut dan penurut.
Santi tersenyum mendengar komentar keluarga suaminya.
Tiga jam berselang, Yoga datang, sikapnya begitu manis berbeda kalau tidak ada orangtuanya.
“ Istrimu itu jangan terlalu capek Ga, biar cepat hamil dan kamu jangan musik terus yag diurusin, istrimu juga kan butuh perhatian” ujar Bu Subroto.
“ Yoga juga pingin cepet-cepet jadi ayah, Bu. Kan kalau udah punya anak pulang ada yang nyambut, gitu kan San?” Yoga mengerling manis pada Santi.
Santi tersenyum manis meski hatinya perih. Laki-laki itu begitu pandai bersandiwara. Ya Allah mudah-mudahan saja dia tidak sedang bersandiwara. Di depan orang tuanya Yoga bersikap sempurna, menjelma menjadi seorang suami yang romantis, perhatian dia bahkan tidak segan-segan turun kedapur memasak, untuk makan malam keluarganya.
“ Gimana Sup lobster jamurnya enak kan?” Yoga melirik Santi.
“Ehm... enak,” Jawab Santi agak kaku, memang rasa masakan itu sangat lezat di lidahnya. “ Mas Yoga pinter masak juga ya?” Santi berusaha mencairkan suasana didepan keluarganya.
“ Kebetulan waktu di Boston aku sering belajar masak pada temanku dari jepang.”
“ Wah, kalau masak setiap hari gini romantis banget,ya Mas?” Goda Hardian.
“ Tentu, iya kan say?” Yoga memegang tangan istrinya lembut. Wajah Santi tiba-tiba memerah namun hatinya tiba-tiba merasa muak dengan sandiwara yang sedang dilakukan Yoga.
“ Aku jadi kepengen nikah cepet-cepet,” ujar Hardian lagi. “Tapi istrinya pengen kayak mbak Santi” tambah cowok itu.
Percakapan berjalan dengan lancar seperti tidak terjadi apa-apa. Andai begini selamanya, ah.... tentu bahagia, tapi mungkinkah? Batin Santi ragu.
****
“ Kamu ngomong apa saja sama ayah dan ibu selama aku ngak ada?” Tatap Yoga tajam kembali kesikap aslinya setelah orangtuanya pergi.
“ Aku ngak ngomong apa-apa Mas”, Santi berusaha bersikap tenang.
“ Alaah.. jangan bohong, kamu pasti ngadu. Perempuan dimana-mana juga bisanya cuma ngadu.” Yoga masih tetep ngotot.
“Maaf, aku bukan perempuan yang secengeng mas kira, sehingga harus ngadu pada oranag tua”. Ucap Santi pelan dan segera menghindar dari hadapan cowok itu.
“Awas ya kalau kamu ngadu pada ayah dan ibuku, kamu bakal tau rasa!” Ancam Yoga.
Santi tersenyum dalam hatinya, ternyata laki-laki itu penakut juga.
Suara dering Hp Yoga berdering, cowok itu segera merongoh sakunya SMS dari temannya di studio. Setelah membaca isi pesan itu, Yoga berlari kekamarnya dan segera memasukan baju-bajunya keransel lalu keluar menemui Santi.
“ Aku pergi, tidak tau entah kapan pulang. Kamu jangan coba-coba menghubungiku.
“ Pergi kemana, mas?”
“ Perempuan tidak perlu tahu.”
Santi menelan ludah pahit hatinya teriris pedih tapi ia hanya bisa pasrah.
“Hati-hati ya mas.” Ia mengantarkan kedepan sambil memperhatikan mobil lelaki itu pergi meninggalkan pekarangan rumah.

0 Comments:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini