Subscribe Us

ANTARA SENIOR DAN JUNIOR



Uh,hari ini sebenarnya Icha males banget pergi ke sekolah barunya. Hari ini adalah hari ketiga Icha ikutan tradisi ospek yang bikin dia sebel setengah mati harus ngadepin kakak-kakak senior yang jual tampang menyebalkan dan sok aksi. Banyak aturan yang di terapkan mereka dan di suruh membawa barang yang aneh-aneh bikin kantong cekak lagi. Kalau tahu gini mending ngulang lagi ke SMP tapi ia pasti akan di ledek habis-habisan jadi siswa abadi berbaju biru.
Hari ini Icha di suruh kakak seniornya membawa pulau Ikan maksudnya peyek ikan, bawa biji kacang ijo seratus biji ,korek api cap Mak lampir dan pisang raja kembar siam dll. Bikin icha bete asli kayaknya lebih asik lagi ngulang ke TK. Dua hari kemarin ia paling getol banget kena hukuman karena bawaanya nggak pernah lengkap dan ia juga paling sering banget melawan kakak senior. Kalau bisa Icha pengen ngajuin ke Departemen Pendidikan kalau teradisi kayak ginian itu di hapus aja, nggak mendidik. Ganti saja dengan yang lebih elit serta mendidik.
Kali ini Icha datang kesiangan sampai di sekolah,karena tadi Icha harus mengerjakan pekerjaan rumah dulu. Selama mama masuk rumah sakit karena kecapekan kerja, semua pekerjaan rumah ia yang mengerjakan.
“Hai Kaca mata kenapa kamu datang kesiangan? Nggak tau aturan sekolah !” bentak Kak Yuda senior kelas dua. Orangnya sih ganteng tapi sok galaknya bikin amit-amit.
“Aku datang kesiangan karena bantu orang tua dulu di rumah. Memasak,mencuci, sebangai anak yang baikkan  wajib mementingkan perintah. . .”
“Heh kamu ini Yunior! Jadi selama ospek ini kamu harus mematuhi perintah Senior,” bentak kak Yuda bikin Icha gondok.
“Kak,sekarang ini sudah Zaman  Demokrasi. Jadi teradisi Premanisme kayak begini udah nggak laku !” jawab Icha kesel
“Eh,kamu ini mau jadi sok pahlawan !” bentak Mbak Ita  yang setali tiga uang soal galaknya.
Jadi sok pahlawan lebih baik dari pada sok premanisme, batin Icha.  Kali ini ia nggak berani ngomong langsung takut senior didepannya meledak kayak bom.
“Sekarang hukuman buat keterlambatan kamu adalah merayu Kak Yuda dengan bahasa yang puitis!” suruh Mbak Ita bikin Icha sebel.
“Kalau saya nggak mau.” Jawab Icha cuek.
“Eh, kamu itu kalau disuruh senior nurut !” bentak Mbak Ita lagi .
“Maaf saja deh Mbak, saya ini orangnya nggak biasa begitu saja  patuh pada orang lain. Apalangi kalau alasannya nggak ilmiah kaya gini.” Ujarnya tanpa takut.
“Heh kamu ini  benar-benar pembangkang ya? !” Mbak Ita mulai kesal dengan yuniornya yang bandel.
“Dan Kakak-kakak yang merasa senior ini  tidak lebih sebagai Tirani !” balik Icha tanpa takut sedikitpun. Baginya  perbuatan kayak bengini harus dilawan. Jika dibiarkan begitu saja  berarti ikut berpartisipasi menyuburkan bibit-bibit premanisme tumbuh subur di negri ini. Tidak salah  kalau negri ini  tiap priodenya  menghasilkan pemimpin-pemimpin pengecut.
Kak Yuda juga ikutan kesal, baru kali ini ia nemuin siswa baru  yang nggak mempan di bentak-bentak.
“Sekarang kamu lari saja keliling lapangan sepuluh putaran. Setelah itu segera gabung dengan kelompokmu.!” Suruh Kak Yuda dengan paras tetap galak .
Untuk saat ini Icha terpaksa nurut. Baginya mendingan keliling lapangan dari pada harus merayu Kak Yuda. N’tar dia malah kegeeran lagi.
“Gila lu Cha, senior aja dilawan mana keren lagi. Kalau gue mending disuruh merayu aja. “ bisik Tita.
“Bisa-sisa dia kegeeran kalau gue merayunya. Lagian gue  nggak punya banget tampang merayu.” Jawabnya cuek.
“Sok cakep lu ! “  
“Emang dari sejak lahir gue udah cakep. Marsanda aja kalah sama gue.” Ujarnya pede. Tapi Icha emang cakep kok, apalagi kalau dia bisa lembut dikit.
“Ge-er banget lu !” Ledek Tita. “ Tapi ngomong-ngomong lu nggak jera tiap hari di hukum kakak senior.
‘Nggak lah, gue kan habis SMU mau masuk Hukum, jadi kudu dari sekarang melatih diri berjiwa baja dalam menentang ketidak adilan. Tapi lu juga harus tau setelah  gue pake baju putih abu-abu gue punya rencana untuk melakukan sesuatu.”
“Rencana apa Cha?”Tita jadi penasaran.
“Bikin balasan ngerjain itu senior.” Jawabnya kalem.
“Jadi ceritanya mau bales dendam?”
Icha mengangkat bahu acuh dan matanya mulai fokus kedepan  memperhatikan Dimas yang disuruh kedepan untuk menyanyikan lagu pelangi tapi harus dinyayikan dengan menggunakan akhiran hurup O
“Polongo-polongo… olokoh ondoh mo.  Moroh konong hojou do longot  yong boro. Polokosomo  Ogong… siopo gorongon . . .” ujarnya dengan mimik lucu  bikin suasana riuh tergelak-gelak  saat mendengarkan lagu yang dinyayikan Dimas. Saat jam istirahat tiba, lepas sesaat dari suasana yang bikin Icha bete gadis itu segera menggambungkan diri dengan teman-teman cowoknya sambil buka bekal yang dibawa dari rumah.
“Gila banget tuh nenek sihir , tiap hari dia pasti menghukum gue.” Keluh Dimas cowok yang bertampang Melayu.
“Sama gue aja bete ngadepin acara kayak gini. Kalau ditambah lagi  sampai sebulan acara MOS-nya, gue acak-acakan deh sekalian muka para senior yang sok aksi itu !” timpal Icha gemas.
“Kalau gitu kita harus bikin balesan.” Ujar Dimas.
“Emang gue juga mau bikin pembalasan.” Jawab Icha.
“Kalau gitu siiip deh.” Dimas mengangkat tangan kanannya dan begitupun dengan Icha mereka akan kompakan buat bikin pembalasan.                                                                   
Akhirnya hari-hari yang bikin bete itu lewat juga. Hari ini Icha sudah boleh pake baju abu-abu, serasa ia jadi lebih dewasa sekarang. Pagi-pagi Icha sudah menclek di sekolah barunya nyaingin satpam. Itu karena ada sesuatu yang mau dikerjakannya buat ngusilin pangeran kodok yang ngerasa sudah jadi senior.
Sampai di sekolah Icha nggak buru-buru masuk kekelasnya, tapi ia mejeng dulu didepan gerbang nunggu pangeran kodok itu datang sambil baca koran baru. Pangeran kodok yang ditunggunya datang juga setalah ditunggu hampir sepuluh menit. Icha menunggu sampai sasaranya lewat lebih dulu setelah lewat ia segera melipat koranya lalu menyusulnya dengan langkah tergesa. Akhirnya mereka tabrakan hingga buku Yuda berceceran.
“Eh,kamu tuh kalau jalan lihat-lihat dong! Pakai kaca mata tapi jalan serudukan !” semprot Yuda kesal.
“Huh segitu aja sewot. Pasti belum sarapan !” balas Icha tak kalah galak.
“Eh, kaca mata , kamu tuh jagan sok jadi murid baru deh! Baru pakai seragam baru aja sudah sok aksi !”
“Disitu tuh yang jangan sok jadi murid lama, hingga pakai semena-mena memperlakukan orang lain ! “ sengit Icha.
“Dengar ya kaca mata,aku tuh sebenarnya males baget ngeladenin kamu dipagi yang cerah ini . Hanya bikin . . .”
“ Apalagi aku , males banget  melihat orang marah-marah, cuma ngerusak pagi yang indah saja ! “  potong Icha setelah berbicara ia langsung tancap gas berlari menuju kelasnya.
“ Gimana Cha sudah berhasil belum ?” tanya Dimas setelah sampai dikelas .
“Baru pemanasan lu sendiri? “
“Sudah.” Jawab Dimas tanpa menjelaskan aksi balas dendamnya.
“ Cha itu senior bagian lu masuk kemari.” Ujar Dimas ribut .
“Tenang aja, paling dia mau jual tampang gorilanya.”  Sinis Icha.
“Selamat siang adik-adik. Maaf ya kakak mengganggu sebentar. Siapa dari kelas ini yang mau ikutan Eskul pramuka?” tanya Yuda dengan penuh wibawa.
“Nggaaaak. . .!’ jawab Icha kenceng dibales tawa temen sekelasnya.
 “Eh temen-temen ku yang ada dikelas ini, kalian nggak boleh ikutan itu Eskul. Anak Pramuka itu jarang mandi,nggak sehat. Gaya aja yang diduluin. Mendingan ikutan Rohis aja bareng aku. Kakak pembinanya pada keren dan cantik  sudah begitu mereka pada lembut-lembut. Dijamin kalian nggak bakalan sakit hati dibentak-bentak!” orasi Icha mempengaruhi teman sekelasnya bikin Yuda kesel sama si kaca mata yang punya nama lengkap Raisya Adwzar.
Yuda berusaha untuk tampil tenang didepan adik-adik kelasnya meskipun kesal setengah mati pada si kaca mata itu.
“Lu keterlaluan banget si Cha !’ protes Tita pada teman sebangkunya.
“Alah lu jangan sok bela dia deh ! Bagi gue orang kaya dia itu harus ditega-tegain. Kalau nggak dia bisa lebih tega ! Sok jadi senior.” Ujar Icha sinis. Kayaknya Icha masih dendam baget sama senior itu.
“Waktu itukan lagi Ospek dan acara seperti  udah tradisi.”
“Eh, Tita, denger ya, tradisi itu bukan Tuhan jadi untuk apa melestarikan tradisi yang nggak mendidik gitu kalau cuma nambah dosa aja! Gue lebih simpati sama anak rohis yang nggak banyak ikutan aksi kayak gini. Kalau bisa tahun depan gue yang harus jadi osis di sini, biar nggak ada lagi tradisi ospek yang kejam kayak gini.” Terang Icha yang masih dendam dengan acara MOS kemarin.
“Jadi siapa di sini yang mau ikut Eskul Pramuka?” tanya Kak yuda lagi.
Ternyata yang mengacungkan tangannya cuma lima orang dari tiga puluh lima siswa. Yang lainnya memilih Rohis, Teater, Band, PMR dan LKIR. Ich atersenyum menang melihat Kak Yuda keluar kelas dengan tampang tidak segagah waktu pertama masuk. Makanya jangan main-main dengan Raisya Adzwar, batin gadis itu.
                                                                    ***
Kali ini Icha kembali ngerjain seniornya.
“Eh, itu uang siapa jatuh?” ujar Icha ketika Yuda lewat di depan kelasnya. Yuda langsung melirik ke bawah.
“Hahaha…kena juga senior Pramuka di kerjain Yunior,” ujar Icha sambil tergelak-gelak. Wajah Yuda langsung memerah malu di liatin anal-anak kelas satu.
Sampai di kelasnya Yuda langsung uring-uringan.
“Kenapa Yud, mukamu kusut banget pagi ini?” tanya Faris perhatian.
“Hrggh… gue di kerjain lagi sama si kaca mata itu, mana di depan umum lagi. Heran banget deh gue sama itu cewek, tiap hari dia pasti ngerjain gue.”
“Habis sih kamu waktu MOS kemarin kejam banget sama dia, jadinya tuh anak bales dendam.”
“Iya sih. Tapi dia sendiri yang selalu bikin perkara dan gue nggak nyangka kalau dia bakal balas dendam. Eh, kalau nggak salah dia itukan ikutan Rohis. Apakah dia menyebalkan juga?” Yuda jadi penasaran pingin tahu sikap Icha saat di Rohis dan kebetulan Icha gabung disana.
“Nggak tuh. Tapi anak satu itu lumayan kritis. Dia yang paling banyak nanya, kayaknya dia cocock banget kalau jadi kritikus.”
“Emang mungkin dia masih keturunan tikus,” sinis Yuda.
“Sudah deh Yud, nggak usah di pikirkan. Aku yakin bentar lagi dia jadi putri yang lembut. Apalagi kalau sudah di kerudungin, di jamin kamu naksir dia mati-matian. Wajah dia kan lumayan juga, kembarannya Zhang Ziyi,” komentar Faris.
“Gue dari pada naksir si kaca mata mendingan sama temannya aja yang manis itu.” Kata Yuda. Lagian dia males naksir anak kritis gitu entar malah ketularan kritis lagi. Meskipun pada awalnya Yuda sempat terhipnotis melihat kembaran Zhang Ziyi itu. Rambutnya yang di kepang dua, pakai kaca mata bikin tambah simpatik bagi yang melihat. Ternyata gadis itu sangat menyebalkan di matanya.
“Bener kamu nggak naksir?” selidik Faris.
“Yee, ngapain sih lu nanyain soal itu segala? Jangan-jangan lo lagi yang naksir dia!” ketus Yuda.
“Hussh…aku sih mikir seribu kali kalau harus naksir. Takut terlena dan kebablasan yang terjadi malah menabung dosa. Nggak ada anggaran lagi buat naksir anak orang saat ini. Tapi kalau buat di jadikan wife, boleh juga,” ujar Faris sambil nyengir.
“Sekalian lo lamar aja dari sekarang,” saran Yuda.
“Nggak ah. Kalau ngelamar sekarang, bisa-bisa aku nggak bakalan  bisa meraih cita-cita yang sedang aku arrange. Tapi kalau sudah dapat titel dokter boleh juga,”
“Entar malah di ambil orang lagi,” ujar Yuda.
Faris  mengangkat bahu. Dia lebih tertarik membaca buku biologi karena pelajaran pertama akan segera di mulai.
                                                            ***
Siuuuttt…geblug!!! Yuda terjatuh di depan cewek-cewek manis karena dia secara tidak sengaja telah menginjak kulit pisang yang emang sengaja di buang Icha buat ngerjain mangsanya.
“Ha…ha…ha…” Icha tertawa tertawa tergelak-gelak di barengi temannya yang lain. Anak itu benar-benar jail banget kalau sudah ngerjain orang.
Wajah Yuda langsung berubah seperti kepiting rebus. Kalau tidak malu di tonton adik kelasnya, ingin saja ia mencakar wajah gadis innocent itu.
“Makanya kalau jalan itu lihat-lihat ke bawah. Jangan terlalu angkuh kalau jadi senior. Jatuh baru tahu rasa!” ledeknya bikin Yuda tambah panas. Tapi cowok itu berusaha bersikap tenang demi menjaga wibawa di depan adik kelas. Setelah bangkit, Yuda berlalu begitu saja.
“Cha, lo tuh kejam banget  sama kak Yuda. Dia itu kan kakak kelas kita, wajib untuk di hormati. Bukan ngerjainnya habis-habisan.”
“Biarin! Biar dia tahu rasa di kerjain Yunior. Supaya nggak sok kecakepan.”
“Lo gimana sih, Cha. Katanya anak Rohis tapi kelakuanmu nggak mencerminkan anak Rohis yang lembut, santun dan alim.” Tegur Mitha.
“Lo jangan sok nasehatin gue deh! Emangnya setiap anak Rohis itu harus sempurna kayak nabi? Ya nggaklah. Semuanya jugakan butuh proses. Apalagi gue masih new comig, jadi nggak bisa jreng lembut. Paham!”
“Cha, dendam itu kan nggak boleh. Jadi untuk apa kamu terus-terusan menyimpan dendam pada kak Yuda dengan cara mengusilinnya.”
“Sudah…sudah, lo ini cerewet banget sih? Jangan-jangan lo naksir dia lagi!” sewot Icha galak membuat Tita langsung diam.

Di kelas dua jurusan IPA, Faris sibuk nasehatin Yuda yang pingin bales dendam pada Raisya Adzwar yang sudah banyak ngusilin dirinya.
“Sudah Yud, nggak usah di jadikan beban soal kejadian barusan. Nanti juga dia bakal berhenti dengan sendirinya. Kalau kamu mau bikin pembalasan yang lebih kejam, itu malah akan bikin wibawamu hancur di depan adik kelas. Ssebagai orang yang punya jiwa  leader kamu tuh harus ksatria.”
“Tapi gue sudah banyak di permalukan oleh itu cewek,” Yuda terlihat masih kesal dengan kejadian yang menimpanya.
“Setiap orang juga pasti begitu jika di perlakukan kurang ajar oleh orang lain. Kita pasti pingin bikin pembalasan yang setimpal. Tapi kita jangan terburu dibakar oleh nafsu. Berjiwa sabarlah, karena sabar adalah permatanya iman.” Nasehat Faris bijak.
“Thanks Ris atas nasehatnya.” Ujar Yuda yang sudah bisa meredam emosinya karena di nasehatin Faris. Sebenarnya Yuda kagum sama Faris yang bisa lebih sabar, perhatian dan sangat bertanggung jawab.
                                                                         ***

Pulang sekolah Icha bermaksud mau menyebrang karena Bus yang di tungunya sudah datang.  Dia tidak melihat sebuah motor melaju kencang dari sampingnya.
“Icha awaaas!” teriak Tita mengingatkan tapi terlambat tubuh Icha tertabrak motor sedang pengemudi motor tersebut langsung kabur melarikan diri. Serempak teman-temannya segera menolong termasuk Yuda ikut menolong dan segera membawa gadis itu ke rumah sakit. Icha pingsan waktu di perjalanan menuju rumah sakit karena banyak darah yang di keluarkan dari kepalanya.
Icha baru sadar dari pingsannya setelah lima jam ia tak sadarkan diri. Alhamdulillah nyawanya masih bisa di selamatkan berkat kemurahan Tuhan dan kebaikan seseorang yang rela menyumbangkan darahnya untuk di donorkan. Kebetulan golongan darah Icha yang bergolongan darah O sama dengan si pendonnor.
“Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang,” ujar mama bahagia melihat putrinya sudah mulai sadar. Mama Icha yang saat itu masih di kantor langsung segera pergi kerumah sakit ketika di kabari putrinya kecelakaan.
“Icha kenapa ada di sini Ma?”
“Kamu kan kecelakaan Cha, saat mau nyebrang waktu pulang sekolah itu,” jelas Mama yang dapat kabar dari Tita, “Untung nyawamu masih bisa di selamatkan Cha. Karena temanmu ada yang bersedia mendonorkan darahnya. Padahal Mama tadi sudah bingung banget mencari pendonor. Di keluarga kita yang golongan darahnya sama dengan kamu cuma Papa kamu yang kini entah dimana,” tambah wanita itu dengan raut muka tiba-tiba sedih jika mengingat suaminya yang tidak bertanggung jawab hingga ia harus sendirian membesarkan putri tunggalnya.
“Tita kan Ma, yang sudah donorin darahnya?” tanya Icha penasaran.
“Bukan, tapi dia cowok. Mama lupa nggak sempat menanyakan namanya. Tapi kita harus berterimakasih pada dia yang sudah  nolongin kamu.”
Icha sibuk menerka siapa temannya yang sudah rela mendonorkan darahnya itu. Mungkin Dimas, pikirnya.

Besoknya Tita datang di temani Dimas dan Kak Yuda. Lho kok dia juga ikut. Icha kelihatan kaget melihat mahluk yang kerap di usilinya ada di sini.
“Nah Icha, nak ini yang sudah menonorkan darahnya pada kamu sehingga nyawamu bisa tertolong. Trimakasih ya nak, atas jasa baikmu.” Kata Mama lembut mengucapkan trimakasih pada Yuda. Sedang Yuda cuma tersenyum samabil mengangguk sopan.
Icha terkejut demi mengetahui orang yang sudah berjasa atas kehidupannya. Ternyata Kak Yuda yang selama ini sering dia kerjai habis-habisan karena kebenciannya waktu MOS saat dia di bentak-bentak senior.
“Kak yuda, makasih banget ya, sudah mau nolongin Icha. Dan Icha juga minta maaf atas semua perlakuan yang telah Icha lakukan pada kakak,” ujarnya dengan suara masih lemah.
Yuda mengangguk.
“Kakak pasti maafin. Dan kamu cepat sembuh ya, sekolah jadi sepi jika nggak ada kamu,” kata Yuda tulus.
Icha cuma bisa tersenyum. Sungguh dia rindu akan sekolah. Mungkin butuh waktu yang cukup untuk kembali sekolah. [ selesai ]

MENITI TANGGA RAHMAN MU...



Lelapku kegelapan rindu kematian…
Kuselimuti tubuhku dalam tidur
Yang kuyakini Tuhan akan menemani
Semoga indah walau hitam terlalu dalam…

Ku rangkul Rahmanmu yang tak lagi tersentuh
Mimpi ini siksa neraka bisikan Syetan
Dalam nafas panjang ku kan kuimbangi
Lepaskan mimpi semu duniawi

Disetiap makna yang tak terucap…jauh…
Sungguh ku sudah terlalu jauh berlari dari Mu…
Dari lingkar batas dan garis kekuasaan Mu…
Terlalu yakin…ku yakini mungkin…

Bertahan dengan ragu dan galau
Berusaha aku dekati engkau
Ku yakin masih ada kasih Mu…
Tuhan dekap aku dalam cinta Mu…



POLA PIKIR PEMBENCI



Akhir-akhir ini hampir semua media mainstream sibuk banget mencari kesalahan  partai si anu, menghujatnya dan menjelek-jelekannya yang di susupi sebuah kepentingan. Miris… jika semua media seperti itu kapan bangsa ini akan maju tanpa ada sikap fair di dalamnya.  Setiap hari bangsa ini di racuni berita-berita yang saling hujat, caci maki dan sedikit demi sedikit pola pikir bangsa ini akan di giring menjadi pembenci sesuai apa yang di beritakan media. Hari ini partai ini begini, kitapun sibuk ikut mencaci dengan bahasa sampah, ketika esok pejabat si anu begitu kitapun ikut disibukan membicarakannya tanpa proses tabbayun dulu, malah menelan mentah-mentah apa yang di hembuskan media.

GENERASI DAHULU ITU SANGAT BERKUALITAS


Judul tersebut lahir dari perbincanganku dengan guru Fashionku.
“Bapak  suka bingung menghadapi generasi yang sekarang, semua yang di pelajari suka ingin serba instant. Padahal segala sesuatu jika ingin menghasilkan karya bagus itu butuh proses.” Ujarnya.
“Hm, gitu ya pak. Contohnya seperti siapa yang berkualitas itu?” ujarku memancing pembicaraan.
“Contohnya seperti bapak, he…” ujar guruku dengan narsis. “Dulu Bapak kalau di suruh kata guru begini tak pernah membantah, beda dengan kamu yang selalu melanggar undang-undang yang di terapkan oleh Bapak, di suruh Bapak begini kamu malah mencari cara sendiri dan hasilnya tak pernah memuaskan. Inilah produk instan. Bapak itu ingin kamu jadi perancang busana  yang memiliki kualitas  boutiqe, meskipun produksi yang di hasilkan tidak banyak,tapi memuaskan untuk orang yang memakainya, ya seperti bapak inilah. Orang selalu bilang mahal, tapi mereka akhirnya kembali lagi karena merasa puas.” Bebernya. 

Aku hanya mengangguk-anggukan kepala, dan masih dengan sifat keras kepalaku yang selalu mencari cara cepat agar baju yang aku rancang  dan dijahit bisa langsung dipakai.

Sesaat aku termenung meresapi ucapannya. Kalau di pikir-pikir, benar juga apa yang dia ucapkan. Abad masa lalu di masa kegemilangan islam, generasinya sangat berkualitas di segala bidang maka pantas menacapai abad keemasan. Dan mereka mencari ilmu membutuhkan waktu yang panjang dan mendatangi banyak guru. Penghargaan terhadap ilmu dan guru ,Subhanallah sangat luar biasa. Dan tidak bisa di pungkiri di masa itu sistem negaranya sangat baik, sehingga masalah pendidikan sangat di perhatikan oleh pemerintah. Mereka  juga di ajari oleh guru-guru yang ahli dan bisa menjadi figur untuk sang pencari ilmu. Sekarang sistem negaranya juga sudah acak-acakan, copy paste dari negara kapitalis yang bernamakan demokrasi. Pemerintah lebih sibuk mengurus partainya ketimbang rakyatnya. Guru hanya transfer ilmu, miskin teladan. Maka wajar bapak kalau generasi saat ini sangat jauh dengan generasi masa lalu.
Jika guruku membandingkan dengan generasi 45,60,80 masih bisa di arahkan juga hal yang wajar. Generasi 45an banyak mengalami tempaan hidup, karena negara pasca perang. Sehingga mereka bisa menjadi kuat dan mandiri. Begitupun generasi sesudahnya sampai 80an, saat itu perekonomian negara masih dalam keadaan sulit, akibat sistem tirani orba. Hiburan juga belum menjamur seperti sekarang, yang menimbulkan dekadansi moral. Masa tahun 80 an, para anak kecil dan remaja menjelang magrib sudah padat memenuhi mesjid untuk banyak belajar kajian-kajian agama. Sekarang lebih banyak mengkaji sinetron, otak-otak mereka di racuni sampah di karbit menjadi dewasa sebelum waktunya. Invansi Ghawizul fikr /perang pemikiran yang di lancarkan para Yahudi derasnya lebih terasa saat ini, sehingga remaja jauh dari agama dan akidah islamnya. Kehilangan karakter, dan rapuh dalam menghadapi masalah.

Jika saya jarang mengikuti saran bapak, bukan semata-mata saya generasi yang instan juga, tapi saya mencari cara sendiri, tidak hanya terus-terusan di suapi sama bapak dalam belajar. Bukankah mengembangkan kreativitas itu perlu pak? Dan impianku untuk menjadi sesuatu yang diinginkan membutuhkan mental baja dalam berjuang mewujudkannya, bukan generasi instan yang rapuh saat di terpa masalah. []
Tiba-tiba merasa kangen dengan guru tatabusana ku, Pak Ilyas yang humoris dan bikin betah dikelas. Semoga engkau tetap sehat ya,Pak. Dua tahun mempelajari ilmu tata busana,semoga tidak ada yg sia-sia.




YANG PENTING MENDAPAT PENDIDIKAN ISLAM YANG TERBAIK



“Pokoknya kalau anak kita nanti laki-laki, Abi yang berperan kasih nama dan harus ada nama Abi Dzar Al- Ghifarinya.” Kata suami ku di sela kami sedang berdua. Dan di setiap perbincangan yang membahas tentang anak dia kukuh kalau punya anak laki-laki harus ada nama salah seorang sahabat Rasulullah yang paling Zuhud itu, karena dia begitu sangat mengidolakan sosok Abi Dzar Al-Ghifari dan ingin mendidik anak-anaknya nanti degnan sifat zuhud seperti beliau.
“Hm…iya deh,gimana abi aja,” ujarku. “Yang terpenting anak-anak kita semua nanti mendapatkan pendidikan islam yang terbaik. Jika kita ingin memiliki generasi islam yang terbaik yang bisa memperjuangkan tegaknya Dinullah.
Seislami apapun nama anak-anak nanti, suamiku jika tidak mendapatkan pendidikan islam yang baik dari kita sebagai orang tuanya, nama yang menjadi harapan do’a itu apakah akan terwujud? Tentu tidak kan. Maka mulai dari saat ini,saat dari mulai ijab kabul itu terucap ,kita tentu sangat menginginkan generasi yang terlahir nanti adalah generasi yang berkualitas untuk islam. Dan kita lebih memaksimalkan diri untuk menjadi yang terbaik di hadapan Nya. Baik dari segi ahlak maupun intelektual. Yuk kita sama-sama menggapai Nya.
Memaksimalkan diri dengan lebih banyak lagi mendekatkan diri pada Allah dan lebih banyak lagi belajar membaca ayat-ayat semesta. Aku ingin menjadi madrasah utama untuk anak-anaku nanti  melahirkan bibit-bibit yang unggul dan tentu aku butuh dukunganmu tanpa saling bahu-bahu kita tidak akan bisa menggapainya. Tentunya engkau nanti bisa menjadi ayah terbaik untuk anak-anak kita hingga mereka merasa nyaman dalam naunganmu.
Generasi yang berkualitas hanya terlahir dari keluarga yang berkualitas juga, dan semoga kita bisa menjadi orang tua yang berkualitas. Amin .

Tirany Fortrees >>> 1

Malam dingin dalam balutan hujan yang mengguyur deras meracah Marcapada. Angin yang berhembus kencang meliukan ranting-ranting dan daun-daun yang berderak mencipta irama yang sangat mengerikan, berkalaborasi dengan suara anjing yang melolong –lolong getir menambah wengit menembus malam yang penuh dengan irama kematian.

Sebuah langkah tertatih menembus kelam yang meraja. Hanya sesekali sinaran kilat menerangi, membantunya menapaki jalan yang penuh dengan akar-akar. Kadang membuat kakinya tersandung, dan terjatuh.

Tak ada lagi tempat untuk menyembunyikan tubuh ringkihnya. Tinggal langit yang jadi tempat berlindung, dan bumi yang jadi pijakan. Semua orang menginginkan harga nyawanya sebagai tumbal sebuah tirani yang ingin bertahta di Marcapada tanpa memandang batas susila. Dan bila tirani itu mengakar kuat di bumi, maka kerusakan akan menjelma seperti alunan badai yang siap memusnahkan apa saja.
Nyeri merayap di seluruh tubuhnya, dibantu gigil yang mendera. Sabetan belati itu, mampu mengkoyak luka dibahunya.

Allah dimanakah kasih Mu? Desisnya di antara keputus asaan yang mulai mendera. Air mata mampu mengalirkan keperihan yang menyiksa. Luka di hatinya teramat sakit,  melebihi sayatan belati yang mengkoyak bahu kirinya. Inikah jalan jihad?  Begitu rumit, penuh jalan terjal, dan mendaki. Dan mungkin seperti inilah yang di dapatkan Rasul saat menyebarkan risalah agung ini, atau lebih dasyat dari ini.

Suara langkah kaki dari belakang yang menyusulnya, membuat ia semakin memacukan langkahnya dalam ketergesaan. Tidak boleh menyerahkan pada kematian begitu saja. Karena menjemput syahid pun harus dilakukan dengan berjuang. Seperti yang pernah di lakukan oleh sahabat Rasul; Umar, Usman dan Ali yang di bunuh para durjana
“Berhenti…!” Suara itu penuh nafsu durjana, karena hati yang tercipta adalah jelmaan iblis laknatullah.

Langkahnya semakin tertatih karena rasa letih yang semakin bertahta. Mungkin ia telah kehilangan energi untuk berpacu atau kematian memang sudah tiba waktunya. Dan kakinya terantuk batu membuat tubuhnya limbung terjatuh bergulingan ke bawah.

”Ha…ha…ha…” tiba-tiba sebuah tawa meledak memenuhi hutan sunyi, dan malam yang berjalan menuju titik kulminasi adalah saksi sebuah angkara yang akan berpencar menjadi sayatan kematian.

“Kau tidak akan bias berlari lagi. Minta tolonglah pada Tuhanmu, gadis manis. Jika dia memang benar-benar ada.” Dan tawa itu kembali meledak memuncratkan aroma kengerian yang tercipta.

Hasbiyallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’man natsir…cukuplah Allah bagiku dan dia sebaik-baik pelindungku. Kullu nafsin da’iqotul maut…setiap jiwa akan mati, do’anya dalam detak jantung yang bergemuruh. Ketakutan memang ada karena dia juga manusia biasa.

“Kau memang terlalu usil dengan urusan orang lain, maka rasakan kematianmu yang tinggal beberapa saat lagi!” laki-laki yang haus darah itu menarik ujung jilbabnya, sehingga rambutnya yang panjang memburai dari gelungannya.

“Wajahmu memang bidadari, tapi sayang dirimu terlalu sok srikandi. Maka maut pun ingin segera menyergapmu. Sebelum semuanya berakhir, aku ingin menikmati keindahan darimu.” Suara itu penuh dengan aroma iblis, penuh birahi yang siap meluluh lantakan sebuah harga diri.

“Jangan, lebih baik kau bunuh aku!” gadis itu meronta.

“Hehe…tidak bisa gadis manis, malam ini akulah yang berkuasa menguasai tubuhmu!”

Laki-laki itu mulai kasar dan menarik tubuh di depannya. Tapi, sekuat tenaga tangan gadis itu meronta, menyikut, mencakar dan meludahi.

“Berengsek!” Dengan sekuat tenaga ia melumpuhkan gadis di depannya. “Jangan coba-coba kau melawan.” Laki-laki itu mulai mengeluarkan pistol dari balik jaketnya, dan menodongkan pistol di kening si gadis.

Gadis itu menggigil ketakutan, karena aroma kematian menebar semakin dekat.

“Ya Allah lindungilah aku dari kejahatan nafsu iblis yang berwujud manusia binatang ini.”

Angin malam berhembus dingin menyibak daun-daun.

Krosaaak… terdengar suara ranting yang terinjak mengagetkan keduanya, laki-laki itu menegak dan bangkit memperhatikan sekelilingnya.

“Siapa kau?!”

Sepi tak ada jawaban, hanya lolongan Anjing yang terdengar dari kejauhan di bantu desau angin yang menambah wengit pelataran malam. Hujan sudah mereda dari tadi, tinggal menyisakan dinginnya saja yang menggigil.

“Keluarlah kau!” teriak laki-laki itu dengan penuh kesigaan. Instinknya berbicara kalau injakan ranting tadi bukan berasal dari kaki binatang.  Tapi, berasal dari kaki manusia.

“Imperium tiranimu akan segera berakhir.” Suara itu muncul tak berwujud.

Hm…rasa-rasanya dia pernah mengenal suara itu, tidak asing di telinganya.

“Tak perlu kau tahu siapa aku, tapi bersiaplah untuk aku hantar ke neraka.”
Suara itu, ya ampun dia baru mengingatnya. Bukankah dia…?

“Pengkhianat, keluarlah kau!”

Sebuah percikana api dengan cepat merobohkan tubuhnya, timah panas itu berhasil mengkoyak dadanya. Rupanya orang yang datang sudah tidak mau bermain-main lagi dengan waktu.

“Akh…” ia memegang dadanya yang mulai basah oleh darah, dan laki-laki itu di jelma sakaratul maut yang menyiksa. Sedangkan gadis yang ada di sebelahnya terpekik kaget karena begitu murahnya sebuah harga nyawa tumbang. Belum hilang rasa kagetnya, tiba-tiba sebuah bayangan hitam sudah berada di depannya.

“Tempat ini tidak aman, ayo kita pergi dari sini.”

“Siapa kau?”

“Cepatlah, nyawamu sedang terancam. Kita harus segera menyelamatkan diri dan menghubungi polisi.”

Tanpa banyak tanya, bayangan hitam yang memakai kupluk ninja itu segera menyambar tangan si gadis, menariknya untuk segera meninggalkan tempat. Tersaruk-saruk dalam keremangan malam dan sesekali tersandung akar-akar.

“Percepatlah sedikit!” Lelaki asing itu membentaknya, karena dihinggapi rasa kesal. Terlambat sedikit berarti kematian akan segera menyambarnya. Banyak orang yang menginginkan harga kematian gadis ini, dan dia tak mungkin membiarkannya.

“Ak..aku…letih.”

“Sedikit lagi, ayo kita akan segera sampai di mobil.”

Dengan tenaga yang hampir habis akhirnya mereka sampai juga disebuah mobil Land Rover yang cukup tersembunyi dalam rimbun pepohonan.

Wuizzz…segera mobil melaju dalam kecepatan yang sangat tinggi walau medan yang dihadapi sangat kurang bersahabat. Jalannnya zig-zag tanpa aspal,  dan entah dari mana munculnya sebuah Jip mengejar dibarengi dengan rentetan tembakan menegangkan keduanya. Sebuah pohon mahoni mendadak tumbang di hadapannya, menghentikan laju jalan mobil.

Ciiit…cekiiit… mendadak mobil di rem, menyebabkan benturan yang dasyat tak terkendali. Mobil terjungkal masuk kedalam jurang dan meledak.

***

Arggghhh…tiba-tiba dia merasakan kepalanya sakit dan perlahan matanya mulai terbuka. Pliyarrr… matanya terasa sakit akibat pantulan cahaya listrik yang terpantul dari ruangan serba putih itu.

“Alhamdulillah dia sudah mulai sadar.” Ujar suara di sebelahnya yang di angguki seoarang lelaki bermata teduh.

Suasana asing menyergap jiwanya. Perlahan dia mencoba bangkit meski selang-selang masih berseliweran di tubuhnya, tapi dia segera di tahan.

“Jangan dulu bergerak, tubuhmu masih lemah.” Ujar lelaki yang bernama dr. Faizal.

“Siapa kalian, dan dimana aku?” lirihnya.

“Kamu ditemukan menyangkut dipinggir sungai dalam keadaan tidak sadar, seminggu yang lalu. Saya pikir karena sebuah kecelakaan dan teman mu yang laki-laki ditemukan dalam ke adaan sudah tidak bernyawa lagi.”

Di sebuah sungai, kecelakaan, dan temannya meninggal. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak megerti dengan apa yang telah menimpa dirinya.
“Maaf…saya benar-benar tidak mampu mengingatnya.”

Gadis yang berada di sebelahnya, yang bernama Liana mengkerutkan keningnya lalu menatap kakaknya. Tidak mampu mengingatnya, apakah ada sesuatu yang telah terjadi dengan gadis ini? Kehilangan memorynya sehingga tidak mampu mengingat peristiwa yang sudah menimpanya.

“Siapa namamu dan berasal darimana?” tanya dr. Faizal pelan.

“Ap… apa?” gadis itu tergagap.

“Namamu siapa?” ulang Liana.

Gadis itu menggeleng, ia seperti orang linglung tak mampu sedikitpun untuk mengingat dirinya, juga keluarganya. Bahkan peristiwa tragis itu, semuanya masih sangat misteri.

“Dia hilang ingatan Ka, kasihan sekali. Apa mampu dia kembali seperti semula?”

"Insya Allah bisa, kita bantu sebisa mungkin agar dia mampu mengingat semuanya meski membutuhkan waktu.”

“Kasihan gadis secantik dia.”

“Sudahlah, aku mau Tahajud dulu. Kamu jaga dia baik-baik.” Faizal keluar dari ruang perawatan untuk pergi menuju Mesjid Rumah sakit.

Tinggal Liana dan gadis asing itu yang berada di ruang perawatan. Dengan penuh kasih sayang Liana menyelimuti gadis itu. (BERSAMBUNG)
***

DUKA PERTIWIKU



Gelap,pekat makin menebal jadi selimut pertiwiku

Jerit tangis alam tak terhirau saat mereka merintih sakit merejam luka

Hutan menangis mengiba saat di babat habis nafsu liarmu...merangas menjadi
bukit-bukit tak bertuan

Minyak,emas dan barang tambang lainya di gerus habis tanpa menyisakan bagaimana esok nasib generasi ini


Semua karena ambisi

Harta,tahta atau ah...mungkin juga biar bisa berganti selir hati

Alam mengamuk kini...melalap semua yang ada

Memisah jiwa dari raga…harta tiada guna hanya menyisa tangis dalam duka


Siapa yang pantas di persalahkan?

Coba tanya pada hati nurani...

Jangan salahkan Tuhan karena ayat-ayatnya sudah bertebaran berikan peringatan

Alampun tak patut di persalahkan karena dia selalu menawarkan persahabatan

Semua adalah kesalahan manusia-manusia serakah


HukumTuhan kau abaikan

Hukum manusia kau beli dgn gepokan uang

Jika bencana ini terus melanda harusnya kau yg dulu merasa

Bukan kami rakyat yang dari dulu menderita