Subscribe Us

Cinta di Atas Bara Part 6


Aleya tersenyum cerah begitu melihat Sayyid berjalan kearahnya. Satu minggu tidak bertemu seperti satu tahun tidak berjumpa. Paras laki-laki campuran Arab dan Turki itu sangat memikat. Pesonanya meluluhkan kaum hawa. Ada banyak cara yang sudah Aleya untuk memikat Sayyid yang asalnya cool dan cuek. Ternyata laki-laki ini hanya bisa di tundukan dengan adu kecerdasan. Cara-cara murahan tidak akan membuat dia berpaling.

Aleya sampai tidak berkedip melihat kegantengan Sayyid. Yang menggunakan kaus polo berwarna abu di padu dengan jacket warna putih. Sangat serasi dengan kulitnya yang putih.

"Ich vermisse dich so sehr, Baby" Ujar Aleya sambil memeluk sang kekasih yang tingginya sepantaran.( Aku sangat merindukanmu, sayang."

Sayyid tidak merasa risih diperlakukan seintens itu di tempat umum, sesuatu hal yang dulu sangat di hindarinya. Kini dia sangat menyukai sikap Aleya yang cenderung agresif, sebagaimana lazimnya gadis-gadis barat memperlakukan pasangannya.

"Ich vermisse dich mehr, Liebling." Sayyid mengeratkan pelukannya pada Aleya erat dan mencium kening Aleya sangat lama.

"Kita langsung pulang ke Apartemen atau jalan-jalan dulu, sayang?" Aleya melepaskan pelukannya, dan menatap Sayyid penuh cinta. Sesuatu hal yang dulu hanya ingin menjebak Sayyid, dan memamfaatkan kecerdasannya. Tapi seiring kebersamaan di antara mereka, Aleya merasa Sayyid adalah nafas hidupnya. Dia tidak bisa hidup tanpa Sayyid. Maka dia akan berusaha melakukan apa saja, agar laki-laki itu bisa tetap berada di sampingnya.

"Pulang saja ya, Scathz? Aku lelah dan sangat merindukan kamu?"

Aleya tersenyum. Hal ini yang selalu di nantikannya. Sayyid sangat mendamba kepuasan darinya. Dan dia akan selalu siap untuk menuntaskan rasa haus laki-laki itu itu akan cinta, kelembutan darinya. Meski hal tersebut harus mengorbankan tubuhnya. Banyak hal yang di korbankan untuk mendapatkan Sayyid, tapi hasilnya sebanding dengan apa yang dia korbankan. Karena tes uji loyalitas untuk  di akui di sebuah organisasi yang dia dan ayahnya masuki, apapun bisa di korbankan agar kepercayaan bisa di raih. Harga diri atau nyawa bisa menjadi taruhan.

"Biar aku yang menyetir, Scathz? " ujar Sayyid melarang sang kekasih untuk menyopiri dirinya.

Aleya menggeleng. "Kamu sangat lelah Sayang, biar aku aja. Kamu harus hemat tega, biar kita melebur rasa rindu." ujar Aleya sambil nencium pipi Sayyid. Tentu saja hal tersebut membuat Sayyid berubah tidak waras. Dia laki-laki normal, yang butuh pelampiasan dari gairah mudanya.  Dan Aleyalah si burung jinak yang sudah meruntuhkan kealimannya. Menjadi laki-laki yang liberal dan bebas. Tidak peduli dengan nilai-nilai agama yang sudah dipelajarinya selama bertahun-tahun.

Dan Sayyid terpaksa menurut. Karena dia tidak mau jika Aleya marah dan mendiamkannya. Hal yang sangat berbahaya jika Aleya marah, otomatis akan berakibat pada keinginannya yang tidak akan terpenuhi.
***
Apertemen yang di tempati Sayyid terbilang cukup mewah. Terlihat sangat bersih dan rapi. Dan tentunya itu semua karena Aleya yang pintar merawat rumah. Sudah hampir setengah tahun mereka tinggal bersama, tentu saja tanpa ikatan pernikahan. Tapi, hubungan mereka sudah seperti layaknya pasangan suami istri.

Sesampainya di Apartement Aleya langsung menyiapkan makanan kesukaan Sayyid, makanan khas Indonesia, karena lidah laki-laki itu, masih susah beradaptasi dengan makan western. Aleya mati-matian belajar masakan Indonesia, bahkan langsung mendatangkan Chief dari Indonesia, selain itu belajar bahasa Indonesia serta budayanya. Sebuah pengorbanan yang cukup besar demi bisa meraih Sayyid. Dan termasuk pura-pura belajar islam yang dilakukan di awal mendekati Sayyid.

Aleya adalah perempuan yang masuk kriteria untuk jadi pendamping hidup Sayyid. Dia bisa menjadi istri yang memuaskan, teman diskusi yang menyenangkan. Namun sayang wanita itu selalu menolak jika disinggung tentang pernikahan. Selalu banyak alasan, dan hal ini terkadang membuat Sayyid takut, takut jika Aleya akan berpaling darinya. Bisa saja jika ada yang lebih menarik darinya, suatu hari Aleya akan meninggalkannya.

"Schatz, lass uns essen?" ajak Aleya sambil mengamit tangan Sayyid membimbingnya menuju meja makan. ( Sayang, ayo makan? )

Aleya menyiapkan makanan Sayyid layaknya istri yang berbakti pada suami, semua dia lakukan agar kekasihnya terkesan. Meski tanpa ikatan pernikahan, dia bisa memposisikan dirinya seperti perempuan-perempuan di Timur dalam memperlakukan suami mereka. Dan sudah dikatakan, untuk bisa seperti ini Aleya banyak belajar.

"Suapin." kata Sayyid manja. Dan Aleya tidak menolak keinginan Sayyid.

"Sie wissen, Schatz, solange es nicht neben Ihnen ist, kann ich nicht gut schlafen.  Denken Sie jeden Tag an Sie."  Sayyid mulai mengeluarkan kalimat manisnya dan hal ini yang membuat Aleya melayang. Sayyid selalu memperlakukan dirinya dengan lembut dan romantis.
( Kau tahu sayang, selama tidak berada di sampingmu aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap hari memikirkanmu.)

"Bagaimana kabar kedua orang tuamu?" tanya Aleya mencoba mengalihkan pembicaraan.

Sayyid yang sedang bahagia-bahagianya bertemu dengan pujaan hati, mendadak muram. Terbayang wajah umi yang banjir airmata saat dia membangkangnya, wajah abah yang marah, wajah Amir yang murka dan juga wajah Aqilah yang terlihat sendu ketika dirinya memutuskan lamaran yang sudah di rancang abahnya.

"Are you, Ok?" tanya Aleya mendadak khawatir.

Sayid mengangguk, tapi dia sudah tidak bernafsu untuk melanjutkan makannya. Pikirannya melayang pada sosok wanita yang sudah melahirkannya. Selama ini Sayyid belum pernah mengecewakan Ummi, hanya karena keinginannya yang bertentangan dengan keimanannya, Ummi tidak rela. Dan menurutnya hal itu wajar, ibu mana yang rela bahwa anak yang telah di lahirkan, didik dengan nilai-nilai islam yang kuat akan lebih membela wanita yang keyakinannya berbeda. Ummi adalah wanita terbaik, wanita yang sangat di cintainya, tapi itu dulu sebelum Aleya hadir dan menggeser posisi cinta seorang anak pada Ibunya.

Sayyid menghembuskan nafasnya berat, dia kembali teringat dengan kata-kata Amir.
'Wanita itu adalah racun yang akan meruntuhkan kesejatian seorang laki-laki.' Dan itu memang benar. Sayyid kalah oleh rasa cintanya yang sangat pada wanita, sehingga rela menukarkan dengan keyakinannya.

"Es tut mir leid, Schatz.  Ich will dich nicht traurig machen." Aleya menyentuh tangan Aleya lembut.
( Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. )

Sayyid hanya diam dan bangkit dari duduknya. Laki-laki itu berjalan ke arah jendela. Menatap indahnya kota New York di senja hari. Ingatannya melayang ke negri yang baru beberapa jam di tinggalkannya. Baru dia merasa bahagia, tapi kini merasa terhempas. Air mata ummi terus terbayang dalam pikirannya. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi dadanya. Laki-laki itu merasa bersalah yang sangat. Sebagaimana laki-laki yang di besarkan dalam keluarga muslim dengan nilai-nilai keislaman yang kuat, menyakiti Ibu adalah tabu. Karena surga seorang anak laki-laki ada di ibunya. Meskipun kehidupan liberal sudah menjadi bagian hidup Sayyid, tapi masih ada sisa-sisa didikan orang tuanya yang nggak bisa di enyah.

Aleya merasa menyesal telah melemparkan pertanyaan tadi. Sayyid pasti banyak mengalami pertentangan bathin yang cukup hebat ketika laki-laki itu memilih dirinya. Meninggalkan keluarganya, dan hidup di negri asing tanpa keluarga. Dia bertahan hanya karena cinta, itupun ikatannya lemah karena tanpa ikatan pernikahan. Laki-laki seperti Sayyid lama-lama akan merasa lelah dalam ikatan rapuh seperti ini. Aleya memeluk Sayyid mencoba memberi kekuatan.

"Ich werde immer an deiner Seite sein, egal wie kompliziert der Weg ist, den wir gehen." Ujar Aleya mencoba menguatkan.
( Aku akan selalu berada disampingmu, serumit apapun jalan yang kita lalui.)

Sayyid diam tidak merespon kata-kata kekasihnya. Keraguan mendadak menyelimuti hatinya. Yakinkah, Aleya wanita yang akan menjadi masa depannya?
Atau hanya sebatas wanita yang menjadi samen levennya. Sekedar bersama mereguk kesenangan sampai merasa bosan, lalu entah siapa yang terlebih dahulu meninggalkan. Jika hidup hanya berporos di sini, maka dia tak lebih sama derajatnya dengan binatang, yang level kecerdasannya lebih rendah.

"Argghhh…" jerit Sayyid marah dengan memukul dingding. Dan hal itu membuat Aleya terkejut dan merasa takut.

"Tinggalkan aku sendiri!" ujar Sayyid dingin. Lalu dia segera masuk kedalam kamar membanting pintu dengan kencang.

Aleyya diam mematung. Ketakutan tiba-tiba menghantam jiwanya.
***

Akhirnya bisa melanjutkan kembali setelah lama vakum. Tulisan ini sudah lama mangkrak di laptop bertahun-tahun. Dan jujur tulisan ini menurut aku paling berat saat meramu kata-katanya.  Novel ini di tulis karena  terinsfirasi setelah  membaca buku politik, tentang banyaknya pemuda muslim yang di sekolahkan ke Barat dan ketika pulang ke negrinya ditugaskan menjadi agen-agen Barat yang memang di agendakan untuk menghancurkan agamanya dari tubuh kaum muslimin sendiri, dan itu terjadi sampai hari ini.





Aqeela# Part 1

Haruskah aku bahagia atau bersedih? Bertemu dengan mantan suami setelah 10 tahun berpisah, dan itu perpisahan yang sangat menyakitakan. Pagi tadi adalah pertemuan yang tidak di sengaja. Profesionalisme menuntutku untuk kembali bertemu Adian Hutama. Bertemu dengannya di meja operasi. Karena laki-laki itu hampir meregang nyawa akibat kecelakaan yang di alaminya. Sebenarnya bertemu dengan Mas Adyan tidak harus jadi masalah, tapi bertemu dengan keluarga yang sudah menyakitiku, rasa itu terlalu menyakitkan. Mereka sudah memisahkan cinta dua anak manusia yang tulus, hanya karena aku, seorang yang menurut mereka tidak selevel masuk ke keluarga Hutama. Anak yang baru lulus SMA, keluarganya sudah tiada karena kecelakaan, masuk ke keluarga Hutama adalah sesuatu yang tidak punya harga diri. Tapi Pangeran dari keluarga Hutama itu begitu gigih memperjuangkan cintanya, meski belum satu tahun menjalani biduk rumah tangga, pernikahan kami sudah dihempas badai tornado karena rekayasa sang nyonya besar Hutama yang tidak rela punya menantu miskin dan tak jelas seperti aku.

Adyan mengalah pada ibunya, karena tidak rela melihatku terus-terusan di sakiti oleh ibunya. Apalagi ancaman sang Nyonya besar pada anaknya semakin di luar kewarasan. Konfrotasi dan konflik membuat hubungan anak dan ibu jadi tidak sehat. Dan menurutku hal gila jika harus bertahan, dengan terus menerus menyaksikan anak melawan ibunya. Mas Adyan meminta maaf jika tidak bisa bertahan di pernikahan yang sudah pernah kami bina. Aku mendapat kabar terakhir kalau Mas Adyan menikah dengan wanita yang sudah di pilihkan oleh ibunya. Tentu saja wanita tersebut berasal dari kalangan atas layaknya keluarga Hutama. Bukan sepertiku yang terlalu memaksakan diri dan tak tahu malu untuk bisa masuk ke keluarga mereka. Sangat bermimpi jika bisa di terima dengan sangat layak sebagai menantu.

Nyonya Hutama tampak terkejut saat aku ikut terlibat dalam menangani putra kesayangannya di meja operasi. Mungkin dia tidak menyangka gadis tolol dan bodoh yang selalu dikatakannya dulu jika sedang menghina, dan sudah di buangnya dengan cara menyedihkan, kini menjadi dokter spesialis yang merawat putra kesayangannya. Sepuluh tahun waktu yang cukup lama untuk mengubah jalan hidup yang sudah Allah takdirkan. Satu hal yang dia lupa, bahwa masa depan bukan milik sikaya, tapi Allah lah yang menentukan takdir baik atau buruk seseorang.

"Aqella…kamu…" tampak wanita itu tidak percaya melihatku dengan seragam putih-putih kebesaranku saat keluar dari ruang operasi.

"Bagaimana keadaan putraku?" tanyanya penuh kecemasan.

"Alhamdulillah cukup baik. Pak Adyan sudah berhasil melewati masa keritisnya Nyonya, dan sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan."

"Terimakasih sudah menyelamatkan putraku."

Aku hanya tersenyum tipis, tidak berniat untuk memperpanjang pembicaraan dengan wanita sombong itu. Masih ada rasa sakit yang tak bisa ku enyahkan kala melihat mantan mama mertua yang jahat saat dulu memperlakukanku dengan semena-mena. Tampak keluarga Mas Adyan hadir di ruang tunggu. Ayah, lelaki yang dulu selalu membelaku dari hinaan istrinya. Mas Farhan, Mbak Tisa dan si bungsu Adzwar. Mereka semua terlihat terkejut melihatku, tapi aku berusaha bersikap biasa saja seolah segalanya yang pernah terjadi di masa lalu tidak terjadi. Anggap saja begitu. 10 tahun waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan hati yang patah. Dan bersikap manis dan beramah-tamah sungguh itu bukan gayaku si wanita es yang susah untuk di cairkan. Perjalanan luka dan kehilangan mengajarkan aku untuk membangun benteng yang kuat dan tidak percaya pada sipapun. Aku hanya mengangguk, sebagai sikap dari kesopanan yang tetap harus aku jaga. Setelah itu berlalu, masa shift kerjaku sudah berakhir. Dan jiwaku terasa letih ingin segera di rebahkan di tempat tidur yang nyaman.

***
Ku kemudikan Fortunerku dengan pikiran berkecamuk. Sungguh pertemuanku dengan Mas Adyan cukup mengguncang jiwaku. Dia adalah suami terbaik yang menyerah karena tidak tahan dengan sikap ibunya yang terlalu ikut medominasi pernikahan kami. Seharusnya dari sejak awal aku memang menyerah ketika Mas Adyan yang menawarkan pernikahan. Karena kami tidak sekufu. Dan akan sangat susah berjuang dalam pernikahan ketika restu orang tua tidak di miliki. Aku anak yatim-piatu. Ayah dan Ibuku meninggal dalam kecelakaan, dan harta peninggalan ayah yang harusnya menjadi warisanku semua di kuasai adiknya ayah yang serakah. Jadilah aku si miskin yang bernasib malang. Dan ketika ada seorang pangeran datang berniat mempersuntingku, aku ibarat itik si buruk rupa yang berharap mendapat cinta pangeran untuk mengubah nasib burukku. Tentu saja pikiran itu terjadi saat masih lugu. Sekarang ketika otaku sudah waras, mana ada seorang pangeran yang hidup dalam didikan istana kemewahan, keluarganya mau menerima itik buruk rupa. Catat, itu hanya terjadi di kisah Cinderella dan sinetron atau novel romantis yang minim konflik.

Dan perlu di ingat bahwa dalam berumah tangga yang harus di waspadai bukan hanya pelakor. Tapi Orangtua yang ikut campur dalam pernikahan anaknya. Mertua, Kakak ipar serta adik ipar juga bisa menjadi bagian di dalamnya, menjadi orang ketiga yang akan membuat rumah tangga karam jika tidak kuat. Rumah tangga yang sehat adalah menjauh sejauh-jauhnya dari sumber masalah itu. Sayangnya itu yang tidak bisa di lakukan Mas Adyan, si anak mami yang membuat aku harus tinggal dalam keluarganya, yang hari-hariku adalah babu rumah tangga dalam titah mertua. Dan bersyukurnya ini hanya berlangsung 1 tahun saja, Mas Adyan menyerah dan akupun menyerah. Dan nasib baik Tuhan masih sangat menyayangiku dengan mengirimkan seorang kakak angkat yang ingin balas budi pada kebaikan keluargaku dengan membawaku dari lingkaran neraku menuju kehidupan yang lebih baik.

Sungguh pertemuan tadi membangunkan jiwa implusifku. Seperti slide yang di putar ulang, memory kelam itu muncul. Semoga aku bisa kuat menjalani hari esok. Pertemuanku dengan Mas Adyan dan keluarganya masih menyisakan hari esok. Karena aku dokter yang di tugaskan untuk merawatnya. Entah ini takdir baik atau buruk. Yang jelas aku tidak ingin lagi berurusan dengan mereka selain menyangkut profesionalisme kerja. Cukup aku di rendahkan satu kali oleh mereka yang tidak bisa menghargai manusia-manusia yang tidak selevel dengannya. Keluarga hedonis yang sangat menuhankan harta. ***

Palace of Heaven # Part 1

Ayesa terlihat bahagia sekali hari ini. Senyum di wajah manisnya terus ia perlihatkan pada teman-teman yang berpapasan dengannya. Siapa yang tidak bahagia jika impian menempuh pendidikan ke negri yang di impikannya melalui jalur beasiswa di terima. Setelah lulus dari sarjana dia berencana untuk melanjutkan masternya di YALE. Gadis itu sudah tidak sabar untuk sampai rumah dan menyampaikan berita terbaiknya pada Papa, laki-laki yang di sangat di cintainya, orang tua satu-satunya yang masih dia miliki. Setelah mama meninggalkannya tanpa jejak dari 10 tahun yang lalu.

Hari ini dia dengan sengaja menolak tawaran teman-temannya agar bisa secepatnya sampai rumah dan bisa segera menyampaikan berita bahagia ini secepatnya pada Papa. Rasanya kurang afdhol jika berita sebahagia ini di sampaikan lewat pesan elektronik. Harus di akui bagi Ayesa hanya Papa teman curhat ternyamannya di banding sama yang lain. Tidak sama Aa Hamzah atau Teh Fira kedua kakaknya.

Papa pasti bangga jika putri bungsunya bisa mewujudkan mimpi-mimpinya. Karena Ayesa bisa meraih apa yang di inginkan adalah berkat do'a dan motivasi Papa, lelaki terbaik bagi anak-anaknya.

Ayesa dengan langkah sedikit tergesa berjalan menuju tempat parkir motornya. Kebahagiaan yang membuncah membuat ia tak sabar ingin sampai di rumah. Hari ini ia berjanji akan mentraktir Papa makan di tempat yang oke sebagai bagian dari rasa syukur atas keinginannya terkabul.

Dalam jarak tempuh dua puluh menit akhirnya motor yang di kendarai Ayesha sampai di rumah. Tapi gadis itu sedikit terkejut ketika ada mobil Honda Jazz terpakir di halaman rumahnya. Siapa yang bertamu, pikirnya. Gadis itu dengan sedikit rasa penasaran berjalan menuju teras rumah dan mengucapkan salam.

"Assalamu'alaikum…"

"Wa'alaikum Sallam…" jawab dua orang laki-laki berbarengan. Sambil memandang kearahnya dengan pandangan yang berbeda.

"Kamu sudah datang Dek, sini duduk bareng Papa. Ini Bang Aryan, katanya ada keperluan sama adek." ujar Papa sambil menyuruh putrinya duduk di dekatnya.

Degg…! Jantung Ayesha lemas demi mendengar kata Aryan. Ada sekelumit kisah yang tidak ingin di ulang. Tapi kenapa orang ini masih juga datang.
Ayesha mengangguk, dan mematuhi perintah Papa.

"Bang Aryan ini baru pulang dari Perth dan langsung datang kemari…" ujar Papa menjeda kalimatnya sesaat menatap raut wajah putrinya yang nampak terlihat gelisah.
"Kedatangannya tidak lain ingin memiliki hubungan baik dengan keluarga kita, yaitu dengan memintamu menjadi istrinya." Lanjut Papa.

Jantung Ayesha langsung lemas mendengar lanjutan kata-kata Papa. Sudah di duga jika Bang Aryan tidak akan menyerah. Dan ini adalah permintaan yang ketiga kali. Bukan…bukan tidak mau menikah dengan laki-laki seusia abangnya. Tapi Ayesha gadis yang memiliki mimpi besar. Dan usia dia masih muda, menurutnya. Sedang Bang Aryan adalah laki-laki yang harus segera menikah, hanya karena dia menyukai Ayesha membuat Bang Aryan tidak mau menikah dengan siapapun kecuali dengan dirinya.

Saat tamat SMU, Bang Aryan pernah memintanya pada Papa bahwa dirinya berniat menikahi Ayesha, tapi waktu itu Papa menolak dengan alasan Ayesha masih terlalu muda dan Ayesha juga belum berniat untuk hidup berumah tangga. Dan yang kedua ketika Ayesha berada di semester lima, saat itu dirinya dengan halus menolak karena belum masih ingin fokus kuliah. Laki-laki itu memang tidak mengajaknya berpacaran karena dia adalah lelaki yang sangat baik agamaNya begitu kata Aa Hamzah.

Sebenarnya tidak ada yang mengecewakan dari Bang Ary ini. Dia baik, secara fisik juga cukup menarik dan sudah mapan. Masalahnya cuma ada satu, Ayesha belum ingin menikah. Dan menolak kesungguhan seorang laki-laki yang datang pada ayahnya untuk ketiga kalinya, rasanya berat. Dan Ayesha pernah membaca hadist Rasulullah :

ﺇﺫﺍ ﺟﺎﺀﻛﻢ ﻣﻦ ﺗﺮﺿﻮﻥ ﺩﻳﻨﻪ ﻭﺧﻠﻘﻪ ﻓﺰﻭﺟﻮﻩ ﺇﻻ ﺗﻔﻌﻠﻮﻩ ﺗﻜﻦ ﻓﺘﻨﺔ
ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﻭﻓﺴﺎﺩ ﻛﺒﻴﺮ

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian
ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Dia juga tahu dari Aa Hamzah bagaimana perilaku Aryan selama bersahabat dengan abangnya tidak ada yang mengecewakan. Tapi menikah dengan melepaskan mimpi-mimpinya juga adalah sebuah kesalahan besar menurutnya.

"Bagaimana, Dek? Papa nggak bisa memutuskan secara sepihak untuk masalah yang menyangkut hidupmu di masa depan. Kamulah yang berhak memutuskannya."

Ayesha untuk sesaat terdiam. Sungguh ini adalah pilihan yang berat. Membuat dia merasa dilema. Dan dia menoleh ke arah Aryan yang menatapnya lekat membuat jantung Ayeha bedebar tak karuan.

"Papa, untuk masalah sepenting ini, adek belum bisa memutuskan dalam waktu yang cepat. Karena jujur adek bingung, di satu sisi adek masih punya mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Disaat menikah nanti, hal ini tentu ini tidak mudah. Menikah pasti ada hal yang harus di korbankan dan ada yang harus di prioritaskan. Dan memikul dua tanggung jawab secara bersamaan tentu tidak mudah."

Papa tersenyum sambil mengusap lembut jilbab putrinya penuh sayang.

"Papa tidak bakal menghalangi mimpi-mimpi adek, tapi tolong di pikirkan kembali niat baik Bang Aryan ini ya, sayang. Karena mencari pendampimg yang baik pun tidak mudah. Sedang Papa merasa cocok dengan karakter Bang Aryan jika jadi suamimu kelak." Ujar Papa lembut.

Ayesha semakin menenggalamkan wajahnya. Papa pun sangat ingin Bang Aryan jadi menantunya. Lalu bagaimana dengan hatinya yang masih bimbang?

"Bagaimana nak Ryan, apa masih siap menunggu keputusan Ayesha?" Tanya ayah lembut.

"Insyaallah saya siap Pah. Dan jika nanti saya menjadi suami Ayesha, saya akan menjadi suami yang selalu mendukung impiannya. Saya bukan laki-laki kolot yang akan mengekang istri di rumah. Pendidikan, karier dan aktualisasi diri, selama hal itu tidak mengesampingkan fitrahnya sebagai istri dan ummu warobatul bait maka saya tidak akan melarang." ujarnya tenang.

"Alhamdulillah Papa senang mendengar kata-katamu nak, semoga jika nanti berjodoh dengan putri Papa, engkau akan menjaga mutiara Papa dengan sebaik-baiknya."

"Amiin…" jawab Aryan. Sedang Ayesha mengamininya dalam hati setelah itu dia undur diri pamit menuju kamarnya.

Ayesha kembali memikirkan tawaran dari kampus dan Bang Aryan, sungguh ini membuatnya bingung. Keinginan menikah dalam waktu dekat belum ada sama sekali. Ayesha pikir, Bang Aryan akan mundur dengan penolakan kedunya dulu. Tapi sungguh dia bukan laki-laki yang pantang menyerah jika keinginannya belum tercapai. Dan ini membuat Ayesha takut. Takut jika dia membuang mimpinya akan seperti ini, dan takut jika menerima pernikahan akan seperti ini. Ah, kenapa hidupnya jadi serumit ini. Andai Bang Aryan mrnyerah, tentu dirinya tidak akan pusing seperti ini. Dan Ayesha jadi teringat awal pertemuan dengan Bang Ary dulu. ***


Pemimpin Dunia Bungkam dengan Permasalahan Uigur

Diskrimasi China terhadap muslim Uighur sudah di luar batas kemanusiaan. Satu juta Muslim Uighur disekap di sebuah kamp-kamp khusus itu yang terjadi pada bulan Agustus dengan dalih untuk memerangi ektrimisme. Muslim Uighur juga di paksa untuk ikut partai komunis China. Kemana para pemimpin dunia muslim? Mereka mendadak bungkam.

Muslim Uighur merupakan etnis minoritas muslim yang bertempat tinggal di provinsi Xinjiang,China. Mereka membentuk sekitar 45 persen dari populasi warga di sana. Muslim Uighur adalah etnis keturunan Turki yang menjadi warga kelas dua di negaranya sendiri. Hanya karena mereka menjadi muslim minoritas di negara pengusung komunis.

Kebebasan beribadah di Uighur adalah hal yang teramat sulit. Larangan berpuasa, salat dan menampilkan atribut-atribut keislaman adalah sesuatu yang sering terjadi. Namun muslim Uighur lebih takut pada Tuhannya di bandingkan tekanan dan siksaan pemerintah. Sangat berat sekali tantangan menjadi muslim Uigur di bawah tekanan rezim komunis China.
‘Menurut laporan dari pengamat HAM, Mereka di perlakukan secara tidak manusiawi. Setelah di kirim ke pusat penahanan, mereka di pakasa untuk mematuhi propaganda Partai Komunis. Muslim Uighur ini diperintahkan menyanyian lagu-lagu kebangsaan dan slogan komunis. Mereka juga diwajibkan menghadiri sesi cuci otak setiap hari. Jika gagal mematuhinya, mereka disiksa dengan berbagai metode seperti dilarang tidur, dikurung diruang isolasi, hingga berbagai penyikasaan fisik lain.’ Dikutip dari Merdeka.com
Dan muslim Uigur juga di perlakukan sebagai musuh negara karena identitas agama mereka yang muslim. Mereka di perlakukan secara tidak manusiawi. Dan sangat menyedihkannya permasalahan Uighur ini tidak memicu kemarahan dunia secara global kendatipun ada hanya sampai pada tahap kritik belum ada tindakan lain. Bahkan pemimpin dunia Islam di buat bungkam. Seperti halnya dengan pemimpin Indonesia yang tidak bisa berkutik untuk menyuarakan kedzaliman China terhadap muslim Uighur.
Bungkamnya pemimpin Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar di dunia cukup menjengkelkan. Pengaruh besar China terhadap Indonesia memang tidak diragukan lagi. Terutama banyaknya hutang Indonesia terhadap China membuat negeri ini tidak bisa berkutik. Hingga akhirnya tidak mampu menyuarakan kekejaman yang di lakukan pemerintah China yang telah melaukan kejahatan kemanusiaan yaitu melakukan pelanggaran HAM.

Dan diamnya dunia Islam karena China telah menjadi mitra dagang utama setiap negara mayoritas muslim. Banyak dari negara muslim tersebut adalah anggota Bank Investasi Infrastruktur Asia yag di pimpin oleh China atau berpastisipasi dalam Insiatif Sabuk dan Jalan China. Untuk Asia Selatan ada investasi Infra struktur.

Sedang untuk Asia Tenggara China adalah pasar utama komoditas kelapa sawit dan batu bara. Sedang untuk Timur Tengah mendapat keuntungan dari China karena China adalah importir terbesar minyak dunia dan penggunaan gas alamnya meningkat pesat. Sehingga banyak negara di timur tengah yang memiliki ketergantungan ekonomi pada China. Maka adalah sesuatu hal yang sangat wajar jika para pemimpin muslim bungkam. Jika mereka mengotak-atik masalah Uighur otomatis hubungan positif mereka dengan China akan ternodai. Jadi diam adalah cara terbaik di banding mengurus pelanggaran HAM yang terjadi di Uighur. Yang terpenting simbiosis mutualisme diantara para pemimpin Negara muslim dengan China tetap terjaga.

Fakta sejarah yang tidak bisa di sembunyikan di saat umat islam berhasil menguasai dunia maka agama-agama lain di biarkan hidup dengan bebas dan aman. Mereka juga mendapat tempat istimewa di bidang pemerintahan, seperti halnya yang pernah terjadi di masa Bani Umayah. Selama satu abad kementrian keuangan di pegang secara turun-temurun oleh keluarga Kristen.
Tapi, ketika non muslim berkuasa – maka selain agama yang berkuasa,agama Islam akan habis di tumpas. Bahkan terjadi genocide atau killing field. Seperti yang pernah terjadi di Spanyol, ketika kejayaan Islam di Andalusia jatuh di kalahkan raja Ferdinad dan Isabella. Maka pembunuhan, kristenisasi atau Evakuasi. Sedangkan islam adalah agama kemanusiaan yang sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat manusi tanpa membedakan bangsa, agama, atau warna.

Dalam islam menjaga wilayah kaum muslimin adalah suatu kewajiban baik dari ganguan internal maupun eksternal.Hal ini berkaitan dengan keselamatan jiwa, harta dan kehormatan kaum muslimin.
Imam haramain Al-Juwaini berkata, “Perhatian imam dalam menjaga perbatasan negeri kaum muslimin adalah hal yang penting, yaitu dengan menjaga benteng-benteng, memenuhinya dengan bahan makanan dan persediaan air, membangun parit, perlengkapan perang dan peralatan untuk bertahan dan menyerang, dan hal ini menuntut adanya para pasukan yang menjaga setiap perbatasan.” (Giyatsul Umam, hal 156)
Hanya islam ajaran yang penuh dengan toleransi dan sangat menghargai pemeluk-pemeluk agama lainnya. Tidak diskriminatif dan tidak membeda-bedakan. Hal ini menunjukan bahwa islam adalah agama yang cinta akan kedamaian. Ajarannya bersifat universal untuk seluruh umat manusia. Sangat berbeda ketika non-Muslim menjadi mayoritas. Umat islam selalu mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dan refresif [] opini ini pernah diterbitkan di Media Oposisi

LARA MENTARI # Part Tujuh

Erick terlihat kacau. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan Mentari dan anaknya. Sebelum dia bisa menemukan keberadaan mantan istri dan anaknya, tidak akan bisa tenang. Hari ini dia menyerahkan semua pekerjaannya pada Andre yang menjadi kaki tangannya di kantor. Dia juga tidak tidur di apartemennya, tapi tidur di rumah yang sudah di berikan pada Melati dan Gara. Terkadang penyesalan selalu datang terlambat. Begitupun dengan rasa rindu. Rindu dengan senyuman Mentari yang memiliki lesung di kedua pipinya hingga kalau tersenyum akan terlihat sangat manis. Rindu akan akan masakannya yang lezat. Dan rindu tentang segala hal yang berhubungan dengan Mentari dan Gara.


Telepon di naskah terus berdering dari tadi. Erick tahu siapa yang menelponnya, tapi dia sama sekali tidak berniat mengangkatnya. Itu pasti dari Adelia. Kalau tidak minta tambahan uang belanja, wanita itu pasti akan meminta untuk segera di nikahi. Kemarin sebelum penceraian terjadi, Erick sangat menggebu ingin segera meresmikan hubungan gelapnya dengan Adelia ke jenjang yang lebih serius. Namun saat ini niatnya benar-benar mengendur. Rasa cinta yang menggebu perlahan menguap. Ternyata sebrengsek apapun dirinya sebagai laki-laki, rumah adalah tempat terindah untuk pulang, dan Adelia merasa tidak cocok untuk di jadikan rumah sebagai tempat untuk pulang.

"Den…den Erick…" pintu kamarnya di ketuk dari luar.

"Masuk saja, bik…" suruh Erick dari dalam.

"Ini Bibi bawain sarapan, dari tadi aden nggak keluar-keluar." ujar Bik Sumi sambil menyimpan sarapan nasi goreng di meja.

"Terimakasih Bik, nanti aku makan sekarang aku kepingin tiduran dulu." ujarnya lesu.

"Aden sakit?" tanya Bik Sumi khawatir.

Erick menggeleng. "Aku hanya kurang tidur aja Bik, bentar lagi juga sembuh." jawabnya.

"Ya udah Bibik, tinggalin dulu ya, Den, nanti kalau ada apa-apa panggil aja di dapur."

Erick mengangguk pelan. Hari ini tubuhnya terasa lemas dan sedikit pening. Mungkin efek kurang tidur. Gara-gara semalaman sesah tidur, karena di dera rasa bersalah yang sangat. Erick memaksakan tubuhnya bangkit dari tempat tidur karena harus sarapan. Nasi goreng petai yang di buat Bik Sumi terlihat menggiurkan, membuat rasa laparnya terbit.
Dan ketika mencoba menyuapkan beberapa suap nasi goreng ke mulut, perutnya mendadak mual, hingga harus segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan kembali makanan yang sudah di makannya.

"Ya…Tuhan kenapa aku aku bisa semual ini." Erick menyenderkan tubuhnya ke dingding dengan tubuh terasa tidak berdaya. Dengan langkah di seret laki-laki itu kembali menuju kasur untuk segera membaringkan tubuhnya. Kepalanya terasa berputar. Biasanya dia tidak pernah selemah ini.

Andai saja Mentari ada di sini, pasti tidak akan membiarkanku kesakitan seperti ini, batinnya. Di saat sakit seperti ini, betapa ia sangat membutuhkan perhatian seorang istri yang bisa mengurusinya dengan telaten.

Akh…kenapa yang di pikirkan dalam otaknya cuma Mentari, bukankah dirinya sendiri yang sudah memutuskan ikatan perkawinan itu. Merasa yakin kalau dirinya akan hidup bahagia dengan selingkuhannya, tapi hari ini merasa dirinyalah yang paling menyesal karena di tinggalkan. Seperti laki-laki patah hati yang merasa dirinya paling di sakiti. Padahal dirinyalah yang paling baling banyak menyakiti.

"Mentari…Gara…kalian di mana? Sungguh aku benar-benar menyesali semua perbuatan buruku." rahuknya perih. Dengan sadar laki-laki itu menangis. Kalau kembali bertemu dengan mereka dia berjanji pada dirinya untuk berubah lebih baik dan kembali menawarkan untuk kembali merajut mahligai rumah tangga. []

Mood buat nulis benar-benar lagi buruk, selain itu banyak target yang ingin di capai pas puasa ini. Tapi demi membisakan nulis tiap hari tetap di usahakan.


LARA MENTARI # Part Enam

Pulang dari Jardin de Luxembrough Mentari langsung ke dapur bersiap-siap untuk memasak. Sudah seminggu berada di Prancis Mentari begitu kangen dengan masakan Indonesia. Dia juga sangat kangen dengan jajanan Indonesia yang ngangenin. Seperti Bakso, Mie Ayam, Somay, Cilok, Batagor, Soto, bikin terbit air liurnya. Semodern apapun negara luar, tetaplah negri sendiri paling the best. Apalagi kalau sudah ngomongin soal makanan, Indonesia tiada tandingannya.


Hari ini dia sangat ingin sekali memakan soto betawi. Untungnya bahan-bahan untuk membuat soto sudah tersedia di kulkas, karena kemarin Mentari sama kakaknya berbelanja ke super market. Setelah meracik bahan-bahan, Mentari pun mulai menyalakan kompor. Untungnya Gara dan Mas Hanif belum nyampe rumah, sehingga dia bisa tenang memasak tanpa ada yang mengganggu.

Dari sejak masih gadis Mentari sangat senang dengan dunia memasak dan membuat kue, dia orang yang paling betah berkutat di dapur. Saat sudah menikah, Erick sering memuji masakannya. Tapi ternyata selezat apapun masakannya, tidak mampu memikat hati suaminya.

Ketika masakan sudah terhidang dengan rapi di meja, Mas Hanif datang bersama Gara penuh dengan keringat. Kedua orang itu terlihat bahagia sekali.

"Kamu masak apa dek? Harum banget." tanya Mas Hanif..

Aku masak soto betawi, mas."

"Wow… ini makanan kesukaan Mas. Rasanya Mas
sudah lama nggak nyicip soto. Mas, makan sekarang ya dek, lapar banget nih." ujar Mas Hanif antusias.

"Mas, nggak mandi dulu?" tanya Mentari.

"Nanti aja, Mas sudah nggak tahan buat nyicip ini soto. Kalau di tunda nanti, ntar Mas tambah ngiler." Mas Hanif langsung mengambil piring.

Laki-laki sangat menikmati sekali soto buatan adiknya. Rasanya sangat lezat. Rasa homesicknya pada kampung halaman terbayarkan hanya dengan menikmati soto betawi.

"Sotonya lezat banget, dek. Mas nambah lagi, ya?" kata Mas Hanif yang mendadak nafsu makannya naik dua kali lipat.

Mentari tentu saja senang melihat abangnya lahap makan.

"Mas jadi betah di rumah kalau kamu sering masak gini."

"Kenapa Mas nggak cari istri saja?"

Mas Hanif terdiam cukup lama. Tidak langsung menjawab pertanyaan adiknya. Wajahnya terlihat murung.

"Karena mencari istri yang baik dan mau menerima Mas itu nggak mudah. Apalagi Mas pernah di kecewakan, jadi harus berhati-hati dalam memilih istri. Dan sekarang ada kamu dan Gara yang harus Mas perhatikan. Kalau kamu sudah bisa bangkit dan menemukan jodoh yang jauh lebih baik, Mas baru akan memikirkan diri sendiri."

Mentari merasa terenyuh dengan apa yang dikatakan kakaknya. Mas Hanif pernah terluka, sama dengan dirinya. Bedanya Mas Hanif belum terlihat pernikahan. Baru sebatas tunangan, dan wanita yang pernah jadi kekasihnya itu memutuskan memilih laki-laki lain.

"Sudahlah, kita tidak usah terjebak pada ruang yang ada di masa lalu. Toh, mereka sudah bahagia. Tinggal kita sendiri yang mesti mencari kebahagiaan kita. Tak perlu di sesali dengan apa yang sudah terjadi, tapi kita mesti bersyukur karena Allah selalu tahu apa yang terbaik buat kita."

Mentari sangat setuju dengan apa yang di katakan kakaknya. Seperti dirinya yang tak boleh menyesali apa yang sudah terjadi dengan Erick. Karena bisa jadi Allah akan memberikan pasangan hidup yang jauh lebih baik dari masa lalunya.[]

Sebenarnya lagi males nulis karena lagi fokus bikin soal Matematika buat anak-anak yang les untuk persiapan UKK, jadi nggak bisa nulis banyak-banyak.

ABORSI REMAJA: BUKTI LEMAHNYA PERAN ORANG TUA, AGAMA, DAN NEGARA


Kasus aborsi di Indonesia kian hari semakin meningkat tajam. Berdasarkan prakiraan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKBN), sekitar dua juta kasus aborsi terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Artinya, ada dua juta bayi dibunuh dalam satu tahun. Kasus aborsi ini, yang sebagian besar terjadi di kalangan remaja, menjadi penyumbang utama penyebab kematian yang terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.


Menurut beberapa penelitian, kasus kehamilan di luar nikah mengalami peningkatan sebesar 29,8%. Sebagian remaja memilih untuk menggugurkan kandungannya melalui aborsi.
Banyak faktor yang menyebabkan remaja nekat melakukan aborsi. Pertama, mereka malu karena hamil pada usia sekolah kemudian memilih aborsi sebagai jalan untuk menutupi aib tersebut. Memang, masyarakat kita masih memegang adat ketimuran sehingga hamil di luar nikah merupakan hal yang sangat memalukan. Maka dari itu, remaja putri yang hamil di luar nikah akan mendapatkan hukuman sosial berupa cibiran dan diremehkan oleh lingkungan sekitarnya. Kedua, pasangan belum siap bertanggung jawab untuk mengesahkan hubungan mereka melalui ikatan pernikahan sehingga aborsi adalah pilihan yang dianggap mampu menghapus dosa yang telah mereka lakukan. Ketiga, pasangan juga belum siap menjadi orang tua atau bahkan remaja putri yang melakukan aborsi adalah korban pemerkosaan.

Pergaulan bebas remaja saat ini semakin tidak mengenal batas. Ditambah lagi, pengetahuan remaja tentang agama begitu minim. Rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar mereka juga tidak memberikan pemahaman agama yang baik untuk kehidupan remaja dewasa ini. Hal inilah yang membuat mereka semakin salah arah. Pasangan remaja yang berpacaran sudah tak segan lagi memamerkan kemesraan mereka di depan umum. Namun, pada akhirnya, bila terjadi kehamilan di luar nikah, pihak perempuanlah yang menjadi korban.

Masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Mereka mengalami fase yang sangat labil sehingga mudah sekali dipengaruhi oleh beragam pemikiran negatif dari teman-temannya. Sebenarnya, hal ini tidak mungkin terjadi apabila rumah tempat mereka bernaung merupakan tempat ternyaman, tidak hanya bangunannya, tetapi juga para penghuninya. Segala sesuatu, baik positif maupun negatif, berawal dari dalam rumah.

Pengasuhan yang baik dan sosok orang tua yang mampu menjadi teladan sangat berpengaruh terhadap psikologis, pola pikir, dan sikap mereka. Sosok ayah memiliki peran yang sangat besar terhadap anak, terutama anak perempuan. Seorang anak perempuan yang memiliki kedekatan emosional dengan ayahnya akan sulit dipengaruhi oleh pesona dan jeratan cinta laki-laki di luar sana. Dia akan berpikir dan bertingkah laku dengan penuh pertimbangan ketika virus merah jambu menjangkitinya. Baginya, ayahnya merupakan sosok sempurna dalam hidupnya yang selalu siap menemani masa remajanya yang penuh dengan tantangan. Sang ayah baginya adalah pria yang senantiasa menyediakan pundak tempat dia bersandar ketika lelah menghadapi beragam problematika pada masa remajanya.

Dengan demikian, solusi atas permasalahan aborsi ini adalah peningkatan kualitas pengasuhan di keluarga. Ketika keluarga kehilangan kontrol terhadap anak-anak perempuannya yang sedang berada pada masa remaja, dia akan mencari sosok laki-laki di luar sana yang mampu membuatnya merasa nyaman dan membuatnya bahagia. Dia tidak peduli apakah laki-laki tersebut akan menghancurkan masa depannya di kemudian hari atau tidak. Kesibukan orang tua dalam mengejar materi hingga tidak memiliki waktu luang yang berkualitas dengan anak-anak mereka adalah awal dari masalah aborsi ini.
Sistem negara yang menganut sekulerisme juga berperan menjadikan akhlak remaja kita rusak. Ditambah lagi, industri film tidak berkualitas yang merusak moral, situs-situs pornografi yang bertebaran di internet, lagu-lagu bernuansa cinta melenakan yang kerap dikumandangkan adalah penyebab-penyebab lain atas kerusakan moral remaja saat ini.

Seandainya pemerintah bertindak tegas demi melindungi generasi remaja dari kerusakan moral, tentu segala permasalahan yang terjadi pada generasi saat ini dapat terselesaikan dengan baik. Namun, pemerintah seolah melakukan pembiaran dan ikut mendukung para pemilik modal menanamkan dana mereka dalam industri hiburan dengan alasan mereka mampu menyumbang pajak untuk negara, meskipun generasi mudanya yang menjadi tumbal.
Aborsi dalam Islam tentu sangat dilarang karena berdampak besar baik terhadap dirinya maupun lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, Islam menetapkan sanksi tegas bagi pezina dan pembunuh, yaitu rajam dan kisas (qishos). Allah tentu tidak akan menurunkan ayat tentang larangan zina apabila tidak berdampak besar bagi keberlangsungan hidup umat manusia di masa depan: Islam sangat menjaga kemuliaan nasab seorang anak manusia.

وَلَا تَقۡتُلُواْ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۗ ٣٣
33. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan suatu (alasan) yang benar.
Berdasarkan ayat di atas, aborsi sangatlah dilarang dalam Islam. Allah sangat menyayangi hamba-Nya dari perbuatan buruk sehingga memberikan aturan tegas ini.

Pergaulan bebas cepat atau lambat akan menghilangkan fitrah manusia dengan sendirinya. Hal ini dapat kita lihat dengan maraknya berbagai macam kerusakan moral yang menimpa negeri ini: LGBT, narkoba, dan seks bebas.

Untuk menghindari pergaulan bebas ini dan dampak buruk yang akan ditimbulkannya di masa depan, Islam sudah mengatur aturan-aturan yang harus ditaati oleh para pemeluknya; di antaranya ialah menutup aurat, menundukkan pandangan terhadap lawan jenis, tidak bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram, dan senantiasa menjaga nilai-nilai keislaman dalam setiap aspek kehidupan.
Jika seluruh aturan ini diterapkan dalam diri semua umat Islam dan rumah menjadi pilar utama dalam menjaga remaja agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas, niscaya mereka tidak akan terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Selain itu, negara sebagai tempat bernaung semestinya menjaga kesalehan seluruh rakyatnya melalui penerapan hukum Islam secara holistis. ( Pernah diterbitkan di Media Oposisi )